
Pagi harinya saat Dila terbangun , ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang dengan nyaman . Gadis itu melihat jam dinding , sudah pukul setengah sembilan , ia janji bertemu dengan kakak ipar Ocha satu jam lagi .
Dengan terburu-buru gadis itu pergi mandi dan segera berganti baju . Setelah menyambar tasnya yang tergeletak di meja rias Dila berlari keluar kamar . Gadis itu berpamitan pada tuan Gunawan yang tengah duduk di teras rumah dengan buru buru .
Jalanan yang macet membuat Dila menarik nafas beberapa kali , gadis itu memaki kebiasaan lamanya tidur di sembarang tempat .
Di kamarnya Jordi yang tengah berganti pakaian di kejutkan oleh bunyi handphone berkali kali . Ia kemudian menyadari bunyi itu dari handphone Dila . semalam Ia hendak mengembalikan handphone tersebut saat kembali ke Balkon setelah membawa gadis itu ke kamarnya , namun Ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu Dila yang terlihat sangat lelah . dan lagi , ia berencana menggunakan benda itu sebagai alasan untuk menjumpai Dila pagi ini .
Jordi batal memakai dasinya karena handphone Dila terus berbunyi . Ia segera menuju kamar Dila .
" Non Dila sudah pergi tuan muda " ucap seorang pelayan yang melihat Jordi mengetuk pintu kamar Dila . Jordi hanya terdiam ia kembali ke kamarnya sambil membawa ponsel Dila . Karena handphone Dila terus berdering akhirnya pria itu mengangkat telepon tersebut .
" Kau kemana saja ? , Kakak ku telah menunggu lama " suara Ocha terdengar di telepon .
" Dila lupa membawa hp-nya " jawab Jordi .
" Oh baiklah..." Ocha menutup teleponnya .
Jordi kembali melanjutkan rutinitasnya , tak lama handphone Dila kembali berdering .
" Halo selamat pagi , dengan ibu Wulandari Ratnadila ? " Sapa seseorang dengan nomer telepon lokal .
" Saya suaminya " jawab Jordi asal .
" Oh.. kebetulan sekali pak...saya dari Rumah sakit ingin memberitahukan kalau hasil pemeriksaan lab dan USG ibu Dila sudah keluar ! , Dokter berpesan agar ibu Dila datang bersama anggota keluarga untuk membacakan hasilnya " ucap penelpon itu dengan ramah .
" Rumah sakit ? " Tanya Jordi dengan heran .
" Ya pak kemarin ibu berkonsultasi dengan dokter Prasetyo " jawab penelpon itu .
" Ini RS Husada ? " Tanya Jordi .
" Benar pak.." jawab penelpon .
Jordi terdiam " Dr Prasetyo adalah dr penyakit dalam yang sangat terkenal . Kenapa Dila bertemu dengannya ? " Jordi bertanya dalam hati .
" Kapan kami harus kesana ? " Tanyanya kemudian .
" Hari ini juga boleh pak " jawab operator customer servis RS tersebut .
" Baiklah ... , Terima kasih atas informasinya " ucap Jordi seraya menutup Telepon .
Jordi terdiam sambil memegang poncel Dila , pria itu berfikir kenapa ia tidak tahu jika Dila tengah Sakit , meski ia melihat Dila terlihat lelah dan sedikit kurus minggu ini .
Di sudut lain di sebuah Cafe di kota Bandung .
Dila tengah menyerahkan sebuah berkas pada Kakak ipar Ocha setelah mereka berbincang bincang dan saling berkenalan .
" Aku ingin kakak menyelidiki bagaimana aku bisa memiliki saham itu , dari sekian banyak asset yang ditinggalkan eyang aset ini sudah atas namaku saat aku menerimanya . Sedangkan yang lain butuh proses untuk peralihan hak milik " ucap Dila kemudian .
Kakak ipar Ocha membuka amplop yang di serahkan padanya dan membaca berkas kepemilikan saham yang di serahkan Dila .
" Kau gila....nilai saham ini sangat banyak , perusahaan ini juga sedang naik daun . " ucap Dewi dengan serius .
" Benarkah . Apakah kita bisa tau kenapa aku bisa memiliki saham itu ? " Tanya Dila .
" Tentu saja , tapi agak sulit . " Jawab Dewi
" Tolong selidiki untukku " ucap Dila .
" Baiklah..., Akan butuh proses kau tahu kadang pemilik saham menyembunyikan identitasnya karena hal tertentu " ucap Dewi .
" Akan ku bayar berapa pun " ucap Dila seraya meminum air putih di hadapannya .
" Baiklah...aku permisi dulu , aku sibuk " jawab Dewi seraya melangkah pergi setelah berpelukan dengan gadis itu .
Tak lama Dila juga melangkah keluar dari kafe , gadis itu merasa sangat lelah , padahal ia telah tidur pulas semalaman .
__ADS_1
Saat ia hendak kembali ke dalam mobil , ia melihat mobil Jordi masuk area parkir . Dila berdiri di dekat mobilnya sambil memandang Jordi yang keluar dengan tergesa-gesa . Pria itu melangkah dengan cepat ke arahnya . Dan tanpa ia duga langsung memeluk dirinya .
" Ada apa ? " Tanya Dila heran .
" Sebentar saja...biar aku memelukmu untuk sesaat " bisik Jordi dengan lembut .
Dila terdiam melihat tingkah aneh Jordi , setelah beberapa saat gadis itu memukul lengan Jordi karena perlakuan pria itu seperti seorang kekasih padanya .. Jordi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dila yang nampak tidak nyaman .
" Kau kerasukan ? " Tanya Dila .
" Tidak...aku hanya ingin memeluk kamu " jawan Jordi membuat Dila kesal .
" Apa acara mu hari ini ? " Tanya pria itu membuat Dila mengernyitkan keningnya .
" Tentu saja kuliah " jawab Dila sambil berjalan menuju mobilnya .
" Lupakan dulu kuliah" jawab Jordi seraya menyuruh Dila masuk ke dalam mobil setelah meminta kunci mobil gadis itu . keduanya kemudian meninggalkan tempat itu .
Dila hanya terdiam meski ia ingin bertanya kemana pria itu akan membawanya , namun melihat wajah Jordi yang muram gadis itu mengurungkan niatnya .
" Apa kau sedang ada masalah ? " Tanya Dila karena Jordi hanya diam semenjak mereka meninggalkan Cafe .
" Hemh...." Jordi hanya bergumam . Pria itu kemudian merogoh saku jasnya dan menyerahkan handphone milik Dila .
Dila terdiam sesaat , ia tidak menyadari bahwa ia tidak membawa handphone .
" Di mana kau menemukannya ? " tanya Dila .
" aku lupa mengambilnya saat membawamu ke kamar semalam " jawab Jordi sambil fokus mengemudi .
" oh... Terima kasih " Ucap Dila pelan sambil memaki dirinya dalam hati .
" Apa kau putri tidur , selalu saja tidur sembarangan " Ucap Jordi mengejeknya .
Dila hanya terdiam mendengar ucapan pria itu . Ia sendiri sangat terganggu dengan kebiasaannya yang beberapa bulan lalu telah hilang dan kini kambuh kembali .
" Tadi ada telp dari RS , apa kau sakit ? , Kenapa tidak memberi tahu kami ? " Tanya Jordi yang melihat wajah Dila .
" Oh... ku rasa hanya sakit biasa " jawab Dila sambil melepas seat belt . mobil mereka telah terparkir di area parkir RS .
Keduanya memasuki Rumah sakit dan segera menuju poliklinik penyakit dalam . setelah memberitahu niat kedatangannya kepada asisten Dokter keduanya duduk di kursi tunggu .
Jordi merogoh kantong jasnya yang bergetar karena handphone . Pria itu melihat sekilas ke layar handphonenya kemudian meninggalkan tempat tersebut setelah berpamitan pada Dila untuk menjawab panggilan dari Adam.
Dila tengah asik mengerjakan sesuatu di hpnya saat sebuah suara menyapanya , gadis itu mendongakkan wajah da melihat sosok yang tidak begitu ia kenal , setelah berfikir sesaat akhirnya Dila ingat wanita yang menyapanya adalah Clarisa , mantan kekasih Jordi ,
" hai...." jawab dila ragu .
" sedang berobat ? " tanya Clarisa ramah .
Dila hanya mengangguk sambil mempersilahkan wanita itu duduk di sampingnya .
" kau sendiri ke Dokter apa ? " tanya Dila beberapa saat kemudian ,
" ke Dokter kandungan , kebetulan aku lewat sini dari Toilet " jawab Clarisa sambil tersenyum .
" oh... apakah sudah ada berita bahagia ? " tanya Dila mencoba akrab .
Clarisa hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Dila . saat itu Jordi akan kembali setelah berbincang bincang cukup lama dengan Adam , ia terpaku dari tempatnya ia melihat sosok Clarisa tengah asik berbicara dengan Dila . namun pria itu akhirnya berjalan dengan tenang ke arah mereka .
" Hai sayang .., maaf aku lama " ucapan Jordi yang baru muncul membuat Dila ternganga .
" apa dokter sudah memanggil ? " tanya Jordi sambil duduk di sebelah dila , ia seakan tidak menyadari akan kehadiran Clarisa di sana .
" ibu Wulandari Ratnadila !!! " panggilan Assisten Dokter menyelamatkan situasi kaku mereka .
Dila beranjak dari duduknya di ikuti oleh Jordi , sebenarnya Dila ingin melarang pria itu mengikutinya , namun karena ada Clarisa di sana ia membiarkan saja Jordi bertindak sesukanya .
__ADS_1
Mereka masuk ke ruangan Dokter , setelah saling sapa Dokter Prasetyo mulai membacakan hasil pemeriksaan Lab dan USG Dila .
" Syukurlah semua baik baik saja , mungkin hanya faktor stres dan gangguan lambung biasa " ucap sang dokter menutup penjelasannya .
Jordi merasa senang mendengar penjelasan sang Dokter .
" Oh Ya Nona Dila apakah ada riwayat gangguan Hati di keluarga anda ? " Tanya Dokter prasetyo .
" Jujur awalnya saya mengira ada gangguan Hati karena gejalanya mengarah kesana " Ucap dokter Prasetyo kemudian .
" Ibu saya meninggal karena Kanker Lambung , Tidak ada kelainan Hati dalam keluarga kami " Jawab Dila .
" oh baiklah.. tetaplah melakukan gaya hidup sehat dan selalu rutin melakukan pemeriksaan medis agar kita bisa mendeteksi penyakit berbaya sejak dini , dan... satu lagi saran saya...sebaikknya anda bergabung dengan komunitas pemilik golongan darah dengan RH negatif , Golongan darah anda termasuk di antaranya , jika terjadi sesuatu di kemudian hari bergabung dengan komunitas tersebut bisa membantu saat keadaan darurat " Ucap Dokter Prasetyo memberi saran ,
" Selama ini saya hanya tahu golongan darah saya A dok " jawab Dila sambil tersenyum .
" Itulah yang harus di perbaiki dalam informasi mengenai golongan darah kita " ucap Dr prasetyo sambil tertawa .
" baiklah Nona Dila ,,stay Healty , Jangan lupa meminum obat yang sudah saya resepkan " dr pras menutup pertemuan itu .
keduanya segera meninggalkan tempat tersebut dan menuju kasir . Jordi menyuruh Dila untuk menunggu sementara ia mengurus semuanya , termasuk menebus obat tambahan dari dokter .
Dila meninggalkan lobby Rs dan mencari tempat sunyi karena mendapatkan telepon dari Dewi .
" Gimana kak ? " tanya Dila .
" aku tidak tahu apakah informasi ini benar , saham yang kau miliki itu , berpindah tangan atas namamu sekitar setahun lalu karena sebuah peralihan kepemilikan " ucap kak Dewi dengan antusius .
" artinya ? " tanya Dila .
" pemilik pertamanya menyerahkan kepemilikan itu padamu sebagai sebuah pemberian , atau mungkin warisan , seperti itulah..." jawab kak Dewi .
" siapa pemilik sebelumnya ? " Tanya Dila dengan Jantung berdebar .
" Tuan Gunawan prayoga , salah satu owner pemegang saham tertinggi di Jaya Group " jawaban Dewi membuat Dila terdiam . apa yang sempat terlintas di kepalanya benar benar terjadi .
" Baiklah kak... terima kasih . apa kau yakin semua informasimu akurat ? " tanya Dila beberapa saat kemudian .
" Untuk itu kau haus bertanya langsung pada pengacara keluarga mu " jawab Dewi .
" terima kasih kak Dewi " Ucap Dila .
" sama sama jangan lupa bonusku ! " ucap Dewi sambil tertawa .
" baiklah ...jangan khawatir " Jawab Dila seraya menutup Telepon ,
sementara itu Jordi yang kembali dari Counter Obat mencari cari keberadaan Dila , tapi ia tidak melihatnya , ia justru bertemu dengan Clarisa .
" kekasihmu pergi ke arah sana " ucap Clarisa sambil tersenyum .
Jordi terdiam , ia lalu mengucapkan terima kasih pada Clarisa seraya Duduk di sebelah gadis itu ,
" Bagaimana kabarmu ? " Tanya Clarisa dengan ramah .
" Baik..." jawab Jordi datar .
" bagaimana kabarmu ? " tanya Jordi sesaat kemudian .
" baik..." ucap Clarisa dengan pelan . Jordi menatap wajah yang pernah memberi kebahagiaan dalam dirinya cukup lama , wajah itu terlihat sendu dan menyimpan banyak kesedihan .
" apa kau sungguh baik baik saja ? " tanya Jordi tanpa sadar entah kenapa ia merasa tidak tega melihat wajah itu yang terlihat berbeda dari yang ia kenal setahun lalu . meski ia tidak lagi berdebar melihat wajah cantik itu , rasa simpati timbul saat merasa wanita itu tidak baik baik saja .
Clarisa menatap Wajah tampan di sampingnya , ia tersenyum sambil mengangguk . sungguh hatinya sangat sedih melihat pria itu begitu perhatian kepada gadis lain , ia masih memiliki rasa cemburu untuk Jordi meski ia telah menjadi milik lelaki lain . dan cintanya untuk lelaki itu , masih bersembunyi dengan rapi di hatinya .
" Syukurlah... " ucap jordi kemudian . ia melihat Dila tengah berjalan Di lobby sambil mencari keberadaannya .
" aku harus pergi.., selamat tinggal " ucap Jordi sambil berlalu meninggalkan Clarisa . Jordi melangkah dengan cepat menemui Dila , keduanya kemudian meninggalkan Rumah sakit .
__ADS_1
" kau sungguh beruntung gadis lugu , aku berharap aku ada di posisimu " gumam Clarisa sambil menatap kepergian keduanya .