
Cean dan Nadlyn pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Yuri, sementara Samudra tidak ikut karena ingin mencoba lego baru yang Pras bawakan dari China. Meski Nadlyn tidak tau harus bersikap seperti apa saat bertemu Dirga, namun Nadlyn mencoba berdamai dengan takdirnya. Terlebih kini Cean selalu berada disisi nya dan tidak akan pernah meninggalkannya.
Dirga melihat kearah pintu yang terbuka, Cean tengah menggandeng tangan Nadlyn. Dari hal itu saja Dirga meyakini jika Cean dan Nadlyn sudah kembali bersama.
Ada perasaan tidak nyaman di hati Dirga, bukan kecewa karena melihat Nadlyn memilih bersama Cean kembali, tetapi hati Dirga merasa tidak nyaman karena statusnya yang ternyata Kakak beradik dengan Nadlyn.
"Kak Nadlyn..." Panggil Yuri dengan senyum mengembang.
Nadlyn memeluk Yuri, merasa prihatin dengan kehidupan Yuri yang ternyata adalah saudara berbeda ayah dengan Rena dan Rena tidak ingin mengakuinya.
Dirga memang sudah menceritakan semuanya pada Cean dan Cean kembali menceritakannya pada Nadlyn. Cean juga meminta pada Nadlyn agar jika nanti bertemu dengan Rena kembali, Nadlyn tidak terprovokasi oleh cerita cerita Rena yang tentunya hanya omong kosong.
Nadlyn mencoba mempercayai Cean, apa lagi Cean kini memberikan banyak cinta pada Nadlyn dan Samudra. Nadlyn tidak ingin lagi mengungkit kesalahan mereka di masalalu karena hal itu hanya akan menyakiti Samudra. Sebisa mungkin Cean dan Nadlyn tidak lagi membahas hal yang dulu dulu kecuali kenangan manis.
Nadlyn menganggap kesalahan di masa lalu mereka adalah proses pendewasaan di usia mereka yang masih sangat muda dan tak siap untuk berkeluarga. Dan kini baik Nadlyn dan juga Cean sama sama sudah siap dan saling menerima juga ingin memberikan keluarga yang sempurna untuk Samudra.
Cean mengajak Dirga untuk berbicara di sofa yang agak jauh dengan brankar sementara itu Nadlyn bersama Yuri.
"Aku tidak menyangka jika kamu adiknya Rena." Kata Nadlyn sambil menggenggam erat tangan Yuri.
Yuri hanya tersenyum, "Aku anak haram yang di sembunyikan oleh Ayahku, Kak."
"Ssttt, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Tidak ada itu anak haram, jangan berkata lagi seperti itu."
Yuri menunduk, Nadlyn sangat tau jika kondisi Yuri sedang tidak baik baik saja.
"Ada apa, Ri?" Tanya Nadlyn. "Anggap aku sahabatmu."
Yuri mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak apa apa Kak, aku hanya sedikit lelah." Jawabnya. "Bagaimana kabar Samudra?" Tanya Yuri mengalihkan pembicaraan.
"Samudra ada, dia titip salam untuk Maminya. Anakku menyukaimu, Ri." Jawab Nadlyn.
"Aku juga menyukai Samudra, anak yang pintar dan juga tampan."
Sementara itu Cean dan Dirga tengah membicarakan sesuatu tentang Rena.
"Gila, jadi Rena di deportasi dari London karena kasus portistusi dan aborsi?" Tanya Cean yang cukup terkejut.
__ADS_1
Dirga mengangguk, "Buat Rena, Se*x bukan hanya untuk mencari uang, melainkan juga kebutuhan dan gaya hidupnya."
"Tapi ini Gila, aku pernah hidup bersamanya meski tak melakukan apapun."
"Yakin tidak melakukan apapun?" Tanya Dirga menyeledik.
"Demi Tuhan, bahkan saat Rena nyaris telannjang pun aku tidak tertarik karena saat itu, aku...." Cean menggantung ucapannya karena hampir saja membuka aibnya sendiri.
"Apa?" Tanya Dirga.
"Ah sudahlah, pokonya aku tidak pernah menyentuh Rena." Jawabnya singkat.
"Tidak mungkin kamu tidak tergoda oleh wanita sexy seperti Rena." Kata Dirga mencoba terus menyudutkan Cean.
"Aku sungguh tidak tergoda. Karena milikku tidak bereaksi di dekatnya." Jawab Cean pada akhirnya.
"Whatt?? Kamu impoten?" Tebak Dirga.
"Tidak, hanya saja di dekat Rena milikku tidak bereaksi. Tapi jika bersama Nadlyn, bersentuhan saja sudah membuat hasratku naik."
"Mana ada hal seperti itu." Cibir Dirga. "Kamu dengan Nadlyn sudah melakukannya kembali? Tunggu... Kalian belum menikah ulang kan?"
"Jadi selama ini kalian masih terikat pernikahan?"
Cean mengangguk, "Tentu saja." Jawabnya berbangga diri.
"Kalau begitu aku akan percaya ucapanmu jika Samudra memiliki adik."
Cean tertawa, "Akan kupikirkan hal itu, saat ini aku ingin menjadi Daddy yang sempurna untuk Samudra, namun jika memang hal itu datang padaku tentu saja aku akan menerimanya."
Mereka sama sama diam. "Bagaimana hubunganmu dengan Yuri? Ku harap kau tidak terlambat untuk mengakui perasaanmu padanya."
Dirga mengangguk, "Tidak gampang melupakan dan menerima begitu saja cinta pertama yang ternyata adalah adikku sendiri."
"Hei, kau harus berlapang dada." kini gantian Cean yang meledek Dirga.
"Kau ada rencana menikahinya? Atau Mami mu dan Papanya Nadlyn yang akan menikah lebih dulu?"
__ADS_1
Dirga mengerdikan bahunya. "Entahlah, aku belum memikirkannya dan akupun belum bicara lebih lanjut dengan Mami. Aku kecewa padanya."
Di perjalanan pulang, Cean mengajak Nadlyn untuk makan siang di luar bersama karena Samudra tengah ikut Nanda untuk bermain di rumah Aunty Ay.
"Sayang, kapan kita akan ke rumah Papa?" Tanya Cean mencoba membahas soal Robi.
"Entahlah, aku belum memikirkannya, Cean."
"Sebelum resepsi pernikahan kita, kita harus menemui Papa dulu. Walau bagai manapun, Papa yang akan dampingi kita juga di pelaminan.
"Bersamanya Mami nya Dirga?" Tanya Nadlyn. "Tidak, aku tidak menyukainya."
"Sayang, walau bagaimanapun, Mami nya Dirga pernah melahirkan anak Papamu juga. Kamu harus bisa menerimanya. Apa lagi Dirga selama ini begitu menjagamu."
"Aku tidak membenci Dirga, Cean. Aku hanya tidak menyukai Maminya saja. Aku memang ingin Papa menikah lagi, tetapi dengan wanita baik seperti mendiang Mamaku, tidak seperti Mami nya Dirga."
"Iya aku mengerti, tapi mereka memang harus menikah. Ada Dirga diantara mereka, dan Papa harus bertanggung jawab."
Nadlyn terdiam. Kemudian menghela nafasnya. "Cean, membiarkan Papa menikah dengan Mami nya Dirga, sama saja membuat aku kehilangan Papa."
Cean menggenggam tangan Nadlyn. "Papa tau bagaimana bersikap, aku rasa Papa akan bisa mengendalikan Mami nya Dirga, bukan malah sebaliknya."
"Tapi bagaimana jika Mami nya Dirga membuat Papa menjauh dariku?"
"Honey, apa yang kamu takutkan? Kamu sudah menikah denganku, dan aku akan selalu menemanimu. Kamu tidak sendirian." Kata Cean meyakinkan dan Nadlyn pun seperti tengah terbuka pikirannya.
"Habis dari sini, kita ke rumah Papa ya?" Ajak Cean.
"Papa tidak ada di rumah, jam segini Papa di kantor."
Cean tersenyum, "Baiklah, kita ke kantor, aku juga ingin srkalian lihat ruang kerjaku dan calon sekertaris juga asistenku." Jawab Cean.
Nadlyn pun mengikuti apa kata Cean, ia akan mencoba berdamai untuk takdir yang sedang ia jalani. Baginya kini, Cean kembali dan mau mulai kembali bersamanya dari awal lagi adalah awal kebahagiaannya. Biarlah sang Papa juga bahagia dengan pilihannya. Nadlyn tidak akan menghalangi jalan kebahagiaan Papa nya, ia akan mendukung dan menerima juga menghormati semua yang menjadi keputusan Robi.
Semoga Hellena memang wanita baik yang bisa menemani Robi di masa tuanya. Nadlyn hanya berharap hal itu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ada yang minta aku Crazy Up hari ini..
Yang mau aku crazy Up hari ini, banyakin komentarnya, biar gak lupa Up lagi 😅