
Suara alarm dari ponsel membuat Jordi meraba raba sekitarnya meski matanya terpejam . setelah berhasil meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur , iapun segera membuka mata . Matanya mengerjap beberapa kali karena silau oleh cahaya dari layar handphonenya . Sudah pukul enam tiga puluh pagi saat ia melihat jam di handphonenya .
Dengan malas pria itu menggeliat , lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri . Kepalanya terasa sedikit pusing , mungkin karena semalam ia tidur terlalu larut .
Lima belas menit kemudian ia keluar kamar mandi , berganti baju dan bersiap siap seperti biasanya , setelah rapi ia segera turun ke ruang makan .
" Pagi ma ..pa ..." Sapa Jordi yang mendapati kedua orang tuanya telah siap di meja makan . entah pukul berapa sang ayah pulang semalam .
" Hem...pagi " jawab tuan Juan pelan .
" Morning sayang..." Nyonya Nisa tersenyum ke arahnya .
Jordi duduk di samping sang mama , lalu segera meminum air hangat yang tersedia di atas meja .
" Mau roti atau nasi goreng ? " Tanya sang ibu yang langsung bangkit .
" Nadi boleh ma..." Jawabnya santai .
Nyonya Nisa segera menyendok nasi goreng ke piring , lalu meletakkannya di hadapan Jordi .
" Makan yang banyak..." Ucapnya sambil menatap wajah Jordi.
" Thanks mom.." Jordi segera menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya .
Mereka menikmati sarapan dalam diam . Sesekali terdengar denting sendok yang beradu dengan piring memecah suasana yang menjadi sepi .
" Ehm... bagaimana keadaan Dila ? " Tanya Tuan Juan tiba tiba .
" Sudah baikan pa..." Jawab Jordi setelah meneguk air minumnya .
" Lalu... bagaimana keadaan kantor ? , Apa semua baik baik saja ? " Tuan Juan menatap wajah sang putra .
" Ya...." Jawab Jordi singkat .
" Papa... berencana mundur dari perusahaan . Semuanya papa serahkan pada dewan direksi . Papa juga berharap kamu melakukan hal yang sama " ucap tuan Gunawan setelah terdiam sesaat .
" Pa...."
" Pa....
Jordi dan nyonya Nisa berucap bersamaan .
" Maksud papa apa sih ? " Nyonya Nisa menatap sang suami tak percaya .
" Papa mau pensiun " jawab tuan Juan santai .
" Apa sih...., Lagian kenapa Jordi juga mesti ikutan pensiun ? " Nyonya Nisa melayangkan protes dengan tatapan tajam pada tuan Juan .
" Aku ingin memulai bisnis baru dan berharap Jordi mau mengelolanya " jawab tuan Juan dengan Santai .
Keduanya menatap tuan Juanda tanpa berbicara sepatah kata pun .
" Lama papa berpikir ...., Sebagai pemegang saham rasanya memang tidak adil jika hanya orang orang dari keluarga kita yang selalu menjadi pemilik kursi direktur. Apalagi setelah kakekmu pergi , secara otomatis keluarga kita bukan lagi pemegang mayoritas saham . Akan ada perpecahan di antara dewan direksi , Itu tidak baik bagi keadaan perusahaan " tuan Juanda menatap sang putra dengan tenang .
" Papa percaya kamu memiliki kemampuan yang lebih baik , makanya papa menempuh jalan ini " ucapnya setelah mereka terdiam beberapa saat .
" Kita tidak perlu memperebutkan sesuatu , ada hal lain yang bisa kita lakukan " lanjutnya .
" Papa serius ? " Jordi akhirnya buka suara .
" Ya...., Lagipula jika dugaan papa benar perusahaan kita akan di kelola oleh orang yang tepat " tuan Juanda tersenyum datar .
" Papa tahu siapa yang merencanakan semua ini ? " Tanya Jordi sambil mengernyitkan keningnya .
" Untuk apa di bahas hal itu...?, Yang ingin papa tanyakan apa kamu bersedia memulai bisnis baru dengan papa ? " Jawan tuan Juanda .
" Siapa pa yang berencana menyingkirkan keluarga kita dari Jaya group ? " Tanya nyonya Nisa tiba tiba .
" Sebenarnya bukan papa atau keluarga kita lebih kepada dia " jawab tuan Juan sambil menatap wajah Jordi .
" Aku..
" Jordi..
Kedua anak dan ibu itu kembali berkomentar bersamaan .
" Ada orang yang mungkin tidak menyukai kesuksesanmu dalam memimpin perusahaan . Mungkin juga masalah pribadi yang belum selesai Antara kamu dengan seseorang penyebabnya " jawab tuan Juanda sambil tersenyum penuh misteri .
" Apa maksud papa ? " Tanya Jordi yang tak mengerti .
" Kamu akan tahu pada saatnya nanti , tidak akan mudah mempengaruhi kekuatan sebesar itu apalagi jika kakek mu telah tiada , saran papa lebih baik kamu mengikuti kata papa jika tidak siap untuk menghadapi sebuah persaingan yang tidak mudah " ucap tuan Juanda tenang .
" Papa tidak percaya padaku ? " Tanya Jordi dengan wajah serius .
" Papa percaya ..hanya saja jika ada jalan yang lebih mudah untuk apa melewati jalan berliku buang buang tenaga dan waktu saja . Tidak harus menjadi direktur Jaya Group untuk menjadi sukses , banyak hal di luar sana yang bisa kamu kembangkan . Berkarir di luar bidang yang telah kamu kuasai juga perlu untuk menambah wawasan , kamu masih muda , masih banyak waktu " tuan Juanda menasehati sang putra dengan bijak .
Jordi terdiam , di ambilnya segelas air lalu di minumnya hingga tandas . Ia merasa penasaran pada sosok yang di sebutkan sang ayah . Siapa gerangan ? .
Sedangkan nyonya Irma menatap kedua lelaki tercintanya bergantian , mencoba menahan diri untuk tidak ikut campur urusan mereka .
" Aku pergi dulu pa..." Pamit Jordi sambil beranjak dari duduknya .
" Kau mau mampir ke RS ? " Tanya nyonya Nisa sambil menatap wajah Jordi yang berubah serius .
" entahlah...dah ma..pa.." Jordi berpamitan pada keduanya .
' hati hati di jalan sayang ..." Nyonya Nisa melambaikan tangannya pada Jordi yang bergegas pergi keluar rumah .
" Apa papa sudah dapat ide investasi yang bagus di Batam ? " Nyonya Nisa mencoba mengalihkan pembicaraan .
Beberapa Minggu ini suaminya memang sering ke pulau industri tersebut , katanya ingin mencoba berinvestasi di pulau itu . Namun ia tidak menyangka ia ingin melepaskan Jaya Group untuk sesuatu yang belum pasti .
" Aku sudah tertarik pada beberapa bisnis , ku rasa cukup menjanjikan . Sekarang tinggal bagaimana putra kita saja , kalau Jordi setuju biar dia yang mengelola , tapi jika tidak aku akan terjun sendiri kesana , aku bertemu mantan anak buah ku yang bisa membantu di sana " jawab tuan Juanda dengan santai .
" Mama mau kan kita pindah ke Batam sementara ? " Tanyanya kemudian .
" Mama terserah papa saja " jawab nyonya Nisa dengan malas .
" Ada apa...kok gitu jawabnya..." Tuan Juanda menatap wajah sang istri yang terlihat kecewa .
" Kapan papa mendiskusikan segala sesuatu dengan mama sebelum mengambil keputusan " nyonya Nisa menggerutu .
__ADS_1
" Bukannya sudah lama papa mengatakan hal ini ? ,. Tentang rencana papa untuk tidak lagi mengurus perusahaan keluarga " jawab tuan Juanda santai .
" Tapi kan tidak melibatkan Jordi " jawab nyonya Nisa cepat .
" Oke ....jadi ? " Tuan Juanda menatap sang istri sambil tersenyum .
Nyonya Nisa menarik nafas panjang . Suaminya memang lelaki yang kurang peka terhadap masalah sang putra .
" Biarkan saja Jordi mengikuti keinginannya , apa papa tidak merasa kita selalu mengatur jalannya selama ini ? " Nyonya Nisa berbicara dengan nada serendah mungkin agar sang suami tidak emosi .
Tuan Juanda menarik nafas panjang ,lalu menghembuskannya pelan pelan .
" Ada sesuatu yang tidak ku ketahui..? " Tanya tuan Juan beberapa saat kemudian .
" Jordi... mencintai Dila..." Ucap nyonya Nisa sambil menatap wajah sang suami dalam .
" Kau tidak keberatan dengan hal itu ? " Tanya tuan Juanda tiba tiba .
" Maksud papa ? "
" Dia anak dari seseorang yang membuatmu patah hati , anak dari seorang sahabat yang di cintai oleh orang yang kau cintai , wajah keduanya tercetak dengan jelas di wajah gadis itu " ucap tuan Juan setelah terdiam cukup lama .
" Sungguh karena itu...., Atau karena wajahnya juga mengingatkan papa pada wajah seseorang ? " Nyonya Nisa balik bertanya kepada tuan Juanda .
" Jangan mulai....
" Semua orang yang tahu kisah itu akan tahu wajah Dila lebih mirip dia ketimbang kedua orang tuanya " nyonya Nisa memotong kalimat yang akan di ucapkan oleh sang suami .
" Dan itu alasan kenapa papa begitu baik padanya bukan , kenapa kalian bertiga tidak melakukan apapun saat papa membuat keputusan yang merugikan kalian . kita semua memiliki praduga yang sama bukan ? " Nyonya Nisa menatap tajam sang suami .
Tuan Juanda terdiam , ia menelan ludahnya beberapa kali . Ia sama sekali tak bergeming mendengar kata kata sang Istri yang memang benar adanya .
Keduanya membisu beberapa saat , hanyut dalam pikiran masa lalu yang berusaha mereka lupakan . Masa lalu yang sempat meletakkan persahabatan eyang Saka Arifin dan Tuan Gunawan pada Titik terendah dan membuat mereka sempat tidak berhubungan untuk waktu yang lama .
" Jangan menggalinya , aku takut itu akan menjadi senjata makan tuan bagi keluarga kita " ucap tuan Juanda kemudian .
" Dan mungkin saja ini demi kebaikan Dila.." lanjutnya sembari melangkah pergi meninggalkan sang istri .
" Hal buruk yang di sembunyikan pasti akan terungkap juga pada akhirnya " gumam nyonya Nisa sambil menatap tuan Juan yang meninggalkan dirinya .
☀️☀️☀️☀️☀️
Lilis tengah sibuk membuat laporan pembukuan Keuangan pabrik di ruang kerjanya di kantor pabrik saat mang Karman masuk . Mereka memang berada di ruangan yang sama , bersebelahan dengan ruangan yang dulu di pakai oleh Eyang Saka saat sedang berada di pabrik .
Kini ruangan itu hanya di pakai jika menerima tamu dari beberapa agen pengepul beras dan beberapa utusan orang dari pabrik sirup yang menjadi pembeli tetap hasil perkebunan jeruk milik keluarga Arifin .
Usaha perkebunan jeruk kian maju setelah Dila melakukan kerja sama dengan beberapa pabrik Sirup , mereka tidak perlu khawatir dengan hasil penen yang melimpah saat musim panen jeruk tiba , karena berapapun hasil panen mereka pihak pabrik akan menampungnya .
Di balik sikap manja dan seakan tak perduli dengan keadaan usaha keluarga Dila ternyata adalah orang yang pandai mencari peluang usaha , Lilis harus mengakui kekhawatirannya dan juga mang Karman saat Eyang meninggal akan nasib para petani tidak berarti apapun .
Kini usaha mereka justru lebih terorganisir dan jauh dari kekhawatiran yang dulu sering terjadi saat musim panen .
" Lis...gimana keadaan Dila.." pertanyaan mang Karman membuat Lilis beralih dari buku besarnya .
" Sudah lebih baik , perkiraan besok sudah bisa keluar dari Rumah Sakit . Kata emak dia mau pulang dulu , mau cuti kuliah " jawab Lilis seraya menghirup teh yang barusan ia seduh dari dapur pabrik .
" Oh... syukurlah... " Mang Karman menyandarkan kepalanya di sandaran kursi .
" Itu...kita kan selama ini selalu sewa mobil kalau mau antar beras , kemarin pak Zul katanya bangkrut jadi truknya di jual kepada juragan Kusam , terus tadi aku ketemu katanya tarifnya naik Lis..." Keluh mang Karman .
" Apa...kok gak bilang bilang ke kita pak Zulkifli mau jual mobil , Dila dulu pernah bilang katanya mau cari mobil mang biar gak sewa kalau antar beras sama antar jeruk ke pabrik " jawab Lilis antusias .
" Itulah katanya mendadak , dengar dengar anaknya ketangkap tangan pakai narkoba " ucap mang Karman .
" Anaknya yang masih kuliah di Jogja ? " Tanya Lilis memastikan .
" Ho oh.." mang Karman dengan semangat menjawabnya .
" Minggu ini ada pengiriman mang ? " Tanya Lilis .
" Ada 2 ton kira kira 2 tiga hari lagi "
" Ya..gimana lagi , ntar malam aku tanya Dila gimana solusinya .
" He eh..bilang aja ke dia gimana , siapa tahu dia ada dana beli mobil " jawab mang Karman sambil tersenyum .
" Oh ya...gaji karyawan sudah semua kamu kasih ya ? , Katanya ada yang belum dapat gaji ? " Tanya mang Karman kemudian .
" Ada beberapa orang , kemarin sudah terlanjur pulang cepat saat saya datang sore hari , ntar sebelum istirahat makan siang suruh ambil mang , Lilis mau menyelesaikan kerjaan ini dulu , mau ke bank juga konfirmasi transferan dari pabrik sirup " jawab Lilis sambil kembali menekuni pekerjaannya .
" Aduh...mamang mau ketemuan sama juragan Kusam , mau nego ongkos . Kusnadi tadi mamang suruh antar jeruk ke Bogor , besok baru pulang " jawab mang Kus bingung .
" Kalau gitu siapa yang antar Lilis ? " Tanya Lilis ikut bingung .
" Itu aja si Anto...dia ternyata pinter nyetir kata si Kus , dia sempat bergantian menyetir mobil saat antar beras ke kota kemarin " jawab mang Karman setelah berpikir beberapa saat .
" Ya sudah..bisa nyetir ke kota , memangnya punya SIM ? " Tanya Lilis .
" Nggak tahu kalau masalah punya SIM atau enggak , Mamang belum pernah sempat ngobrol sama dia , baru dengar dari orang orang aja " jawab mang Karman seraya tertawa .
" Tapi mu gimana lagi , mau di tunda lusa ke banknya ? , Besok mamang juga ada kerjaan soalnya "
" Ya sudah nanti saya tanya dia mang , dia belum ambil gaji juga soalnya " jawab Lilis kemudian .
" mamang ke kampung sebelah dulu , tempat juragan Kusam " mang Karman beranjak dari duduknya .
" Jam berapa ambil gaji ? " Mang Karman berdiri di depan pintu ruangan sebelum melangkah pergi .
" Jam setengah sebelas mang , habis makan siang saya mau langsung ke pelabuhan ratu" jawab Lilis tanpa menoleh ke arahnya .
" Oke...." Jawab mang Karman sambil berlalu , sementara Lilis kembali berkutat dengan buku besar dan kalkulator miliknya . Ia memang mengerjakan segalanya menggunakan cara lama , meski Dila pernah menawarkan untuk dirinya belajar less komputer , namun ia lebih nyaman dengan cara tersebut .
Tok tok tok...
Suara ketukan di pintu kaca yang menjadi penutup di ruangannya membuat Lilis yang tengah menyelesaikan pekerjaannya mendongakkan wajah .
" Neng ...orang orang mau ambil gaji katanya " ucap Bu karti yang bertugas sebagai cleaning servis kantor dan pabrik .
Lilis melihat jam tangannya , ternyata sudah pukul setengah sebelas siang , iapun segera menutup buku besarnya .
" Suruh masuk sepuluh menit lagi Bu.." ucapnya seraya membereskan berkas berkas yang berserakan di mejanya .
__ADS_1
" Baik neng..." Jawab Bu karti sambil berlalu dari depan pintu .
Tak lama beberapa buruh yang belum sempat mengambil upah sehari sebelumnya bergantian datang ke ruangan tersebut untuk mengambil gaji mereka .
Setelah semua orang berlalu , tibalah sosok yang ia nanti sejak kemarin sore muncul di hadapannya .
Dengan mengenakan kaos berwarna marun , dan rambut yang sedikit gondrong di ikat dengan gelang karet , pria itu tetap terlihat menawan di mata Lilis .
" Lilis mencuri pandang sesaat wajah tampan di hadapannya yang tengah memandang sekeliling ruangan , Anto tersenyum mendapati tingkahnya .
" Ini gaji mas Anto untuk upah di pabrik " ucap Lilis sambil mengulurkan amplop berisi uang sambil menyodorkan sebuah buku besar .
" Seminggu ini full ikut angkut barang ke pabrik kan ? , Satu hari segini gajinya " Lilis menjelaskan sambil menunjuk absensi kerja yang di buat secara manual .
" Tanda tangan di sini mas , hitung dulu uangnya " ucap Lilis sambil menunjuk kolom tanda-tangan para buruh .
Anto menuruti perkataannya tanpa sedikitpun berkomentar .
" Oh ya mas Anto.., bisa nyetir kan ? , Bisa antar saya ke pelabuhan Ratu setelah makan siang ? " Tanya Lilis setelah Anto membubuhkan tanda tangannya .
" Bisa Bu.." jawab Anto sopan .
" Ya sudah nanti saya bilang sama mang Kardi ya , ini kunci mobilnya " Lilis memberikan sebuah kunci mobil pada pemuda itu .
" Mobil yang waktu itu pernah mogok , yang warna hijau " ucap Lilis sambil tersenyum manis .
" Baik Bu..saya permisi " jawab Anto sopan seraya meninggalkan ruangan itu .
Setelah Anto pergi Lilis segera menghirup nafas panjang , di lihatnya punggung lebar pemuda yang tengah berjalan pergi dari balik pintu kaca .
Setiap kali menatap wajah itu , dadanya berdetak tak karuan . Ia merasa serba salah dan merasa sangat gugup jika berhadapan dengan Anto , meski begitu ia selalu ingin melihat wajah dengan mata tajam bak elang tersebut .
" Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta ? " Bisik Lilis dalam hati .
Meski pernah membina cinta hingga ke jenjang pernikahan hingga akhirnya gagal , namun ia telah lama lupa seperti ini rasanya kagum pada seseorang . ia sibuk berdebar hingga tak enak makan , tak bisa tidur . Sungguh wajah itu seperti candu baginya . Ia ingin setiap saat melihatnya . Sungguh memalukan ! " Ia memaki dirinya sendiri dalam hati sembari tersenyum senyum sendiri .
" Neng...! " Sebuah sapaan membuat ia sadar dari lamunannya .
" Ehm..iya A' silahkan duduk " jawabnya saat menyadari kang cecep telah berdiri di depan mejanya .
" Lagi mikir apa neng kok senyum senyum sendiri ? " Selidik kang cecep .
" Habis liat Sule di YouTube kang " jawab Lilis asal .
" Oh..." Kang cecep mengangguk angguk sambil menatap wajah Lilis yang bersemu merah menahan malu .
Lilis tidak ingin meladeni percakapan tersebut yang bisa menimbulkan gosip orang sekampung , ia lebih memilih untuk fokus pada pekerjaan memberikan gaji pada kang cecep .
setelah lelaki itu luar kamar ia segera menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum selesai .
Setelah makan siang Lilis segera berjalan menuju mobil pabrik yang telah terparkir di depan kantor , di lihatnya Anto tengah berbincang bincang dengan penjaga pabrik .
Pemuda itu menggunakan sebuah jaket kulit berwarna hitam , memakai celana jeans lusuh dan sepatu sport yang sudah agak usang . Namun penampilan Anto yang sederhana tetap membuat jantungnya berdesir hangat .
" Wahai hati .. tolong jangan seperti ini " bisiknya Pelan .
Anto berlari kecil menghampiri Lilis sambil tersenyum , pemuda itu segera membukakan pintu mobil untuknya .
" Berangkat sekarang Bu.." ucapnya dengan sopan dan hanya di balas anggukan oleh Lilis .
Keduanya segera meninggalkan pabrik , di ikuti oleh pandangan beberapa orang yang mulai berbisik bisik membicarakan mereka .
" Tuh kan apa saya bilang , si Lilis juga kesem Sem sama Anto " ucap Cecep yang masih berbaring malas di bawah pohon rindang di halaman pabrik .
" Ach...kerjamu menggosip saja " jawab Bu karti yang juga tengah istirahat .
" Iah emak..gak percaya , jaga anak gadis emak Ntar kesemsem juga sama Anto minta di kawinin lagi " cerocos Cecep sambil menghisap rokoknya dalam dalam .
" Ach..kalau benar si Anto mau jadi menantu saya mah..saya langsung nikahkan , siapa yang nggak mau punya menantu tampan dan baik kayak Anto " jawab Bu karti seraya tertawa .
" Aduh.....lama lama bini saya juga bisa ke Semsem sama Anto.." Cecep berdecak tak percaya .
Sementara mobil yang membawa Lilis dan Anto terus melaju menyusuri jalanan kampung yang sepi , melewati persawahan dan perkebunan jeruk milik keluarga Arifin . Mobil itu membelah kesunyian jalan desa yang hanya di lewati beberapa mobil pickup membawa sayuran hasil bumi desa mereka dan sepeda motor milik siswa ataupun warga .
Anto masih membisu sambil menatap jalanan berliku di hadapannya . Sudah hampir setengah jam duduk berdampingan di dalam mobil , keduanya masih membisu tenggelam dalam pikirannya masing masing .
" Emh.. Bu..nanti lama di banknya ya ? " Tanya Anto memecah kebisuan mereka .
" Ya..lumayan mas , apa mau ada perlu juga ? " Tanya Lilis sambil menatap wajah yang berada di sampingnya .
" Saya mau mencari sesuatu di pasar " jawab Anto tanpa menoleh ke arahnya .
" Oh..ya pergi saja , tidak apa " turunkan saya di bank nanti kalau sudah selesai saya telp " jawab Lilis sambil mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang berliku karena hatinya kembali berdetak tak karuan .
" Terimakasih banyak Bu..
" Panggil Lilis saja mas ..." Ucap Lilis cepat .
" Maaf..." Jawab Anto sopan .
" Umur kita mungkin tidak berbeda jauh" ucap Lilis sopan .
Keduanya kembali membisu , mereka banyak menghabiskan waktu dalam diam hingga tiba di pelabuhan ratu satu jam kemudian . Anto mengantar Lilis hingga ke sebuah bank , sementara pria itu segera pergi ke pasar untuk mencari sesuatu .
Lilis memandang kepergian mobil yang membawa pria itu dari dalam bank hingga hilang di antara keramaian kota Labuhan Ratu .
Anto menghentikan mobilnya di depan sebuah Toko obat obatan herbal . ia kemudian mencocokkan alamat toko itu dengan sebuah catatan dari buku kecil yang ia ambil dari tas kecil yang tergantung di tubuhnya .
tanpa ragu ia menyerahkan resep obat yang ia terima dari Simbah pada pelayan toko , wanita penjaga itu menatap wajahnya sesaat lalu memberikan obat yang ia minta tanpa banyak bertanya .
setelah mendapatkan sekantong obat , Anto memilih untuk nongkrong di sebuah warkop dan memesan secangkir teh , ia memilih duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan beberapa wajah yang juga tengah menikmati kopi di warung itu .
ada sepasang mata yang ia sadar terus mengawasinya sejak ia masuk ke warung tersebut , namun ia mencoba bersikap biasa meski hatinya sangat tidak nyaman .
" apa seperti ini rasanya jadi penjahat " gumam ya dalam hati karena terus saja merasa khawatir .
Anto tak mampu berkat apapun saat sosok yang sedari tadi terus mengkhawatirkan dirinya justru berjalan menghampirinya .
" Anto kan ? " tanya pria itu dengan suara pelan .
Anto hanya terdiam , tamat sudah riwayatku . bisiknya dalam hati sambil menatap wajah yang kini berdiri di depannya dan berusaha bersikap wajar .
__ADS_1