
Dila duduk sambil menikmati secangkir teh hangat di teras rumah . Semalaman ia terus berfikir antara ingin ikut bergabung mendaki ataupun mulai masuk kuliah lebih awal dari ijinnya . Pengalaman pendakian terakhirnya membuat eyang saka melarang ia mendaki , namun jiwa petualang gadis itu rindu aroma pohon dan udara puncak .
" Selamat pagi..." Sapaan Cika yang telah rapi membuyarkan lamunannya .
" Pagi.." Dila menggeliat .
" Apa kau akan kuliah ? " Tanya Chika yang satu fakultas dengannya .
" Belum tau..kayaknya aku mau mendaki " jawab Dila sambil memainkan handphone .
" Kamu nggak kapok..." Ucap Chika .
" Kenapa mesti kapok ? ,. Hal seperti itu biasa terjadi " jawab Dila sambil tersenyum.
" Kamu hampir mati karna hipotermia lantaran kejebak kabut selama dua malam di pangrango , tapi masih bilang itu biasa " Chika mengungkit kembali kenangan buruk yang ia alami .
Dila hanya terdiam . Kejadian itu membuat sakit di dadanya kembali terasa . Ya , kejadian di mana ia merasa di campakkan oleh seseorang yang sangat ia nanti hingga kini . Tapi laki laki itu tidak pernah datang , bahkan tidak ada penjelasan kenapa ia tidak bisa datang saat itu .
Dila masuk ke kamarnya . Ia menatap meja belajarnya seraya meraih sebuah foto . Di sana terpampang dirinya dan beberapa orang pendaki tengah berfoto di alun alun Surya kencana . Tempat pertama kalinya cinta bersemi di hatinya .
" Kau kejam sekali ' ucapnya seraya menatap foto itu .
" Jika memang tidak mencintaiku cukup berkata tidak , kenapa begitu jahat . Menyuruh aku ketempat yang ku anggap surga tapi membuat aku menanti disana sampai mau mati " ucapnya seraya mengusap air mata yang tiba tiba mengalir .
Kejadian kejadian bersama pria dingin pujaannya kembali terlintas di ingatannya .
Lelaki itu memiliki karakter seperti ayahnya , nampak begitu dingin namun sangat lembut dan memiliki kepribadian penuh perhatian .
Dila pertama kali bertemu saat melakukan pendakian merayakan kelulusannya dari SMU .
*****
Saat itu Dila baru lulus SMA , ia ingin merayakan kelulusannya dengan mendaki . Seperti biasa sang kakek awalnya tidak mengijinkan , namun akhirnya luluh karna rayuan dan tangisnya .
karena talah mendapatkan ijin Dila menghubungi beberapa teman dari komunitas pendaki , Dila beruntung seminggu lagi salah satu seniornya akan melakukan pendakian ke gunung gede pangrango.
Dila dan dua orang temannya yang berasal dari Sukabumi sampai di Cibodas sore hari . Sesuai janji mereka bertemu dengan rombongan lain itu di sebuah base camp . Ada empat orang saat itu dan salah satunya adalah seorang wanita . Mereka bertujuh memutuskan untuk mendaki gunung Gede - pangrango bersama saat itu .
" hai..Van apa kabar bro...? " Sambut salah seorang dari rombongan itu ketika mereka bertemu.
Ivan dan Dedi adalah teman perjalanan Dila , mereka sudah lama berteman dan pernah dua kali mendaki bersama meski Dila tidak pernah sampai tuntas .
" Ya ..kenalin ini Dila dan Dedi "kak Ivan mengenalkan mereka pada rombongan itu .
" Oh..hai Aku Bima , ini adikku Ratna , dan itu Adi dan jimy " kak Bima mengenalkan teman temannya .
Mereka pun saling mengenalkan diri masing masing .
" Kita bermalam di sini , terus berangkat besok pagi ya jam tujuh " ucapnya kemudian
__ADS_1
Malam itu seperti layaknya rombongan lain , sebelum tidur mereka banyak mengobrol dengan sesama pendaki dan berbagi cerita tentang pengalaman mereka .
" So Dila ini pendakian ketiga kamu ? " Tanya Ratna , di sela sela obrolan yang lain .
" Ya..." Jawab Dila sambil menyantap gorengan yang ia beli .
" tapi belum pernah sampai puncak " lanjutnya sembari menertawai diri sendiri .
" Kamu kan masih sekolah , nggak mengganggu ya " Tanyanya lagi
" Nggak juga , aku kan melakukannya saat liburan sekolah " jawab Dila .
" Kamu sendiri ? " Tanya Dila .
" Sebenarnya ini pertama kali " jawab Ratna sambil tersenyum .
" Wah...kakak pasti semangat benget kan...?" Tanya Dila , dan di Jawab dengan anggukan oleh Ratna .
Dila adalah anggota termuda , saat itu usianya baru sembilan belas tahun , sementara anggota termuda lainnya adalah Ratna dan Jimy yang berumur dua puluh dua tahun .
Jam sepuluh malam Dila memutuskan untuk tidur lebih awal dari yang lain , entah kenapa Dila merasa lelah . Ia tidak ingin kesiangan jadi memutuskan istirahat lebih awal .
Mereka berencana berangkat pukul tujuh pagi dari pos .
Singkat cerita , mereka memulai pendakian tepat waktu . Semua berjalan lancar.
Dila sangat bersemangat hampir delapan bulan terakhir kakeknya tidak mengajak dirinya berwisata karna persiapan ujian akhir , rona bahagia dan sikap Dila yang ceria membuat rombongan itu bersemangat selama perjalanan mendaki yang melelahkan .
Dila langsung merebahkan tubuhnya di tempat ternyaman untuk beristirahat . di lihatnya Adi yang tadi berada jauh di depan , tengah terlelap tidak jauh dari tempatnya berbaring .
Dila segera memejamkan mata untuk menghilangkan penat di tubuhnya .
" Apa kau kurang sehat ? " Sebuah pertanyaan dari suara yang tidak di kenal membuat Dila membuka matanya yang mulai terjaga dari tidur siang .
Adi nampak duduk di sampingnya .Dila segera bangkit dari tidurnya , ia melihat jam rupanya sudah tiga puluh menit ia tertidur di ruang terbuka .Dila merasa risih karna lelaki itu menatapnya dengan intens .
" Apa tidurku aneh ? Apa aku mengigau ? " Tanya Dila seakan berbisik pada lelaki di depannya , gadis itu segera beranjak duduk . Pemuda itu tidak menjawab ia mengulurkan telapak tangannya ke kening Dila , seperti mengecek suhu tubuhnya .
" Minumlah para Paracetamol " ucap lelaki itu sambil mengulurkan sebuah obat setelah mengambilnya dari tas pinggangnya .lalu lelaki itupun berlalu .
Dila melihat obat yang di berikan Lelaki itu tapi karna merasa sehat dia hanya mencibir punggung Adi yang membelakanginya lalu menyimpan obat itu di tasnya tanpa meminumnya .
Satu jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan , Medan yang mereka lalui cukup berat ,meski begitu mereka tetap bersenang senang . Dila merasa agak pusing , gerakannya pun jadi melambat .
" Apa kau tidak minum obat yang aku berikan ? " Tanya Adi yang dari tadi ada di belakangnya .
" Hah .? " Tanya Dila dengan nafas ngos ngosan . Hari hampir gelap .
" Aku baik baik saja " jawab Dila melihat tatapan Adi yang penuh dengan pertanyaan .
__ADS_1
Meski merasa pusing Dila tidak mengeluh dia melanjutkan perjalanan , bahkan ia tertawa saat terperosok . Ivan dan Adi dengan setia mendampingi dirinya , sementara anggota lain telah berada jauh di depan .
Menjelang senja mereka baru sampai puncak pangrango , anggota lain telah duduk santai di sana sambil menikmati sunset .
Dila langsung terduduk sambil menangis , air matanya mengalir di pipinya menyaksikan lukisan tuhan yang luar biasa . gadis itu sampai terisak Isak , Pangrango puncak pertama ia menjejakkan kaki setelah tiga kali pendakian . Ia tidak pernah summit di dua pendakian sebelumnya .
Adi yang dari tadi memperhatikan dirinya tersenyum melihat wajahnya yang sangat bahagia . Ivan juga memeluknya .
" Makasih kak Ivan..." Ucap Dila sambil menahan tangis bahagia .
Ivan menepuk bahunya .
" Gimana luar biasa bukan " ucapnya .Dila hanya mengangguk angguk setuju .
Mereka semua bergembira dan bercanda serta mengabadikan kenangan itu dengan berfoto ria .
Dila duduk sambil menggosok gosokan kedua tangannya . matanya masih saja menikmati keindahan bak surga di hadapannya . Seseorang mendekatinya .Adi duduk di sampingnya , tangannya menggapai keningnya .
" Kamu ini...benar benar kuat atau terlalu semangat ? " Tanya pria itu .
" Ah .." ucap Dila tak mengerti
Adi hanya diam , ia mengambil termometer dari tas pinggangnya .pria itu lantas mengukur suhu tubuhnya .
" Lihatlah..kamu demam " ucapnya seraya menunjukkan termometer padanya .
38,1 derajat suhu yang tertera di alat tersebut .
" Kau tidak minum obat yang ku berikan ? " Tanyanya , Dila tersenyum .
" Aku baik baik sa.." Dila tidak melanjutkan kalimatnya . Tangan Adi telah menjulur sambil memegang obat yang telah di buka .
Dila menerima sambil tersenyum gadis itu mau tak mau kali ini harus meminum obat pemberiannya .
" Terimakasih " ucap Dila . namun pria di sampingnya tak menjawab seakan tak mendengar ucapannya .
Dila memandang Adi yang tengah menatap langit senja dalam diam . Pria itu sepanjang perjalanan memang banyak diam , ia hanya tersenyum bila ada yang lucu dan berbicara seperlunya . Namun ia orang pertama yang menyadari dirinya demam . Jika di pandang pria itu juga tampan . Matanya tajam , hidungnya mancung , dan bibirnya juga kemerahan .
" Di pandang selama apapun aku ini tampan " ucap pria itu tanpa menoleh . Dila tertawa mendengar ucapan narsis Adi .
" Sudah berapa kali kakak summit ? " Tanyanya mengalihkan topik .
" Aku tidak menghitung hal hal indah dalam hidupku , hanya ingin menikmatinya selama aku bisa " jawabnya tanpa menoleh .
Dila memandang jauh ke depan , anak rambutnya berkibar tertiup angin . Adi diam diam menatap gadis itu .
" Di lihat dari manapun aku juga tetap cantik " ucap Dila saat menyadari Adi menatapnya lama .
" Kak Adi kita foto berdua ya.." ucap Ratna yang tiba tiba mendekati mereka .
__ADS_1
" Boleh fotoin gak ? " Tanyanya pada Dila .Dila mengangguk seraya mengambil kamera Ratna . Gadis itupun tak segan bersikap mesra pada Adi . Adi nampak risih dengan tingkah Ratna , namun pria itu diam .
" Oke...sudah puas kan semuanya ? , Sekarang kita harus meninggalkan surga ini untuk masuk ke surga berikutnya ' teriakan Bima membuat semuanya kembali bersiap untuk turun . mereka berencana bermalam di camp kandang badak dan melanjutkan perjalanan ke gede saat subuh .