
Setelah menebus obat untuk dirinya dan Cecep , Lilis berjalan ke bagian administrasi untuk menanyakan keadaan mang Ujang dan mang Karman . Kerena Lilis tidak melihat mereka sejak masuk ke puskesmas .
Dari informasi yang ia dapatkan , ia tahu kang Ujang di rujuk ke Rumah sakit karena patah tulang , sementara mang Kardi yang hanya menderita luka ringan menemani kang Ujang ke ke Rumah Sakit di Pelabuhan Ratu .
Setelah mengetahui keberadaan mang Karman , Lilis ingin segera menghubungi Mang Karman , namun ia baru menyadari sejak tadi dirinya tidak memegang ponsel ataupun dompet .
Lilis segera berlari menuju halaman puskesmas , lalu memeriksa mobil yang ternyata juga tidak terkunci , iapun segera memeriksa mobil , namun ia tidak menemukan handphone miliknya , beruntung tas tangan miliknya masih tergeletak rapi di kursi depan .
" Apa yang kau cari ? " Sebuah suara membuat Lilis sempat terkejut .
Lilis membalikkan tubuhnya , di lihatnya Anto tengah berdiri sambil menatapnya . Lengannya terlihat telah terbalut perban .
" Aku mencari handphone , tapi tidak ada di mobil " jawab Lilis .
" Benarkah ? , Sudah mencarinya ? " Tanya Anto meyakinkan .
Lilis mengangguk pelan .
" Sedang Apa mas Anto di sini ? ' tanya Lilis sambil menutup pintu mobil .
" Tadi aku melihatmu keluar terburu buru " jawab Anto sambil melihat sekelilingnya .
" Aku akan menanyakannya ke tempat kecelakaan tadi , mungkin saja terjatuh disana dan di simpan oleh warga . boleh ku pinjam mobilnya ? " Tanya Anto sembari menatap Lilis .
" Oh..iya.." Lilis menyerahkan kunci mobil yang tadi ia ambil .
Anto membuka pintu mobil setelah mengucapkan terimakasih kepada Lilis .
" Tolong sampaikan pada om Wira , aku pulang untuk berganti pakaian " ucapnya sambil menghidupkan mesin mobil .
Lilis hanya mengangguk , ia menatap kepergian Anto yang mengendarai mobil berwarna hijau tua itu tanpa ekspresi . Pikirannya melayang entah kemana ,. Memikirkan kejadian yang menimpanya hari ini .
☀️☀️☀️☀️☀️
" Anto...apa yang kamu cari ? " Sebuah suara membuat Anto yang tengah fokus mencari sesuatu di area sawah tempat Mobil yang di kendarai Lilis berhenti .
" Apa ada yang menemukan handphone di area ini tadi Bu ? " Tanya Anto sopan pada ibu Suryana , pemilik sawah yang menghampirinya .
" Oh... telepon ,memangnya punya siapa ? " Tanya ibu Suryana .
" Punya teh Lilis Bu , apa ibu melihatnya ? " Tanya Anto .
Bu Suryana menggelengkan kepalanya .
" Mungkin sudah di ambil orang , tadi kan banyak orang . Bagaimana kabar Cecep ? " Tanya Bu Suryana sambil membantu Anto mencari handphone milik Lilis .
" Sudah di tangani dokter , dia akan baik baik saja " jawab Anto singkat .
" Oh...semoga saja cepat sembuh , orang tua Cecep gimana ? , Sudah tahu belum ? " I
" Belum Bu , Teleponnya belum bisa di hubungi " jawab Anto sambil menarik nafas panjang .
" Ya sudah Bu , saya pulang dulu , mau ganti baju " ucap Anto yang memutuskan untuk menyudahi percariannya .
" Iya..hati hati di jalan nak .." ucap Bu Suryana sambil tersenyum ramah .
Anto berjalan cepat menuju mobil , pemuda itu bergegas menuju pondok miliknya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian .
Saat ia Sedang fokus mengemudi , tiba tiba terdengar bunyi handphone . Anto segera menepikan kendaraannya , dan mencari sumber suara . Hingga suara telepon berhenti , Anto tak berhasil menemukannya . Namun pemuda itu tidak menyerah , ia mencari handphone tersebut dan berhasil menemukannya di bawah kursi kemudi Beberapa saat kemudian .
Anto meletakkan handphone milik Lilis di dashboard mobil dan kembali mengendarai mobil tersebut menuju pondoknya .
Anto bergegas menuju ke sungai kecil yang berada di belakang pondok , pemuda itu mencuci wajahnya dengan air sungai yang hangat karena matahari siang yang terik . Ia juga membersihkan lengannya , dan membuka kaos dalam yang melekat di tubuhnya .
__ADS_1
Anto tertegun sesat , Ia berusaha mengingat ingat nama dan peristiwa yang sempat terlintas di ingatannya saat menatap wajah dokter muda bernama Aisyah yang telah mengobati lukanya . namun kilasan peristiwa yang mampu ia ingat tidak bertambah , hanya ingatan di mana ia melihat sang dokter duduk tengah duduk sambil menangis .
Setelah berganti pakaian , Anto kembali ke puskesmas , di tengah perjalanan kembali berulang kali handphone Lilis berdering . Anto mengabaikan panggilan tersebut hingga dering telepon berakhir , setengah jam kemudian ia telah sampai di puskesmas . pemuda itu bergegas menuju ruang rawat inap , namun tempat itu di kunjungi oleh banyak orang yang tengah menjenguk Cecep . selain itu orang tua Cecep telah tiba dari kampung sebelah . Anto memilih untuk mencari Lilis yang tidak terlihat di ruangan itu .
" yang namanya musibah kita tidak bisa menduga , asal teh Lilis bersedia membiayai semua pengobatannya , kami tidak akan pernah membawa masalah ini ke ranah hukum " suara seorang lelaki yang terdengar di balik tembok membuat Anto menghentikan langkahnya .
" saya akan bertanggung jawab penuh atas pengobatan Cecep hingga dia benar benar sembuh " terdengar Suara Lilis sesaat kemudian .
" Jika begitu tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan lagi bukan , kita anggap semuanya sudah selesai " Suara pak Wira terdengar sesaat kemudian .
" Terima kasih atas pengertiannya mang " Terdengar suara Lilis sesaat kemudian .
" kami juga mengucapkan terimakasih karena neng Lilis mau bertanggung Jawab , Kita sudah bisa kembali sekarang ? " Terdengar suara pak Wira yang di jawab oleh Lilis dan suara seorang lelaki yang ia duga adalah om Dikin ayah Cecep .
" Oh kamu sudah datang To ? " Pak Wira menyapa Anto begitu muncul dari balik tembok . Anto hanya mengangguk .
" Ayo Kita ngopi dulu , Om kok mengantuk " Ajak Pak Wira
" Om duluan saja , nanti saya menyusul " jawab Anto sambil menatap wajah Lilis yang berjalan paling belakang .
Kedua pria setengah baya di hadapannya hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti ,. Keduanya segera meninggalkan Anto dan Lilis .
" Mas Anto terlihat segar " ucap Lilis setelah keduanya tinggal berdua .
" Kamu juga harus pulang , bukankah semua urusan sudah selesai " ucap Anto sambil tersenyum pada Lilis .
Lilis hanya tersenyum mendengar Jawaban Anto .
" Emh...ini handphone kamu " Anto menyerahkan handphone yang ia ambil dari saku celananya .
" Oh ! terimakasih , dari mana mas Anto mendapatkannya ? " Wajah Lilis terlihat lega .
" Ada di bawah kursi , sepertinya banyak telepon masuk dari tadi " ucap Anto sambil berjalan menuju sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat mereka berbincang bincang , Lilis mengikuti langkah Anto mereka berdua duduk di kursi tersebut bersama .
" Halo..."
" Kau kemana saja..." Mang Karman memotong kalimat Lilis .
" Lilis mengalami kecelakaan mang " jawab Lilis dengan berat .
" Apa.., kau tidak apa apa ? " Tanya mang Karman setelah terdiam sesaat .
" Aku baik baik saja , hanya saja orang yang aku menyerempet anak Bu Ratna , dia terluka dan harus di rawat di puskesmas " jawab Lilis pelan .
" Oh..." Terdengar Karman menghela nafas panjang .
" Dengarkan aku baik baik , aku baru mendapatkan kabar dari ibumu.., tuan Gunawan meninggal dunia pagi ini , dan..si Ujang harus di operasi , keadaannya tidak baik tulang bahunya patah , dan tadi di tengah perjalanan dia tidak sadarkan diri , dokter bilang ada pendarahan dalam di kepalanya " ucapan mang Karman membuat tubuh Lilis lemas seketika . Ia tak mampu mengatakan apapun .
" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un " hanya itu yang mampu ia ucapkan setelah terdiam beberapa saat .
" Kita tidak mungkin ke Bandung untuk saat ini , aku akan mengatakan keadaan di sini pada ibumu . Dan untuk operasi Ujang , apakah kau punya dana untuk itu ? , Untuk saat ini kita tidak bisa bertanya lebih dulu pada Dila " tanya mang Karman setelah terdiam beberapa saat .
" Berapa yang mamang butuhkan ? " Tanya Lilis .
" Rumah sakit meminta deposit sebesar 50 juta " jawab mang Karman . Lilis terdiam mendengar Jawa mang Karman .
" Baiklah nanti ku antar " Lilis menyudahi percakapannya setelah membahas beberapa hal .
Lilis terdiam sambil menatap layar handphonenya . Entah mimpi apa ia semalam hingga hari ini ia mengalami hari yang sangat buruk .
Sementara Anto yang duduk di sampingnya juga tengah terdiam sambil memandang ranting pepohonan yang bergoyang goyang di tiup angin sepoi sepoi . Ia enggan untuk memulai percakapan dengan wanita di sampingnya . Keduanya saling membisu untuk waktu yang lama , hingga Lilis membuka percakapan .
" Hidup ini memang sebuah misteri , kemarin semua terasa begitu tenang , hari ini tiba tiba banyak hal menyedihkan terjadi . Kita bahkan tidak menduga akan datangnya sebuah kematian " ucapan Lilis membuat Anto tertegun , kata kata Lilis barusan terdengar tak asing di telinganya .
__ADS_1
" Kenapa ? " Tanya Lilis yang mendapati Anto menatapnya sambil mengernyit .
" Ucapanmu barusan , aku seperti pernah mendengarnya " jawab Anto sambil mengalihkan pandangannya .
" Seseorang sering mengatakan hal itu saat ingin mencoba sesuatu " jawab Lilis dengan santai .
Anto terdiam sambil menatap wajah Lilis . Keduanya kembali terdiam hingga Lilis mengajukan permintaan tolong padanya untuk mengantarkan dirinya ke pelabuhan Ratu .
Setelah berpamitan pada Kedua orang tua Cecep kedua meninggalkan puskesmas dan menuju pelabuhan Ratu untuk mengantarkan uang biaya operasi kang Ujang .
Keduanya lebih dulu menjemput Istri kang Ujang yang telah mendapatkan kabar keadaan kang Ujang sebelumnya . Setelah berkendara hampir dua jam mereka tiba di rumah sakit tempat mang Ujang di rawat satu jam kemudian . Lilis segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran agar operasi segera di laksanakan , sementara Anto mengajak istri kang Ujang untuk menemui mang Karman yang tengah menunggui mang Ujang di ruang IGD .
Tak butuh waktu lama bagi Anto dan istri kang Ujang untuk menemukan mang Karman yang tengah menunggui kang Ujang bersama dengan mandor Kardi . Istri mang Ujang tak kuasa menahan kesedihannya , wanita itu menangisi suaminya yang masih tak sadarkan diri dan akan menjalani operasi .
Sementara mang Karman hanya terpaku sambil menatap Anto ,selama ini mereka memang belum pernah bertatap muka langsung dengan pemuda tersebut . Sementara mandor Kardi berusaha menenangkan Istri kang Ujang .
Setengah jam kemudian Lilis datang di temani Beberapa perawat , dan seorang dokter . Dokter yang bersama Lilis menjelaskan proses operasi yang akan dijalani oleh kang Ujang kepada mandor Kardi dan mang Karman .
Setelah semua persiapan dan administrasi untuk melakukan operasi siap mang Ujang kemudian dibawa ke ruang operasi . Lilis menghampiri mang Karman yang tengah duduk sambil menatap Anto tak berkedip .
" Mang Lilis harus pulang sekarang , takutnya terjadi sesuatu kepada Cecep Dan Lilis tidak ada sana " ucap Lilis sambil menatap heran wajah mang Karman yang terlihat tengah memikirkan sesuatu .
" Ada apa mang ? " Lilis menatap ke arah pandangan mang Karman .
" Jadi dia yang bernama Anto ? " Tanya Mang karman .
" Iya kenapa ? " Lilis heran dengan sikap mang Karman .
" Katamu dia itu...."
" Saudara jauh Pak Wira Dia berasal dari Jawa " jawab Lilis memotong kalimat mang Karman Seraya duduk di samping mang Karman .
" Kamu yakin ? " Mang Karman menatap Lilis dengan serius .
" Begitu menurut pengakuan mereka , memangnya ada apa ? " Tanya Lilis ingin tahu .
" Tidak ada apa-apa , sampaikan pada istriku tentang semua kejadian hari ini . Aku akan pulang setelah keadaan Mang Ujang stabil " mang Karman berjalan menuju ke arah Anto yang tengah duduk di samping mandor Kardi dan istri kang Ujang .
" Dari mana asal mu anak muda ? " Tanya mang Karman setelah menatap Anto sesaat .
" Saya dari Malang " jawab Anto sopan .
" Kalau ada waktu datanglah ke rumah untuk bertemu dengan saya , kita tidak pernah berjumpa kan ? " Mang Karman menatap wajah Anto seksama .
" Iya pak terima kasih banyak , saya akan berkunjung Setelah semuanya selesai " Anto menjawab dengan sopan .
" Ayo mas Anto kita harus pulang , saya takut kita kemalaman di jalan " ucapan Lilis membuat keduanya memalingkan pandangan , setelah saling pandang untuk beberapa saat .
Anto segera beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada mang karma untuk kembali ke kampung . Lilis dan Anto pun pergi meninggalkan tempat itu diiringi pandangan mata mang karman yang nampak menggelengkan kepalanya sambil menatap kepergian keduanya .
" Apa mungkin ? " gumam mang Karman .
Lelaki setengah baya itu masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat . Meski sudah cukup lama ia masih dapat mengenal dengan jelas wajah yang baru saja ia jumpai . Wajah seseorang yang sempat membuat Eyang Saka marah karena orang itu telah lancang mendekati cucunya yang sangat ia lindungi .
" Apa mungkin yang eyang katakan waktu itu bisa terjadi ? . Bagaimana jika non Dila bertemu dengannya ? , Apa dia benar benar bangkit dari kematian ? " Bisik hati mang Karman .
" Aku harus bertemu dengan dia lagi , untuk memastikan semuanya " gumam mang Karman .
" Bertemu siapa pak ? " Tanya mandor Kardi yang sedari tadi memperhatikan atasannya .
" Oh...ehm....tidak bukan siapa siapa " jawab mang Karman . Suasana kembali hening , di depan ruangan operasi itu .
Mang Karman terdiam , ia tidak menyangka akan menemukan kejutan yang tak terduga di penghujung hari yang melelahkan ini .
__ADS_1