
Anto berjalan dengan perlahan di halaman rumah dinas dokter Aisyah . rumah mungil yang terletak di tak jauh dari puskesmas desa itu terlihat sunyi . ada empat rumah Dinas para pegawai Puskesmas berderet di sana . satu Rumah untuk dokter umum , satu rumah dokter gigi dan dua rumah untuk petugas administrasi dan para perawat .
" Rumah Dokter Ais berada paling kiri , ada papan namanya di depan pintu " kata kata om Wira sebelum ia pergi kembali terngiang di telinganya .
Anto berjalan pelan , ia menarik nafas panjang di depan pintu . di sana tergantung papan nama berwarna coklat dengan tulisan Dr, Aisyah Nuraini - Dokter umum .
Tok tok tok
tangan Anto akhirnya mengetuk pintu tersebut setelah memantapkan hatinya .
" assalamualaikum ..." Anto mengucapkan salam dengan suara agak keras . Sunyi tidak ada jawaban dari dalam rumah itu . setelah menunggu beberapa saat anto kembali mengulangi ucapannya sambil mengetuk pintu .
" Walaikumsalam .." Terdengar jawaban dengan suara lembut sang Dokter . Tak butuh waktu lama , pintu rumah dinas itu terbuka .
Dokter Aisyah menatap Anto sesaat , setelah itu mempersilahkan dirinya duduk di kursi teras setelah menanyakan maksud kedatangannya .
Setelah mendengar semua kebaikan sang dokter dari istri om Wira selama berbincang bincang di rumah om Wira setelah pulang dari labuhan Ratu , ia seakan kehilangan rasa lelahnya , pemuda itu memilih untuk bertemu dengan sang dokter dan berharap bisa meminta bantuannya .
" Maaf... , Tidak ada orang lain di sini , kita bicara di luar saja tidak baik berdua-duaan di dalam rumah karena kita bukan muhrim " dokter Aisyah berkata dengan lembut setelah meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja .
Anto hanya mengangguk sambil menatap sang dokter yang kini hanya memakai daster batik panjang dan jilbab bergo berwarna cream muda . Tampilan sederhana yang tidak memperlihatkan kedudukannya sebagai seorang dokter . Dengan lembut dokter tersebut duduk di hadapannya .
" Apa yang ingin kakak bicarakan ? " Tanya Dokter Aisah setelah duduk dengan nyaman .
Anto menghela nafas panjang , dia menatap dokter Aisyah untuk beberapa saat , pemuda itu mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya .
" Ada sesuatu yang ingin saya katakan , saya tidak tahu apakah ini akan membuat dokter terkejut atau dokter justru akan menganggap saya orang gila " ucap Anto sejurus kemudian .
Dokter Aisyah menatapnya sesaat kemudian tersenyum .
" Katakan saja , apapun itu saya akan mendengarkannya " jawab dokter Aisyah dengan tenang .
" Sebenarnya... Ini lebih tentang sebuah pengakuan dan juga permintaan bantuan . Saya tidak tahu apakah Dokter akan mempercayai saya setelah mendengar cerita saya " Anto menarik nafas dalam-dalam .
" Saat berbicara di ruang perawatan tadi saya merasa bingung dan tidak tahu harus berkata apa . Sebenarnya saya tidak mengingat siapa diri saya " Anto terdiam sambil menatap reaksi dokter Aisyah .
Anto merasa heran melihat wajah tenang dokter dihadapannya , Ia tidak melihat keterkejutan di wajah dokter muda itu .
" Lalu kenapa berpura-pura mengenali saya ? " Tanya Dokter Aisyah sesaat kemudian .
" Karena saya berpikir mungkin anda bisa membantu saya mengingat masa lalu saya . Saat kita bertemu ada kilasan peristiwa yang berkelebat begitu saja di kepala saya " jawab Anto jujur .
Dokter Aisyah menatapnya sambil mengernyitkan kening .
" Sudah berapa lama ? " Pertanyaan sang Dokter membuat Anto menatap sosok itu beberapa saat .
" Maksud dokter ? " Anto mencoba untuk memastikan maksud pertanyaan sang dokter .
" Sudah berapa lama Anda seperti ini ? " Tanya sang dokter . Anton menarik nafas panjang .
" Saya tidak akan bisa membantu jika yang anda katakan adalah sebuah kebohongan . Bisa ceritakan kepada saya bagaimana kronologi kejadiannya . sejak kapan anda kehilangan ingatan anda ? " Pertanyaan sang dokter sungguh diluar dugaan Anto . awalnya Anto berpikir dokter Aisyah akan marah dan tidak akan membantu dirinya .
" saya mendapati diri saya sadar di sebuah pusat pengobatan tradisional , seseorang yang mengaku ayah saya berada di sisi saya . tapi saya tidak bisa mengingat apapun ataupun mengenali orang itu , bahkan saya tidak ingat apapun tentang diri saya . menurut cerita beliau , seseorang menemukan saya terluka dan kebetulan orang itu masih saudara jauh saya . Karena mengira saya terlibat dalam sebuah tindakan kriminal keluarga saya tidak berani membawa saya ke rumah sakit . Mereka membiarkan saya mendapatkan perawatan dari seorang tabib pengobatan alternatif . Menurut mereka Hampir dua minggu saya tidak sadarkan diri , saat saya sadar saya sama sekali tidak bisa mengingat siapa saya ? , Atau kenangan apapun tentang orang-orang yang mengaku sebagai keluarga saya . Saya seperti kertas kosong yang tidak memiliki cerita apapun di atasnya . Nama saya , masa lalu saya , dan cerita apapun tentang saya , saya mendapatkan itu dari cerita mereka " Anto mulai menceritakan semua kejadian yang menimpanya . dari saat ia di rawat selama hampir 6 bulan di klinik Simbah dan kesulitannya beradaptasi dengan lingkungan dan orang orang yang mengaku sebagai keluarganya .
Dokter Aisyah menatap wajah Anto tanpa berkedip , ia mencoba mencari kejujuran di wajah tersebut .
" entah kenapa semua hal yang di katakan oleh orang orang terdekat saya tentang saya terasa janggal , saya merasa ada yang salah dengan semua itu " ucap Anto setelah menceritakan semua kejadian yang ia alami .
" Saat bertemu saya... , Anda bilang Anda mengingat sebuah peristiwa apa itu ? " Tanya Dokter tersebut beberapa saat kemudian .
" Saya mengingat sebuah peristiwa dimana anda menangis tersedu-sedu di sebuah kursi panjang , saat itu saya melihat anda tidak menggunakan hijab " jawab Anto tanpa ragu .
Dokter Aisyah menghela nafas panjang , ada kesedihan terpancar di matanya .
" Dokter siapa orang yang Anda kira adalah saya tadi siang ? " Tanya Anto setelah keduanya membisu beberapa saat .
" Saya tidak berani menjawabnya . Karena kini saya tidak punya alasan untuk bisa mempercayai Anda sepenuhnya . Saya tidak mungkin mengatakan identitas seseorang kepada orang yang tidak saya kenal . Tapi saya akan membantu anda . Besok pagi datanglah ke puskesmas . saya akan melakukan pemeriksaan di sana . Jika anda benar-benar jujur apapun yang saya lakukan percayalah pada saya , tidak ada niatan saya yang lain selain membantu anda menemukan jati diri anda yang sesungguhnya " jawab dokter Aisyah dengan lembut .
" Karena jika anda ada adalah orang yang saya maksud saya tidak akan membiarkan anda kehilangan identitas anda yang sesungguhnya " lanjutnya sembari tersenyum .
" Apakah ada hal lain yang Anda ingat atau hadir secara tidak sengaja dalam ingatan anda " tanya dokter Aisyah setelah keduanya membisu sambil sesekali menarik nafas panjang .
" Anda pernah bermimpi ? " Lanjutnya .
Anto menganggukkan kepalanya beberapa kali .
" Saya bermimpi seperti berada di medan perang , terkena beberapa tembakan bahkan menembak lawan " jawab Anto .
" Hanya itu ? " Dokter Aisyah menatapnya .
__ADS_1
" Saya pernah bertemu seorang wanita , sejak pertemuan itu beberapa kali saya bermimpi tentang wanita itu , kami sepertinya dekat " jawab Anto jujur .
" Dokter tolong bantu saya " ucap Anto dengan putus asa .
" Apakah saat ini anda mengkonsumsi obat , ada keluhan yang Anda rasakan ? " Tanya Dokter Aisyah .
" Saya sering merasakan nyeri di kepala saya , untuk itu tabib yang selama ini merawat saya meresepkan sebuah obat herbal , saya rutin meminumnya setiap malam " jawab Anto tanpa ragu .
" Bawakan saya obat itu besok , saya hanya dokter umum saya akan membantu sesuai dengan kemampuan saya , untuk mengetahui kondisi pasti Anda saat ini kita harus bertemu dengan dokter yang lebih ahli , itu jika Anda mau " ucap dokter Aisyah dengan nada tenang .
" Saya akan melakukan apapun selagi itu bisa mengembalikan ingatan saya " jawab Anto tanpa ragu .
" Baiklah..., Saya akan membantu anda atas dasar kemanusiaan " jawaban dokter Aisyah membuat Anto lega .
" Silakan diminum tehnya sudah dingin " dokter Aisyah menawarkan minumannya .
" Terima kasih Dokter saya tidak akan melupakan jasa dokter pada saya " ucap Anto seraya meraih gelas di hadapannya . Keduanya meminum teh bersama sama .
" Sudah malam saya takut mengganggu istirahat dokter . Saya akan menemui dokter besok ke puskesmas . Soal biaya... Bolehkah saya mencicilnya ? " Pertanyaan untuk membuat dokter Aisyah tersenyum .
" Tidak usah dipikirkan hal itu . Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan . Jangan Lupa datang besok " ucap sang dokter dengan tulus .
" Baik dokter ..saya pamit , terimakasih banyak atas bantuannya " Anto bangkit dari kursinya diikuti oleh dokter Aisyah .
" Sama-sama hati-hati di jalan " dokter Aisyah mengingatkan .
" Assalamualaikum " pamit Anto Seraya meninggalkan tempat tinggal dokter Aisyah .
" Walaikumsalam.." dokter Aisyah menatap kepergian Anto hingga tak terlihat . Beberapa saat kemudian dia segera membereskan gelas bekas teh yang diminum mereka berdua lalu segera masuk ke dalam rumah dinasnya .
Tanpa mereka ketahui beberapa pegawai administrasi dan perawat memperhatikan pertemuan mereka dari jauh .
☀️☀️☀️☀️☀️
Mentari mulai muncul di ufuk timur , memamerkan cahayanya yang keemasan memberikan kehangatan di desa yang selalu diliputi kabut dingin di pagi hari .
Jalanan desa masih lengang , hanya ada beberapa sepeda motor Yang di kendarai oleh anak-anak sedang berangkat sekolah ataupun sepeda motor yang digunakan oleh orang tua untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah yang memecah kesunyian . Bahkan lebih banyak siswa yang menggunakan sepeda untuk menuju sekolah .
Pagi ini Anto memulai hari dengan harapan baru . Percakapannya dengan dokter Aisyah memberinya sedikit harapan untuk bisa mengetahui jati dirinya yang sebenarnya .
Pukul delapan pagi ia telah siap dengan pakaian rapi untuk bertemu dengan sang dokter di puskesmas . Entah kenapa ia merasa bahwa sang dokter adalah orang baik yang akan menolong tanpa menilai sisi buruk yang saat ini tersemat pada dirinya . Satu jam kemudian ia telah berdiri di depan jendela pendaftaran pasien di puskesmas .
" Pagi..., mau berobat ? " Tanya petugas tersebut dengan ramah .
" Saya sudah ada janji untuk konsultasi dengan dokter Aisyah hari ini " jawab Anto tanpa basa-basi .
" Mas Anto sakit ? " Sebuah suara yang ia kenal membuat Anto memutar tubuhnya .
" Lilis ..., Pagi pagi sudah kesini ? " Anto balik bertanya setelah melihat sosok Lilis tengah berdiri di belakangnya .
" Tadi Pagi dapat kabar dari orang tua Cecep katanya dia sudah bisa keluar jadi saya akan mengurus semua biayanya " jawab Lilis dengan ramah .
" Oh..ini mas Anto ya ? , tadi pagi dokter Aisyah sudah berpesan kepada saya Kalau Anda datang disuruh tunggu saja . Beliau sedang bertemu seseorang di kantor lurah " ucapan petugas administrasi dijawab anggukan oleh Anto .
" Terima kasih banyak " jawab Anto .
" Emh... Saya duluan ya Lis , oh ya apa Cecep masih ada di ruangannya ? " Tanya Anto pada Lilis yang terlihat bengong .
" Ya..." Jawab Lilis gugup .
Tanpa basa-basi Anto Anto berjalan pergi meninggalkan Lilis yang berdiri di depan petugas administrasi .
" Teh Lilis mau bayar biaya perawatan Cecep ? " Pertanyaan petugas administrasi hanya dijawab anggukan oleh Lilis .
" Total semuanya delapan ratus lima puluh ribu rupiah " ucap petugas tersebut .
Tanpa banyak bicara Lilis mengeluarkan sejumlah uang yang diminta oleh petugas .
" memangnya Mas Anto sakit apa ? " Tanya Lilis pada petugas tersebut .
" Saya tidak tahu tapi semalam mas Anto datang ke rumah dinas dokter Aisyah , mereka ngobrol lumayan lama " petugas tersebut menjawab pertanyaan Lilis ramah .
" Padahal selama ini Dokter Aisyah nggak pernah mau terima tamu lelaki di rumah dinasnya kalau malam hari , ini yang pertama kali " ucapan petugas tersebut membuat dada Lilis berdesir .
" Ini kembaliannya teh..., dokter Ais sudah ketemu teteh kan ? " Tanya petugas administrasi .
" Iya ..saya juga sudah bicara dengan dokter Aisyah tadi " jawab Lilis sambil memasukkan uang kembalian ke dalam tasnya .
" Terima kasih " ucap Lilis Seraya bergegas menuju lobby Puskesmas , ia melihat Anto dan keluarga Cecep berjalan keluar .
__ADS_1
" Sudah tidak ada yang ketinggalan Bu..? " Tanya Lilis pada Bu Ratna .
" Sudah teh...sudah semuanya " jawab Bu Ratna sambil tersenyum .
" Saya panggil mang Didit dulu ya.., dia ada di warung kopi depan . Biar kami antar sampai rumah " ucap Lilis sambil menatap Anto yang terlihat tengah bercakap cakap dengan Cecep , tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya .
" Iya ...makasih ya teh.." jawab Bu Ratna sambil menatap wajah Lilis .
Saat itu dokter Aisyah muncul di depan pintu puskesmas .
" Cecep Sudah mau pulang ? " Sapa sang dokter ramah .
" Iya dok..." Jawab Cecep .
" Hati hati di jalan ya . Oh...mas Anto sudah di sini , emh...silahkan langsung ke ruangan saya saja " ucapnya sambil tersenyum pada Anto .
" Baik Bu...saya akan mengantar Cecep lebih dulu " jawab Anto .
" Ya...,mari.." dokter Aisyah meninggalkan mereka .
Lilis berjalan pergi menuju warung kopi yang terletak tak jauh dari puskesmas , setelah sang dokter berlalu . Entah kenapa hatinya sakit melihat Anto bertegur sapa dengan akrab dengan dokter Aisyah .
" Kang Didit , ayo kita Antar Cecep pulang " seru Lilis tanpa basa basi begitu melihat Didit yang tengah duduk di teras warung .
" Sekarang..., Kopi ku belum habis Lis .." jawab Didit setengah protes .
" Sekarang..., Saya masih banyak urusan yang harus diselesaikan " jawab Lilis ketus sambil berlalu .
" Kunaon eta' awewe' " gumam Didit Seraya menghabiskan kopinya . dengan cepat ia mengikuti langkah Lilis yang tergesa-gesa menuju mobil yang terparkir di halaman Puskesmas .
Mereka segera mengantar Cecep pulang ke rumahnya . Anto melepas kepergian mereka dengan lambaian tangan dan senyumannya yang sangat ramah .
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Cecep , Lilis Hanya duduk terdiam di samping Didit yang menyetir mobil . Satu jam kemudian mereka tiba di rumah Cecep . Setelah berbasa-basi sebentar Lilis segera menuju rumah orang tua kang Ujang untuk menjenguk anak-anak kang Ujang yang dititipkan pada neneknya .
Sesuai amanat mang Karman ia membawa beberapa oleh-oleh untuk anak-anak kang Ujang . Semalam Ia mendapat kabar dari mang Karman bahwa operasi berjalan dengan lancar , kini kang Ujang hanya menunggu pemulihan , keadaannya sudah stabil dan telah sadar meski masih lemah . Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah orang tua kang Ujang .
" Assalamualaikum..." Ucapan salamnya segera mendapatkan jawaban dari dalam rumah yang pintunya terbuka .
" Eh .neng Lilis , silakan masuk " seorang wanita yang sudah berumur keluar dari dapur .
" Punten ni...Kuring mawa kadaharan jeung oleh-oleh keur barudak ni.... , Aki'na aya' ? " ( Permisi nek saya bawa makanan dan oleh oleh untuk anak anak . Kakek ada nek ? ) Tanya Lilis .
" aduh teh Lilis tidak perlu repot-repot . Aki' pergi mencari rumput , bagaimana keadaan si Ujang ? " Tanya Mak Ijah ibu dari teh Ratna .
" Sudah baikan..., Tinggal perawatan saja " jawab Lilis sambil meletakkan barang bawaannya ke meja tamu .
" Ari' neng Dila apa dia akan pulang ? Bukankah ini musibah pabrik ? " Tanya Mak Ijah .
" Neng Dila lagi sakit di Bandung , nanti kalau sudah sembuh dia juga pulang . Jangan khawatir pengobatan dan semua biaya hidup keluarga akang akan di tanggung oleh pabrik sampai kang Ujang sembuh " Lilis mencoba menenangkan hati Mak Ijah .
" Heeh...saya mah percaya saja , neng Dila tidak mungkin lepas tanggung jawab " jawab Mak Ijah lega .
" Iya Mak..jadi jangan khawatir . Anak anak Kamana Mak ? " Tanya Lilis sambil menatap sekelilingnya .
" Pergi sekolah semua . Mereka sibuk ingin bertemu ayahnya " keluh Mak Ijah .
" Teteh pesan , nanti saja saat hari Minggu mereka datang " jawab Lilis .
" Iya ...dia juga bilang ke saya begitu " Mak Ijah mempersilahkan Lilis untuk minum air putih yang telah tersedia di meja tamu .
" Tidak usah ni..saya buru buru , karena mang Karman tidak ada banyak kerjaan di pabrik . Kami juga berencana ke Bandung besok sore i , ada keluarga yang meninggal dunia " jawab Lilis sambil beranjak dari duduknya .
" Oh... Begitu...ya sudah hati hati di jalan . Dan terimakasih oleh olehnya " Mak Ijah mengantarkan Lilis hingga ke depan pintu rumah .
Lilis berpamitan dan mengucapkan salam . Ia segera menuju pabrik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan . Ia dan mang Karman semalam telah memutuskan agar dirinya pergi ke Bandung saat selamatan tiga hari kepergian tuan Gunawan . Sebelumnya ia harus memberikan beberapa tugas pada mandor Kardi untuk mengatur pengiriman beras , mereka memutuskan untuk meliburkan pabrik setelah selesai dengan pengiriman hingga mandor Kardi hanya fokus pada perkebunan jeruk selama mang Karman berada di pelabuhan Ratu menunggui kang Ujang di Rumah sakit .
Selama menyelesaikan pekerjaannya Lilis terus saja membayangkan kejadian di puskesmas , entah kenapa hatinya merasa sakit mengingat hal itu . Dokter Aisyah dan Anto terlihat akrab , bahkan ia sempat mendengar percakapan beberapa perawat bahwa semalam mas Anto mengunjungi dokter itu ke rumah dinasnya .
mungkinkah hatinya terbakar cemburu ? . ia sadar Anto bukan siapa siapanya , tidak ada yang istimewa di antara mereka , namun entah kenapa hatinya merasa sakit melihat Anto dekat dengan seseorang yang memiliki hal yang lebih segalanya dari dirinya . rasa sedih , rasa tak berdaya dan tak berharga menggelitik hatinya .
Ach...pemuda itu berhasil membangkitkan asa dan memberi warna pada hari harinya yang selama ini terasa biasa saja . ia sendiri tidak mengerti kenapa orang asing itu mampu menghidupkan harapan yang selama ini terasa mati di hidupnya setelah kegagalannya membina rumah tangga .
Selama ini bukannya tidak ada lelaki yang berusaha mendekati dirinya , namun ia tidak pernah tertarik atau berencana membuka lembaran baru . tapi Anto berbeda , lelaki itu tidak hanya tampan dan bertubuh atletis bak bintang film , tapi ia juga baik . tutur katanya sopan , tidak banyak bicara bahkan terkesan agak dingin , namun selalu berbuat baik pada siapapun .
pria serba bisa yang tidak pernah menolak untuk membantu siapapun , tidak heran meski baru dua bulan tinggal di desa mereka ia sudah di kenal oleh hampir seluruh buruh pabrik . dan ketampanan yang ia miliki menjadi perbincangan kaum hawa , baik ibu ibu , para gadis dan beberapa pemuda yang merasa tersaingi akan ketampanannya .
Jauh di dalam hatinya yang paling dalam , Lilis menanam asa dan berharap di antara begitu banyak wanita yang diam diam mengidamkan dirinya , Anto akan memandang dirinya . Ia sempat berfikir Anto memiliki sedikit rasa padanya , apalagi seminggu ini mereka dekat , beberapa kali mereka bertemu secara tak sengaja saat lari pagi , dan menghabiskan waktu bersama melihat mentari s terbit di bukit yang terletak di ujung desa setelahnya .
dan hari ini Anto bersikap biasa saja , tepat setelah ia bertemu dengan seorang wanita yang tentu saja lebih segalanya dari dirinya . seorang dokter , masih gadis , dan tentu saja lebih kaya . Ach..pria asing itu ternyata telah mampu membuat hatinya galau .
__ADS_1