
Di sebuah rumah , suasana tampak ramai terlihat beberapa tamu menggunakan baju berwarna hitam seperti sedang menghadiri sebuah pemakaman .
Tak jauh dari rumah itu ada sebuah gajebo , seorang anak perempuan berusia sekitar 12 tahun sedang duduk di gajebo tersebut sambil menangis . Ia mengenakan Pakaian serba hitam dan sebuah selendang menutupi rambutnya . seorang remaja lelaki berumur sekitar 16 tahun duduk di sampingnya , terlihat ia berusaha menghibur gadis kecil itu .
" Apa kau sedih ? " Tanya pemuda itu sambil tersenyum .
" Ya ayahku telah tiada , kau tahu ayahku adalah prajurit paling tampan dan berani , aku ingin ia datang kesekolah dengan memakai seragamnya " ucap gadis kecil itu .
" Kenapa ?" Tanya remaja itu .
" Karena ia sangat tampan dengan baju ABRI nya " jawab gadis kecil itu polos .
" Bunda bilang jika aku besar ayah akan membawakan pengantin untukku , lelaki tampan dengan pakaian loreng yang paling keren , tapi kini ayah sudah pergi ia tidak bisa lagi memberiku hadiah itu " cerita gadis kecil itu .
" Apa benar begitu , bagaimana dengan ku , bukankah aku tampan ? " tanya pemuda itu mencoba menghiburnya .
" Kakak apa kakak juga akan jadi prajurit ? " Tanya gadis itu .
" kakak memang tampan , tapi akan lebih tampan saat pakai seragam ? " Ucapnya kemudian .
" Ya ...aku akan jadi prajurit seperti kakek dari mamaku , apa kau mau jadi kekasihku jika aku jadi prajurit ? " Tanya pemuda itu bercanda .
" Tidak...aku akan memilih prajurit paling berani untuk jadi suamiku , jadi...kalau kakak ingin jadi lelaki terpilih jadilah prajurit pemberani yang melindungi anak anak , kaum wanita dan kaum lemah , serta orang orang yang membutuhkan " celoteh gadis itu .
" Aku hanya akan menerima yang terbaik , lebih baik dari ayahku , ia harus seperti Eyang " lanjutnya .
" Kenapa ?" Tanya sang remaja .
" Agar aku tidak perlu menerima surat cinta dari suamiku yang membuat aku menangis , aku tidak ingin menangis seperti ibu hari ini , tapi aku juga ingin punya suami seperti ayah " ucapnya dengan polos .
Remaja pria yang berada di depannya tertawa mendengar ucapan gadis kecil yang baru di kenalnya dua jam yang lalu .
" Apa kau sungguh akan menerimaku jika aku prajurit hebat ?" Tanya remaja lelaki itu .
Gadis kecil di depannya mengangguk anggukan kepalanya.
" Baiklah...aku akan jadi prajurit hebat , saat itu kau harus memilihku " ucap remaja itu kemudian .
" Itu tidak mudah , aku akan minta Eyang membuat sayembara agar memilih prajuritnya yang terbaik untuk ku , kakak harus jadi pemenangnya " ucap gadis itu .
" Kenapa aku harus ikut sayembara ? " Tanya remaja itu sambil menahan tawa .
" Karena begitu cara memenangkan hati seorang putri , aku adalah putri berharga dari ayah dan eyang ku , eyang juga tidak akan membiarkan lelaki lemah menjadi pengantinku setelah ayah tiada " ucapnya
" Emh...begitu ...." Remaja itu menanggapi gadis kecil lucu itu .
" Dila..nak Dila....Bunda mencarimu .." teriak seorang wanita berusia 30an tahun dari jauh .
"""'''''’""”""
" Nak Dila....., Nak Dila..."
Dila terbangun dari tidurnya , ia menatap sebuah wajah , tapi bukan wajah yang tadi .
" Oh..." Dila terbangun dari tidurnya karena buk Narti membangunkannya .
" Apa nona sakit , tuan Aditya meminta saya memeriksa keadaan nak Dila " ucap wanita itu .
Dila terpaku , ia tidur cukup larut semalam tapi ia bermimpi aneh dan mimpi itu seperti sebuah kenyataan .
" Nak....
' ah...aku baik baik saja , apa Adi..maksudku Jidan sudah pulang ? " Tanya Dila pada buk Narti .
Buk Narti menggelengkan kepalanya seraya merapikan sebuah nampan di atas meja kecil di samping ranjang .
" Tuan Aditya meminta saya mengantar sarapan karena mungkin nak Dila lelah , tidurlah sampai merasa lebih baik " ucap buk Narti seraya minta ijin .
__ADS_1
" Terimakasih Bu Narti " ucap Dila sambil tersenyum senang .
" Sama sama , istirahat saja dulu " ucap Bu Narti seraya keluar kamar .
Di tepi tangga pak Nurdin telah menunggunya .
" Apa dia baik baik saja ? " Tanya pak Nurdin .
" Ya..tapi apa benar berita itu , apa sudah di konfirmasi ? " Tanya buk Narti .
" Tuan sedang mengecek semuanya , ia meminta kita menjaga semua orang rumah agar tidak mendengar berita itu dari orang lain sampai ada kepastian " ucap pak Nurdin sambil melangkah Menuruni tangga .
" Pa Nurdin...kenapa jaringan tv-nya mati ? " Tanya Tania yang baru keluar kamar .
" Oh..iya segera siap nona , sedang ada perbaikan " jawab pak Nurdin dengan terkejut .
" Nona mau sarapan pagi di antar ke kamar ? " Tanya Bu Narti sembari kembali naik atas .
" Tidak perlu , aku mau sekolah , dimana ku taruh handphone ku ya..? " Tanya gadis itu bingung .
" Oh ya tadi Bapak pesan mau ajak nona ke suatu tempat jadi nona tidak perlu sekolah , bapak sudah minta ijin sama wali kelasnya nona " ucap Bu Narti sembari menemani Tania masuk kamar .
" Benarkah ? , Tumben kalau gitu aku mau tidur lagi aja " ucap gadis itu sembari kembali keranjang dan menarik selimutnya .
Bu Narti kembali menuruni tangga dan segera mengkordinir semua pelayan di rumah tersebut .
*****
Semua tim telah kembali setelah melakukan pengecekan ke dalam jurang , telah di pastikan kendaraan tersebut adalah milik Jidan , dan terdapat sebuah jasad yang sudah menjadi abu , namun dapat di pastikan ada abu manusia di mobil yang telah terbakar tersebut .
Berita terbaru tersebut tentu menyesakkan dada tuan Aditya . Ia tidak tahu harus berkata apa pada keluarganya terutama sang istri . Siang itu tuan Aditya kembali ke rumah dengan hati yang sesak . Ia belum ada keberanian untuk menceritakan kejadian yang menimpa Jidan , sementara berita tersebut akan segera di rilis di televisi , meski dalam versi berbeda dari kenyataan.
Di ruang tengah tuan Gunawan tengah berbincang bincang dengan Dila dan nyonya Irma dan juga Tania yang bosan karena jaringan internet rumah tak jua ada perbaikan .
Dila mengajak semua orang untuk ngerujak , mereka semua jadi akrab dan berbincang bincang satu sama lain . Mereka bercerita berbagai hal .
" Oh ya apa itu ? " tanya Nyonya Irma .
" Itu seperti keadaan pemakaman ayah , aku berbicara dengan seseorang " cerita Dila
" Aku seperti seseorang menghiburku dia berjanji akan menjadi seorang prajurit hebat dan meminta aku menjadi istrinya jika aku sudah dewasa " Dila bercerita sambil tertawa .
" Apa kau yakin itu mimpi ? " Tanya nyonya Irma .
" Kurasa , tapi bagaimana bisa aku bermimpi kembali kemasa lalu " ucap Dila yang merasa lucu .
" Itu aneh..." Komentar Tania
" Cerita kak Dila seperti kisah kak Jidan saat akan masuk akademi militer " lanjutnya .
" Benarkah ? " Tanya tuan Gunawan .
" Iya saat itu kak Jidan bilang dia telah berjanji pada seorang gadis kecil untuk menjadi seorang tentara hebat yang melindungi anak anak dan wanita , orang tua serta orang yang tidak berdaya agar seorang anak prajurit tersenyum , itu sebabnya ia menjadi prajurit karena ia telah bilang bahwa itu adalah janji " cerita Tania .
Semua yang ada di tempat itu terdiam , sambil menatap wajah Tania dan Dila bergantian . Tuan Aditya yang tengah terdiam dan menyimak percakapan itu sejak tadi juga hanya terdiam .
" Papa bukankah papa pernah mengajak Jidan menghadiri acara pernikahan ataupun pemakaman " tanya nyonya Irma .
" Ya tapi aku juga sudah lupa , siapa yang ku ajak saat menghadiri pemakaman ayah Dila apakah Jidan , Jordi atau Rizky " jawab Tuan Gunawan dengan datar meskipun ia telah menyadari sesuatu .
" Oh..benar kak Jordi dan Kak Jidan seumur mereka juga saat masih remaja memiliki wajah yang hampir sama " Tania tertawa .
" Benarkah ? " Tanya Dila .
" Ya mereka juga lahir di hari yang sama , itu sebabnya kakek memberi mereka nama Jordi dan Jidan " jawab Tania .
" Itu benar dulu kami tinggal bersama di rumah ini , saat mereka masih kecil , dan mereka sering bertengkar " nyonya Irma menimpali .
__ADS_1
Dila tertawa mendengar cerita tentang dua orang pria itu .
" Oh sayang..sejak kapan kamu berdiri di sana ? " Tanya nyonya Irma yang menyadari kehadiran tuan Aditya .
" Emh aku baru saja tiba , kalian nampak sangat bahagia ?" Tanya Tuan Aditya .
" Ya kemarilah...Dila mengajak kami semua menikmati rujak buah , ia sering melakukan hal ini di rumah , ayo cicipi enak sekali " ucap tuan Gunawan .
Tuan Aditya segera bergabung dengan mereka dan duduk di dekat sang istri .
Dila segera mengambilkan sepiring kecil potongan buah yang di beri bumbu rujak yang ia buat .
" Ini om.." ucap Dila .
" Kau makanlah itu , rasanya sangat enak , seperti buatan ibumu " puji tuan Gunawan .
" Benarkah ? " Tanya tuan Aditya , ia segera mencicipi sesendok rujak tersebut
" Ya..ini sangat enak.., Dila kau sungguh yang membuat ini ? " Puji tuan Aditya .
Da tersenyum senang mendengar tuan Aditya menyukai rujak buatannya .
" Aku ingin masukkan menu ini ke cemilan sore hari pada Narti , bagaimana pa ? " Tanya nyonya Irma .
" Ya ya , suruh Narti meminta resepnya " jawab tuan Gunawan .
Tuan Aditya hanya membisu sambil menyuapkan makanan ke mulutnya . Sungguh ia tidak tega merusak kebahagiaan saat ini yang sudah lama tidak ia lihat , suasana akrab yang Dila ciptakan adalah hal langka yang terjadi di rumah itu .
Dila yang peka , dan dari tadi menatap wajah tuan Aditya mulai merasakan sesuatu . Ia menangkap wajah itu , wajah seorang prajurit yang menyimpan sebuah kesedihan . Wajah yang sering dia lihat sewaktu masih remaja .
" Apa om Adit baik baik saja ? " Tanya Dila yang mulai khawatir .
" Yah..om hanya ada sedikit masalah " jawab tuan Aditya seraya meletakkan piring di meja .
Tatapan Dila yang menyelidik dan penuh kecurigaan membuat ia merasa sedang di interogasi . Benar kata putranya gadis itu berbeda , dan memiliki cara pandang dan cara hidup yang berbeda dari orang lain .
" Aku hendak berganti pakaian dulu " tuan Aditya bangkit dari duduknya .
" Apa kau tidak akan kembali bekerja sayang" tanya nyonya Irma .
' dari semalam om memang sibuk Dila ,. Kau tidak perlu khawatir " ucap nyonya Irma pada Dila yang memandang kepentingan tuan Aditya dari ruangan itu .
"Oh.." gumam Dila .
Semua orang kembali mengobrol dan bercanda Dila bengkit dari duduknya dan mencari tuan Aditya . Cara lelaki itu menatapnya juga menatap anak dan istrinya serta Tuan Gunawan sungguh mengganggu hatinya .
Tok tok tok
Dila mengetuk ruang kerja tuan Aditya .
" Om...ini Dila , Dila boleh masuk ? " Tanya gadis itu .
Belum ada jawaban , namun Dila segera membuka pintu kamar yang tidak terkunci tersebut .
Dila mendapati tuan Aditya Tengah berdiri sambil menatap foto keluarga kecilnya yang tergantung di dinding kamar .
" Om apa terjadi sesuatu pada Adi ? " Tanya Dila yang tidak dapat menahan keingi tahuannya .
Tuan Aditya berbalik , dengan wajah sedih lelaki itu menatap wajah gadis yang ia tahu sangat di cintai oleh putranya yang kini telah tiada .
Melihat tatapan itu Dila segera menggeleng gelengkan kepalanya .
" Tidak benar bukan ? , Om tidak membawa berita itu kan ? , Om tidak memeriksa lokernya bukan ? " Tanya Dila dengan suara mulai terisak .
" Maafkan om..." Jawab tuan Aditya yang tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya .
" Tidak....., Jangan om.. kumohon " suara Dila mulai tertahan gadis itu menutup kedua telinganya . Ia tidak ingin mendengar berita itu lagi . berita yang membuat ia tidak ingin memiliki seorang kekasih yang berprofesi sebagai tentara , setelah ia mengerti arti surat cinta dari sebuah loker prajurit .
__ADS_1