
Sudah tiga hari semenjak pemakaman Jidan , rumah besar nampak sepi . Semua orang larut dalam dukanya masing masing .
Nyonya Irma lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar , begitu juga Dila .
Nyonya Nisa tinggal di rumah itu sementara waktu untuk mengurus segala keperluan rumah tangga . Sementara tuan Aditya masih sibuk mengkordinir pencarian Andrew dan kawan kawan .
Sore itu Dila tengah duduk di balkon kamarnya . Pandangan gadis itu kosong . Berkali kali ia nampak menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kuat kuat . Sesekali ia menggigit bibir bawahnya sambil memejamkam mata .
Kata kata Jidan saat mereka berdebat beberapa hari lalu kembali terngiang di benak Dila .
"Aku akan menganggap bahwa ada yang belum selesai antara kita sampai kau memberi jawabannya . Bahwa kau bersedia menjadi teman seperjalananku yang tidak akan mudah , atau kau ingin mencari kebahagiaan lain yang kau idamkan "
Dila menarik nafas panjang . Ia tidak menyangka apa yang Jidan katakan benar terjadi . Ada yang belum selesai di antara mereka .
" Tuhan...kenapa membuat dia datang dalam hidupku dalam waktu yang singkat ? , kenapa membuat aku mencintai dia ? , Jika pada akhirnya akan seperti ini " gumam Dila dalam hati .
Seribu sesal tidak akan merubah apapun , ia sendiri yang menciptakan jarak pada hati mereka yang telah terpaut . Membuat kisah mereka tak sempurna . Membuat ada hal yang belum selesai Antara dia dan Jidan , hingga akhir hayat pria itu .
" Seharusnya saat itu aku mengatakannya , harusnya ku katakan bahwa aku mencintai dia , meski aku takut , setidaknya dia tahu meski mencoba untuk tidak mencintai dia hatiku tetap berkata dialah cintaku . Dia seseorang yang membuat aku bahagia , dan meski sering kecewa karena lebih banyak waktu untuk menanti dari pada untuk berjumpa dengannya , tetap saja bersamanya meski hanya sebentar itu cukup bagiku untuk bahagia " Dila menarik nafas panjang sambil berkata dalam hati .
" Maaf... Maafkan aku..." Gumam Dila sambil memeluk lututnya .
Kristal bening mengalir dari kelopak matanya yang indah . Ada rasa sesak yang menekan dadanya hingga ia merasa begitu sesak . Ada sakit yang membuat ia merasa begitu sengsara . Ada ruang yang begitu kosong di hatinya hingga semua yang ia lihat kini terasa tanpa warna .
Gadis itu menundukkan wajahnya dalam . Seandainya ia bisa memutar waktu , saat terakhir itu ia ingin berkata pada lelaki itu .
" I love you , pulanglah dengan selamat " tapi sayang semua itu tidak akan pernah terjadi .
Inikah arti dari perasaannya saat melihat Jidan terakhir kali . Bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi .
Tanpa Dila sadari Nyonya Nisa telah lama berdiri di pintu kamarnya yang terbuat dari kaca , menatap gadis itu dengan sedih .
Tuan Gunawan telah menceritakan hubungan Dila dengan Jidan , dan ia meminta nyonya Nisa untuk menghibur gadis itu . Nyonya Nisa tidak menyangka bahwa Dila punya kekasih , ia sempat berharap Dila akan jatuh hati pada putranya . Karena ia yakin , Jordi mulai menyukai Dila . Dalam keadaaan ini akan sulit bagi putranya untuk memenangkan hati gadis itu .
" Dila...." Panggil nyonya Nisa lembut .
Dila mengangkat wajahnya , ia segera mengusap air matanya dan tersenyum dengan paksa Ketika menyadari nyonya Nisa telah berada di dekatnya .
" Tante..." Sapa Dila sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum .
" apa yang sedang kamu pikirkan ? " Tanya nyonya Nisa lembut .
Wanita yang berumur hampir lima puluh tahun namun masih terlihat cantik itu berjalan mendekati Dila .
" Tidak...hanya ingin menikmati angin senja " jawab Dila seraya menggeser duduknya agar nyonya Nisa bisa duduk di sebelahnya .
" Kau baik-baik saja ? " Tanya nyonya Nisa setelah duduk di sebelah Dila .
" Ya..." Jawab Dila singkat , ia mengalihkan pandangannya jauh ke tempat lain agar nyonya Nisa tidak bisa membaca kesedihan hatinya .
" Tante mendengar tentang hubunganmu dan Jidan " ucap nyonya Nisa lembut .
" Tidak apa apa menangis , saat kamu merasa sangat sedih kamu boleh menangis . Itu memang tidak akan merubah apapun , tapi setidaknya akan mengurangi sesak di hatimu ' lanjut nyonya Nisa sambil menatap lembut wajah Dila .
Dila terdiam sambil memandang wajah lembut di sampingnya . Wanita itu mengingatkan ia pada sang ibu yang telah tiada hampir tujuh tahun lalu .tak terasa air mata gadis itupun mulai mengalir .
" Kenapa semua orang yang menyayangi Dila terus saja meninggalkan Dila ? " Ucap Dila dengan pilu .
__ADS_1
Nyonya Nisa terdiam sambil menatap Dila dengan iba . Hatinya terenyuh mendengar kata kata gadis itu .
" Kamu tidak boleh berfikir begitu , masih banyak lagi yang menyayangi kamu dan masih hidup dengan sehat . Mak Asih , Lilis , kakek Gunawan dan kami semua juga menyayangi kamu " nyonya Nisa berucap dengan penuh kasih sayang .
" Tapi tetap saja... kenapa ? ," Dila tersedu sedu .
" Ini tidak benar Tante.. ,. Kenapa Adi harus pergi dengan cara seperti itu ? , Ada yang ingin ku katakan padanya " Dila bergumam sambil terisak .
" Seharusnya aku mengatakan bahwa aku tetap mencintai dia ,, sekuat apapun aku mencoba untuk tidak mencintainya , aku tetap mencintai dia . Tidak apa apa , meski ia seorang tentara . Tidak apa apa , meski aku harus hidup dengan rasa khawatir. Aku ingin mengatakan itu padanya , seharusnya aku katakan itu padanya , setidaknya dia akan tahu apa yang ku inginkan " Dila berucap sambil menatap wajah nyonya Nisa . Air matanya berlinang tiada henti .
" Tante rasa dia tahu , dia sudah tahu Dila " ucap nyonya Nisa lembut . Wanita itu memeluk Dila , mencoba memberinya sedikit kekuatan dengan pelukan kasih sayang .
" Dia sudah tenang di sana . Kamu harus ikhlas agar dia bisa beristirahat dengan tenang " bisik nyonya Nisa .
" dia janji akan kembali..., Dia akan pulang kan ? . Dia tidak pernah ingkar janji . Katakan pada kakek untuk mencarinya lagi , bukankah kakek sangat kaya ? . Tidak perduli meski hanya dengan satu kaki , aku ingin dia kembali . Ku mohon ..." Ucap Dila memelas .
Nyonya Nisa terkesiap mendengar ucapan Dila .
" Sayang.....kamu tidak boleh begini , Dila biarkan Jidan tenang di sana , jangan biarkan kesedihan membuat kamu menjadi orang yang lemah " Nyonya Nisa mengusap lembut wajah Dila seraya memeluk gadis itu .
Dila menangis tersedu sedu dalam pelukan nyonya Nisa . Sesal di dadanya membuat ia ingin memutar waktu dan berharap tidak ada yang tidak jelas antara dirinya dengan Jidan .
Di tempat lain Jordi yang mendengar percakapan mereka dari balkon kamar yang berada di sebelahnya hanya bisa terdiam . Hatinya merasa ikut pedih mendengar tangisan gadis itu . Sebesar itukah cinta Dila pada sepupunya ? .
*****
" Jadi apa pendapatmu ? " Tuan Gunawan bertanya dengan wajah serius pada nyonya Nisa yang tengah duduk di hadapannya .
Mereka berdua Tengah membicarakan tentang Dila . Keduanya khawatir gadis itu akan mengalami depresi , dalam kurun waktu yang hampir bersamaan gadis itu harus kehilangan dua orang yang ia sayangi .
" Bagaimana jika Dila tinggal bersama kami pa...?" Ucap nyonya Nisa .
" Sekarang yang terpenting membuat dia bisa menerima kenyataan ini , ku rasa penyesalan yang ia rasakan lebih besar dari kesedihannya akan kepergian Jidan .
" Akan lebih baik jika Dila bisa dekat dengan seseorang , dengan begitu dia bisa pelan pelan melupakan Jidan " ucap nyonya Nisa .
" Maksudmu ? " Tanya tuan Gunawan sambil menatap wajah nyonya Nisa .
" Bukankah sebelumnya ayah berniat menjodohkan Jordi dengan Dila , mungkin ini memang sudah jalannya " jawab Nyonya Nisa .
" Nisa tahu ...surat wasiat itu hanya alasan papa " lanjutnya .
" Tidak...tidak , itu adalah permintaan almarhum eyang Dila . Biarkan Dila yang menentukan jodohnya " jawab tuan Gunawan .
" Tapi papa..,. Apa papa serius tentang pemilikan saham itu ? " Tanya nyonya Nisa .
" Kenapa ? , Kau kira aku hanya main main ? " Tuan Gunawan menatap wajah nyonya Nisa .
" Bukan begitu , Nisa pikir itu cara ayah untuk membuat mereka berusaha menerima Dila " jawab nyonya Nisa .
" Itu benar..tapi aku tidak main main saat mengatakan akan memberikan sisa sahamku pada orang lain jika tidak ada satupun dari mereka yang menikahi Dila " ucap tuan Gunawan .
" Nisa rasa ...Jordi mulai menyukai Dila " ucap nyonya Nisa sambil menatap sang mertua .
" Benarkah ? , Dari mana kau tahu hal itu ? " Tanya tuan Gunawan.
" Aku ibunya pa.... Nisa bisa melihat cinta di mata Jordi saat bersama dengan Dila " jawab nyonya Nisa sambil tersenyum .
__ADS_1
" Itu sebabnya ... biarkan mereka saling mengenal , Kata orang tak kenal maka tak sayang " nyonya Nisa berkata lembut .
" Biarkan waktu yang menyembuhkan Dila dan biarkan takdir yang menjawab semuanya . Kini papa sendiri tidak yakin , apakah ada satu dari mereka yang bisa menjadi yang terbaik untuk Dila " tuan Gunawan menarik nafas panjang .
" Mungkin.....sudah takdir papa , papa hanya ingin yang terbaik untuk Dila . Siapapun pria pilihannya akan papa pastikan ia mendapat orang itu " lanjutnya sembari melangkah pergi meninggalkan sang menantu .
" Papa...aku tidak akan membiarkan anakku patah hati , dan aku juga tau..Jordi telah banyak berjuang untuk perusahaan . Dila dan perusahaan , Keduanya adalah hal yang ia inginkan . Aku juga akan memastikan putraku mendapatkan kebahagiaan " gumam nyonya Nisa sambil memandang kepergian tuan Gunawan .
*****
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu kamar membuat Dila yang tengah duduk di depan meja riasnya beranjak .
" Ada apa ? " Tanya Dila pada seorang pelayan yang berdiri di depan kamarnya .
" Emh...ada orang yang mencari non Dila " Jawab pelayan itu .
Dila mengernyitkan keningnya , tidak ada yang tau ia tinggal di rumah ini kecuali sahabat sahabatnya yang satu rumah dan keluarga di kampung .
" Siapa namanya ? " Tanya Dila .
" Emh..Bima non.." jawab pelayan dengan sopan .
Da terdiam sesaat , kemudian dia menyuruh pelayan untuk meminta Bima menunggu . setelah berganti pakaian ia segera turun ke bawah .
" Hai..kak.." sapa Dila sambil tersenyum melihat Bima yang sudah lama tidak ia temui .
Bima tersenyum membalas sapaan Dila . Keduanya duduk berhadapan di ruang tamu .
" Apa Adi menceritakan semuanya pada kakak ? " Tanya Dila setelah mereka terdiam beberapa saat .
" Tidak..kau tau dia orang yang tidak banyak bicara " Jawab Bima .
" Aku datang untuk menyerahkan ini " ucap Bima sambil menyerahkan sebuah amplop .
" Apa ini ? " Tanya Dila .
" Delapan Bulan lalu Jidan menerima tugas yang berbahaya , sebelum pergi ia menitipkan ini padaku dan meminta agar aku memberikan padamu jika hal buruk terjadi padanya " jawab Bima datar .
Da terdiam . Ia tidak menyangka akan menerima surat cinta seperti itu sebelum ia menjadi seorang istri .
" Dila...." Panggil Bima pelan .
" Ya..." Jawab Dila seraya memandang Bima .
" Aku berharap kamu bisa kuat seperti yang ia harapkan " ucap Bima dengan wajah serius .
" Aku pergi dulu , aku masih ada tugas , jaga kesehatan dan tabahlan " ucap Bima seraya bangkit dari duduknya .
Dila mengantar kepergian Bima hingga ke depan pintu rumah . Setelah pria itu pergi ia pun segera masuk ke kamarnya kembali .
Lama Dila menatap Surat bersampul biru muda yang ia letakkan di atas meja . Dengan lesu akhirnya gadis itu meraih surat tersebut .
Mungkin sudah saatnya ia menerima takdir , hal yang selama ini selalu ia takutkan akan terjadi padanya justru terjadi lebih awal . Sepucuk surat cinta dari seorang yang telah pergi harus ia terima sebagai surat terakhir yang istimewa . Ia tidak menyangka adegan sang ibu yang dulu ia saksikan kini terulang padanya .
Namun bagaimanapun ia tidak bisa merubah keputusan Sang pencipta , ia harus menerima takdir agar bisa terus melangkah ke depan dalam hidupnya .
__ADS_1
Gadis itu terpaku , memasukkan surat terakhir tersebut ke laci tanpa membacanya . Ia berencana membaca surat itu saat dirinya merasa sudah siap melepaskan Jidan dari hatinya .saat ini dia belum bisa menerima takdir .