
Jordi mengemudikan mobilnya perlahan , sesekali ia melirik Dila yang sedari tadi lebih banyak diam . Gadis itu memilih untuk menikmati pemandangan dari kaca mobil di sebelahnya . Sikap diam Dila terasa aneh bagi Jordi , karena meski baru beberapa hari ia mengenal gadis itu ia sudah terbiasa dengan sikapnya yang banyak bicara .
" Apa ada yang mengganggumu ?" Akhirnya Jordi tidak bisa menahan rasa penasarannya .
" Ah...tidak ada " jawab Dila singkat .
Gadis itu kembali dengan kebisuannya .
Karena Dila kembali diam , Jordi memilih untuk mengemudi tanpa bertanya apapun lagi pada gadis itu .
Mereka tiba di rumah Dila satu jam kemudian . Dila turun dari mobil , setelah mengucapkan terimakasih ia lalu berjalan menuju rumah tanpa menawarkan Jordi untuk singgah . Dila bahkan tidak menghiraukan Mak Asih yang berdiri di teras menyambut kedatangan mereka .
Mak Asih yang tengah duduk di teras rumah menghampiri Jordi yang terdiam sambil keheranan melihat sikap Dila yang tiba tiba dingin .
" Terimakasih tuan .., tuan tidak mampir dulu ? " Mak Asih menyapa ramah dirinya .
" Tidak Mak , saya ada pekerjaan , tolong beritahu saya jika ada apa apa dengan Dila " ucapnya seraya .memutat setir mobilnya setelah Mak Asih mengangguk ramah . Entah kenapa ia merasa kesal dengan sikap Dila barusan .
Setelah kepergian Jordi Mak Asih segera menemui Dila di kamarnya .
Dilihatnya gadis itu tengah termenung di sisi ranjang , sambil menatap foto keluarganya saat masih kecil .
" Neng ..apa terjadi sesuatu ? " Tanya Mak Asih sopan .
Dila yang tengah termenung tidak mendengar pertanyaan Mak Asih ,
" Neng....." Panggil Mak Asih kali ini dengan suara yang lebih keras .
" Ach ...ya ada apa Mak ? " Tanya Dila dengan wajah terkejut .
" Eneng kenapa ? , Apa terjadi sesuatu ? " Tanyanya melihat wajah murung Dila .
" Tidak Mak...hanya saja Dila rindu eyang , rindu bunda , rindu ayah " jawab Dila dengan mata berkaca-kaca .
Mak Asih memeluk Dila penuh kasih sayang . Memang malang nasib gadis di hadapannya , ia telah menjadi yatim saat berumur 12 tahun , lalu sang ibu meninggal dua tahun kemudian .
Satu satunya anggota keluarganya adalah eyang saka , namun lelaki itu kini juga telah tiada .
Dila adalah anak yang baik juga manja , meski sudah hampir berusia 21 tahun , gadis itu tidak pernah terlibat dalam hal hal yang tidak baik . Bahkan sepanjang sepengetahuan Mak Asih , ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun .
Setiap jum' at sore ia pulang kerumah , dan pergi ke Bandung di Senin pagi .
Dila selalu memperlakukan sang kakek seperti seorang kekasih , mereka menghabiskan akhir pekan dengan memancing , bertanam atau bahkan berkeman .
Eyang saka selalu terlihat bugar dan sehat . Siapa yang menyangka ia akan pergi begitu cepat meski usianya sudah hampir delapan puluh tahun .
" Sing sabar ya neng..., Dila tidak sendirian , kami adalah keluarga Dila . Selain itu bukankah Tuan Gunawan sudah berjanji pada almarhum eyang akan menjaga Dila " ucap Mak Asih sambil menepuk-nepuk punggungnya .
" Dila bahkan tidak mengenal mereka " jawab Dila masih dengan nada sedih .
" Mungkin Dila lupa , saat masih kecil dulu Dila sering bermain dengan cucu beliau " ucap Mak Asih membuat Dila bingung .
" Benarkah ? " Tanya Dila .
" Iya .... keluarga Tuan Gunawan pada awalnya sangat dekat , tapi karna mereka sangat sibuk jadi jarang bertemu , namun sejak ayahmu meninggal mereka kembali berhubungan meski hanya lewat telp " Mak Asih bercerita .
" Kenapa aku tidak tahu..? " tanya Dila .
" Mak juga gak tau..." Jawab mak Asih .
" Mak...apa mereka orang baik ? , Maksudnya kalau Dila tinggal dengan mereka apa mereka benar benar akan baik pada Dila ? " Tanya Dila ragu ragu .
" Apa neng mau tinggal dengan mereka ? " Tanya Mak Asih dengan wajah ingin tahu .
" Entahlah...malam sebelum eyang wafat , dia bilang agar Dila tinggal dengan mereka " jawab Dila sambil cemberut .
Mak Asih terdiam sejenak . " Mungkinkah ini pesan tersirat tuannya untuk sang cucu " , pikirannya dalam hati
" Neng pasti tahu eyang tidak pernah salah dalam menilai seseorang " ucapnya setelah terdiam beberapa saat .
__ADS_1
" Neng ...sudah sarapan ? " Tanya Mak Asih
Dila menggelengkan kepalanya , sambil menarik nafas panjang .
" Kenapa ..? , Bukannya di hotel ada sarapan ? " Tanya Mak Asih heran .
" Tadi Dila malas mau makan " jawab Dila sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela , ia tidak mungkin bercerita bahwa ia malu untuk makan di restoran hotel karna gunjingan yang menyebar di kalangan pegawai karena ia dan Jordi menghabiskan malam mereka berdua dalam satu kamar , apa kata Mak asih nanti .
Sampai sekarang Dila mengutuki dirinya yang tertidur dengan mudah di dekat lelaki angkuh itu .
" Kalau begitu Mak buat sarapan untuk neng Dila ya " ucap Mak Asih sambil melangkah , namun tiba tiba wanita itu menghentikan
langkahnya .
" Oh ya...hampir lupa kemarin ada seorang tentara muda datang mencari neng , katanya teman dari Bandung , dia sudah mencoba menelpon no hp neng Dila tapi tidak di angkat " ucapnya kemudian .
" Tentara ? " Tanya Dila .
" Ya... Ganteng pisan orangnya ( orangnya tampan ) " ucap Mak Asih . Wanita itu berdiri di pintu kamar Dila . Namun karna Dila hanya termangu iapun segera melangkahkan kaki meninggalkan kamar itu .
Dila terpaku di depan jendela mendengar kata kata Mak Asih barusan .
" Apa mungkin...." Dila menghela nafas seraya bergegas mencari handphonenya yang tidak ia perdulikan beberapa hari terakhir . Lama gadis itu mencari cari handphonenya namun tak juga ia temukan .
Gadis itu berlari ke dapur .
" Mak..... Liat hp Dila nggak ? " Tanya gadis itu setelah berada di dapur .
" Hp... Oh kemarin pagi waktu Dila pergi ada di teras , jadi Mak simpan di kamar Dila " jawab Mak asih yang tengah memasak sesuatu .
" Di taruh di mana ? " Tanya Dila cepat .
" Di Lemari baju , di laci bawahnya itu... " ucap Mak asih .
Dila dengan cepat berlari kembali ke kamarnya sebelum Mak asih selesai memberi penjelasan . Mak asih hanya geleng-geleng .
" Neng ...sarapan hela' " Mak Asih muncul di depan kamar , Dila tengah termenung di pinggir ranjang sambil memegang handphone yang tengah di charger .
" Nanti Mak...oh ya lelaki yang datang mencariku , seperti apa dia ? " Tanya Dila .
" Seperti....artis..itu yang di iklan shampo solder.." jawab Mak Asih .
" Head and shoulder maksudnya ?" Dila mengoreksi .
" Ya itulah pokoknya " Mak Asih tertawa .
" Siapa namanya ? " Tanya Dila lagi
" Ah...itu dia Mak lupa nanya ...habis gantengnya sungguh terlalu sama kayak den Jordi , tapi lebih ganteng den Jordi sih , cuma dia lebih keren " Mak Asih bercerita penuh semangat membuat Dila mencibir .
" Mana satu yang ganteng ? " Tanya Dila sambil tersenyum .
" Dua duanya punya pesona.." jawab Mak Asih dengan wajah ganjen .
" Dasar emak emak ganjen..." Cibir Dila .
" Neng lagi ngapain ngelamun gitu..., Makan dulu nanti sakit " ucap Mak Asih sambil menghampirinya .
" Handphone ku low bat , " jawab Dila sambil berjalan menuju lemari . Gadis itu mengambil pakaian ganti .
" Jadi...neng Dila setelah empat puluh hari eyang akan ke Bandung lagi ? " Tanya Mak Asih tiba tiba .
" Entahlah Mak...terus terang rumah ini membuat Dila keinget eyang terus...kasian eyang kalau Dila nggak ikhlas juga , mungkin Minggu ini Dila kembali ke Bandung . Kuliah juga sedang banyak kelas " jawab Dila .
" Tinggal tempat Tuan Gunawan kan ? " Tanya Mak Asih .
Dila terdiam beberapa saat .
" Akan Dila pikirkan " jawabnya kemudian .
__ADS_1
" Mak masak apa ? " Tanya Dila , perutnya tiba tiba lapar .
" Mak buat nasi goreng , makanlah . Mak mau menemui Lilis ke pabrik , hari ini pengepul ambil barang " Mak asih meninggalkan kamar itu . Dila segera berganti pakaian , ia kemudian ke ruang makan untuk sarapan .
Selesai makan Dila kembali ke kamarnya . Ia segera mengambil handphonenya yang masih di charger , baterai telah terisi tiga puluh persen . Ia segera menekan tombol power .
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Suara pesan masuk berbunyi tak henti untuk beberapa saat setelah handphonenya menyala . Kebanyakan pesan ada di percakapan WhatsApp groupnya .
Ada jg pesan dari beberapa teman yang menanyakan kabar dan juga mengungkapkan belasungkawa .
Dila menscroll chat kebawah mencari sebuah pesan . Namun akhirnya gadis itu hanya membaca percakapan di group kelasnya , dan juga chat ucapan bela sungkawa atau chat teman temannya yang menanyakan kabar .
Dila kembali meletakkan handphonenya ke meja kecil di sisi ranjang , ia mengurungkan niatnya saat melihat tanda merah di icon panggilan . Gadis itu segera mengecek panggilan telepon yang ia lewatkan .
Deg....
Jantung gadis itu berhenti sesaat melihat sebuah nama yang terdaftar dari sekian orang yang menelpon dirinya .
Gadis itu tertegun sambil menatap handphonenya .
Pria dingin , begitu nama kontak itu tertera .
Setelah sekian lama bahkan nama kontak itu masih mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat .
Dila terkejut saat tiba tiba handphonenya bergetar dan ia menerima panggilan dari no kontak yang sama . Untuk beberapa saat gadis itu hanya terdiam sambil memandang layar handphonenya , Lalu dengan ragu ia menerima panggilan telepon tersebut .
" Halo..." Jawab Dila dengan Nada sedatar mungkin .
" Apa kabar ? " Suara yang sangat ia kenal terdengar dengan tenang menyapanya .
Dila terdiam tidak tau harus menjawab apa .
" Maaf akau baru mengetahuinya dua hari lalu , apa kau baik baik saja " tanya penelpon itu , suaranya dalam dan tenang .
Dila masih terdiam . Tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya . Entahlah saat ini dia tidak tahu apakah dia sedang marah atau bahagia . Pria dingin itu tiba tiba menelponnya setelah setahun lebih menghilangkan diri . pria yang tidak menjawab pernyataan cintanya , dan menghilang begitu saja .
" Dila apa kau masih mendengar ku ? " Tanya pria itu , nada suaranya sangat tenang .
" Ya..." Jawab Dila singkat .
" Maaf aku kehilangan handphoneku ketika pergi , emh...apa kau baik baik saja ? , Aku ikut berdukacita " ucap pria itu dengan suara dalam .
" Apa itu yang ingin kau ucapkan ? , Apa kau tahu bagaimana perasaanku !!!" Dila berteriak dengan suara bergetar .
" Maaf..." Satu jawaban dari pria itu membuat dila terdiam .
" Aku akan menemui mu untuk ....
" Arga.... !! " Sebuah suara terdengar memanggil Arga . .
" Dila aku akan menelpon mu lagi nanti " ucap pria itu seraya menutup teleponnya .
Dila terdiam sambil memegang handphone di telinganya .
" Pria dingin itu kembali " gumamnya .
Dila mesih tidak percaya bahwa dia baru saja menerima telepon dari orang yang selama ini seakan menghindarinya . pria yang membuat ia jatuh cinta , pria yang ingin ia lupakan namun tidak bisa . pria yang membuat ia patah hati hingga tidak mampu memiliki getaran sama pada lelaki manapun .
__ADS_1