Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
Pertemuan pertama


__ADS_3

Gelombang laut yang menggila, menghantam setiap yang ada, laut sedang pasang naik. Ditambah lagi, badai yang datang tiba-tiba. Sang nahkoda kapal, berusaha agar wisatawan yang ada dalam kapal tetap selamat. Namun, alam adalah rajanya. Kapal yang berisi dua puluh empat wisatawan menjadi oleng


"Semuanya pakai pelampung, cepat!," seruan yang cukup keras dari seseorang yang tetap saja kalah dengan deruan ombak yang kencang.


"Duarr." semburan air yang kuat menghantam kapal. Dalam seketika kapal menjadi terbalik dan manusia didalamnya tersebar, mengapung tanpa arah.


Tak lama kemudian, beberapa regu penyelamat sudah mengevakuasi kapal wisatawan tersebut.


Diantara rombongan tersebut, ada pak suryo bersam istrinya Buk Rani dan anak tunggal mereka Sheli. Mereka berencana akan melakukan perjalan bisnis dan menghabiskan liburan mereka di pulau yang keindahannya seperti surganya dunia.


Sekarang musim pasang naik ditambah lagi musim hujan hingga mengakibatkan ombaknya cukup tinggi. Kejadian yang cukup cepat, membuat semua orang terlihat syok.


Ibu Rani yakin Sheli telah ditolong oleh seseorang namun, kenyataanya setelah sampai di daratan, Sheli tidak terlihat. Kepanikan pun terus terjadi, ternyata setelah didata ada sekitar tiga orang dari penumpang yang masih belum bisa diselamatkan.


"Papa, Mama melihat Sheli ditarik oleh seseorang saat badai itu terjadi. Sheli pasti selamatkan, Pa." Kecemesan Rani Ibunnya sherli yang terus berharap bisa bertemu dengan anaknya.


"Iya, ma. Pasti Sheli bisa selamat." Pak Suryo yang berusaha menghibur Istrinya.


"Pa, Mama Takut Sheli, baik-baik sajakan." Ibu Rani mengulang lagi kalimatnya. Pak Suryo hanya mengangguk, sambil memeluk istrinya.


"Jika Sheli selamat aku akan mengabulkan semua keinginannya Pa, bahkan jika ia di selamatkan oleh seseorang laki-laki akan aku jadikan suami anakku dan jika permpuan akan aku angkat dia menjadi anak ku". Seruan buk Rani hampir memohon. Pak Suryo hanya bisa memeluk istrinya agar tetap tenang.


Pencarian terpaksa dihentikan, mengingat bahaya yang cukup mengancam. Hampir satu malam badai terus saja terjadi, ombak yang cukup tinggi menghempas pantai.

__ADS_1


 


***


Di tempat lain, seorang laki-laki yang badannya tegap dengan kulit agak kecoklatan akibat sengatan matahari, layaknya anak pantai, ia adalah Rinto,  berusaha menolong dua orang yang ikut terdampar dengannya. Seorang laki-laki gagahnya seperti opha opha Korea dan perawakan yg sempurna. Sudah mulai terbatuk dan menyemburkan air dari mulutnya.


"Amankan, Bro."


"Ok,ok." Laki-laki itu mengacungkan kedua jempol tangannya sambil berusaha bernafas normal.


Rinto beralih pada perempuan yang disampingnya.


"Cantiknya, apakah ia manusia atau putri duyung?" gumam Rinto yang tertegun sesaat sambil memandangnya.


"Hah?" Rinto baru tersadar dari lamunannya. Rinto berusaha memberikan nafas buatan. Namun, mata  gadis sudah terbelalak melihatnya itu dan terbatuk mengeluarkan air dari mulutnya, Rinto berusaha menolongnya untuk duduk. Tapi tangannya ditepis langsung oleh gadis tersebut.


"Hei, kamu sengaja ya mengambil kesempatan dalam kesempitan, hah" tuduh gadis itu sambil menatap Rinto.


"Hei, cantik cantik jutek," balas Rinto.


"Biarin, daripada kamu, hitam pekat punya otak mesum lagi."


"Ayolah, kita cari tempat yang aman. Aku tau dimana lokasinya, dibanding meladeni si otak sempit ini." Ajak Rinto sambil berdiri dan menjulurkan tangan pada laki,-laki di sampingnya.

__ADS_1


"Thanks, Bro," ucapnya


"Hei, apa kamu bilang, otak sempit."


"Iya, kamu mau terus disitu atau ikut."


"Aku, bisa sendiri," ucapnya saat Rinto mencoba membantunya.


"Ops, iya." Rinto menepuk kedua tangannya yang sudah terlanjur diberikannya.


"Kita belum kenalan, Choki." Choki mengulurkan tangan pada Rinto.


"Hai, Rinto." Mereka beralih pada gadis cantik disamping mereka.


"Sheli." gadis itu memperkenalkan dirinya, dengan tetap memberikan ekspresi cemberutnya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2