
"Ziv. Tolong siapkan pakaian kerjaku." Kata Samudra sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Zivana segera mempersiapkan apa yang di minta Samudra, menurutnya itu adalah tugasnya sebagai seorang istri. Bahkan Zivana begitu detail menyiapkan semuanya, dari kemeja yang match dengan dasinya, kaos kaki, sepatu hingga jam tangan yang akan di pakai oleh Samudra.
Samudra keluar dari dalam kamar mandi dengan masih menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, membuat ketampanannya bertambah berkali lipat.
Samudra melihat ke semua barang yang di siapkan oleh Zivana, "Not bad." Gumamnya. "Seleranya bagus juga." Kata Samudra lagi.
Setelah Samudra bersiap kini gantian Zivana yang memakai pakaian kerja, ia memakai rok sepan diatas lutut, kemeja putih dan blazer hitam yang sepadan dengan rok nya.
Zivana juga merias dirinya dengan riasan natural dan menambah point kecantikannya.
"Ziv. Pasangkan dasiku." Kata Samudra sambil memberikan dasinya pada Zivana.
Zivana tidak membantah dan segera mengambil dasi dari tangan Samudra lalu memakaikannya di kerah kemeja Samudra.
Nafas mereka saling beradu dan Samudra terus saja menatap wajah cantik Zivana. Zivana mengencangkan dasi Samudra dan merapihkannya lalu Samudra mengecup pipi Zivana.
"Kakak!!."
"Kamu istriku, Ziv. Jangan lupa itu." Sahut Samudra dengan cepat.
Zivana hanya menghembuskan nafas kasarnya. Dirinya juga sangat tau jika sudah menjadi istri dari Sky Samudra Albiru."
"Ayo turun, kita sarapan." Ajak Samudra.
"Sebentar aku ambil tas ku dulu, Kak." Kata Zivana sambil mengambil tasnya darindalam walk in closet. "Ayo Kak." Ajak Zivana dengan senyum termanisnya pagi ini.
Nadlyn melihat heran ke arah Zivana yang berpenampilan rapih seperti Lova. "Ziv, mau kemana?" Tanya Nadlyn.
"Kerja, Mom." Jawabnya sambil mencium pipi Nadlyn.
"Kerja?" Tanya Nadlyn tak percaya.
Zivana mengangguk
Nadlyn menatap wajah Samudra seolah meminta penjelasan.
"Ziv bilang tidak ingin jauh dariku, Mom. Karena itu Ziv ingin ikut aku bekerja, ya sudah aku minta aja sekalian untuk menjadi personal asistenku." Jawab Samudra tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak bilang begitu." Sahut Zivana dengan cepat. "Kak Sam bilang jika aku ingin punya uang lebih aku harus bekerja, Mom." ucap Zivana lalu menyeringai ke arah Samudra.
"Sam..." Nadlyn melipat ke dua tangannya di dada. "
"Mom, bahkan Kak Sam memperlakukan aku dengan tidak baik." Zivana mulai memainkan aktingnya. "Kak Sam bilang hanya menafkahiku sebatas sandang pangan dan papan saja, jika aku ingin belanja, aku harus bekerja dan menghasilkan uang sendiri."
"Samudra...." Panggil Nadlyn lagi.
__ADS_1
Samudra terlihat tenang. "Mom, Papi Dirga sudah menyerahkan Zivana padaku, itu artinya aku harus bisa membimbing Ziv supaya tidak manja."
"Okey, Mommy mengerti jika kamu meminta Ziv untuk mandiri dan menghasilkan uang sendiri. Tapi bagaimana dengan perlakuanmu yang tidak baik pada Zivana?" Tanya Nadlyn.
"Mom, Ziv istriku. Tanya dulu pada Ziv perlakuanku yang mana yang tidak baik? Apa tidur dengan memeluk istri sendiri itu tidak baik? Apa mencium istri sendiri juga itu perlakuan tidak baik?" Kata Samudra dengan balik tersenyum menyeringai dan kali ini wajah Zivana sudah merona merah.
"Honey, jangan urusi rumah tangga Samudra dan Zivana, mereka sudah dewasa." Sahut Cean sambil mencium pelipis Nadlyn.
"Sudah biarkan saja, mereka ribut dan akan selesai di atas ranjang dengan sendirinya." Kata Cean lagi.
"Daddy sangat mengerti aku." Sahut Samudra.
"Ya karna kita adalah pria, Son." Jawab Cean.
**
Zivana berangkat bersama Samudra, sementara Lova berangkat bersama Cean. Semua melihat ke arah Samudra yang berjalan di ikuti oleh Zivana ke arah lift.
Jimmy, asisten Samudra ikut mengawal hingga tiba di ruangan Samudra.
"Jim.. Mulai hari ini Zivana menjadi personal asistenku, ajari dia apa saja yang harus di kerjakannya." Titah Samudra.
Jimmy merasa bingung, ia sempat mengira jika Samudra membawa Zivana itu karena untuk memperkenalkannya saat rapat direksi nanti. Tapi tenyata Samudra membawa Zivana untuk dipekerjakannya dan Jimmy yang membimbingnya.
"Silahkan kalian keluar." Kata Samudra tanpa melihat ke arah Zivana maupun Jimmy.
Zivana mengikuti arah langkah Jimmy dan keluar dari ruangan Samudra. Seorang wanita muda melihat ke arah Jimmy dan Zivana lalu menatap tak suka ke arah Zivana.
Jimmy mendekat ke arah wanita bernama Rani. "Dia istri Bos."
Rani yang merupakan sekertaris Samudra pun membolakan matanya, "Serius?" Tanyanya dan Jimmy mengangguk.
"Kapan si Bos nikah?"
"Dua hari yang lalu."
Rani menatap Zivana dengan perasaan malu, ia takut posisinya terancam karena sudah berani memandang sinis pada istri bos nya itu.
'Pantas saja penampilannya serba branded, dan kecantikannya itu seperti tidak ada duanya, wajar jika menjadi istri si Bos.' Batin Rani.
"Mari Nona, ruangan anda bersama saya." Kata Jimmy lagi.
"Aku ke toilet dulu ya Jim." Zivana berjalan menuju toilet di dekat lift.
"Pak Jimmy.." Panggil Rani.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Kenapa istri si Bos masuk ke ruangan Pak Jimmy?" Tanyanya berbisik.
"Istri si Bos kerja jadi personal asisten si Bos, jadi ruangannya di ruanganku."
"Si Bos bucin jiga ya, sampai istri di suruh kerja supaya bisa dekat terus." Kata Rani.
"Namanya juga pengantin baru, Ran. Maunya dekat dekat terus." Balas Jimmy.
Zivana mempelajari banyak pekerjaan yang Jimmy ajarkan, seperti memeriksa email masuk, mengecek ulang proposal sebelum di berikan pada sekertaris Samudra dan menyiapkan berkas berkas dokumen penting untuk rapat.
"Nona, ini sudah memasuki jam makan siang." Kata Jimmy tetap dengan hormat.
Zivana melihat ke arah jam tangannya. "Oh iya." Ucapnya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah Tissue masker sachet untuk wajahnya agar terlihat fresh.
Jimmy menatap heran pada istri bos nya itu. "Nona tidak masuk ke ruangan Tuan Samudra untuk makan siang bersama?" Tanya Jimmy saat Zivana memasangkan masker dan menepuk nepuk pelan di wajahnya.
"Kamu yang urus saja, Jim. Aku maskeran dulu. Kulit wajahku bisa kusam karena stres terlalu banyak berpikir tentang pekerjaan." Jawab Zivana sekenanya.
Jimmy membolakan matanya, istri bos nya itu lebih mementingkan kecantikan wajahnya dari pada urusan perut suaminya sendiri.
"Baik Nona, saya permisi dulu." Kata Jimmy tanpa mendapat tanggapan dari Zivana lagi.
'Pantas saja Nona Ziv begitu glowing, perawatannya saja begitu teratur.' Batin Jimmy sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Jimmy masuk ke dalam ruangan Samudra.
"Dimana Zivana?" Tanya Samudra sambil menyandarkan kepalanya.
"Masih di meja kerjanya, Tuan." Jawab Jimmy.
"Memang Ziv tidak istirahat?" Tanya Samudra dengan heran.
"Anu, Tuan..." Jimmy menggaruk tengkuknya.
"Ada apa? Apa Ziv membuat masalah?" Tanya Samudra curiga.
"Tidak, Tuan.. Hanya saja.. Nona Zivana sedang maskeran di ruangan." Ucap Jimmy ragu ragu.
Samudra mengernyitkan keningnya, "Maskeran?" Tanya nya meyakinkan.
Jimmy mengangguk. "Nona Ziv bilang supaya saya yang mengurus makan siang anda, Nona ingin maskeran karena kulit wajah Nona bisa kusam karena stres terlalu banyak berpikir tentang pekerjaan hari ini."
"Oh my God, apa Ziv mengira kantorku ini salon?" Gumamnya yang terdengar oleh Jimmy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dukungannya untuk karyaku, dengan meninggalkan jejak Like, Vote, Koment, Hadiah, dan rating ⭐5
__ADS_1