Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
51 . Seorang Buron


__ADS_3

Dila berjalan mondar - mandir di depan kandang kuda dengan gelisah . Tak lama tuan Aditya datang dengan membawa dua kuda . Dila segera menghampiri lelaki itu dengan tidak sabar .


" Om....." Dila menyapa penuh semangat .


" Kamu belum cerita pada siapapun kan ? " Tanya tuan Aditya .


Dila mengangguk dengan mantap .


" Dengar Dila ..., Mungkin dia memang berwajah sama ,. Tapi suaranya berbeda , om akan menyelidikinya lebih jauh untuk melihat sebuah kemungkinan , tapi sebelum semua pasti om harap kamu tidak berkata apapun . Om tidak ingin memberi harapan palsu pada Tante mu , kamu mengerti maksud om.." ucap tuan Aditya .


Dila terdiam , Dengan berat hati gadis itu mengangguk .


" Om tahu kamu sangat berharap itu dia , tapi kita tidak boleh gegabah dalam segala hal , kamu mengerti ? " Tuan Aditya menangkap kekecewaan di wajah Dila .


" Ya..." Jawab Dila . Meski ia sangat berharap , namun apa yang di katakan tuan Aditya benar .


Tuan Aditya mengusap kepala Dila , lalu mengajaknya kembali ke Villa .


Mereka kemudian bergabung dengan nyonya Irma dan Tania yang tengah asik berenang di villa tempat mereka menginap . Lilis dan Mak Asih juga tengah asik berenang . Nyonya Nisa dan nyonya Kirana tengah berjemur di tepi kolam .


" Oh..Dila..mana Isabella ? " Tanya Lilis .


Kedua orang itu saling pandang karena memang tidak tahu keberadaan mereka .


" Dia belum kembali ? , Aku akan mencarinya " ucap Dila sambil berlalu . Sementara tuan Aditya berjalan masuk ke dalam Villa .


Dila menelpon Isabella sambil berjalan meninggalkan villa , gadis itu mengetahui mereka bertiga tengah menikmati kopi di cafe resort , yang tak jauh dari villa . Jordi memang lebih memilih tinggal di kamar resort milik rekan bisnisnya .


Dila melihat Jordi tengah duduk bersama dengan Rizky di sebuah meja , sementara Isabella tengah bercakap cakap dengan seseorang di meja kasir .


Dila menghampiri kedua pria itu sambil melambaikan tangan pada waiters .


" Kau baik baik saja ? " Tanya Dila pada Jordi .


" Hem...hanya terkilir " ucapnya sambil tersenyum senang mendengar perhatian Dila .


Seorang waiters datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah buku pesanan . Dila memesan subuah minuman dingin dan sepotong kue pada waiters itu , ia lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa .


" Ada apa ? " Tanya Rizky


Dila hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum .


" Dila ku dengar kamu suka bunga , di desa bawah ada sebuah kebun bunga kamu mau kesana ? " Tanya Rizky .


" Benarkah...? , Ayo kita pergi " ucap Dila penuh semangat .


Jordi menatap keduanya dengan kilatan cemburu di matanya . Isabella saat itu datang dari meja kasir .


" Kebun bunga itu sudah di bongkar , tapi katanya ada kebun strawberry milik kelompok pemuda di dekat sini " Isabella menyahut sambil duduk di samping Dila . Ia bersandar di pundak Dila .


" oh.. sayang sekali ..." Rizky mendengus dengan kecewa .


" Sejak kapan kau suka hal hal begituan , bukankah selama ini kau hanya suka game online " Jordi mencibirnya .

__ADS_1


" Oh ya Rizky..antar aku ke villa yuk.." Bella tiba tiba bangun dari duduknya dan menarik tangan Rizky .


" Apa kemana ? " Tanya Rizky malas .


" Ayolah ..." Tanpa sungkan Bella menarik Rizky dan meninggalkan Dila dan Jordi berdua .


Waiters datang membawakan pesanan Dila , dengan cepat Dila meminum pesanannya , lalu hendak beranjak pergi , berdua dengan Jordi membuat ia tidak nyaman .


" Dila..." Panggil Jordi pelan .


" Apa kau hendak kemana ? " Tanya Jordi pelan .


" Bukan urusanmu " jawab sambil berlalu . Jordi mengejar Dila dan segera meraih tangannya .


Dila menepis tangan Jordi , sambil membalikkan badan ia terkejut mendapati Jordi tengah meringis kesakitan .


" Maaf " ucapnya dengan rasa bersalah . Ia meraih tubuh Jordi yang membungkuk . Lalu dengan segera menolong pria itu .


" Apa masih sakit , perlukan pergi ke tukang pijit ? " Tanya Dila .


" Antar aku ke kamar aku ingin istirahat sebentar " ucap Jordi yang mengambil kesempatan itu untuk berdua dengan Dila . .


Dila menuruti permintaan Jordi , ia merasa berhutang Budi karena pria itu terluka ketika berusaha menolong sepupunya .


Setelah memberi tahu kasir untuk memasukkan Tagihan ke kamar Jordi keduanya menuju kamar Jordi .


Di kamar Dila segera menata tempat tidur agar Jordi merasa nyaman .


" Ada lagi yang kau inginkan ? " Tanya Dila setelah menata tempat tidur Jordi .


Dila terdiam sambil menatap pria itu , lalu menarik nafas panjang .


" Itu sudah jadi milik seseorang " jawab Dila kemudian .


" Aku akan menunggu.., sampai kau siap , mari kita berkencan tidak apa apa jika belum ada cinta di hatimu saat ini " ucap Jordi dengan suara Dalam .


" Jo...aku tidak bisa " jawab Dila .


" Jangan langsung memutuskan " Jordi memaksa .


" Aku tidak ingin memberimu harapan palsu " ucap Dila dengan cepat .


" Maaf jika kebaikan yang kau tunjukkan selama ini adalah untuk menenangkan hatiku , aku tidak bisa memberikannya . Hatiku sudah mati bersama kepergiannya " Dila menatap Jordi dengan tatapan datar .


" Kau tidak perlu memberi hatimu , Cukup miliki hatiku " Jordi berucap sambil menatap Dila dengan wajah serius .


Ia sendiri tidak percaya ia bisa begitu menginginkan gadis itu . Meski ia tahu tidak ada ruang untuknya di hati Dila . Tangis Dila semalam justru membuat ia bertekad untuk membuat gadis itu melupakan Jidan .


" Kau pernah bilang ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan seseorang yang akan selalu bersama denganmu , berada di sisimu hingga akhir hayat , aku siap jadi lelaki itu " Jordi mendekati Dila yang masih terdiam .


" Tidak..., Maafkan aku.." Dila menjawab tegas ,. Lalu dengan cepat ia meninggalkan kamar itu .


Jordi termenung di tempatnya hingga langkah Dila tak lagi terdengar . Hatinya terasa pedih , bukan karena penolakan gadis itu , tapi rasa cinta yang begitu dalam yang Dila miliki pada almarhum Jidan yang membuat ia merasa sakit .

__ADS_1


" Kau tidak akan pernah melanjutkan hidup dengan cinta buta seperti itu " bisiknya setelah terpaku cukup lama .


Sudah hampir setahun , bagaimana mungkin cinta gadis itu belum juga pudar . Ia pergi mendaki lalu menangis di puncak , menangis di bawah bintang malam , semua karena rasa cintanya pada Jidan .


" Brengsek..!! , Kenapa kau harus membuat janji yang tak bisa kau tepati , kau lihat betapa menderita ia kini " umpat Jordi sambil menatap langit dari jendela kamarnya . Ia mengumpat pada almarhum Jidan yang membuat gadis yang kini begitu ia cintai hidup dalam penderitaan .


*****


Di tempat lain seorang pemuda tampan tengah duduk di atas batu di sebuah sungai . Rambutnya yang gondrong hampir sebahu tergerai begitu saja . Matanya yang tajam menatap aliran air sungai yang mengalir jernih di depannya .


" Kenapa gadis secantik dia mau memeluk ku " pemuda itu bergumam sambil menatap pantulan cahaya matahari siang di sungai tersebut .


" Mas Anto..di panggil Bapak " suara seorang anak lelaki berusia sekitar lima belas tahun membuat ia segera menoleh . Dengan malas ia menghampiri remaja itu dan bersama sama menuju sebuah pondok kecil tak jauh dari sana .


Di sebuah pondok di kebun yang di tanami beraneka ragam sayuran itu tampak seorang yang berumur hampir lima puluh tahun tengah beristirahat . Di tepian sungai tampak berderet tanaman tebu .


Keduanya tiba di pondok dan segera meraih cangkir berisi teh hangat yang berada di sebuah teko .


" Apa kau berhasil memulangkan kuda tadi ? " Tanya orang tua yang duduk di pondok sejak tadi .


" Ya pak..." Jawab pemuda bernama Anto itu sambil bersandar pada tiang pondok .


" Di mana mas belajar naik kuda ? " Tanya remaja yang tadi memanggilnya di sungai .


" Oh ketika berobat di pondok ada seorang warga di sana yang punya kuda , kadang mas belajar menungganginya " jawab pemuda itu dengan santai .


" Oh....Bapak juga sempat heran bagaimana kamu bisa naik kuda . Oh ya bagaimana kakimu apa masih terasa sakit ? " Tanya lelaki tua itu . Dari percakapan mereka sepertinya mereka adalah satu keluarga .


" Sudah tidak pak.. hanya ngilu saat cuaca dingin " jawab pemuda itu .


" Kalau begitu berhentilah untuk naik gunung , kamu selalu seperti orang linglung setelah naik gunung " nasehat orang tua itu .


" Pak...saat saya pamit merantau ke Jakarta apa saya pernah mengirim kabar ? " Tanya pemuda itu .


" Sudah bapak bilang kamu minggat dan tidak pernah kembali hampir sepuluh tahun , Jika bukan karena Bejo menemukan kamu terluka di daerah pembangunan resort itu mungkin kamu tidak kembali . Dan ingat... kemungkinan kamu adalah penjahat jadi jangan cerita apapun pada orang , andai saja kamu tidak hilang ingatankita bisa tahu yang sebenarnya " keluh sang ayah sambil menatap wajah pemuda itu .


" Bagaimana bisa mas Bejo bilang aku anggota penjahat ? " Tanya pemuda itu .


" Kamu membawa pistol dan sekantong narkoba si sakumu , saat itu di daerah itu sedang ada penggerebekan sebuah villa yang menjadi markas pengedar narkoba , lalu ada beberapa orang yang berhasil melarikan diri . makanya Bejo menyembunyikan kamu . Untung istrinya seorang bidan , dan untung juga Simbah bisa menyembuhkan kamu dengan pengobatannya kalau tidak kamu sudah di surga " ucap lelaki itu .


" Sudahlah terima saja nasib kita , semua orang bisa hidup dengan tenang walau hidup sederhana , bapak tidak ingin kamu salah jalan lagi . Tinggallah di sini dan jangan merantau lagi . Lupakan saja semuanya " ucap sang ayah sambil mengangkat sabitnya .


" Oh ya ..bawa tebu itu pulang lebih dulu . mas Tito minta di antar siang ini , bapak mau cari rumput buat kambing kita , nanti kamu jemput bapak lagi " ucap lelaki itu .


" Jangan lupa bawa bekal untuk Bapak saat kembali " lanjutnya


Pemuda itu tidak menjawab , ia bergegas mengikat tumpukan batang tebu yang berserakan di tepi sungai , lalu segera mengangkatnya ke sebuah motor butut dengan bantuan sang adik .


" Pak saya antar tebu dulu , nanti saya kembali setelah shalat Dzuhur " ucapnya pada sang ayah yang tengah asik menyiangi rumput di antara tanaman cabe di dekat pondok .


" Yo...jangan lama lama di pasar , ingat kamu itu mungkin buronan . sore ini kita juga harus menjual cabe lagi supaya hari Minggu kamu bisa ketempat Mbah Rahman . Waktunya kamu mengambil ramuan lagi " ucap lelaki itu .


" Ya baik..."Pemuda itu segera naik ke atas motor , sementara sang adik sibuk memanen cabe yang sudah mulai memerah .

__ADS_1


Suara motor butut pemuda itu memecah kesunyian di tempat itu . Jalanan tanah yang di susuri oleh motornya turun naik karena berada di daerah berbukit .


__ADS_2