
Dila berjalan beriringan mengelilingi rumah bersama Tania dan seorang pelayan perempuan . Setelah selesai makan tadi tuan Gunawan menyuruh Tania untuk mengajak Dila berkeliling ke lantai dua rumah tersebut . Dila mengagumi bangunan rumah yang begitu artistik dan indah .
Entah berapa banyak kamar yang tersedia , rumah itu benar benar seperti resort . Dila sudah menghitung seluruh kamar , total ada tujuh kamar di lantai atas yang masing masing memiliki balkon , empat kamar untuk semua cucu tuan Gunawan , dan tiga kamar tamu . ruang olahraga , ruang movie , dan ruangan keluarga . Ada juga balkon yang di buat sebuah taman disana . Dila di suruh memilih salah satu kamar tamu untuk di jadikan kamarnya , gadis itu hanya memilih dengan asal .
" Nia..kalian semua tinggal bersama ? " Tanya Dila pada Nia .
" Tidak...hanya kami berempat , aku , mama , papa dan kak Jidan yang tinggal dengan kakek , om Juan mempunyai rumah sendiri , begitu juga Tante Kirana " jawab Tania .
" Oh..., Lalu kenapa kalian punya kamar masing masing ? " Tanya Dila lagi .
" Saat eyang Ulang tahun atau saat hari raya kami berkumpul di rumah ini " jawab Tania .
Dila terdiam rumah sebesar ini mereka hanya tinggal berempat .
" Apa kakak mau melihat lantai bawah ? " Tanya Tania .
" Tidak perlu " jawab Dila cepat , ia pusing berkeliling di rumah luas itu .
Mereka menuruni tangga yang langsung menuju ruang makan .
" Apa nona muda ingin hal lain ? " Tanya pelayan yang dari tadi mengikuti mereka .
" Tidak ...kau boleh pergi " jawab Tania .
" Tunggu...apa aku boleh ke toilet ' Dila bertanya pada pelayan itu .
"Mari saya antar nona " pelayan itu menawarkan bantuan .
" Ya terimakasih , Nia pergilah dahulu aku nanti menyusul " ucap Dila kepada Tania , gadis itu mengangguk seraya meninggalkan Dila dengan pelayan .
Mereka berdua menyusuri rumah hingga tiba di sebuah ruangan mirip ruang keluarga .
" Itu toiletnya nona " ucap pelayan muda tersebut .
" Terimakasih " ucap Dila seraya melangkah cepat ke ruangan itu .
Dila keluar dari toilet , namun tidak ada pelayan yang tadi bersama dengannya . Gadis itu melangkah ke arah ia berasal . Tak lama iapun sampai di ruang tamu , di sana tuan Aditya tengah minum secangkir kopi bersama dengan nyonya Irma dan nyonya Kirana serta nyonya Nisa .
" Halo om...di mana kakek ? " tanya Dila .
" Dia tengah berbincang bincang dengan pak Nurdin dan om Juan , bagaimana kamu suka rumah ini ? " Tanya tuan Aditya.
Dila menggelengkan kepalanya , membuat semua orang memandang ke arahnya .
" Rumah ini bagus , mungkin akan menyenangkan tinggal dengan banyak anggota keluarga , tapi untuk Dila yang sendirian rumah ini terlalu besar " jawab Dila polos , tuan Aditya tertawa .
" Kami keluargamu sekarang , jadi kau jangan merasa sungkan " ucapnya kemudian .
" Benar Dila " sahut nyonya Kirana .
" Terimakasih " ucap Dila dengan haru .
" Cepatlah pindah ke rumah ini , kakek selalu mengkhawatirkan dirimu " nyonya Nisa menimpali .
Dila mengangguk pelan. Keluarga itu memperlakukan dirinya dengan sangat baik . Dila sungguh merasa sangat beruntung .
" Dila kuliah jurusan apa ? " Tanya tuan Aditya tiba tiba .
" Komunikasi dan bisnis om " jawab Dila .
" Oh...om kira kamu kuliah kedokteran " ucap tuan Juan sambil tertawa .
" Otak Dila tidak sampai kesana om " jawab Dila dengan wajah polosnya .
Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar jawaban dari gadis itu . Mereka semua asik mengobrol , dari jauh Jordi yang berpura pura asik bermain hape diam diam memperhatikan gadis itu .
Lelaki itu tersenyum melihat suasana hidup karena kehadiran Dila . Dan penampilan Dila yang berbeda dari biasanya membuat ia ingin terus memandangi wajah itu .
Sejak melihat Dila memasuki ruang tamu , pria itu sempat terkesima melihat kecantikan Dila . Gadis itu terlihat anggun Dengan balutan gaun biru muda yang sederhana namun sangat cocok ia kenakan . Dan rambut yang tergerai itu membuat Dila terlihat sangat cantik bak peri .
" Kak...kalau kakak tidak mau , aku saja yang menikahi dia " ucap Rizky yang muncul entah dari mana .
" Hah..' Jordi bengong karna tak mendengar ucapan Rizky .
" Aku akan membuat dia jatuh cinta padaku ' ucap Rizky berapi api .
" Lakukan sesukamu ' ucap Jordi sambil berlalu . Ia pergi meninggalkan sepupunya yang masih labil dan berjalan ke halaman yang temaram oleh cahaya lampu taman .
Jordi duduk di kursi besi sambil memandang bintang . Entah sejak kapan ia selalu memandang langit jika sendiri di malam hari . Bintang malam menenangkan hatinya .
" Apa yang kau lihat ? " Sebuah suara membuyarkan ketenangannya .
Dila nampak berjalan perlahan mendekatinya . Cahaya temaram lampu taman membuat ia terlihat begitu cantik . Ada sesuatu yang bergetar di dada pria itu ketika tatapan mereka bertemu .
__ADS_1
Dila duduk di sebelah pria itu sambil mendongakkan wajahnya .
" Kau melihat bintang ? , Di mana aku tidak melihatnya . Langit Bandung terlalu berawan " ucapnya sambil menatap langit .
Jordi terpaku . Saat gadis itu mendongak , leher jenjangnya membuat ia menelan air ludahnya sendiri .
Dila menoleh ke arahnya , membuat mata mereka kembali bertemu .
" Kau terlihat berbeda malam ini " ucap Jordi lembut .
Dila tertawa renyah , gadis itu terlihat makin manis .
" Kau juga seperti lelaki baik baik malam ini " ucapnya sambil tersenyum meledek .
Jordi tertawa mendengar ucapan gadis itu .
" Aku memang lelaki baik baik " jawabnya .
" Aku bertemu dengan kekasihmu ' ucap Dila sesaat kemudian .
" Sepertinya dia masih mencintai kamu , aku melihat kecemburuan di wajahnya " lanjut gadis itu . Jordi hanya diam sambil memandang ke tempat kosong .
" Kau tau... terkadang seseorang akan menyadari seberapa besar cinta mereka saat akan kehilangan " Dila berucap sambil memandang Jordi .
" Kami sudah berakhir " jawab Jordi .
" Aku masih melihat cinta di matamu , tidakkah kau ingin memperjuangkannya ? .
Bukankah kalian masih memiliki kesempatan untuk kembali bersama ? " Tanya Dila .
Jordi menghela nafasnya . Pria itu terdiam beberapa saat .
" Aku sudah tidak ingin mengulangi jalan yang sama berkali kali . Dia sudah menyerah memperjuangkan cinta kami dan memilih untuk menjadi menantu dari keluarga yang bisa menerimanya " ucap pria itu sesaat kemudian .
" Tapi kau masih mencintai dia kan ? " Tanya Dila
" Entahlah....." Kata kata itu keluar begitu saja dari bibir Jordi .
Keduanya terdiam dalam kebisuan , terhanyut dalam pikirannya masing masing .
" Kau bilang kau di campakkan ? , Apa hubunganmu dengan pria itu sudah berakhir ? " Tanya Jordi memecah keheningan .
" Tidak ada yang berakhir , bahkan aku ragu jika hubungan kami telah di mulai " jawab Dila seraya tertawa datar .
" Kamu ? , Menyatakan cinta lebih dulu ? " Tanya Jordi tidak percaya . Dila menundukkan wajahnya malu .
" Memalukan bukan ...? " Ucapnya sambil tertawa .
" Waktu itu aku belum genap dua puluh tahun " lanjutnya .
" Kapan itu terjadi ? " Tanya Jordi .
" Hampir dua tahun lalu " jawab Dila .
" Lalu apa dia menolak cintamu ? " Tanya Jordi kemudian .
" Entahlah...jika kau tidak menerima cinta seseorang bukankah kau akan berhenti menemui dia ? " Tanya Dila .
" Tergantung..., Kalau kita bekerja dengan dia tentu kita harus tetap bertemu " jawab Jordi
" Bukan begitu....maksudku , jika kau menganggap seseorang itu hanya sebatas kawan , bukankah kau akan berhenti menemuinya saat tiba tiba dia mengatakan cinta ? , Bukankah kau akan memutuskan persahabatan kalian ? " Tanya Dila .
" Mungkin...akan canggung bagi kami untuk berteman lagi " jawab Jordi .
" Jika kau juga menyukai dia kau masih akan menemui dia kan ? " Tanya Dila lagi .
" Tidak saat itu juga aku akan menerima cintanya dan mencium dia " jawab Jordi.
" Kau memang pria mesum , bagaimana bisa kau mencium kekasihmu di hari pertama jadian " ucap Dila sambil cemberut .
" Tentu saja aku akan melakukannya itu..., Perbedaan hubungan pacaran dengan persahabatan adalah sebuah ciuman " jawab Jordi dengan semangat .
" Begitukah...? " Tanya Dila lesu .
" Bagai mana dengan kecupan " tanya Dila
" Kau tahu kecupan di kening saat kau berpamitan karena harus pergi " lanjut Dila .
" Seperti ini " sambil berbicara Jordi mengecup kening Dila .
" Apa yang kau lakukan ?! " Bentak Dila sambil bergeser menjauhi Jordi .
" Aku melakukan itu pada Tania , atau seorang adik " lanjut Jordi sambil tersenyum senang . Entah kenapa hatinya menjadi gemas mendengar pertanyaan pertanyaan Dila .
__ADS_1
" Kecupan adalah tanda sayang untuk seorang adik , dengan kata lain mungkin dia menganggapmu sebagai adiknya " Jordi berkata dengan nada dalam , ia melihat ekspresi Dila yang nampak kecewa .
" Kenapa wajahmu begitu ? , Apa dia sungguh melakukan itu ? " Tanya Jordi sambil menahan senyum .
" Diamlah.." jawab Dila jengkel . Jordi tertawa terbahak bahak .
" Dia bukan lelaki mesum jadi dia tidak akan bertindak seperti dirimu " Dila berbicara dengan kesal .
" Tapi aku sungguh tidak percaya kau mengatakan cinta lebih dulu ?" Jordi menatap lekat wajah Dila .
" Kenapa ? , Bukankah cinta harus di ucapkan , jika tidak itu akan menjadi bisul di hatimu . membuatmu gelisah sepanjang waktu , bertanya tanya apakah orang yang kau cintai memiliki perasaan yang sama . Cinta bukan tentang siapa yang berkata lebih dulu , atau cinta siapa yang lebih besar , tapi itu tentang rasa . meski kadang tidak terbalas ia sebuah pembelajaran , tentang bagaimana kita melepaskan dengan ikhlas dan percaya yang terbaik sedang menanti kita " ucapan Dila membuat Jordi tertegun ,
Terkadang gadis itu terdengar sangat bijak .
" Siapa yang mengajarimu berbicara begitu " tanya Jordi .
" Tentu saja diriku sendiri " sahut Dila .
" Huaam.." Dila menguap panjang .
" Kapan kekek selesai rapat aku ingi pulang " ucap Dila sambil mengusap usap lenganya . Udara malam mulai terasa dingin .
" Kau mau coklat panas ? , Ayo kita nonton TV sambil minum coklat " ucap Jordi seraya mengajak Dila masuk ke dalam rumah . Di ruang tamu tidak ada lagi para orang tua entah di mana mereka .
Jordi dan Dila menuju ruang movie . Di sana nampak Rizky dan Dila tengah asik menonton sebuah film romantis . Jordi menghubungi ketua pelayan untuk membawakan mereka berdua coklat panas , setelah menyuruh Dila duduk di sofa yang nyaman dan memberinya selimut .
Jordi dan Dila ikut menonton film yang sudah lebih dulu di nikmati oleh Rizky dan Tania .tak lama pelayan datang membawa 2 gelas coklat panas , dan cemilan .
Dila meminum coklat seraya bersandar dengan nyaman , film yang di tontonnya ia kurang mengerti alur ceritanya hingga tidak menarik baginya , gadis itu menguap beberapa kali lalu Tertidur tanpa sadar .
Nyonya Nisa yang mendengar permintaan Jordi pada pelayan datang ke ruangan itu untuk mengecek Mereka , ia lega karena Rizky dan Tania ada di sana bersama mereka .
Ia tersenyum melihat Dila tengah tertidur pulas .
" Jo ...bawa dia Ke kamar ' bisikny pada Jordi .
" Wanita ini selalu tidur di sembarang tempat "keluh Jordi sambil mengangkat tubuh mungil Dila .
Nyonya Nisa membantu membukakan pintu sebuah kamar .
" Untunglah kamar Jidan sudah di ganti spray " ucap nyonya Nisa sambil merapikan selimut di ranjang yang luas di kamar itu .
Jordi meletakkan tubuh Dila yang terlelap ke ranjang , lelaki itu mencoba menahan degub jantungnya yang tak menentu karena nafas hangat gadis itu di ceruk lehernya .
" Kenapa harus di kamar ini ? " Tanya Jordi sambil menjauh dari ranjang .
" Lalu di mana ? , Kamarmu ? , Kakek bisa marah , lagi pula Jidan tidak akan kembali dalam waktu dekat , kamar yang lain tidak setiap hari di bersihkan " jawab nyonya Nisa dengan suara lembut .
Wanita itu mengajak putranya keluar kamar setelah mengatur suhu pendingin ruangan dan menyelimuti Dila .
" Bagaimana bisa gadis sepertinya tidur di sembarang tempat " keluh Jordi sambil menggeleng gelengkan kepalanya .
" Dia seperti ibunya " ucap nyonya Nisa sambil tertawa .
" Mama mengenal ibunya ? " Tanya Jordi .
Nyonya Nisa mengangguk seraya melangkah pergi .
" Mama dan papa akan pulang , dia sudah selesai rapat dengan kakek , kau ingin pulang dengan kami ? " Tanya Nyonya Nisa .
" Eh..aku akan bermalam di sini " jawab Jordi gugup . Nyonya Nisa tersenyum , ia merasa perkiraannya tentang perasaan Jordi pada Dila benar .
" baiklah..., Ibu dengar kau akan mengajak Dila ke pesta pernikahan Risa , belikan ia baju yang layak , jangan buat ia di permalukan di pesta itu " ucap nyonya Nisa seraya pergi menuju ruang keluarga .
" apa kalian akan pulang ? " Pertanyaan tuan Gunawan menyambut kedatangan nyonya Nisa yang baru saja tiba dari lantai dua .
" Iya ayah...dan Dila sepertinya harus tidur di sini " nyonya Nisa tersenyum .
Tuan Gunawan mengernyitkan keningnya tak mengerti .
" Dia tertidur saat sedang menonton dengan anak anak " ucap nyonya Nisa menjelaskan maksud perkataannya .
" Oh...ku dengar dari saka dia memang suka tidur di mana saja seperti ibunya " ucap tuan Gunawan sambil tertawa .
" Sepertinya anak anak memutuskan untuk menginap , Nisa pamit ayah " wanita itu mencium punggung tangan mertuanya .
" Ya...hati hati di jalan ' ucap tuan Gunawan sambil mengusap rambut menantunya .
" Ayah istirahatlah...ayah terlihat lelah " ucap nyonya Nisa seraya melangkah pergi .
Tuan Gunawan menatap kepergian menantunya seraya melangkah menuju kamar tidurnya .ia gembira Dila tidur di kamarnya malam ini .
Di kamar ia segera menghubungi kepala pelayan rumah tangganya untuk mempersiapkan semua kebutuhan Dila esok hari .
__ADS_1