Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
88. kepingan masa lalu


__ADS_3

Dokter Aisyah terlihat menarik nafas beberapa kali sebelum akhirnya buka suara .


" Begini pak Wira.., sedikit banyak saya tahu keadaan yang di alami mas Anto , kemarin beliau bertemu dengan saya . Kami berencana untuk pergi ke Bandung malam ini , untuk melakukan pengobatan . Kondisinya bisa memburuk jika kita tidak melakukan apapun " ucapan dokter Aisyah membuat pak Wira ternganga tak percaya .


" Maksud dokter " tanya pak Wira setengah berbisik sesaat kemudian .


" Saya tahu kalau mas Anto sering sakit kepala dan tidak bisa mengingat sebagian masa lalunya , untuk itu saya akan membantunya " jawab Aisyah dengan lembut .


" oh... ? " ucap pak Wira pelan . dalam hati ia sempat cemas jika Anto menceritakan tentang dirinya yang seorang buron .


" Tadi Sore kami sudah sepakat akan pergi malam ini , tapi kondisi mas Anto sedang tidak baik saya takut ini ada kaitannya dengan sakit kepala yang ia derita . Sebaiknya kami pergi lebih cepat , bisakah bapak mempersiapkan kebutuhannya , dan mengantarkan mas Anto hingga ke ujung jalan setapak , saya akan menjemputnya setelah shalat Maghrib " ucapan dokter Aisyah semakin membuat pak Wira heran .


" Jangan khawatir , saya tidak minta bayaran apapun . Dulu sekali...mas Anto pernah menolong saya " dokter Aisyah mencoba meyakinkan pak Wira .


" Bisa saya ikut ke Bandung , hanya untuk berjaga jaga , atau istri saya yang menemani . Karena ayah Anto menitipkan dia pada saya " pak Wira akhirnya membuka suara setelah terdiam beberapa saat .


" Jika itu yang Bapak mau saya tidak keberatan . Boleh saya pamit sekarang ? " Dokter Aisyah merasa lebih tenang , setidaknya kini ia tidak hanya berduaan dengan Anto sepanjang perjalanan ke Bandung .


" Oh..iya dokter , saya akan menelpon dokter . Biar saya minta ayah Cecep mengantar dokter pulang " jawab pak Wira yang merasa lega .


Pria setengah baya itu kemudian bergegas ke pondok dan meminta ayah Cecep mengantar sang dokter pulang .


Pak Wira menatap kepergian dokter Aisyah yang di antar dengan menaiki sepeda motor oleh ayah Cecep . Setelah sang dokter tak terlihat ia menghampiri Anto yang masih berbaring di tempat tidurnya .


" Kamu yakin dokter Aisyah bisa bantu kamu ? , Bagaimana jika ia bekerjasama dengan polisi . Ku dengar adik angkatnya seorang polisi " ucapan pak Wira membuat Anto yang sudah lebih tenang bangkit dari duduknya .


" Sepertinya dia tulus om , apa yang di katakan oleh dokter Aisyah ? " Tanya Anto dengan suara berat .


" Dia ingin pergi ke Bandung setelah shalat Maghrib denganmu " jawab pak Wira seraya merogoh saku celananya .


" Jangan beri tahu bapak om..., Saya tidak ingin beliau khawatir . Dan.. biarkan saya pergi sendiri saja , saya bisa jaga diri " ucap Anto yang melihat pak Wira mengambil handphone Nokia jadulnya . pemuda itu kemudian beranjak dari tempatnya .


" Kamu mau kemana ? " Tanya pak Wira .


" Bersiap siap " jawab Anto sambil berjalan menuju kamar , pak Wira mengikuti langkah Anto menuju kamar tidurnya .


" Biar om bantu " ucap pak Wira sambil meraih sebuah ransel yang terletak di atas lemari kayu sederhana di kamar itu .


Anto hanya terdiam , ia duduk dengan lemas , pikirannya terasa lelah ia seperti melintasi waktu dan kembali ke masa-masa yang terlupakan .


" Dokter Aisyah bilang dia berhutang jasa padamu , apa kamu ingat " tanya pak Wira sambil memasukkan beberapa helai baju di ransel Anto .


" Entahlah om..., Saya merasa seperti mengenalnya , ada peristiwa yang tiba tiba saya ingat tentang dia " jawab Anto sambil bersandar di dinding kamar .

__ADS_1


" Kamu yakin ? Dengar dengar dia punya calon suami seorang tentara ? , Mak Mus melihat foto seorang tentara dan seorang lelaki tua di kamarnya " ucap pak Wira yang masih sibuk berkemas .


" Dia kekasih sahabat saya " jawan Anto sambil memejamkan matanya .


Pak Wira terdiam sesaat , lalu tanpa banyak bicara mulai mengemasi pakaian dan keperluan Anto .


Dalam diam Anto kembali mengingat peristiwa yang sempat berkelebat sesaat ketika melihat dokter Aisyah untuk pertama kali , namun kali ini potongan peristiwa itu lebih lengkap .


" Cantik bukan dokter yang merawatku tadi ? " Senyum penuh kemenangan mengembang di bibir sebuah wajah yang kali ini tergambar dengan jelas .


" Jadi karena itu kau tidak menghindar dari sabetan pisau penjambret tadi , dasar modus " ucapnya waktu itu .


" Namanya dokter Aisyah Nuraini , aku baca namanya dengan jelas di jas dokternya . kata orang kebetulan yang lebih dari sekali itu takdir . Gimana menurut kamu ? bisa kan dia jadi saudara ipar ? " Pertanyaan pria itu hanya ia jawab dengan cibiran .


" Dia sudah punya suami " jawabnya santai saat itu .


" Sok tau kamu ! " Ucap lelaki itu seraya tertawa mendengar jawabannya .


" Bima..aku serius , dia sudah punya suami " ucapnya sambil berlalu meninggalkan lelaki itu yang masih duduk sambil menatap kepergiannya .


" Woi Tunggu bro..!! " Teriak Bima sambil mengejar dirinya .


" Bima.." bisik Anto seraya mengusap kepalanya yang terasa nyeri . Sepenggal kisah itu terlintas jelas di kepalanya .


Saat Lilis menyatakan perasaannya , ia seperti melompati lorong waktu , beberapa peristiwa dan wajah hadir bergantian dalam ingatannya .


Di mulai dari seraut wajah dengan mata indah dan tawa renyah yang membuat sebuah rasa aneh menggelitik hatinya , hingga sebuah wajah pria dengan mata coklat dengan alis tebal yang menyatu . Juga ada beberapa wajah lain yang terlintas samar samar .


Entah kenapa saat Lilis menyatakan cintanya , ia seperti berada pada satu peristiwa yang membuat hatinya sakit hingga ingin meledak . Rasa yang begitu sesak seakan tubuhnya terhimpit oleh batu besar yang menimpanya di bagian dada . Ia seperti berada dalam dilema antara ingin berlari memeluk sosok di hadapannya , atau berlalu pergi dari sana . Anehnya saat itu ia seperti melihat seraut wajah dengan mata indah yang terlihat dalam ingatannya tengah berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca penuh pengharapan . Wajah itu ia seperti pernah melihatnya , tapi di mana ?


" To..." Panggilan pak Wira mengejutkan lamunan Anto .


" Ya om.." jawab Anto yang masih linglung .


" Berapa hari kau akan di sana ? " Om Wira bertanya setelah menatap Anto beberapa saat .


" Tidak tahu , kami belum membicarakan tentang hal itu " jawab Anto yang masih terkejut dan bingung .


" Om tidak tahu ada apa sebenarnya antara kamu dan dokter Aisyah , tapi om harap kamu bisa menjaga diri , dan kembali dengan selamat " ucap om Wira dengan tulus .


Anto hanya terdiam sambil mengangguk mendengar nasehat dari om Wira .


Tepat pukul setengah tujuh malam Dokter Aisyah menelpon Anto dan mengabarkan bahwa dirinya dalam perjalanan menuju jalanan ujung kampung yang dekat dengan pondok . Pak Wira dan Anto segera pergi meninggalkan pondok . mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak . tepat di ujung jalan sebuah mobil berwarna putih telah terparkir di sana . Tak lama pintu mobil terbuka .

__ADS_1


" Selamat malam dokter " sapa pak Wira dengan ramah begitu melihat sosok dokter Aisyah yang keluar dari mobil .


" Malam pak Wira , mas Anto . Bapak jadi ikut ? " Tanya sang dokter dengan ramah .


" Oh tidak..., Saya ada urusan lain , saya titip Anto ya dok " jawab pak Wira sambil tersenyum .


" Oh..., Hanya ini bawaan mas Anto ? " Sang dokter menatap sebuah ransel yang di bawa oleh Anto .


" Ya...." Jawab Anto singkat .


Sang dokter membuka bagasi mobilnya , lalu mempersilahkan Anto meletakkan barang bawaannya .


" Mari saya antar pulang pak , sekalian lewat kan " dokter Aisyah menawarkan tumpangan pada pak Wira .


" Ach...tidak perlu repot-repot dok , saya jalan Kaki saja " jawab pak Wira sungkan .


" Tidak apa apa pak..sungguh " dokter Aisyah membuka pintu penumpang .


Karena dokter Aisyah memaksa pak Wira menuruti permintaan sang dokter . Ketiga orang itu masuk ke mobil sang dokter . Anto duduk di depan bersama sang dokter yang menyetir mobilnya sedangkan pak Wira di belakang . Tak lama kemudian mobil itu melaju perlahan membelah gelapnya malam di jalanan kampung . Mereka berhenti sejenak di depan gang menuju rumah pak Wira lalu melanjutkan perjalanan mereka .


Jalanan kampung dangat kecil , di tambah penerangan jalan yang minim membuat Aisyah berkendara dengan perlahan . Setelah hampir setengah jam barulah mereka meninggalkan kampung cikerta .


Dokter Aisyah mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang , karena kini ia telah berada di jalanan yang lebih lebar dan tidak begitu berliku .


Selama perjalanan Anto hanya terdiam di samping Aisyah sambil menyilangkan tangan di depan dadanya . Pikirannya sesekali masih mencoba menyusun kepingan masa lalunya yang tercerai berai .


" Mas Anto..jika merasa lelah tidur saja , nanti saya bangunkan saat kita sudah tiba di tempat tujuan " ucapan dokter Aisyah memecah kesunyian mereka yang telah berlangsung lama.


" Tidak apa apa , saya baik baik saja " jawab Anto Seraya menatap wanita di sampingnya dengan seksama .


" Dokter.." panggilan Anto membuat Aisyah menoleh sesaat lalu kembali memperhatikan jalanan di hadapannya .


" Kenapa anda mau menolong saya ? " Tanya Anto setelah terdiam beberapa saat .


" Karena saya seorang dokter " jawab Aisyah sambil tersenyum lembut .


" Dokter..kenapa masih memanggil saya Anto , bukankah itu bukan nama saya ? " Aisyah hanya terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa .


" Saya mengingat beberapa peristiwa sebelum pingsan , seperti puzzle yang berserakan . Saya tidak tahu mana yang lebih dulu terjadi " cerita Anto sambil menyandarkan kepalanya .


" Pelan pelan mas.., saya sudah bilang kasus seperti yang anda alami bisa sembuh dengan tiba tiba , tapi ada juga yang membutuhkan waktu cukup lama , tidak boleh di paksa . kadang kadang sebuah kejadian dapat memicu ingatan anda kembali . Bisa jadi sebuah kejadian yang sama di masa lalu . Apa terjadi sesuatu hari ini ? " Tanya sang dokter sambil menyetir dengan hati hati .


Anto hanya terdiam seraya memejamkan matanya . Meski tidak mendapatkan Jawaban , Dokter Aisyah yakin ada kejadian yang memicu kondisi Anto saat ini . Keduanya kembali membisu , sibuk dengan pikirannya masing masing . sementara kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju melewati jalanan berliku di sekitar area pegunungan dan perkebunan teh .

__ADS_1


__ADS_2