
"Ziv, pulanglah. Kita bicara di rumah." Zivana tengah membaca pesan masuk yang dikirimkan oleh Samudra.
Zivana menghela nafas, kini dirinya sedang berada di salon sang ibu untuk memanjakan dirinya agar tidak stres. Satu satunya fasilitas yang masih ia dapati dari orang tuanya hanya perawatan dirinya saja dan Yuri selalu senang melakukan perawatan atau segala macam treatment di salon dan klinik kecantikan milik Yuri.
"Dassar si tidak peka." Umpat Zivana.
Zivana segera membersihkan dirinya selesai di spa dan memilih kembali ke rumah mertuanya itu meski ia masih enggan untuk bertemu dengan Samudra.
Zivana langsung masuk ke kamar dan tidak mendapati adanya Samudra, Zivana tidak ambil pusing, ia segera berganti pakaian tidur dan naik ke atas ranjang untuk tidur.
Samudra berada di ruang kerja dan terus berusaha menghubungi Zivana, namun ponsel Zivana mati karena kehabisan daya.
Samudra mendengus kesal, "Kamu berhasil membuat porak poranda hatiku, apa aku sudah mencintaimu, gadis manja?"
Samudra menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda, kemudian ia kembali kekamarnya dan langsung ke walk in closet tanpa melihat ke arah tempat tidur, Samudra mengganti pakaiannya lalu ia berjalan kembali menuju tempat tidur.
"Ziv??" Panggil Samudra saat melihat Zivana sudah tertidur pulas dibalik selimut.
Samudra mendekat dan merapihkan rambut Zivana yang menutupi wajahnya. "Ah ternyata ini benar kamu." Samudra tersenyum lebar.
"Anak nakal." Ucapnya lagi lalu menciumi seluruh wajah Zivana kemudian menarik Zivana ke dalam dekapannya lalu tertidur bersama.
Keesokan paginya, Zivana bangun terlebih dahulu, ia melihat Samudra yang terus saja mendekapnya seolah takut kehilangan dirinya.
Perlahan, Zivana segera beranjak dan meninggalkan Samudra, ia memilih membersihkan diri lalu segera ke kamar Lova dan meninggalkan Samudra yang masih tertidur.
"Lov, bangun Lov..."
"Hemm apa sih Ziv.. Ini masih libur." Gumamnya dengan mata masih terpejam.
Zivana diam, lalu ia ikut masuk ke dalam selimut dan kembali tertidur bersama Lova yang masih terlelap sambil memeluk boneka.
"Padahal lebih enak memeluk suami dari pada boneka begini, Lov." Cibir Zivana.
"Kalau begitu kembali ke kamar suamimu." Balas Lova yang mendengarnya.
Zivana tertawa, "Kirain tidur."
__ADS_1
Lova membuka matanya. "Kamu pulang kapan?" tanya Lova dengan tubuh miring dan melihat Zivana dari samping.
"Semalam." Jawab Zivana menatap langit langit kamar Lova.
"Lov, jika aku meminta cerai pada Kak Sam, apa itu wajar?" Tanya Zivana dengan pandangam menerawang. "Sepertinya Kak Sam masih mencintai Rill. Tapi kenapa aku merasa hatiku sakit ya Lov?" Zivana mengeluarkan air mata dari sudut ekor matanya dan itu jelas terlihat oleh Lova.
"Ziv, are you okay?" Lova sedikit bangun dan mencoba menenangkan Zivana.
"Rasanya lebih sakit dari pada mendengar wanita lain di hamili oleh Daniel, aku melihat jelas Kak Sam begitu perduli pada Rill. Kenapa rasa cinta itu datang secepat ini, Lov? Kenapa harus aku duluan yang mencintai Kak Sam?" Zivana meraung mengeluarkan sesak di dadanya.
Lova menarik Zivana untuk duduk dan segera memeluknya sambil mengusap punggungnya. Lova sendiri terkejut karena mendengar Zivana yang sudah mencintai kakaknya itu.
"Aku ingin bercerai saja, Lov. Biar Kak Sam bisa mengejar Rill kembali. Tidak apa apa jika aku mengalah, sebelum perasaanku semakin dalam." Zivana terus menangis dan Lova masih setia memeluknya, memberi ketenangan untuk Zivana.
Rupanya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Samudra mendengar semuanya, Samudra pun merasakan rasa bersalah yang teramat besar pada Zivana.
"Ternyata kamu memang benar sudah mencintaiku. Maafkan aku, gadis manja." Gumam Samudra lalu kembali ke kamarnya.
Lova memberikan air minum untuk Zivana agar Zivana bisa lebih tenang.
"Lov, temani aku jalan jalan ya. Aku tidak mau hari libur ini berhadapan dengan Kak Sam."
Zivana menggelengkan kepalanya, "Aku tidak punya uang untuk belanja sebanyak itu, Lov. Gajiku saja bahkan tidak bisa membeli tas branded yang sedang aku incar." Keluh Zivana, "Kakakmu bebar bebar CEO yang pelit." Imbuh ya lagi dan Lova tersenyum mendengar hal itu.
"Kak Sam tidak memberimu Uang?" Tanya Lova.
"Kak Sam tidak memberikanku kartu, tapi segala kebutuhan yang jika memang aku perlu akan Kak Sam penuhi, hanya saja tidak untuk belanja yang menurut Kak Sam itu tidak penting, dan jika aku ingin belanja aku harus memakai uangku sendiri."
Lova mengernyitkan dahinya. "Kenapa?" Tanya nya heran.
"Aku berpikir mungkin karena aku belum memberikan hak nya Kak Sam. Lagi pula aku merasa tidak pantas untuk menggunakan uang Kak sam. dan juga aku sudah tinggal dan makan enak bersama Kak Sam disini." Jawab Zivana.
Lova menganggukan kepalanya, sebenarnya Lova sendiri tau jika Kakaknya itu sengaja melakukan hal itu untuk membuat Zivana sedikit dewasa dan lebih bijak lagi menggunakan kartunya, dan dapat merubah pola pikir Zivana. "Ya sudah aku akan mentraktirmu belanja." Kata Lova.
"Tidak mau, uangmu juga kan berasal dari Kak Sam." Ledek Zivana.
"Lalu kita kemana?" Tanya Lova
__ADS_1
"Kita di kamarmu saja menonton film. Aku juga malas keluar, tapi kamu harus selalu dekat denganku ya, aku tidak mau ada peluang Kak Sam dekat denganku."
Lova mengangguk, Lova mengerti kondisi Zivana, ia akan membantu sebisa mungkin untuk terus dekat dengan Zivana agar Samudra tidak bisa mendekatinya, Lova pun ingin jika Samudra menyelami perasaannya dulu.
Benar saja, seharian ini Zivana terus berada di kamar Lova, menonton film dan terkadang membahas masa sekolah mereka.
Samudra mencoba masuk ke dalam kamar Lova namun di kunci dari dalam. Samudra tau jika Zivana tengah menghindarinya.
Bahkan, saat makan malam, Lova dan Zivana tidak turun dan memilih meminta pelayan untuk membawakan makanannya ke kamar Lova. Lova beralasan pada Nadlyn jika tengah menonton sebelum besok kembali di sibukan dengan bekerja.
Lova pun melihat jika Samudra terlihat biasa saja dan seolah tidak terjadi apa apa. Membuat Lova semakin kasihan kepada Zivana.
"Kamu tidur di kamarku?" Tanya Lova.
Zivana mengangguk, tadi saat Samudra saat makan malam di bawah bersama kedua orang tuanya, Zivana menyempatkan diri ke kamar Samudra dan mengambil baju tidur juga pakaian ganti untuk esok bekerja dan menyimpannya di kamar Lova.
"Nanti kalau Kak Sam semakin marah bagaimana?" Tanya Lova.
"Biar saja, aku juga sudah akan menggugat cerai Kak Sam. Dia marah juga gak apa apa." Jawab Zivana terlihat tenang.
"Kamu sudah mencintai Kak Sam, masa tidak ingin berjuang lagi, masa mau menyerah begitu saja, lagi pula tidak mungkin Kak sam mengejar Rill kembali, Rill sendiri yang sudah menolak Kak Sam, memberi harapan palsu pada Kak Sam." Kata Lova mencoba membuka pikiran Zivana.
Zivana menghela nafas, "Kamu tidak melihat langsung bagaimana Kak Sam begitu panik saat Rill hampir memakan kacang polong itu." Zivana menjeda kalimatnya, "Aku mau menyerah saja, Lov."
"Ziv, bagaimana dengan perasaan Papi Mami mu, Daddy dan Mommyku?"
"Setelah pernikahan ini selesai, aku akan membantu Papi mengelola perusahaan untuk mengobati rasa kecewa Papi. Aku tidak akan memikirkan lagi cinta, karena ternyata lebih enak menjadi seorang anak dari kedua orang tuaku dari pada menjadi seorang istri dari seorang pria."
"Kamu baru sadar?" Ledek Lova. "Tapi aku tidak ingin kamu bercerai dari Kak Sam."
Mereka sama sama diam. "Bertahanlah sebentar lagi saja, Ziv. Aku yakin Kak Sam bisa mencintaimu sebentar lagi saja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kira kira Ziv bertahan atau menyerah? Ada yang bisa tebak karakter Ziv disini?
Mumpung senin, aku minta Votenya ya. Lomba novel ini akan berakhir tengah bulan ini tapi Vote ku masih sedikit 🥺
__ADS_1
Aku minta dukungannya ya 🙏