
Dila duduk sambil terus memegang tangan sang kakek . Gadis itu menatap wajah sang kakek yang nampak tenang .
Apa yang ia dengar dari sang dokter seakan hanya mimpi baginya , mimpi buruk yang membuat dadanya terasa sesak dan sempit . Gadis itu berkali kali menarik nafas panjang . Air matanya tetap saja merembes keluar meski ia telah berusaha menahannya .
" Eyang apa yang harus aku lakukan ? " Dila menatap pria tua tercintanya .
" Jika eyang sudah tahu hal ini.., setidaknya ucapkanlah selamat tinggal dengan benar " gumam Dila seakan berbicara pada diri sendiri .
Melakukan tindakan pada hasil yang belum pasti , atau menyerah dengan keadaan kakeknya kini .
Dua pilihan yang sama sama buruk .
Dua kemungkinan yang sama sama tidak dia atau kakeknya inginkan .
Butuh keajaiban , namun apakah keajaiban itu masih ada sementara waktu yang ia habiskan bersama dengan sang kakek yang senantiasa sehat dan bugar hingga kini menurut sang dokter adalah sebuah keajaiban .
Percakapannya dengan dokter Andre kembali terlintas di kepalanya .
*****
" Ada serpihan kecil di kepalanya yang tidak bisa di angkat dalam sebuah operasi .
Sebenarnya dia sudah mengetahui hal ini tujuh tahun lalu dengan dokter yang sebelumnya .
Namun saya baru mengetahui hal ini dua tahun lalu dan menyarankan operasi ulang untuk mengangkat serpihan tersebut .
namun beliau tidak ingin melakukannya karena tidak mau mengambil resiko "
" Apa resikonya dokter ? " Tanya Dila
" Serpihan itu ada di dekat otak yang di sebut ceberal cortex , sedikit saja kesalahan mungkin akan melukai bagian tersebut . jadi resikonya sangat besar " dokter Andre mencoba menerangkan.
" Dok...tolong terangkan dalam bahasa yang saya mengerti " Dila tak mengerti .
" Begini kemungkinan berhasil hanya tiga puluh persen .
katakanlah kita berhasil mengangkat serpihan itu , namun tetap akan ada saraf yang terluka jadi walaupun kakek anda selamat , setelah operasi kemungkinan kakek anda akan mengalami kelumpuhan atau sesuatu gangguan yang berhubungan dengan aktivitas otak " dokter Andre menjelaskan .
" Dan itu sebabnya kakek saya menolak operasi ulang ?" Tanya Dila yang di jawab anggukan dokter Andre .
" Saat ini kondisinya tidak baik , untuk menyelamatkan nyawanya kita harus mengambil tindakan walaupun dengan kemungkinan tiga puluh persen dan resiko yang ada . atau anda menyerah seperti beliau , Menunggu waktu dan berharap ada keajaiban " dokter Andre berkata hangat .
" Apa yang di pilih kakek saya waktu itu ? " Tanya Dila .
" Beliau bilang tidak ingin menjalani hidup dalam kesakitan lain , dan siap untuk bertemu penciptanya , tapi saat ini keputusan ada di tangan anda .
kami akan mengikutinya dan mempersiapkan segalanya " ucap dokter Andre .
__ADS_1
*****
Bagaimana mungkin ?
dua tahun ini kondisi kakeknya sangat buruk .menahan sakit yang luar biasa yang bisa muncul kapan saja dan dia tidak mengetahuinya .
" kau sungguh cucu yang buruk Wulandari Ratnadila " bisik Dila pada diri sendiri .
" Neng...ada sesuatu yang harus saya sampaikan " ucap mang Karman yang tiba tiba muncul .
" Oh ..tidak sekarang mang " jawab Dila tanpa menoleh .
"tidak sekarang...Dila ingin berdua saja dengan eyang " gumamnya seakan bicara pada dirinya sendiri .
mang karman menatap Dila dengan iba .
" Ini...." Mang Karman mengulurkan sebuah surat . Dila menatap surat itu dengan datar .
" Eyang meminta saya memberikannya pada neng Dila jika hal seperti ini terja.." belum selesai mang Karman berbicara Dila meraih surat itu dengan cepat , dan segera pergi dari ruangan itu .
" Apa keinginannya ? " Tuan Gunawan yang baru masuk bersama Jordi bertanya pada mang Karman .
" Pergi dengan tenang " jawab mang Karman datar . Ia duduk di samping ranjang . Tuan Gunawan menepuk punggung tangan Jordi yang tengah memegangi kursi rodanya .
" Ikuti Dila..." Perintahnya pada Jordi . Lelaki muda itupun segera melangkah mencari gadis yang di maksud sang kakek .
Di tempat lain , Dila dengan tangannya yang gemetar memegang surat itu .
" Ternyata seperti ini rasanya " ucap Dila seraya menarik nafas panjang . Perlahan ia membuka surat itu , dan mulai membacanya dalam hati .
π΅πππππππ πππππππ’ π·ππππ
ππππ‘ πππ’ ππππππππ π π’πππ‘ πππ , ππ‘π’ πππ‘πππ¦π ππ¦πππ βπππ’π ππππππ‘π ππππ ππππβ ππβπ’ππ’ .
ππππ....πππππ π‘ππππ πππ π πππππ’ππππππ π ππππππ‘ π‘ππππππ ππππππ πππππ ,
ππππ...πππππ ππ¦πππ π‘ππππ π πππππ‘ ππππππ‘π ππ’ππ’π ππππππ’..
ππππ...ππππππ ππππ ππ¦πππ πππ π‘π π‘πππβ πππππ’ππ‘ππ’ ππππππππ πππ πππππ’ππ .
ππ’ππ’π ππππ ππ¦πππ πππππ’πππ’ππππ ππππππππππ π’ππ‘π’π ππππππ‘ππππ π πππ’π π¦πππ π‘ππππππ ππππππ’ , ππππ’π πππ’ π‘πβπ’ ππβπππ π ππππππ πππππ’πππ‘ βππππ‘ π πππππππ’π ππππππππ π ππ π’ππ‘π’ π¦πππ π πππππ‘ ππ π‘πππ’π‘π .
ππ¦πππ π‘πππ’π‘...ππππππππππ ππ¦πππ ππππ βπππππ π πππ‘ ππππβππ‘ πππ πππ‘πππ’ .
ππ¦πππ π‘πππ’π‘...π‘ππππ πππ π ππππππ‘π π‘ππππ π πππ‘ πππ’ ππππππ‘π ππ¦πππ π’ππ‘π’π πππππ’ππβ ππππβππ ππ¦πππ .
ππππ ππβππππ¦π ππ¦πππ βπππ¦π πππ π ππππ’πππ π ππππ ππππππ πβππ πππ , ππππ πππ’ π‘ππ’ πππ πππππβ ππππβππ ππ¦πππ , πππππ ππβππ π¦πππ ππ¦πππ ππππππππ .
__ADS_1
π·πππ..
ππ¦πππ π π’ππβ π‘ππππππ’ ππππ βπππ’π , ππππ ππ¦πππ βππππ πππ’ πππ π πππππππ ππ¦πππ ππππππ πππππ ππππ βππ‘π π πππππ‘π πππ¦ππππ¦π ππ’π‘ππ π ππππππ πππππ’πππ‘ .
ππ¦πππ π‘ππππ ππππ πππππ πππ’β.., πππ’ πππππ‘ ππππ‘πππ π¦πππ πππ’ ππππβ π πππ‘ πππ’ππ’ πππππ , ππ¦πππ ππππ ππππππ ππ πππππ‘ππ¦π πππ πππππππ ππππ‘πππ π¦πππ ππππβ πππ ππ . ππ’ππ’π πππ’ πππππππππ π‘πππππ , ππ¦πππ ππππ ππππππππ ππ¦π ππππ π πππ
π΅πππππππππ’....
ππππππ ππππ πππβ πππ π‘ππππππ’ ππππ ππππππππ π πππππππππ ππ¦πππ , ππ‘π’ π‘ππππ ππππ ππππ’ππβ πππππ’π .
π πππ‘ ππ¦πππ π‘ππππ , ππππππ ππππππππ π πππππ πππππ‘ππ ππππ‘πππ , π‘πππ π‘πππ πππ¦π’πππβ ..
ππππππ π‘ππππππ’ ππππ πππππππ’πππ ππ¦πππ .
πππππππππππβ ππππππ π ππ ππππππ ππππ π‘ππππ πππ πππππ , πππππ πβππ’ π¦πππ πππ π π’ππβ π‘ππππππ’ π‘π’π π’ππ‘π’π πππ’ ππππ πππππππππ ππ πππ€πβ ππππππ‘ πππππ .
ππππππβ ππππππππ‘π π¦πππ ππππβ ππππβ ππππ ππ¦πππ . πππ π‘πππ‘π’ π πππ πππ βπππ’π πππ π πππππ’ππ‘ππ’ π πππππ’ π‘πππ‘ππ€π .
πΈπ¦πππ ππππ π’ππππ’β π π’ππππ’β π πππ‘ ππππππ‘ππππ ππβπ€π πππ’ βπππ’π ππππ‘πππ’ ππππππ π ππ ππππππ π¦πππ ππππ π πππππ’ πππ π’ππ‘π’πππ’ .
πππ π‘ππππππβ ππ’πππ ππππ πππ’ ππππππ π π’ππππ’β ππππππππππππππ¦π .
ππππ’π ππβ ππππ ππππ..., π‘πππ’π ππβ ππππππππ, πππ π‘πππ’π ππβ π πππππ’ π‘πππ‘ππ€π π πππππ‘π π πππ‘ πππ .
π ππππππ‘ π‘ππππππ πππππ πππππππ’ ......
πΈπ¦πππ π π’ππππ’β ππππ¦ππ ππ πππ’ βπππ’π ππππππππ π ππππ ππππππ πβππ π πππππ‘π πππ .
π ππππππ ππ¦πππ πππππ ...ππ‘π’ π¦πππ ππ ππ’π‘π’βπππ πππβ π ππππππ πππππ’πππ‘ π πππ‘ ππ π‘ππππ πππ π πππππππ ππππππ ππππβ .
ππππ‘π ππ¦πππ ππππ π πππππ’ ππππ πππππ’ .
π ππππ π ππ¦πππ
πΌπ―π―πͺ
πΈπ¦πππ
Dila menghapus air mata yang mengalir di pipinya . ia menghirup nafas beberapa kali lalu tertunduk . kaki gadis itu naik keatas kursi , tangannya memeluk lutut dan punggung gadis itu berguncang .
Dila menangis dalam diam .
Hanya isakan yang terdengar sesekali di keheningan sepertiga malam itu .
rasanya seperti mimpi . ia selalu bersumpah tidak ingin menerima surat perpisahan seperti itu , cukup ibunya . namun kenyataan berkata lain .
__ADS_1
" eyang...kenapa ? , kenapa eyang lakukan ini..kenapa ...? " gadis itu memeluk surat dari sang kakek .
tak jauh dari tempat itu jordi menatapnya sambil bersandar pada dinding .ia hanya bisa menatap lantai dan menghitung ubin di depannya . Untuk pertama kali hatinya tersentuh melihat seseorang terlihat begitu rapuh