
Dila menarik nafas sesaat , jalur turun yang terjal membuat nafasnya hampir habis , gadis itu bersandar di bebatuan setelah minum seteguk air . Adi dengan sabar menunggunya
Mereka kembali melanjutkan perjalanan , karna kurang hati hati Dila hampir terperosok beruntung Adi yang berada di depannya segera meraih tubuhnya dan tangannya yang lain berpegangan pada sebuah akar pohon .
" Kamu baik baik saja " tanya Adi beberapa saat kemudian .
Dila menatap sesaat wajah yang begitu dekat di depan wajahnya lantas mengangguk dengan gugup . Jantung gadis itu kembali berdetak kencang , bukan hanya karna terkejut , tapi juga karna gugup oleh pelukan Adi yang hanya sesaat tadi .
Adi kembali memimpin perjalanan itu setelah Dila tenang . Dila hanya diam selama sisa perjalanan , jantungnya tak berhenti berdebar jika melihat punggung pria di depannya , itu sebabnya ia hanya menunduk sepanjang perjalanan .
" Kau kenapa ? " Tanya Adi saat jalur mereka tidak lagi curam .
" tidak apa apa " jawab Dila masih dengan wajah tertunduk .
Adi tersenyum mendengar jawabannya . Pria itu menarik nafas panjang .
" Kita sudah sampai " ucapnya kemudian membuat Dila yang dari tadi menunduk mendongakkan wajahnya .
Dila melongo menyaksikan hamparan Safana yang luas di depannya . Ia segera berjalan dengan cepat melewati Adi .
" Ini benar benar surga...." Teriak Dila sambil berlari , karna tidak hati hati ia tersungkur di rerumputan akibat tersandung gundukan tanah berbatu .
Adi berlari menghampirinya , namun pria itu menghentikan langkahnya saat melihat Dila bangkit lalu duduk sambil tertawa lepas . Gadis itu benar benar punya kebiasaan yang mengejutkan .
Adi berjalan menghampiri Dila , seraya mengulurkan tangannya , ia membantu gadis itu berdiri .
" Hei....di sini....!!! " suara yang sangat ia kenal membuat Dila menoleh .
" Kak Ivan..., Kak Dedi...." Teriak Dila seraya kembali berlari menghampiri kedua seniornya itu .
" Hati hati " seru Adi mengingatkan Dila .
Namun gadis itu seakan tidak mendengar suaranya , ia terus berlari dan segera memeluk Ivan yang tengah berjalan jalan dengan yang lain .gadis itu berjingkrak-jingkrak karena senang .
Tingkah Dila membuat rombongannya tertawa . Mereka berdua menepuk bahu Dila .
" Kak aku lapar..." Bisik Dila pada Ivan sesaat kemudian .
" Oh ..kamu bisa beli mie instan di warung , kamu belum sarapan ya . Dirikan tenda dulu aja , kita mendadak merubah rencana mau nge camp di sini semalam , Ratna katanya juga capek kalau harus turun hari ini " cerita Ivan .
" Benarkah..?!!, Yea...." Dila berseru .
Adi yang baru datang menghampiri mereka bertiga .
" Dila kamu lapar tidak ? , Ayo kita cari makan dulu yuk ! " Ajaknya tiba tiba .
" Oh iya dia juga barusan bilang lapar " jawab Ivan membuat Dila malu .
" Kita buat tenda aja dulu , katanya mu nginap semalam di sini , besok pagi baru pulang " cerita Ivan pada Adi .
" Oh.. baiklah , kalian buat tenda di mana ? " Tanya Adi .
Ivan menjawab dengan menunjukkan arah .
Tidak jauh dari sana terlihat lima tenda telah berdiri . Adi bergegas menuju tempat itu ,Dila mengikutinya karna tendanya ada pada Carrier Adi .
Setelah selesai membuat tenda mereka pergi ke warung yang terletak agak jauh dari sana . Dila mengenakan syal dan penutup kepala , Angin di sana sangat kencang .
Dila berjalan sambil mengambil video , ia mengabadikan pemandangan di sana dengan kamera digital miliknya .
" Jangan lupa minum obatmu setelah sarapan " ucap Adi yang berjalan di depan Dila .
" Ya .." jawab Dila sambil terus melangkah tanpa melihat ke arah Adi , ia terlalu asik menikmati pemandangan di sekitarnya .
Buk !
Dila terkejut saat dirinya yang berjalan Mundur menabrak sesuatu . Dila berbalik di lihatnya Adi tengah berdiri tepat di hadapannya .
" Kau ingin berfoto ? " Tanya Adi tanpa menghiraukan Dila yang gugup karena berdiri begitu dekat darinya .
" Emh..ya boleh " jawabnya tanpa berfikir . Adi mengambil kamera di tangannya , ia lalu mengambil beberapa gambar gadis itu .
Mereka tiba di sebuah warung setelah berjalan lebih dari setengah jam . Saat itu sudah hampir jam satu siang . Keduanya segera memesan makanan .
" Ini bukan lagi sarapan " ucap Adi sambil menyuap mie goreng ke mulutnya .
Dila tidak menjawab ia asik menikmati makanannya sambil mengecek handphonenya . Gadis itu kembali memeriksa foto foto yang ia ambil .
Sementara Adi asik menikmati makanannya sambil mengobrol dengan pemilik warung , pemuda itu terlihat akrab dengan bapak tersebut .
Selesai makan keduanya kembali ke tenda . Rombongan mereka telah berkumpul di sana .
__ADS_1
" Kita foto bareng dulu yuk..." Teriak Jimy melihat kedatangan keduanya .
Dila segera berlari dengan semangat . Mereka pun segera berfoto bersama , meminta tolong pengunjung lain untuk memfoto mereka .
Setelah sesi foto bersama , mereka sibuk berfoto Selfi . sementara Dila sibuk berjalan jalan mengelilingi alun alun dan memotret bunga edelweis .
Tanpa di sadari gadis itu , diam diam Adi merekam aksinya dengan handphonenya . tak terasa hari hampir senja , kabut mulai turun di daerah tersebut . Adi duduk sambil terus mengikuti Dila dari jauh di lihatnya gadis itu sibuk berlari kesana kemari , seperti mencari sesuatu atau seseorang .
" Kau mencari siapa " tanya Adi yang diam diam selalu memantau kemana Dila pergi .
" Aku mencari kak Ivan dan Dedi " jawab Dila dengan ragu .
" Oh ..mereka berdua sedang tidur di tenda " Adi memberitahunya .
Gadis itu berjalan menuju tenda , Adi mengikutinya .
" Kakak jangan ikut !! " Seru Dila yang telah berjalan jauh di depannya .
" Kenapa ? , Aku memang ingin istirahat " jawab Adi acuh .
Dila nampak bersungut-sungut , sepertinya ia tidak suka Adi mengikutinya .
Dila langsung menuju tenda Dedi , pemuda itu tengah asik dengan hapenya di dalam tenda .
" Kek Dedi.." seru Dila . gadis itu kemudian berbisik di telinga pemuda itu .
" Ke semak semak aja..." Jawab Dedi dengan suara keras .
" Hah...beneran ? , Kalau di lihat orang gimana ? " Tanya Dila dengan malu .
Mendengar percakapan itu Adi hanya tersenyum . Ia dapat dengan mudah menebak apa yang mereka bicarakan .
" Itu sudah biasa di sini , pergilah cepat , sebentar lagi berkabut nanti malah tersesat gak bisa balik tenda " ucap Dedi .
Dila nampak ragu , namun perut dan pencernaannya tidak berkompromi . Ia ingin di temani tapi tidak mungkin bagaimanapun ia adalah seorang gadis .
Gadis itu menuju tenda Ratna , namun tenda itu kosong . Ia menuju tenda Adi , namun juga kosong . Lama gadis itu duduk sambil memandang ke setiap sudut alun alun mencari tempat teraman untuknya buang hajat .
Beberapa saat kemudian Adi datang dengan sebotol besar air bersih . Pria itu memberikannya pada Dila .
" Ach..air minum Dila masih banyak " jawab Dila sambil menahan perutnya yang mulas .
Dila menerima botol itu Seraya melangkah pergi . Namun kabut mulai menebal dan Savana yang agak tinggi terletak jauh dari tenda , karna takut tersesat Dila kembali untuk mengambil senter .
" Perlukah ku antar , kau yakin tidak akan tersesat ? " Tanya Adi yang masih duduk santai di depan tendanya .
" Bo..boleh " ucap Dila dengan malu . Adi tertawa pelan seraya bangkit dari duduknya . .mereka pergi meninggalkan tempat itu . Tak berapa lama berjalan mereka berpapasan dengan Bima , Jimy dan Ratna .
" Kak Adi mau kemana ? " Tanya Ratna
Adi tidak menjawab , ia hanya mengacungkan jari kelingkingnya ke arah mereka .
" Kan kakak bisa pergi sendiri , kok sama Dila ? " Tanya Ratna
" Bukan aku dia..." Jawab Adi sambil berlalu . Dila merasa malu gadis itu melangkah pergi tanpa menyapa mereka .
" Perut ini kenapa harus sekarang dan di sini "Dila mengumpati pencernaannya dalam hati .
" Kenapa gadis itu harus bertanya , tidak mungkin kan aku mengantar lelaki pergi " gerutunya sambil berjalan .
Adi yang mengikutinya tertawa mendengar Dila yang menggerutu .
Sementara Bima, Ratna dan Jimy menuju tenda sambil membicarakan mereka .
" Berani taruhan....mereka bakal jadian " ucap Jimy semangat .
" Tidak mungkin...kak Adi gak akan mudah jatuh cinta dia kan memang baik sama semua orang " Ratna menyela .
" Tapi aku juga nebak gitu sih...." Bima menyahut .
" Iya kan ...lihat cara Adi memandang Dila , dan tadi kamu lihat gimana Dila menjadi kaku gitu di depan Adi , Kemarin dia gak gitu sikapnya , menurut insting gue pasti terjadi sesuatu tadi " jimy menebak dengan insting detektif cintanya .
Plak.!!
Pukulan di tengkuknya membuat pria yang selalu gak nyambung itu nyengir kuda .
" Sok tau... insting pala Lo.." Ratna sewot .
" Kenapa Lo yang marah ? " Tanya Jimy sambil mengusap usap tengkuknya .
" Ach...bodo' lah..., Kalian masak malam ini aku capek " ucapnya seraya masuk ke tendanya .
__ADS_1
" Tu anak kenapa Bim? , Apa mau datang bulan ? " Tanya Jimy pada Bima .
" Lo jadi orang jangan oon oon amat kenapa , jangan jadi kompor mleduk " jawab Bima menambah kebingungan Jimy yang emang tulalit .
*****
" Kak jangan ngintip ya " ulang Dila yang ketiga kalinya pada Adi yang berjarak sepuluh meter darinya . Adi hanya tertawa .
" Awas kalau ngintip !!" Teriak Dila sambil berjalan lebih jauh lagi .
" Di kabut yang mulai tebal ini apa yang bisa ku lihat ?! " Jawab Adi sambil duduk di atas rerumputan .
Setelah lima belas menit Dila muncul dengan membawa botol kosong di tangannya .
" Sudah..? " Tanya Adi sambil tertawa datar . Dila hanya diam sambil berlalu mendahului Adi .
" Kau tau arah.." tanya Adi yang melihat Dila menuju arah yang berbeda .
gadis itu berhenti sembari menarik nafas .
Adi menyuruh Dila mendekatinya dengan isyarat tangannya . gadis itu mendekat dengan wajah polosnya .
Mereka berdua berjalan berdampingan dalam kebisuan . Cuaca mulai gelap.karna malam telah menjelang ,. suhu di sekitar juga turun dengan cepat hingga lima derajat saja .
" Siapa nama lengkap mu " tanya Adi tiba tiba , ia mencoba mencairkan suasana .
" Wulandari Ratnadila " jawab Dila sambil menggosok gosokan kedua telapak tangan , mencoba menghangatkannya .
" Kakak sendiri ? " Tanya Dila sambil memandang pria di sampingnya . di lihat dari sisi manapun pria itu tetap terlihat tampan .
"Aadhev " jawan Adi sambil memandang langit .
" Hah....?! , seperti nama India ? " Dila membelalak .
" Ya makanya panggil saja Adi , " jawab Adi sambil tertawa .
" Tapi nggak nyambung kan ? " Tanya Dila .
" Aadhev adalah bahasa sansekerta yang berarti pertama atau paling terkemuka atau mulia , bisa juga di sebut Adi yang artinya ke satu " Adi mencoba menjelaskan .
" Oh..." Dila manggut manggut .
" Apa arti namamu ? , Wulandari seperti nama Jawa " Adi menatap Dila .
" Wulandari artinya bulan purnama dalam bahasa Jawa , aku lahir saat bulan purnama , dan Ratna berarti permata dalam bahasa Sunda , sedangkan Dila hanya Dila aja , sebenarnya almarhum ibuku penggemar fanatik Nike Ardilla " jawab Dila seraya tersenyum .
" Ibuku katanya orang Jawa , makanya ada Jawa jawanya " lanjut Dila
" Tapi nama itu cocok untukmu " ucap Adi
" Ha...kenapa ? " Tanya Dila .
" Kamu seperti permata " ucap Adi sambil menatapnya , pria itu terdiam sesaat , ia menarik lengan Dila sambil menatap dirinya .
Dada Dila kembali berdetak tak menentu . Lengan Adi meraih kepala Dila , gadis itu terkejut , terbayang adegan drama Korea di mana tokoh utama laki laki tiba tiba mencium tokoh utama wanita di pikirannya .
" Dari tadi ini menggangguku " ucap Adi Seraya menunjukkan daun kering dari kepala Dila .
Dila mengutuki pikirannya yang kelewat lebai . Ia segera mengalihkan pandangannya , seraya Melangkah dengan cepat menuju tenda yang mulai terlihat .
Dila masuk ke tendanya gadis itu berusaha menenangkan diri karna kejadian tadi .
" Semoga saja Adi tidak menebak isi kepalanya " bisiknya dalam hati .
Sejak kejadian itu Dila lebih banyak diam dan sebisa mungkin menghindari Adi , bahkan ketika esoknya mereka turun dan berpisah ia sengaja mengacuhkan pria itu .
Namun apa hendak di kata , pria itu telah menjadi candu hatinya , semakin ia berusaha melupakan , semakin ia teringat padanya .
Dila mencapai puncak pertama di pangrango dan bertemu dengan cinta pertamanya di sana , gunung itu menjadi kenangan manis dan juga pahit baginya .
Takdir mempertemukan mereka kembali , membuat ia mencintai pria itu hingga lupa bagaimana jatuh cinta pada pria lain . Namun lelaki itu seperti badai , datang dan pergi sesuka hatinya . Bahkan saat Dila memberanikan diri mengatakan cinta , pria itu menghilang begitu saja tanpa jawaban apapun . membiarkan gadis itu menanti jawaban darinya selama dua malam di alun alun Surya kencana hingga mengalami hipotermia .
" Adi" hanya itu nama yang ia ingat dari satu meter nama lengkapnya .hampir setahun pria itu menghilang , dan dua hari lalu ia hanya menelpon untuk meminta maaf .
*****
Dila menatap foto itu sambil menghela nafas panjang , kenangan pertemuan pertamanya dengan pria yang ia cintai membuat ia memejamkan mata , menahan sesak di dadanya .
meski telah mencoba lupa , namun tak dapat di lupakan .meski mencoba benci namun ia tak mampu membenci . hanya ada satu nama di hatinya hingga kini .
" Eyang ... mungkinkah Dila bisa bertemu seseorang yang akan selalu ada untuk Dila , sementara hati Dila telah terpaut pada seseorang yang datang dan pergi sesuka hatinya " ucap Dila sambil memandang foto pendakian pertamanya , hanya itu satu satunya foto yang ada gambar orang yang ia cintai .
__ADS_1