Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
86 . Cinta Lilis


__ADS_3

Anto duduk di atas dipan yang terbuat dari bambu di samping rumah mang Kardi . Ia menatap kolam ikan yang berada di hadapannya . Ini adalah kali kedua ia datang ke rumah itu , pertama kali ia datang bersama pak Wira saat ingin meminta pekerjaan .


" Melamun to ? " Suara mang Kardi membuyarkan lamunan Anto .


Dilihatnya mang Kardi berjalan sambil membawa dua gelas berisi kopi hitam dan sepiring ubi rambat kukus .


" Ayo di nikmati " ucap mang Kardi sambil meletakkan nampan yang ia bawa di samping Anto , Ia kemudian ikut duduk di dipan .


" Terimakasih pak.." ucap Anto sopan .


Keduanya menyeruput kopi yang terhidang bersamaan .


" Kemarin pak Karman menanyakan tentang kamu pada saya " ucapan mandor Kardi membuat Antok menoleh ke arahnya .


" Selama ini Pak Karman tidak pernah ikut campur dalam urusan buruh , entah kenapa Ia ingin tahu semua hal tentang kamu . saya rasa ini ada hubungannya dengan kedekatan kamu dengan Lilis " lanjut mandor Kardi .


" Apa benar kamu punya hubungan spesial dengannya ? " Tanya mandor Kardi karena Anto hanya terdiam .


" Tidak ada yang spesial antara saya dan Lilis , kami hanya berteman ." Jawab Anto sesaat kemudian .


" Yakin..., semua orang di kampung membicarakan kedekatan kalian . Tidak hanya satu atau dua orang yang yang melihat kalian jalan bareng ke bukit kampung , seperti orang yang sedang pacaran " mandor Kardi menatapnya sambil tersenyum .


" Kami hanya kebetulan bertemu saat saya sedang lari pagi atau jalan sore hari " mandor Kardi tertawa mendengar jawaban Anto .


" Bukan kebetulan namanya kalau terjadi lebih dari satu kali . Lilis itu sudah dianggap anak sendiri oleh pak Karman , jadi jangan macam-macam " kali ini mandor Kardi berkata dengan serius .


" Saya juga tidak pernah melihat Lilis dekat dengan laki-laki manapun selama ini setelah menjadi janda , Saya rasa dia menyukai kamu . Enggak apa-apa To , biar janda dia itu masih muda , cantik , sudah mapan . Apalagi sekarang dia boleh dibilang adalah orang kepercayaan neng Dila . Kamu bisa merubah nasibmu ." Ucapan mandor Kardi hanya di balas senyum datar Anto .


" Jika kita dekat dengan seseorang yang hanya untuk merubah nasib itu bukan cinta namanya pak , kita tidak jauh berbeda dengan benalu . Maaf saya bukan lelaki seperti itu " ucap Anto setelah terdiam sejenak .


" Yah baiklah terserah kamu saja . sebenarnya saya cuma mau memberitahu kamu , sepertinya kuda yang akan di beli neng Dila mengalami masalah pengiriman jadi semalam Pak Karman bilang pada saya untuk sementara ini ya kamu bebas tugas dulu sampai waktu yang belum ditentukan . Gimana Apa kamu mau tetap disini atau kamu mau kerja tempat lain . Di perkebunan misalnya ? " Mandor Kardi mengalihkan pembicaraan .


' oh kebetulan Pak sebenarnya saya mau minta izin . Saya ada urusan keluarga untuk beberapa hari , saya ingin pergi ke kota " ucap Anto yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut .


" Ada urusan apa to ? " Tanya mandor Kardi .


" Urusan keluarga pak . Saya tidak tahu berapa lama saya akan ada di sana " jawab Anto .


" Yah baiklah kalau begitu . Lagi Pula untuk sementara ini kami belum menerima pesanan beras jadi di pabrik tidak akan ada banyak kegiatan " jawaban mandor Kardi membuat Anto merasa lega .


"Soal gaji Pak Karman bilang mereka akan tetap membayar kamu selama kamu masih mengurus kandang kuda dan membantu kerja serabutan di pabrik seperti sekarang ini , jadi kalau kamu pergi ke luar kota ya gajimu akan dipotong " ucap mandor Kardi sesaat kemudian .


" Yah tidak apa-apa pak saya mengerti . Kalau begitu saya minta izin mungkin lusa saya akan berangkat" pamit Anto .


" Baiklah nanti saya sampaikan kepada Pak Karman . Kemungkinan sore ini beliau kembali karena tadi dia menelepon Ujang sudah sadar , beliau juga ingin bertemu denganmu katanya , ya sudah kalau begitu saya juga harus balik ke pabrik " ucap mandor Kardi seraya meneguk habis kopinya .


" Oh..baik pak , saya permisi terimakasih banyak . Assalamualaikum..." Ucap Anto sambil beranjak dari dipan tempatnya duduk .


" Walaikumsalam..." Jawab Mandor Kardi .


Anto berjalan meninggalkan rumah mandor Kardi yang terletak tak jauh dari gudang gabah . Langkahnya ringan menyusuri jalanan batu yang merupakan jalan satu satunya menuju gudang gabah milik keluarga Saka .


Anto kemudian memilih jalanan setapak di tepian sawah , pemuda itu sesekali menikmati pemandangan sawah yang baru saja di bajak , karena musim tanam telah tiba . Langkah Anto terhenti sesaat , di ujung jalan setapak si lihatnya sosok yang sangat ia kenal tengah duduk termenung di tepian sungai kecil yang jernih , sungai tersebut mengalir hingga di belakang pondok yang ia tempati .


" Sedang apa di sini ? " Sapa Anto setelah berada beberapa langkah dari sosok wanita yang sangat ia kenal .


" Ach..., Mas Anto kenapa ada disini ? " Wanita itu balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaannya .


" Saya dari rumah mandar Kardi . Sedang apa di sini Lis..? " Anto mengulangi pertanyaannya pada wanita di hadapannya yang tak lain adalah Lilis .


Lilis hanya diam mendengar pertanyaan Anto iya sendiri tidak tahu kenapa iya memilih untuk menyendiri di tepian sungai itu . Sebenarnya tanpa disadari oleh semua orang saat Anto , Bu Mimi dan Pak Zul membicarakannya ,. Lilis mendengar percakapan mereka , hatinya merasa sedih mendengar pak Zul dan bu Mimi membanding-bandingkan dirinya dengan dokter Aisyah dihadapan Anto . Namun ia sungguh tidak menyangka Anto membelanya .


" Emh...tidak ada...saya hanya mencari udara segar " Lilis beralasan .


" Kebetulan , sebenarnya saya saya ingin minta izin . Saya akan pergi ke Bandung untuk beberapa hari " ucap Anto sembari duduk di atas sebuah batu besar .


" Ke Bandung ? , Ada urusan apa ? " Tanya Lilis ingin tahu .


" Emh...ada hal yang harus saya selesaikan " jawab Anto sambil tersenyum .

__ADS_1


" Oh...., Kami juga berencana ke Bandung sore ini kenapa tidak bareng saja " ucap Lilis .


Anto menggeleng , tangannya mengambil beberapa batu lalu melemparkannya ke sungai . Keduanya terdiam hanyut dalam pikirannya masing masing .


Suara dering telepon memecah kesunyian keduanya , Anto merogoh saku celananya karena getar handphonenya . Ia memperhatikan sesaat nomer yang tak ia kenal di layar handphonenya , lalu dengan ragu menerima panggilan tersebut .


" Halo " sapa Anto ragu .


" Mas Anto ? " Suara lembut yang khas terdengar di sambungan teleponnya .


" Dokter Ais ? " Jawab Anto ragu .


Lilis yang berada di sampingnya langsung menoleh begitu mendengar nama dokter Aisyah , matanya menatap wajah Anto dengan seksama .


" Bagaimana ? Apakah anda mau melanjutkan pengobatan ? " Tanya dokter Aisyah dari sambungan telepon .


" Ya..., Saya bersedia " jawab Anto dengan yakin .


" Baiklah...kita bisa pergi malam ini ? , Lisa kenalan saya akan pergi ke luar kota hingga Minggu depan , jika ingin tahu hasilnya lebih cepat lebih baik kita pergi malam ini , bagaimana ? " Tanya Dokter Aisyah .


" Malam ini..? , Baiklah . Jam berapa kita berangkat ? " Tanya Anto seraya berdiri dari duduknya .


" Tunggu di depan balai desa pukul sembilan malam " ucap Dokter Aisyah yang terdengar tengah sibuk .


" Baiklah . Sampai ketemu nanti malam . Assalamualaikum " Anto menutup teleponnya setelah mendengar jawaban salam dari dokter Aisyah .


" mas Anto kelihatanya dekat dengan Dokter Aisyah " ucap Lilis dengan nada sarkas .


Anto hanya tersenyum mendengar pernyataan Lilis yang menurutnya terdengar seperti tidak suka .


" Apa dengan dia mas mau pergi ke Bandung ? " Tanya Lilis , kali ini dengan suara ragu .


Anto menganggukkan kepalaku , dia tidak ingin berbohong .


" Ada apa Antara mas dengan dokter Aisyah ? " Pertanyaan Lilis membuat Anto menaikkan kedua alisnya .


" Kenapa tidak menjawab ? , Apa benar yang dikatakan oleh orang orang , dokter itu menyukai mas Anto ? "


Anto membalikkan tubuhnya , menatap sosok mungil di hadapannya sesaat .


" Saya rasa saya tidak perlu menjawab pertanyaan itu , kenapa kamu menanyakan hal ini ? " Anto menggeleng gelengkan kepalanya sambil menatap Lilis dengan heran .


" Karena saya menyukai mas Anto " Jawaban Lilis membuat Anto terdiam . Ia sungguh tidak menduga akan mendengar hal itu .


• Beberapa saat kemudian


Anto masih tertegun di tempatnya , sementara Lilis telah menghilang entah kemana . Anto menarik nafas panjang , lalu duduk di atas batu sungai sambil menatap jernihnya air yang mengalir di hadapannya . Peristiwa yang baru saja terjadi kembali berkelebat di kepalanya .


" Karena saya menyukai mas Anto " ucapan wanita itu sama sekali tidak pernah ia duga .


Lilis adalah wanita pemalu , lebih banyak diam , dan terkesan tertutup . Tapi wanita itu baru saja mengatakan suka padanya .


" Saya jatuh cinta pada mas Anto sejak kita pertama kali bertemu " wanita itu menatap dirinya sesaat lalu menundukkan wajahnya .


Anto membisu , entah kenapa sebuah peristiwa berkelebat di kepalanya . Ia seperti pernah mengalami hal ini sebelumnya .


" Saya tidak tahu bagaimana perasaan mas kepada saya , tapi seseorang pernah mengatakan pada saya , jika cinta maka katakanlah dengan begitu tidak akan ada penyesalan meski kita tidak akan bertemu lagi " Setelah mengatakan hal itu Lilis berlari meninggalkan Anto yang terpaku di tempatnya .


Kepala Anto terasa sakit dan telinganya serasa berdengung . Lelaki itu mencoba menahan rasa sakitnya dan berjalan dengan cepat menuju pondok sembari menahan rasa sakit di kepalanya .


Dengan susah payah ia akhirnya sampai di halaman pondok , pemuda itu merebahkan tubuhnya di atas dipan Bambu di halaman pondok .


☀️☀️☀️☀️☀️


Lilis berlari meninggalkan Anto yang terdiam tanpa berani menoleh ke belakang , begitu sampai di mobil ia segera melajukan kendaraannya dan kembali ke rumah .


Rumah yang kosong membuat Lilis dengan bebas langsung menuju kamar . Hari ini Bu Karti pamit pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang sebelum pergi ke Bandung nanti malam .


" Ish.... kenapa aku harus mengatakan hal itu .." Lilis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya .

__ADS_1


Entah kenapa ia melakukan hal itu , menyatakan cinta pada seorang pria yang baru di kenalnya dalam hitungan bulan .


" Aku benar benar sudah gila .." bisik hati Lilis memaki dirinya sendiri .


"Argh....! " Wanita itu mengacak acak rambutnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kasar .


Ia sendiri tidak mengerti dari mana keberanian untuk berkata seperti tadi datang , Anto kini pasti berfikir dirinya wanita gampangan . ia dapat melihat lelaki tadi memegangi kepalanya , barangkali kepalanya mendadak pusing karena kelakuannya .


" Memalukan...sungguh memalukan ! " Lilis kembali memaki dirinya sendiri .


Tok tok tok


Ketukan di pintu kamar mengejutkan Lilis .


" Lis...kamu di dalam ? " terdengar Suara Bu Karti dari. Alik pintu .


" Ya .." Lilis beranjak dari tempat tidur , di rapikan rambutnya yang acak acakan menggunakan kedua telapak tangannya .


" Sebentar..." Ucap Lilis sambil menatap cermin . Ia tidak ingin Bu karti mendapati keadaannya yang kacau . Dengan sigap ia membuka pintu kamar setelah merapikan diri .


" Ada apa ? " Tanya Lilis dengan nada setenang mungkin .


" Kamu tidak mengangkat telepon dari ayah Aldi " jawab Bu karti , ia memang biasa menyebut mang Karman dengan sebutan ayah Aldi .


" Katanya kita tidak jadi berangkat sore ini ini , Didit belum bisa menggantikannya menemani istri Ujang . Selain itu ia ingin memastikan kondisi Ujang benar benar sudah stabil . Kita tunggu hingga besok " Bu karti berkata sambil melangkah menuju ruang tengah , Lilis mengikuti langkah wanita setengah baya itu .


" Kamu sudah makan ? ' tanya Bu karti sambil menghidupkan televisi di ruang tengah .


" Malas " jawab Lilis sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa .


" Maneh teh kunaon ? " ( Kamu tuh kenapa ? ) " Tanya Bu karti heran . Dengan santai ia duduk di samping Lilis dan mulai mencari Chanel Televisi yang menayangkan sinetron favoritnya .


" Bibik perhatikan kamu seperti orang sedang jatuh cinta beberapa hari ini , malas makan , sering melamun , sering pakai minyak wangi " ucapan Bu karti membuat Lilis terdiam .


" Apa sejelas itu tingkah lakunya " bisik hati Lilis .


" Apa benar gosip itu , kamu sama calon penjaga kuda itu pacaran ? " Kali ini Bu karti bertanya sambil menatap wajah Lilis penuh selidik .


" Siapa yang bilang ? " Jawab Lilis ketus .


" Semua orang bilang , kalian sering jalan bareng ke bukit " jawab Bu karti dengan cepat .


Lilis hanya terdiam mendengar ucapan Bu karti . Apa yang ia katakan tak dapat di sangkalnya , beberapa kali mereka tak sengaja bertemu di bukit ujung kampung saat lari pagi atau ketika senja .


Lilis awalnya tak sengaja bertemu , namun setelah itu dirinya sengaja pergi la sana dengan harapan bertemu pria bermata elang itu , dan harapnya tak pernah mengecewakan .


Ia sering mendapati Anto duduk termenung di atas bukit yang sering menjadi tempat para remaja Kampung menghabiskan senja bersama pasangannya sambil menikmati pemandangan desa dari atas sana .


Semakin sering ia melihat Anto diam diam , semakin tumbuh subur rasa di dalam hatinya . Ia seakan tak peduli dengan omongan orang , cintanya seakan buta dan tuli pada semua hal tabu yang selama ini selalu menjadi pertimbangan setiap perilakunya .


Ia kembali mengalami masa itu , terjerat cinta buta yang membuat ia bahkan rela mengorbankan segalanya , pada akhirnya ia harus menelan pil pahit pernikahan yang terjadi karena sebuah kecelakaan .


Sementara Lilis sibuk dengan pikirannya , Bu karti tak lagi mengusiknya dengan aneka pertanyaan karena tengah asik menikmati sinetron di televisi .


Ach...Lilis menggelengkan kepalanya , Kisah cintanya beberapa tahun yang lalu kembali terlintas di kepala .


Berawal dari kekaguman pada sosok kakak kelas yang menjadi idola banyak siswi , perlahan kagum itu berubah menjadi cinta karena sang pujaan sering datang menemuinya . Ia tidak menyangka bahwa ternyata lelaki pujaannya itu sebenarnya menyukai Dila .


Saat Dila menolaknya , ia menjadi penghibur karena merasa kasihan , saat itulah peristiwa memalukan itu terjadi , ya..ia menyerahkan mahkotanya demi mendapatkan cinta sang pujaan , pada akhirnya mereka memang menikah karena Lilis hamil .


Namun pernikahan tanpa dasar cinta , membuat rumah tangganya bak lautan derita . Apalagi setelah Lilis keguguran , kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi , sang pujaan tak seindah yang ia impikan . Lelaki itu sering mabuk Dan judi , dalam setiap pertengkaran ia sering menyalahkan Lilis dan menganggap Lilis telah sengaja menjebaknya dalam sebuah pernikahan . Karena segan kepada Eyang Saka saja lelaki itu bertahan .


Pada akhirnya karena tidak ingin terus tersakiti Lilis memilih mengakhiri pernikahannya . Cinta buta itu telah menyesatkan dirinya , apakah kini ia juga dalam fase yang sama ? . Ach...Lilis kembali menggeleng gelengkan kepalanya sambil menatap televisi meski hatinya kembali mengutuki perbuatan di tepi sungai tadi sore , ia berkali kali menarik nafas panjang .


" Kamu kenapa ? , Dari tadi seperti orang kena asma hah.. heh..hah.. heh , apa masuk angin sini bibik kerokin " ucap Bu karti SMB menoleh ke arahnya saat sinetron yang ia tonton di jeda iklan .


" Enggak kok.." jawab Lilis malas .


" Lilis mau tidur duluan bik.." ucap Lilis seraya beranjak dari sofa , ia memilih untuk berdiam diri di kamarnya .

__ADS_1


__ADS_2