
" Jo..kamu kenapa sih dari tadi banyak diam " tanya Nabila sambil membetulkan posisi duduknya .
"Tidak apa apa ..hanya sedang capek saja " jawab Jordi malas .
" Mungkin kepikiran calon " Gino tertawa sambil mengerlingkan matanya pada Jordi .
" Apa kau bilang...?! " Jordi menatap Gino garang , sahabatnya itu hanya tertawa melihat reaksinya .
Malam ini Jordi memang sedang berkumpul dengan teman teman kuliahnya yang masih berhubungan dengannya setelah lulus .
Gino adalah sahabatnya yang juga telah memimpin perusahaan ayahnya yang berupa pabrik rokok di Batam , kebetulan ia tengah berlibur .
Sedangkan Nabila adalah temannya yang merupakan seorang arsitek yang kini bekerja di perusahaan ternama .
Dina dan Ardi yang merupakan sepasang kekasih mereka hanya asyik bercanda seakan dunia milik berdua . mereka membuka usaha kuliner berdua .
Biasanya Jordi akan merasa senang setelah menghabiskan waktu bersama mereka di resto yang buka hingga dini hari itu . Setelah pulang dari Sukabumi ia merasa sangat bosan diam di rumah setelah pulang kerja , ia bermaksud mencari hiburan dengan berkumpul dengan teman temannya , namun entah kenapa ia justru seperti orang bodoh berada bersama mereka .
" Kamu benar benar akan menerima perjodohan itu ? " Tanya Nabila
" Mau gimana lagi , kapan dia pernah menolak perintah kakeknya " Ardi yang dari tadi asik dengan sang kekasih menyela .
" Kamu sudah ketemu orangnya kan ? , dia cantik ? " Tanya Gino . Jordi hanya diam mendengarkan pertanyaannya .
" Terus gimana dengan Risa ? " Pertanyaan Nabila membuat semua orang di tempat itu terdiam . Mereka semua tahu hubungan Jordi dan Clarisa sedang tidak baik .
karena Keluarga Jordi tidak begitu menyukai Clarisa , gadis itu meminta Jordi merenungkan kembali hubungan mereka . Namun terdengar kabar sebenarnya Clarisa tengah dekat dengan seorang pengusaha muda .
" Ach.... kayaknya aku harus pulang , besok ada meeting dengan klien " Gino bangkit dari kursinya . menghindari terjadinya keributan jika Jordi tiba tiba uring-uringan .
" Kau mau kemana ? ! " Jordi berkata dengan Nada garang .Gino kembali duduk . Nabila terdiam , ia tahu ia telah salah bicara .
" Mungkin ini kesempatanmu untuk move on" Ardi berkata sambil meminum kopinya .
" Urus saja urusanmu " ucap Jordi dengan nada dingin .
Teman temannya hanya terdiam mendengar ucapannya .
" Kami harus pulang sekarang " Ardi mengajak Dina meninggalkan tempat itu . Tak lama Gino dan Nabila juga pergi dengan alasan harus bangun pagi esok hari .
Jordi segera meninggalkan tempat itu setelah membayar di kasir . Ia melangkah menuju parkiran mobil dengan lesu . Dilihatnya langit malam yang berkabut , kerlipan bintang di langit membuat ia teringat ketenangan yang ia rasakan saat melihat bintang di Sukabumi .
" Kenapa aku jadi suka melihat bintang ? " Tanyanya dalam hati .
Getar handphone di saku celananya membuyarkan lamunan Jordi . Di raihnya handphonenya , No sang ayah tertera di layar handphone .
" Kau Dimana ? " Suara sang ayah yang tegas menggema di handphonenya .
" Aku baru akan pulang " jawab Jordi .
" Cepatlah pulang , ayah tunggu tiga puluh menit , kita akan pergi ke Sukabumi " ucap sang ayah seraya menutup telponnya .
__ADS_1
Jordi terdiam sesaat berusaha berfikir . Ia lalu berjalan dengan cepat menuju mobil , mungkin terjadi hal yang buruk pada sang kakek .
Sesampainya di rumah , sang ayah telah menunggunya di halaman bersama sopir keluarga . Ada mobil om Adit yang merupakan kakak ayahnya yang juga terparkir disana . Jordi turun dari mobilnya dengan perasaan cemas .
" Kami berangkat duluan " ucap om Adit yang segera masuk mobilnya bersama sang istri .
Mobil mereka segera melaju meninggalkan rumah itu .
" Kau dari mana saja hingga malam begini ? , Masuklah kita berangkat sekarang ' ucap sang ayah sambil masuk mobil . Nyonya Nisa menghampiri Jordi sembari melambaikan tangan pada suaminya .
" apa terjadi sesuatu " tanya Jordi pada ibunya yang hanya mengenakan piyama .
" Ada kabar duka dari Sukabumi , " ucap sang ibu sambil menepuk bahunya .
" Apa yang kau lakukan , cepatlah masuk " sang ayah berteriak dari dalam mobil .
Jordi segera meninggalkan sang ibu yang belum menjawab pertanyaannya .
Tak lama mereka berkendara sebuah pesan masuk lewat aplikasi WhatsApp miliknya .pesan itu dari sang ibu .
" Eyang Saka meninggal dunia " Jordi terdiam membaca pesan singkat sang ibu .
Ia tidak menyangka akan menerima kabar duka itu . Ia lega bukan sang kakek yang mengalami hal buruk , namun ia juga sedih dan juga resah ,. Musibah ini pasti akan membuat perjodohan itu makin pasti terlaksana .
*****
Suasana sudah ramai di Rumah eyang Saka ketika Jordi dan rombongan tiba disana setelah subuh . Bendera kuning terpasang di gerbang masuk . Tenda telah berdiri di halaman yang luas itu .
Eyang Saka memang merupakan tokoh masyarakat yang di segani di kampung tersebut bahkan ke kampung kampung di sekitarnya .
Pemakaman eyang Saka berlangsung hikmah . Banyak pelayat yang ikut mengantar almarhum hingga ke liang lahat . Menjelang shalat Dzuhur pemakaman telah selesai , semua orang pulang dan meninggalkan area pemakaman .
Dila masih setia berlutut di samping makam . Bu lurah dengan setia menemani dirinya , begitu juga dengan tuan Gunawan dan pak Karman . Mak Asih dan Lilis tidak mengantar hingga ke pemakaman karna mereka terus saja menangis .
Dila berkali kali menghela nafas , tidak ada lagi air mata yang keluar di wajah itu . Ia hanya terdiam dan sesekali menghela nafas .
Sikap Dila yang begitu tegar membuat tuan Gunawan makin kagum akan keberanian gadis itu .Ia makin bertekat untuk menjadikan Dila cucu menantu keluarga nya
Jordi beserta ayahnya dan tuan Aditya langsung pulang sore itu . Sementara tuan Gunawan memilih untuk tinggal meski anak anaknya meminta ia pulang karna khawatir akan kesehatan dirinya , namun siapa yang berani memaksa keinginan tuan Gunawan .
Setelah tiga malam berlalu , tuan Gunawan pamit kepada Dila dan seluruh penghuni rumah untuk pulang . Sebelum pergi ia mengajak Dila berbicara empat mata .
" Dila.. seperti amanat eyang , saat kembali ke Bandung nanti tinggallah di rumah kakek " tuan Gunawan berucap dengan lembut pada Dila .
" Akan Dila pikirkan kek " jawab Dila dengan suaranya yang parau .
" Tidak ada yang perlu di pikirkan , apa kau ingin menentang keinginan kakekmu ? " Tuan Gunawan menatap dalam wajah Dila .
" Baiklah..." Jawab Dila sambil tersenyum paksa .
" Kami akan pulang sekarang , sopirku akan menjemputmu setelah empat puluh hari " ucap eyang seraya beranjak dari duduknya .
__ADS_1
Lelaki tua itu memeluk Dila penuh kasih sayang .
Tuan Gunawan dan pak Nurdin meninggalkan rumah itu , lambaian tangan Dila dan penghuni rumah mengiringi kepulangannya ke Bandung .
Tuan Gunawan meninggalkan desa itu dengan rasa sedih . Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan cara untuk memenuhi permintaan almarhum sahabatnya .
" Temanku apa yang harus ku lakukan ? ,
Bisiknya dalam hati .
" Aku sungguh ingin menjaga Dila dan menjadikan dia cucu menantuku " gumam Tuan Gunawan .
" Apa Tuan ? " Pak Nurdin menjawabnya dan karena mengira tuannya berbicara pada dirinya .
" Ach tidak..., " Tuan Gunawan terdiam .
" Apa kau mempunyai kabar terbaru tentang gadis itu ? " Tanya tuan Gunawan tiba tiba .
" Yang mana tuan ? " Tanya Nurdin tidak begitu paham maksud tuannya .
" Maksud saya kekasih nak Jordi atau nak Jidan ?" Pak Nurdin menjelaskan maksud pertanyaannya .
" Jangan sebut nama anak durhaka itu , aku tidak akan menerima dirinya kembali . Dan minta seseorang untuk mendeportasi dia jika pulang ke negara ini " bentak Tuan Gunawan .
Pak Nurdin hanya diam . Ia tidak jadi menyampaikan informasi tentang Jidan yang ingin ia sampaikan karena tuan Gunawan telah emosi lebih dulu .
" Saya dengar mereka telah putus , nona Clarisa sekarang tengah dekat dengan anak seorang pejabat yang menjadi pengusaha sukses " pak Nurdin melaporkan hasil penyelidikan anak buahnya setelah tuan Gunawan tenang .
" Aku minta kau mengamati kegiatan Rizky , laporkan kepadaku semuanya " perintah tuan Gunawan
" Nak Rizky tuan ? " Tanya pak Nurdin memastikan
" Ya..." Jawab tuan Gunawan seraya memejamkan mata .
" Ah...akan ada badai di rumahku .
aku tidak menyangka akan melakukan ide gilamu Saka , kau membuat aku menjadi orang tua gila " gumam tuan Gunawan membuat pak Nurdin mengernyitkan keningnya .
" Aku ingin merubah wasiatku , suruh Rudi datang kerumah besok pagi ' tuan Gunawan kembali memberi perintah meski matanya telah terpejam .
" Apa rencana tuan ? " Pak Nurdin mencoba membaca jalan pikiran tuannya .
Lelaki yang sejak masih remaja telah bekerja pada keluarga Prayoga itu tau bahwa tuannya sudah sejak dulu ingin berbesan dengan keluarga Eyang Saka . Dan ia dapat membaca bahwa rencana itu akan ia tempuh dengan cara yang tidak biasa .
Apalagi ia telah meminta Dila untuk tinggal bersamanya .
" Nanti akan ku beri tahu , kau ikuti saja perintahku , dan tolong awasi juga Dila , kuharap dia tidak dekat dengan seseorang " tuan Gunawan bergumam .
" Baik tuan " pak Nurdin menjawab dengan tenang . Kini ia tahu tuannya pulang dengan sebuah rencana baru .
Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju menyuduri jalanan berkelok di kabupaten Sukabumi .
__ADS_1