Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
7. Salam perpisahan dari eyang


__ADS_3

Dila duduk sambil terus memegang tangan sang kakek . Gadis itu menatap wajah sang kakek yang nampak tenang .


Apa yang ia dengar dari sang dokter seakan hanya mimpi baginya , mimpi buruk yang membuat dadanya terasa sesak dan sempit . Gadis itu berkali kali menarik nafas panjang . Air matanya tetap saja merembes keluar meski ia telah berusaha menahannya .


" Eyang apa yang harus aku lakukan ? " Dila menatap pria tua tercintanya .


" Jika eyang sudah tahu hal ini.., setidaknya ucapkanlah selamat tinggal dengan benar " gumam Dila seakan berbicara pada diri sendiri .


Melakukan tindakan pada hasil yang belum pasti , atau menyerah dengan keadaan kakeknya kini .


Dua pilihan yang sama sama buruk .


Dua kemungkinan yang sama sama tidak dia atau kakeknya inginkan .


Butuh keajaiban , namun apakah keajaiban itu masih ada sementara waktu yang ia habiskan bersama dengan sang kakek yang senantiasa sehat dan bugar hingga kini menurut sang dokter adalah sebuah keajaiban .


Percakapannya dengan dokter Andre kembali terlintas di kepalanya .


*****


" Ada serpihan kecil di kepalanya yang tidak bisa di angkat dalam sebuah operasi .


Sebenarnya dia sudah mengetahui hal ini tujuh tahun lalu dengan dokter yang sebelumnya .


Namun saya baru mengetahui hal ini dua tahun lalu dan menyarankan operasi ulang untuk mengangkat serpihan tersebut .


namun beliau tidak ingin melakukannya karena tidak mau mengambil resiko "


" Apa resikonya dokter ? " Tanya Dila


" Serpihan itu ada di dekat otak yang di sebut ceberal cortex , sedikit saja kesalahan mungkin akan melukai bagian tersebut . jadi resikonya sangat besar " dokter Andre mencoba menerangkan.


" Dok...tolong terangkan dalam bahasa yang saya mengerti " Dila tak mengerti .


" Begini kemungkinan berhasil hanya tiga puluh persen .


katakanlah kita berhasil mengangkat serpihan itu , namun tetap akan ada saraf yang terluka jadi walaupun kakek anda selamat , setelah operasi kemungkinan kakek anda akan mengalami kelumpuhan atau sesuatu gangguan yang berhubungan dengan aktivitas otak " dokter Andre menjelaskan .


" Dan itu sebabnya kakek saya menolak operasi ulang ?" Tanya Dila yang di jawab anggukan dokter Andre .


" Saat ini kondisinya tidak baik , untuk menyelamatkan nyawanya kita harus mengambil tindakan walaupun dengan kemungkinan tiga puluh persen dan resiko yang ada . atau anda menyerah seperti beliau , Menunggu waktu dan berharap ada keajaiban " dokter Andre berkata hangat .


" Apa yang di pilih kakek saya waktu itu ? " Tanya Dila .


" Beliau bilang tidak ingin menjalani hidup dalam kesakitan lain , dan siap untuk bertemu penciptanya , tapi saat ini keputusan ada di tangan anda .


kami akan mengikutinya dan mempersiapkan segalanya " ucap dokter Andre .

__ADS_1


*****


Bagaimana mungkin ?


dua tahun ini kondisi kakeknya sangat buruk .menahan sakit yang luar biasa yang bisa muncul kapan saja dan dia tidak mengetahuinya .


" kau sungguh cucu yang buruk Wulandari Ratnadila " bisik Dila pada diri sendiri .


" Neng...ada sesuatu yang harus saya sampaikan " ucap mang Karman yang tiba tiba muncul .


" Oh ..tidak sekarang mang " jawab Dila tanpa menoleh .


"tidak sekarang...Dila ingin berdua saja dengan eyang " gumamnya seakan bicara pada dirinya sendiri .


mang karman menatap Dila dengan iba .


" Ini...." Mang Karman mengulurkan sebuah surat . Dila menatap surat itu dengan datar .


" Eyang meminta saya memberikannya pada neng Dila jika hal seperti ini terja.." belum selesai mang Karman berbicara Dila meraih surat itu dengan cepat , dan segera pergi dari ruangan itu .


" Apa keinginannya ? " Tuan Gunawan yang baru masuk bersama Jordi bertanya pada mang Karman .


" Pergi dengan tenang " jawab mang Karman datar . Ia duduk di samping ranjang . Tuan Gunawan menepuk punggung tangan Jordi yang tengah memegangi kursi rodanya .


" Ikuti Dila..." Perintahnya pada Jordi . Lelaki muda itupun segera melangkah mencari gadis yang di maksud sang kakek .


Di tempat lain , Dila dengan tangannya yang gemetar memegang surat itu .


" Ternyata seperti ini rasanya " ucap Dila seraya menarik nafas panjang . Perlahan ia membuka surat itu , dan mulai membacanya dalam hati .


π΅π‘–π‘‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™π‘˜π‘’ π·π‘–π‘™π‘™π‘Ž


π‘†π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Ž π‘ π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑛𝑖 , 𝑖𝑑𝑒 π‘Žπ‘Ÿπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘›π‘‘π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘Žπ‘“ π‘™π‘’π‘π‘–β„Ž π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘™π‘’ .


π‘šπ‘Žπ‘Žπ‘“....π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘π‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘‘ π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿ ,


π‘šπ‘Žπ‘Žπ‘“...π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘Ž π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘ π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘—π‘’π‘—π‘’π‘Ÿ π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’..


π‘šπ‘Žπ‘Žπ‘“...π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π‘˜π‘–π‘›π‘– π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘Žπ‘ π‘‘π‘– π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘π‘šπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘–π‘  π‘‘π‘Žπ‘› 𝑏𝑖𝑛𝑔𝑒𝑛𝑔 .


π‘π‘’π‘˜π‘’π‘ π‘™π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘šπ‘π‘’π‘™π‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘–π‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’ , π‘›π‘Žπ‘šπ‘’π‘› π‘˜π‘Žπ‘’ π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’ π‘π‘Žβ„Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘Ÿπ‘Žπ‘—π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘ β„Žπ‘’π‘π‘Žπ‘‘ π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘π‘’π‘› π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘™π‘–π‘˜π‘– π‘ π‘’π‘ π‘’π‘Žπ‘‘π‘’ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘–π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘˜π‘’π‘‘π‘– .


π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘Žπ‘˜π‘’π‘‘...π‘˜π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘–π‘Žπ‘› π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› β„Žπ‘–π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘™π‘–β„Žπ‘Žπ‘‘ π‘Žπ‘–π‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’ .


π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘Žπ‘˜π‘’π‘‘...π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘›π‘‘π‘Ž π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘π‘Žβ„Ž π‘π‘–π‘™π‘–β„Žπ‘Žπ‘› π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” .


π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘Žπ‘˜β„Žπ‘–π‘Ÿπ‘›π‘¦π‘Ž π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” β„Žπ‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘™π‘–π‘  π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘–π‘ π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› 𝑖𝑛𝑖 , π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘’ 𝑖𝑛𝑖 π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘–π‘™π‘–β„Žπ‘Žπ‘› π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” , π‘—π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π‘Žπ‘˜β„Žπ‘–π‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘–π‘›π‘”π‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› .

__ADS_1


π·π‘–π‘™π‘Ž..


π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘™π‘Žπ‘šπ‘Ž β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘ , π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘™π‘’π‘π‘Žπ‘  π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› β„Žπ‘Žπ‘‘π‘– π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘™π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž π‘π‘’π‘‘π‘Ÿπ‘– π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘Ÿπ‘Žπ‘—π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘ .


π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘– π‘—π‘Žπ‘’β„Ž.., π‘˜π‘Žπ‘’ π‘–π‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘π‘–π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘’ π‘π‘–π‘™π‘–β„Ž π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘–π‘π‘’π‘šπ‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘– , π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž 𝑑𝑖 π‘‘π‘’π‘˜π‘Žπ‘‘π‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘–π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘’π‘π‘–β„Ž π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ . π‘π‘’π‘˜π‘’π‘ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘™π‘Žπ‘šπ‘π‘Žπ‘–π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› , π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘ π‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘Žπ‘›π‘Ž


π΅π‘–π‘‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘˜π‘’....


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘‘π‘–β„Ž π‘‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘™π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘–π‘ π‘– π‘˜π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘–π‘Žπ‘› π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” , 𝑖𝑑𝑒 π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘π‘Žβ„Ž π‘Žπ‘π‘Žπ‘π‘’π‘› .


π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘Žπ‘‘π‘Ž , π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘–π‘  π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘–π‘™ π‘šπ‘’π‘›π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘ π‘π‘–π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” , π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘›π‘¦π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž ..


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘™π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” .


π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘›π‘π‘Žπ‘›π‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘π‘–π‘Žπ‘› , π‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘ π‘–β„Žπ‘šπ‘’ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘‘π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘‘π‘’π‘Ž π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘˜π‘Žπ‘’ π‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜ π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘›π‘π‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘π‘Žπ‘€π‘Žβ„Ž π‘™π‘Žπ‘›π‘”π‘–π‘‘ π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘š .


π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘›π‘‘π‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘’π‘π‘–β„Ž π‘”π‘Žπ‘”π‘Žβ„Ž π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” . π‘‘π‘Žπ‘› 𝑑𝑒𝑛𝑑𝑒 π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘π‘šπ‘’ π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘€π‘Ž .


πΈπ‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’β„Ž π‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’β„Ž π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Žβ„Žπ‘€π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘’ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘’π‘šπ‘’ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘šπ‘’ .


π‘‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘›π‘”π‘Ž π‘—π‘–π‘˜π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘’ π‘šπ‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’β„Ž π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘–π‘›π‘”π‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž .


π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–π‘›π‘Žπ‘Ÿ..., π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›, π‘‘π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘€π‘Ž π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑛𝑖 .


π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘‘ π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™ π‘”π‘Žπ‘‘π‘–π‘  π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™π‘˜π‘’ ......


πΈπ‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’β„Ž π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘’π‘ π‘Žπ‘™ π‘˜π‘Žπ‘’ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Ž π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘–π‘ π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– 𝑖𝑛𝑖 .


π‘…π‘’π‘™π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘– ...𝑖𝑑𝑒 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘π‘’π‘‘π‘’β„Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘œπ‘™π‘’β„Ž π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘Ÿπ‘Žπ‘—π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘ π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ π‘–π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘ π‘Ž π‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘™π‘– π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘”π‘Žπ‘”π‘Žβ„Ž .


π‘π‘–π‘›π‘‘π‘Ž π‘’π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘šπ‘’ .


π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘ π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘›π‘”



𝓼𝓯𝓯π“ͺ


πΈπ‘¦π‘Žπ‘›π‘”


Dila menghapus air mata yang mengalir di pipinya . ia menghirup nafas beberapa kali lalu tertunduk . kaki gadis itu naik keatas kursi , tangannya memeluk lutut dan punggung gadis itu berguncang .


Dila menangis dalam diam .


Hanya isakan yang terdengar sesekali di keheningan sepertiga malam itu .


rasanya seperti mimpi . ia selalu bersumpah tidak ingin menerima surat perpisahan seperti itu , cukup ibunya . namun kenyataan berkata lain .

__ADS_1


" eyang...kenapa ? , kenapa eyang lakukan ini..kenapa ...? " gadis itu memeluk surat dari sang kakek .


tak jauh dari tempat itu jordi menatapnya sambil bersandar pada dinding .ia hanya bisa menatap lantai dan menghitung ubin di depannya . Untuk pertama kali hatinya tersentuh melihat seseorang terlihat begitu rapuh


__ADS_2