Satu Malam Menjadi Ayah Muda

Satu Malam Menjadi Ayah Muda
BAB 95


__ADS_3

Samudra akhirnya pulang karena merasa sudah agak baikan. Lova yang menjemputnya dan mengantarnya hingga kerumah.


"Kamu tidak bekerja?" Tanya Samudra saat sudah tiba di kamarnya.


"Aku sedang gak mood, Kak."


Zivana melihat ke arah Lova lalu bertanya lewat kode yang diberikan oleh Zivana dan Lova hanya mengerdikan bahunya saja.


"Ya sudah, Kakak istirahat saja. Aku pinjam dulu Zivana untuk ke kamarku ya."


Namun Samudra menarik lengan Zivana, "Zivana disini nemenin Kakak, Baby Love."


Lova menyipitkan matanya menatap penuh tanya pada Samudra. "Ada yang aku tidak tau?"


"Tidak ada." Kata Samudra dengan tenang.


"Kak, aku mau ngobrol dulu sama Lova sebentar." Pinta Zivana.


"Aku mau tidur, Ziv. Kamu harus nemenin aku."


"Ya tuhan..." Lova memutar malas bola matanya. "Kenapa aku melihat gejala kebucinan disini, percis seperti Opa pada Oma."


"Apa Kakak seperti Opa?" Tanya Samudra.


"Sangat percis."


Sementara itu Zivana hanya tersenyum melihat keposesifan Samudra padanya.


"Kamu ke kamar saja dulu. Nanti aku nyusul ke kamarmu." Kata Zivana pada Lova.


"Baiklah.. Selamat beristirahat Kak Bucin." Ledek Lova lalu meninggalkan kamar Samudra.


Samudra langsung menarik pinggang Zivana, "Mau meninggalkanku saat aku tidur?"


"Ish, aku kan cuma ke kamar Lova, dan kamar Lova itu di depan kamar Kakak, masa gak boleh kesitu sebentar."


"Tugas kamu bukan ngurusin Lova, tapi ngurusin aku."


"Tapi sepertinya Lova sedang butuh teman bicara, Kak. Aku sebagai sahabatnya Lova kan harus ada juga di saat Lova membutuhkanku."


Samudra tersenyum lalu merapihkan anak rambut Zivana ke belakang telinganya. "Ternyata kamu mempunyai sisi yang berbeda yang aku tidak tau."


"Baru tau? Kemana aja selama ini?" Cibir Zivana.


Samudra tertawa, "Ayo temani aku tidur, kepalaku masih pusing."


"Iya bayi besarku." Ledek Zivana kemudian naik ke atas tempat tidur bersama Samudra.


"Peluk aku, Ziv..."


Zivana tertawa, ia juga baru menyadari jika ternyata Samudra begitu manja jika sedang sakit.


Zivana memeluk Samudra dan Zivana merasa nyaman saat memeluk Samudra, begitupun sebaliknya. Samudra juga begitu nyaman saat Zivana memeluk dirinya.


**


Zivana masuk ke dalam kamar Lova dan langsung naik ke atas tempat tidur karena Lova sedang memainkan laptopnya.


"Jadi, ada apa?" Tanya Zivana.

__ADS_1


"Apa Kak Kevin menghubungimu?" Tanya Lova.


Zivana menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Lova menghembuskan nafas kasarnya, "Aku ingin nenghubunginya tapi malu."


"Kenapa tidak bilang jika menyukai Kak Kev?" Tanya Zivana.


Lova menggelengkan kepalanya, "Aku pernah kalah sebelum memulai, Ziv."


Lova mengingat kejadian saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kevin menyatakan cinta pada wanita lain.


"Padahal Kak Kev sangat tau jika aku begitu menyukainya." Lova menopang dagunya.


"Kenzo bilang, Kak Kev sudah putus dari kekasihnya."


Lova mengangguk. "Tapi ada satu hal yang tidak bisa membuatku bersatu dengan Kak Kev."


"Apa?" Tanya Zivana.


Lova menatap wajah Zivana. "Kakeknya Kak Kev, adalah mantan suaminya Oma Nanda."


"Apa? Mana ada hal seperti itu."


Lova mengangguk. "Daddy pernah mengatakan padaku, jika Opa begitu mencintai Oma dan Oma pun sama begitu mencintai Opa. Dulu Oma pernah di selingkuhi oleh mantan suaminya sampai mantan suaminya itu punya anak dari wanita lain, dan anak dari wanita lain itu adalah Mama nya Kak Kev."


Zivana baru mengetahui fakta ini.


"Tidak mungkin kan Oma akan melepasku dengan keturunan dari mantan suaminya meski aku begitu menyukai Kak Kev." Kata Lova dengan lesu.


"Lov...."


"Tapi aku mencintainya, Ziv. Dan takdir seolah membawanya kembali padaku. Haruskah aku egois atau aku tetap menjadi anak yang manis yang bisa menyenangkan hati keluargaku?"


Lova menghela nafas. "Kamu benar, aku harus melepaskannya."


"Kita cukup berteman baik saja dengan mereka, Lov."


Lova tersenyum. "Iya, Ziv."


"Kalian sedang apa?" Nadlyn masuk begitu saja ke kamar Lova saat selesai melihat Samudra di kamarnya.


"Hai, Mom." Sapa keduanya lalu mereka duduk.


Nadlyn ikut duduk di atas tempat tidur bersama kedua gadis itu. "Kayanya asik. Cerita apa sih?"


"Ini, Mom. Ziv sedang di bucinin oleh Kak Sam." Kata Lova.


Zivana menyikut lengan Lova. "Ish apa sih."


"Emang bener kan?" Ledek Lova lalu Lova menatap wajah Nadlyn. "Kak Sam seperti Opa yang bucin pada Oma."


"Benarkah?" Nadlyn tersenyum.


"Ziv..." Panggil Nadlyn.


"Ya, Mom."


"Terimakasih."

__ADS_1


Zivana merasa bingung. "Terimakasih untuk apa, Mom?"


"Untuk sabar menunggu Samudra, untuk belajar juga mencintai Samudra. Mommy percaya Ziv bisa menjadi teman hidup Samudra sampai tua nanti."


Mendengar hal itu Zivana merasa terharu, "Mommy...."


"Jaga baik baik hubungan kalian, mempertahankan lebih sulit dari pada mendapatkannya."


Zivana menunduk dan terlihat tidak percaya diri.


"Ada apa, Ziv?"


"Tapi Kak Sam belum mencintai aku, Mom."


"Kata siapa?" Bukan Nadlyn yang bertanya melainkan Lova.


Zivana melihat wajah Lova. "Kak Sam belum mengatakan cinta padaku."


Lova menyentil kening Zivana.


Pletak..


"Awsshhh" Zivana mengusap keningnya.


"Dari sikapnya aja udah terlihat kalau Kak Sam itu bucin sekali padamu, apa masih penting mengatakan cinta?"


"Ziv.. Sam pasti akan mengatakan mencintaimu di waktu yang tepat." Kata Nadlyn.


"Contohnya?"


"Misal mengatakannya saat kalian sedang bercinta gitu." Sahut Lova menjawab lalu tertawa.


"Baby Love...." Nadlyn memperingatkan putrinya agar tidak berkata sembarangan.


"Hanya bercanda saja, Mom. Lagi pula aku sudah dewasa, bahkan umurku lebih tua beberapa bulan dari Zivana."


"Sepertinya sudah ngebet nikah nih anak." Ledek Zivana.


"Tidak. Aku masih mau menikmati masa mudaku." Kata Lova sambil mengerlingkan satu matanya pada Zivan.


Sementara Zivana tau, jika Lova tidak ingin membahas soal pasangannya karena takut kelepasan berbicara soal Kevin kepada Nadlyn.


Nadlyn nenghela nafas lalu kembali ke pembicaraan. "Setiap orang, tidak selalu sama dalam mengekspresikan perasaannya, Ziv. Ada yang senang mengatakannya, ada juga yang hanya menunjukan kasih sayang tanpa mau mengatakannya."


Zivana dengan antusias mendengarkan apa kata mertuanya itu.


"Tapi apa yang Mommy lihat, Mommy yakin jika Sam sudah mencintaimu." Kata Nadlyn dengan lembut.


"Kak Sam sudah mengatakannya, hanya saja tidak secara langsung. Melainkan mengatakan pada Rill jika Kak Sam mencintaiku. Aku pikir Kak Sam mengatakan hal itu hanya untuk membuat Rill berhenti mengganggu Kak Sam."


"Kapan Rill menemui kalian?" Tanya Nadlyn dengan heran.


"Tadi pagi saat masih di rumah sakit dan sebelum kami pulang kesini, Mom."


Nadlyn menghela nafasnya. Ia tak menyangka jika Rill malah seperti terobsesi pada Samudra, padahal Rill sendiri yang memberikan harapan palsu pada Samudra.


"Ziv, jika Rill memgatakan hal yang membuatmu terganggu, abaikan saja. Percayalah pada Sam. Jangan mempercayai orang yang ingin merusak hubungan kalian." Nasihat Nadlyn pada Zivana.


Zivana mengangguk mengerti. Ia akan mempercayai semua sikap Samudra padanya dan tidak akan lagi cemburu pada wanita labil bernama Raelyne.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏


__ADS_2