Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
29. dua pria patah hati


__ADS_3

Jidan duduk di sofa panjang , tiga lelaki tua mengelilinginya . begitu sampai di Rumah pria muda itu langsung di sambut oleh sang ayah yang menantinya di ruang tamu , ia langsung di bawa ke ruang kerja tuan Gunawan bagai tawanan yang di bawa ke ruang sidang .


Jidan duduk dengan santai di sofa . Di hadapannya tuan Gunawan telah siap mengintrogasi dirinya . Sang ayah duduk di sebelahnya , sedangkan pak Nurdin berdiri di luar pintu ruang kerja yang kedap suara itu .


" Jelaskan pada kami apa yang terjadi sebenarnya ! " perintah tuan Gunawan .


" Maaf kakek tapi Dila tidak ingin Apapun yang terjadi antara kami di ketahui oleh kakek " jawab Jidan tenang .


" Berarti terjadi sesuatu antara kalian ? " Pancing tuan Aditya .


Jidan terdiam sambil memandang keduanya .


" Jelaskan dulu bagaimana Dila bisa menjadi calon menantu , jadi selama ini dia adalah calon istriku ? " Tanya Jidan pada keduanya .


" Ya..., Tapi sekarang tidak lagi " jawab tuan Gunawan .


" Kenapa ? , Bukankah kakek cukup merobek wasiat terbaru kakek ? " Tanya Jidan sambil tersenyum .


" Bocah tengil ini ! " Tuan Gunawan geram .


" Dia bukan barang yang bisa di jadikan taruhan . Cara kakek seperti primitif yang tidak beradab " ucap Jidan sambil bersandar pada sofa , hanya dia yang berani bersikap begitu di depan tuan Gunawan .


" Katakan saja yang sebenarnya pada kami " tuan Aditya mulai hilang kesabaran menghadapi anaknya yang selalu bersikap semaunya .


" Kalian mau tahu yang sebenarnya , aku baru saja di campakkan gara gara memakai seragam ini " Jidan menujuk dirinya .


" Kau di campakkan , artinya kalian berpacaran ? " Tanya tuan Gunawan .


" Dia menyatakan cinta padaku karna mengira aku adalah penulis atau apalah , lalu dia menendangku setelah tahu aku adalah tentara , yang lebih spesial lagi tentara anggota pasukan khusus seperti almarhum ayahnya " Jidan menertawai dirinya sendiri .


Tuan Gunawan tediam mendengar cerita Jidan . Itu artinya ada selisih jalan dalam rencananya selama ini , jika dari awal mereka saling mengenal mungkin saja semuanya akan baik-baik saja .


" Sejak kapan kau mengenalnya ? " Tanya tuan Gunawan .


" Sejak aku Mulai masuk pasukan khusus " jawab Jidan .


" Kenapa tidak pernah membawanya ke rumah ?! " Bentak Tuan Gunawan .


" Kenapa kalian tidak pernah memperlihatkan fotonya padaku ?! " Jidan balik bertanya . Tuan Gunawan dan tuan Aditya saling pandang .


" Itu keinginan eyang saka untuk mencegah hal buruk terjadi " tuan Aditya akhirnya angkat bicara .


Ketiga generasi itu terdiam sambil memandang satu sama lain .


" Aku lelah aku ingin istirahat " ucap Jidan seraya melangkah pergi meninggalkan kakek dan ayahnya di ruangan itu .


" Apa Dila masih mau tinggal di sini setelah apa yang terjadi " tanya Tuan Gunawan pada Tuan Aditya .


" Entahlah ...kita harus tahu kelemahan gadis itu " jawab tuan Aditya sambil mengusap wajahnya .


" Ayah...cobalah telepon dia , tanyakan kenapa dia tidak berpamitan pada ayah saat pulang , bersikaplah seakan tidak terjadi apa apa " ucap tuan Gunawan tiba tiba .


" Oh...begitukah..? " Tanya tuan Gunawan tidak yakin .


Tuan aditya mengangguk anggukan kepalanya .


" Baiklah..aku akan mencoba nanti " ucap tuan Gunawan .


" Tidak...jangan tunggu , apa yang ayah lakukan jika tiba tiba dia pergi hah...?! " Tanya tuan Aditya .


" Oh..kau benar ' kakek tua itu kali ini menurut pada seseorang .


*****


Jidan duduk di tepi ranjang yang masih berantakan , belum ada yang merapikan barang barangnya . Jidan merebahkan tubuhnya di ranjang itu , pria itu tersenyum masam .


" Aromanya tertinggal di ranjang ini ' bisiknya kemudian .


Jidan menatap langit langit kamarnya . Pemuda itu kembali teringat kejadian di depan rumah Dila .


" Hah..!!


Pria itu menghembuskan nafas dengan kuat , mencoba memberi ruang pada dadanya yang terasa penuh . Ia kembali teringat kenangan manis yang pernah ia lewati bersama Dila .


Derd...derd...


Sebuah Suara getar handphone membuat Jidan mencari cari asal suara . Jidan melihat sebuah handphone tergeletak di meja kecil di samping ranjangnya .Lelaki itu membaca kontak yang terlihat di layar handphonenya .


" Kakek pengganti " Jidan tersenyum melihat nama kontak tuan Gunawan di handphone tersebut , ia sudah bisa menebak siapa pemilik handphone itu .


" Kenapa kakek menelponnya ? , Apakah untuk bersandiwara ? " Tanya Jidan pada si penelpon yang tak lain adalah sang kakek .


" Kenapa handphonenya ada padamu ?! " Teriak tuan Gunawan .


Jidan tidak menjawab , ia langsung mematikan panggilan itu .


Rasa penasaran membuat Jidan menatap handphone tersebut dengan ragu .

__ADS_1


Pria itu tersenyum melihat wajah manis Dila yang terpampang di layar handphone tersebut . .


" Bagaimana bisa dia begitu cantik " tanyanya sambil memandang foto Dila dengan sang seorang pria tua yang ia duga adalah eyang Saka .


Tangan Jidan Mulai tidak sopan , rasa penasaran melihat notifikasi pesan masuk di aplikasi WhatsApp handphone tersebut membuat ia menekan ikon aplikasi chat tersebut .


Banyak pesan yang masuk , yang paling menarik perhatiannya tentu saja nama sebuah kontak yang membuat jarinya gatal untuk segera membacanya .


" Pria angkuh ?! " Gumam Jidan . dan jari tangannya yang tidak sopan segera menekan chat percakapan dengan kontak itu .


" Dila kau di mana ?"


" Apa kau baik baik saja ? "


" Kenapa tidak membalas pesanku ?"


" Angkat telepon mu !!"


" Telepon aku !!"


Jidan tersenyum membaca pesan tersebut , " siapa pria ini ? " tanya Jidan dalam hati .


Sebelum ia menekan tombol kembali , ada panggilan dari kontak itu . Jidan membiarkannya hingga panggilan berakhir .


" Apa dia telah dekat dengan seseorang ? " Tanya Jidan sambil meletakkan handphone Dila di meja .


Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dekat atau menyukai seseorang . Dila adalah gadis manis yang bisa membuat siapapun jatuh cinta jika sehari saja bersama dengannya . Dirinya adalah sebuah bukti , bukan hanya dia , banyak rekannya di pendakian yang memang jomblo mengaku jika Dila adalah pemikat hati .


Sikap ceria dan pribadi Dila yang unik , plus wajah yang di atas rata-rata adalah nilai lebih untuk seorang pria jatuh hati padanya .


Jidan merogoh saku celananya , ia mengambil handphonenya . Tangannya segera mencari sebuah kontak .


" Halo bro..." Tak perlu waktu lama baginya untuk menunggu Jawaban .


" Apakah Dila ikut sebuah pendakian akhir akhir ini ' tanyanya


" Oh... sebentar ! , Bro..dia sudah hampir satu tahun tidak mendaki , kau ingat kejadian pendakian terakhirnya bukan ? , Sejak saat itu dia tidak mendaki " pria di telepon memberinya informasi .


" Kau sudah di Indonesia ? " Tanya pria itu .


" Ya... thanks bro " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .


Dengan lesu Jidan menuju kamar mandi , ia ingin menyegarkan hati dan pikirannya dengan mandi air hangat . selesai mandi timbul ide dihatinya untuk menemui Dila kembali dengan sebuah alasan .


Jidan meraih handphone Dila , pria itu segera melangkahkan kakinya keluar rumah . Ia ingin mengembalikan handphone tersebut pada Dila sebagai alasan untuk menemui gadis itu .


" Aku ingin mengembalikan ini " jawab Jidan sambil menunjukkan sebuah handphone .


" Biar saya saja , kebetulan saya juga hendak mengantar barang miliknya " ucap pak Nurdin .


" Barang apa ? " Tanya Jidan .


" Nyonya Nisa memberi ia hadiah dan tertinggal di sini " jawab pak Nurdin .


" Apa ..?! " Tanya Jidan terkejut .


" Sejak kapan ia dekat dengan Dila ?" Tanya Jidan sambil menatap wajah pak Nurdin .


" Saya tidak tahu hal itu " pak Nurdin menjawabnya santai .


" Apa Jordi juga mendekatinya ?" Tanya Jidan .


" Mereka sudah berteman sejak pertemuan pertama " jawab pak Nurdin .


" Kapan itu ? " Tanya Jidan .


" Dua hari sebelum Eyang Saka meninggal dunia " pak Nurdin merasa heran dengan pertanyaan Jidan yang biasanya tidak mau tahu tentang keluarganya .


Jidan menyerahkan handphone Dila pada pak Nurdin seraya kembali ke kamarnya . Ada kekhawatiran besar terselip di dadanya terhadap Dila . Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa . Tiba tiba saja hatinya menjadi patah .


*****


Di tempat lain Jordi tengah duduk di sebuah kafe . Ia berkali-kali menatap handphone miliknya dengan wajah kesal .


' ada apa dengannya ? , Apa handphonenya rusak , dia membaca pesanku tapi tidak membalasnya , dan dia tidak menerima telepon dariku " gumam Jordi .


Adam yang duduk di dekatnya hanya geleng-geleng kepala . Jordi menelponya pagi pagi hanya untuk menyuruh dia menghabiskan waktu bersama sambil sarapan , tapi ini sudah hampir jam dua belas siang .


Dari tadi pria itu asik marah marah sambil menatap handphonenya .


" Bos.. sebenarnya siapa yang sedang anda hubungi " tanya Adam .


Jordi terdiam sambil memandang ke arah Adam .


" Tidak ada ..aku hanya sedang mencari suasana baru saja " jawab Jordi sekenanya .


" Kalau begitu aku boleh pergi kan ?" Tanya Adam .

__ADS_1


" Kau sebenarnya ingin kemana ? , Kau tidak suka bersama denganku ?! " Tanya Jordi .


" Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan bos ,. Proyek kita di suka bumi sudah molor dua Minggu " jawab Adam sambil menunjukkan schedule kerja di handphonenya .


" Baiklah kau boleh pergi " jawab Jordi sambil melangkah meninggalkan kafe .


Adam menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Jordi yang aneh .


Jordi mengendarai mobilnya tak tentu arah berkeliling Bandung . Entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa tidak nyaman dan merasa kesepian .


Sebuah panggilan masuk ke handphonenya . Ternyata sang ibu yang menelpon .


" Kau sudah kerumah Dila ? " Tanya sang ibu .


" Belum , ada apa ? " Tanya Jordi .


" Emh...mama rasa ada sesuatu yang terjadi , datanglah ke rumahnya " ucap sang ibu .


" Maksud mama ? " Tanya Jordi .


" Mama dengar Jidan sudah pulang , apa kau tidak bertemu dengannya ? " Tanya sang ibu tanpa menjawab pertanyaan Jordi .


" Apa ? ! , Kenapa aku tidak tahu ? " Tanya Jordi bingung .


" Mungkinkah mereka bertengkar ? , Kau tahu Jidan tidak suka orang asing tidur di kamarnya apalagi dila adalah wanita yang ia tolak " ucap sang ibu .


" Benarkah ? " Tanya Jordi tak percaya .


" Cobalah kerumahnya dan tanyakan apa yang terjadi " saran nyonya Nisa .


" Baiklah..." Jawab Jordi singkat .


" Oh ya jangan lupa ajak dia untuk pergi ke butik langganan mama , bye sayang " nyonya Nisa menutup teleponnya .


Jordi memutar mobilnya , ia segera melaju menuju ke rumah kontrakan Dila .


Sesampainya di sana , ia melihat Dila keluar dari rumah sambil membawa sebuah ransel besar . Gadis itu menaiki sebuah mobil , sahabatnya nampak melepaskan kepergian Dila dengan haru .


Karena penasaran Jordi mengikuti mobil yang membawa Dila , ternyata gadis itu menuju bandara . Jordi meminta seorang sopir taxi bandara memarkir mobilnya dengan memberi ia upah yang besar , lalu mengikuti Dila diam diam .


Dilihatnya gadis itu sibuk berbincang dengan seseorang di telepon . Lalu ia berlari dengan gembira pada seseorang yang tengah menantinya di depan sebuah loket penjualan tiket sebuah maskapai penerbangan .


Lelaki itu adalah Ivan yang di lihatnya di depan sebuah resto saat berjalan dengan Dila , ia masih mengingat dengan jelas wajah itu . Ivan nampak tengah menunggu Dila disana bersama pria lainnya . mereka nampak mesra . Dila terlihat membeli tiket pesawat . Lalu mereka bertiga masuk untuk melakukan check-in .


Rasa penasaran membuat Jordi menuju ke loket penjualan tiket tersebut .


" Selamat siang ada yang bisa saya bantu ? " Tanya penjaga loket dengan ramah .


" Siang..maaf untuk penerbangan yang paling cepat siang ini ke mana ya ? " Tanya Jordi sambil tersenyum manis .


" Maaf bapak hendak kemana ? " Tanya penjaga loket itu ramah .


" Oh...kemana saja asal keluar dari Bandung " ucapnya sambil tersenyum manis pada sang penjaga loket .


" Emh...untuk saat ini penerbangan tercepat kami adalah Bali dan Ambon , " jawab penjaga loket itu .


" Oh...benarkah ? , Saya sudah pernah ke Bali sebelumnya , juga Ambon ,, kalau begitu saya akan cari penerbangan lain , terimakasih " Jordi melangkah pergi dari loket tersebut .


" Jordi melangkah meninggalkan tempat tersebut seraya menelpon seseorang .


" Halo Adam ? , Apa kau punya rekan di maskapai J ? " Tanyanya pada Adam ,. Pria yang ia telepon .


" Ya ada bos , aku biasa mengkonfirmasi kedatangan tamu VVIP darinya " jawab Adam .


" Kalau begitu tolong cari tahu apakah Wulandari Ratnadila ada dalam daftar keberangkatan ke Bali atau Ambon sore ini , aku tunggu secepatnya " perintahnya seraya menutup teleponnya .


Jordi menelpon nomor sopir taxi online yang ia bayar untuk memarkirkan mobilnya , ia meminta sopir tersebut membawa mobilnya kembali ke tempat semula .


Setelah mobilnya datang Jidan segera membayar sopir taxi tersebut dan melaju meninggalkan bandara Internasional Husein Sastranegara .


Lelaki itu merasakan dadanya hendak meledak saat melihat Dila begitu akrab memeluk lelaki yang menurutnya bertampang biasa saja


" Dia berlagak sok imut , apa dia selalu begitu pada semua pria " Jordi mengoceh sambil menyetir mobilnya .


Telepon dari Adam membuat ia meraih earphone miliknya .


" Halo bos...ya benar ada penumpang bernama Wulandari Ratnadila menuju Ambon di penerbangan maskapai J pada pukul tujuh belas sore ini " lapor Adam .


Jordi menutup teleponnya tanpa mengatakan apapun . Ia kembali ke rumah besar dengan emosi yang tak bisa ia pahami . dengan wajah lesu ia masuk ke kamarnya .


" Kenapa aku merasa marah ? kami tidak memiliki hubungan apapun ? , Apa aku menyukai dia ? , Tidak mungkin ? "


Semua pertanyaan itu muncul dan berputar putar di kepala Jordi . Ia berusaha mengingkarinya perasaannya pada Dila .tapi ia merasa sakit di dadanya melihat ia bersama dengan pria lain .


" Kau tau... terkadang seseorang akan menyadari seberapa besar cinta mereka saat akan kehilangan " ucapan Dila tadi malam terngiang di telinganya .


" Jika ini cinta.., kenapa kau membuatnya patah sebelum bersemi " bisik Jordi seraya menghempaskan tubuhnya ke ranjang .

__ADS_1


__ADS_2