
Tiba keberangkatan mereka ke Maldives, Zivana merasa heran karena Lova tidak ingin mengantarnya, bahkan Samudra melarang Zivana untuk mengunjungi Dirga dan Yuri dengan alasan nanti saja sepulang dari Maldives sambil membawakan oleh oleh. Zivana pun menurut, ia berpikir apa yang dikatakan oleh Samudra benar adanya.
"Kak, Mommy dan Daddy kemana?" Tanya Zivana merasa heran karena tadi melihat rumah yang terlihat sepi.
"Mommy dan Daddy ke Swiss untuk mengunjungi Oma Nanda dan Opa Pras." Jawab Samudra.
"Koq aku tidak tau?"
"Kamu seperti tidak tau Daddy saja, jika pergi bersama Mommy selalu dadakan."
Zivana hanya menganggukan kepalanya saja. Ia tidak ingin bertanya lagi dan hanya fokus pada jalanan hingga mereka tiba di bandara.
"Kita naik pesawat pribadi Oma."
"Memang tidak dipakai oleh Daddy?" Tanya Zivana setelah mereka duduk bersama di dalam sebuah pesawat.
"Daddy dan Mommy naik pesawat pribadi Opa."
"Ternyata keluarga Oma dan Opa kaya sekali." Gumam Zivana. "Tapi cucu mereka pelit sekali." Imbuhnya lagi menyindir Samudra.
"Oma dan Opa memiliki kekayaan masing masing. Dulu Oma pewaris tunggal ARDA KARYA, dan turun pada Daddy karena hanya Daddy anak kandungnya, sementara Aunty Sya adalah anak Opa dari istri sebelumnya dan mewarisi kekayaan Opa yang dibagi dua dengan Daddy juga." Kata Samudra.
"Hah beruntung sekali dong Kakak." Kata Zivana.
"Menurutku itu bukan sebuah keberuntungan, Sayang." Kata Samudra membuat Zivana menoleh ke arahnya.
"Itu adalah sebuah amanat yang harus aku jalankan. Sebenarnya dulu aku ingin sekali menjadi seorang dokter seperti Opa, hanya saja Oma slalu mengatakan padaku jika aku harus menjadi anak yang pintar karena ARDA KARYA akan jatuh padaku."
Kata kata Samudra membuat Zivana terus melihat ke arah Samudra yang duduk di sebelahnya. Samudra berbicara dengan tenang namun seolah tengah menyampaikan isi hatinya selama ini.
"Kenapa Kakak tidak menolaknya dan memperjuangkan impian Kakak untuk menjadi seorang dokter?"
Samudra menjawabnya hanya dengan senyuman. "Dudukmu sudah nyaman?" Tanya Samudra mengalihkan pembicaraan.
Zivana mengangguk dan sedikit kecewa karena Samudra tidak mau bercerita padanya.
Samudra menggenggam tangan Zivana, "jangan banyak bertanya soal apapun, tugasmu hanya cukup mendampingiku sampai tua." Kemudian Samudra mencium punggung tangan Zivana dan kembali menggenggamnya erat.
"Tidurlah, perjalanan kita sekitar 7 jam." Kata Samudra.
"Tunggu sebentar Kak." Zivana melepaskan genggaman tangan Samudra lalu membuka tas nya. Zivana mengambil satu sachet kemasan tissue masker untuk wajahnya.
"Aku harus memakai ini agar kulitku tetap lembab dan tidak kering saat perjalanan udara." Kata Zivana tanpa berdosa dan tersenyum.
__ADS_1
Samudra hanya bisa tersenyum melihat Zivana yang dimanapun selalu memikirkan kecantikannya. Kini Samudra tidak akan protes lagi, karena menurutnya Zivana melakukan hal ini juga untuk Samudra.
"Kakak mau pakai juga?" Tanya Zivana.
"Tidak, Bee.. Kamu saja." Kata Samudra dan Zivana segera memakai masker di wajahnya dan mengambil posisi yang menurutnya nyaman.
Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam 30 menit, akhirnya Samudra dan Zivana tiba di Maldives. Mereka lanjut menaiki seaplane dan lanjut menaiki Boat untuk menuju resort yang di tujunya, tujuannya adalah ke W Maldives sebelum akhirnya Samudra memberikan kejutan untuk Zivana.
"Waahh keren sekali kamarnya." Seru Zivana saat memasuki satu Villa dengan private pool dengan pemandangan langsung ke laut.
"Kamu suka?" Samudra memeluk Zivana dari belakang membuat Zivana sedikit terkejut.
"Harusnya, orang sekaya Kakak bisa menyewa Villa lebih dari ini, misal menyewa pulau pribadi di sekitar sini, jangan hanya menyewa Villa saja." Ucap Zivana yang membuat Samudra tersenyum.
"Untuk apa? Kita kan kesini untuk bekerja."
"Ck, rasanya aku jadi malas sekali bekerja dan hanya ingin menghabiskan waktu di villa saja."
"Mana bisa begitu." Kata Samudra mengerjai Zivana.
Zivana menghembuskan nafasnya kasar, "Kak, bisa tidak jika Kakak memanggil Jimmy kesini saja untuk menemani Kakak bekerja. Aku rasanya jadi malas sekali."
"Tidak bisa, Jimmy menghandel pekerjaanku selama aku disini, apa lagi Daddy juga tidak ada ditempat." Jawab Samudra membuat Zivana mencebik.
"Hei mau kemana?"
"Tidur sebentar, aku jetlag."
"Jangan alasan, Honey bunny sweety." Goda Samudra.
Zivana menghela nafas. "Kita akan bertemu klien untuk membahas perencanaan nanti malam kan? Setidaknya masih ada waktu tiga jam aku tidur dan mempersipakan diri."
"Hem, baiklah..." Jawab Samudra karena sudah melihat wajah lelah Zivana.
"Tumben tumbennya dia tidak memaksa." Gumam Zivana sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk.
"Aku mendengarnya, sweety..."
Zivana segera mengatupkan mulutnya dan langsung memejamkan matanya. Sementara Samudra mengambil ponselnya lalu mulai keluar dari Villa setelah memastikan Zivana tertidur.
Samudra menyempatkan diri meninjau proyek yang akan ia tangani dengan bekerjasama dengan salah satu pengembang di Maldives, Sebenarnya ini bukanlah proyek yang benar benar harus ARDA KARYA tangani, ARDA KARYA hanya menanam modal di perusahaan yang bekerjasama dengannya dan Samudra hanya datang untuk tanda tangan juga meninjau proyeknya saja.
Samudra juga meninjau restoran yang sudah ia sewa untuk memberikan kejutan pada Zivana, bahkan restoran itu di hias dengan bunga mawar putih kesukaan Zivana.
__ADS_1
"Sempurna..." Samudra tersenyum saat melihat dekorasi indah tapi sederhana itu. "Ziv pasti suka." Ucapnya yakin.
Samudra merogoh saku jasnya, kemudian mengambil sebuah kotak cincin. Samudra membuka kotak itu, cincin pernikahan yang belum Samudra berikan karena di saat pernikahan, Zivana memakai cincin yang harusnya ia pakai jika menikah dengan Daniel dan tentu saja Zivana tidak memakainya sama sekali selepas pernikahan itu.
Samudra tidak kembali ke kamarnya, ia langsung ke suatu tempat dan menyuruh seseorang untuk ke Villa ditempat Samudra menginap untuk menjemput Zivana.
Zivana membuka matanya saat mendengar suara bel di Villanya. Ia duduk dan melihat sekitarnya dan tidak menemukan keberadaan Samudra.
Dengan malas Zivana membuka pintu Villanya dan melihat seorang wanita dengan berpakaian rapih.
"Nona Zivana, ini untuk anda. Silahkan ada bersiap dan pakai ini, Tuan Samudra sedang menunggu anda." Kata wanita itu dengan bahasa inggris.
"Kak Samudra meninggalkanku?" Gumamnya yang tidak di mengerti oleh wanita itu.
Zivana menghela nafas lalu kembali menatap wanita itu. "Baiklah satu jam lagi jemput saya kembali." Balasnya dengan menggunakan bahasa Inggris.
Zivana segera mandi dengan terburu buru, padahal tadinya ia ingin berendam di dalam air hangat untuk menghilangkan pegal pegalnya, namun apa daya, Samudra meninggalkannya seorang diri di dalam Villa dan menyuruh dirinya untuk menyusul.
Zivana membuka paperbag yang dibawakan oleh wanita tadi, dan melihat sebuah gaun malam elegan yang begitu indah berwarna broken white.
"Ini indah sekali." Gumam Zivana sambil menatap gaun malam yang ia angkat oleh kedua tangannya.
"Apa tidak berlebihan, hanya membahas proyek dengan memakai pakaian seperti ini?" Kata Zivana bermonolog.
Zivana mengerdikan bahunya, "Sudahlah, biar aku pakai saja, siapa tau Kak Sam senang dan akan membelanjakan aku banyak barang branded disini jika aku membuat hatinya senang." Gumamnya lagi sambil memakai gaunnya itu.
"Dasar si tidak peka, ninggalin aku begitu saja disini." Umpat Zivana sambil merias dirinya di depan cermin. Riasan natural dengan
Rambut sedikit tergerai membuat Zivana terlihat anggun dan mempesona.
***
Visual Zivana
Visual Samudra
Cocok Gak Visualnya?
Baru kali ini aku kasih Visual diantara semua Novelku.
__ADS_1
Sabtu-Minggu 1 Bab dulu ya, karena aku mau keliling silaturahmi ke keluarga sebelum memasuki bulan Ramadhan, dan keluargaku juga keluarga suami itu banyak, jadi seharian kita bisa kunjungin 4 keluarga, mohon di maklum ya 🙏