Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
83 . kejutan di hari yang melelahkan


__ADS_3

Setelah menebus obat untuk dirinya dan Cecep , Lilis berjalan ke bagian administrasi untuk menanyakan keadaan mang Ujang dan mang Karman . Kerena Lilis tidak melihat mereka sejak masuk ke puskesmas .


Dari informasi yang ia dapatkan , ia tahu kang Ujang di rujuk ke Rumah sakit karena patah tulang , sementara mang Kardi yang hanya menderita luka ringan menemani kang Ujang ke ke Rumah Sakit di Pelabuhan Ratu .


Setelah mengetahui keberadaan mang Karman , Lilis ingin segera menghubungi Mang Karman , namun ia baru menyadari sejak tadi dirinya tidak memegang ponsel ataupun dompet .


Lilis segera berlari menuju halaman puskesmas , lalu memeriksa mobil yang ternyata juga tidak terkunci , iapun segera memeriksa mobil , namun ia tidak menemukan handphone miliknya , beruntung tas tangan miliknya masih tergeletak rapi di kursi depan .


" Apa yang kau cari ? " Sebuah suara membuat Lilis sempat terkejut .


Lilis membalikkan tubuhnya , di lihatnya Anto tengah berdiri sambil menatapnya . Lengannya terlihat telah terbalut perban .


" Aku mencari handphone , tapi tidak ada di mobil " jawab Lilis .


" Benarkah ? , Sudah mencarinya ? " Tanya Anto meyakinkan .


Lilis mengangguk pelan .


" Sedang Apa mas Anto di sini ? ' tanya Lilis sambil menutup pintu mobil .


" Tadi aku melihatmu keluar terburu buru " jawab Anto sambil melihat sekelilingnya .


" Aku akan menanyakannya ke tempat kecelakaan tadi , mungkin saja terjatuh disana dan di simpan oleh warga . boleh ku pinjam mobilnya ? " Tanya Anto sembari menatap Lilis .


" Oh..iya.." Lilis menyerahkan kunci mobil yang tadi ia ambil .


Anto membuka pintu mobil setelah mengucapkan terimakasih kepada Lilis .


" Tolong sampaikan pada om Wira , aku pulang untuk berganti pakaian " ucapnya sambil menghidupkan mesin mobil .


Lilis hanya mengangguk , ia menatap kepergian Anto yang mengendarai mobil berwarna hijau tua itu tanpa ekspresi . Pikirannya melayang entah kemana ,. Memikirkan kejadian yang menimpanya hari ini .


☀️☀️☀️☀️☀️


" Anto...apa yang kamu cari ? " Sebuah suara membuat Anto yang tengah fokus mencari sesuatu di area sawah tempat Mobil yang di kendarai Lilis berhenti .


" Apa ada yang menemukan handphone di area ini tadi Bu ? " Tanya Anto sopan pada ibu Suryana , pemilik sawah yang menghampirinya .


" Oh... telepon ,memangnya punya siapa ? " Tanya ibu Suryana .


" Punya teh Lilis Bu , apa ibu melihatnya ? " Tanya Anto .


Bu Suryana menggelengkan kepalanya .


" Mungkin sudah di ambil orang , tadi kan banyak orang . Bagaimana kabar Cecep ? " Tanya Bu Suryana sambil membantu Anto mencari handphone milik Lilis .


" Sudah di tangani dokter , dia akan baik baik saja " jawab Anto singkat .


" Oh...semoga saja cepat sembuh , orang tua Cecep gimana ? , Sudah tahu belum ? " I


" Belum Bu , Teleponnya belum bisa di hubungi " jawab Anto sambil menarik nafas panjang .


" Ya sudah Bu , saya pulang dulu , mau ganti baju " ucap Anto yang memutuskan untuk menyudahi percariannya .


" Iya..hati hati di jalan nak .." ucap Bu Suryana sambil tersenyum ramah .


Anto berjalan cepat menuju mobil , pemuda itu bergegas menuju pondok miliknya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian .


Saat ia Sedang fokus mengemudi , tiba tiba terdengar bunyi handphone . Anto segera menepikan kendaraannya , dan mencari sumber suara . Hingga suara telepon berhenti , Anto tak berhasil menemukannya . Namun pemuda itu tidak menyerah , ia mencari handphone tersebut dan berhasil menemukannya di bawah kursi kemudi Beberapa saat kemudian .


Anto meletakkan handphone milik Lilis di dashboard mobil dan kembali mengendarai mobil tersebut menuju pondoknya .


Anto bergegas menuju ke sungai kecil yang berada di belakang pondok , pemuda itu mencuci wajahnya dengan air sungai yang hangat karena matahari siang yang terik . Ia juga membersihkan lengannya , dan membuka kaos dalam yang melekat di tubuhnya .

__ADS_1


Anto tertegun sesat , Ia berusaha mengingat ingat nama dan peristiwa yang sempat terlintas di ingatannya saat menatap wajah dokter muda bernama Aisyah yang telah mengobati lukanya . namun kilasan peristiwa yang mampu ia ingat tidak bertambah , hanya ingatan di mana ia melihat sang dokter duduk tengah duduk sambil menangis .


Setelah berganti pakaian , Anto kembali ke puskesmas , di tengah perjalanan kembali berulang kali handphone Lilis berdering . Anto mengabaikan panggilan tersebut hingga dering telepon berakhir , setengah jam kemudian ia telah sampai di puskesmas . pemuda itu bergegas menuju ruang rawat inap , namun tempat itu di kunjungi oleh banyak orang yang tengah menjenguk Cecep . selain itu orang tua Cecep telah tiba dari kampung sebelah . Anto memilih untuk mencari Lilis yang tidak terlihat di ruangan itu .


" yang namanya musibah kita tidak bisa menduga , asal teh Lilis bersedia membiayai semua pengobatannya , kami tidak akan pernah membawa masalah ini ke ranah hukum " suara seorang lelaki yang terdengar di balik tembok membuat Anto menghentikan langkahnya .


" saya akan bertanggung jawab penuh atas pengobatan Cecep hingga dia benar benar sembuh " terdengar Suara Lilis sesaat kemudian .


" Jika begitu tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan lagi bukan , kita anggap semuanya sudah selesai " Suara pak Wira terdengar sesaat kemudian .


" Terima kasih atas pengertiannya mang " Terdengar suara Lilis sesaat kemudian .


" kami juga mengucapkan terimakasih karena neng Lilis mau bertanggung Jawab , Kita sudah bisa kembali sekarang ? " Terdengar suara pak Wira yang di jawab oleh Lilis dan suara seorang lelaki yang ia duga adalah om Dikin ayah Cecep .


" Oh kamu sudah datang To ? " Pak Wira menyapa Anto begitu muncul dari balik tembok . Anto hanya mengangguk .


" Ayo Kita ngopi dulu , Om kok mengantuk " Ajak Pak Wira


" Om duluan saja , nanti saya menyusul " jawab Anto sambil menatap wajah Lilis yang berjalan paling belakang .


Kedua pria setengah baya di hadapannya hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti ,. Keduanya segera meninggalkan Anto dan Lilis .


" Mas Anto terlihat segar " ucap Lilis setelah keduanya tinggal berdua .


" Kamu juga harus pulang , bukankah semua urusan sudah selesai " ucap Anto sambil tersenyum pada Lilis .


Lilis hanya tersenyum mendengar Jawaban Anto .


" Emh...ini handphone kamu " Anto menyerahkan handphone yang ia ambil dari saku celananya .


" Oh ! terimakasih , dari mana mas Anto mendapatkannya ? " Wajah Lilis terlihat lega .


" Ada di bawah kursi , sepertinya banyak telepon masuk dari tadi " ucap Anto sambil berjalan menuju sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat mereka berbincang bincang , Lilis mengikuti langkah Anto mereka berdua duduk di kursi tersebut bersama .


" Halo..."


" Kau kemana saja..." Mang Karman memotong kalimat Lilis .


" Lilis mengalami kecelakaan mang " jawab Lilis dengan berat .


" Apa.., kau tidak apa apa ? " Tanya mang Karman setelah terdiam sesaat .


" Aku baik baik saja , hanya saja orang yang aku menyerempet anak Bu Ratna , dia terluka dan harus di rawat di puskesmas " jawab Lilis pelan .


" Oh..." Terdengar Karman menghela nafas panjang .


" Dengarkan aku baik baik , aku baru mendapatkan kabar dari ibumu.., tuan Gunawan meninggal dunia pagi ini , dan..si Ujang harus di operasi , keadaannya tidak baik tulang bahunya patah , dan tadi di tengah perjalanan dia tidak sadarkan diri , dokter bilang ada pendarahan dalam di kepalanya " ucapan mang Karman membuat tubuh Lilis lemas seketika . Ia tak mampu mengatakan apapun .


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un " hanya itu yang mampu ia ucapkan setelah terdiam beberapa saat .


" Kita tidak mungkin ke Bandung untuk saat ini , aku akan mengatakan keadaan di sini pada ibumu . Dan untuk operasi Ujang , apakah kau punya dana untuk itu ? , Untuk saat ini kita tidak bisa bertanya lebih dulu pada Dila " tanya mang Karman setelah terdiam beberapa saat .


" Berapa yang mamang butuhkan ? " Tanya Lilis .


" Rumah sakit meminta deposit sebesar 50 juta " jawab mang Karman . Lilis terdiam mendengar Jawa mang Karman .


" Baiklah nanti ku antar " Lilis menyudahi percakapannya setelah membahas beberapa hal .


Lilis terdiam sambil menatap layar handphonenya . Entah mimpi apa ia semalam hingga hari ini ia mengalami hari yang sangat buruk .


Sementara Anto yang duduk di sampingnya juga tengah terdiam sambil memandang ranting pepohonan yang bergoyang goyang di tiup angin sepoi sepoi . Ia enggan untuk memulai percakapan dengan wanita di sampingnya . Keduanya saling membisu untuk waktu yang lama , hingga Lilis membuka percakapan .


" Hidup ini memang sebuah misteri , kemarin semua terasa begitu tenang , hari ini tiba tiba banyak hal menyedihkan terjadi . Kita bahkan tidak menduga akan datangnya sebuah kematian " ucapan Lilis membuat Anto tertegun , kata kata Lilis barusan terdengar tak asing di telinganya .

__ADS_1


" Kenapa ? " Tanya Lilis yang mendapati Anto menatapnya sambil mengernyit .


" Ucapanmu barusan , aku seperti pernah mendengarnya " jawab Anto sambil mengalihkan pandangannya .


" Seseorang sering mengatakan hal itu saat ingin mencoba sesuatu " jawab Lilis dengan santai .


Anto terdiam sambil menatap wajah Lilis . Keduanya kembali terdiam hingga Lilis mengajukan permintaan tolong padanya untuk mengantarkan dirinya ke pelabuhan Ratu .


Setelah berpamitan pada Kedua orang tua Cecep kedua meninggalkan puskesmas dan menuju pelabuhan Ratu untuk mengantarkan uang biaya operasi kang Ujang .


Keduanya lebih dulu menjemput Istri kang Ujang yang telah mendapatkan kabar keadaan kang Ujang sebelumnya . Setelah berkendara hampir dua jam mereka tiba di rumah sakit tempat mang Ujang di rawat satu jam kemudian . Lilis segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran agar operasi segera di laksanakan , sementara Anto mengajak istri kang Ujang untuk menemui mang Karman yang tengah menunggui mang Ujang di ruang IGD .


Tak butuh waktu lama bagi Anto dan istri kang Ujang untuk menemukan mang Karman yang tengah menunggui kang Ujang bersama dengan mandor Kardi . Istri mang Ujang tak kuasa menahan kesedihannya , wanita itu menangisi suaminya yang masih tak sadarkan diri dan akan menjalani operasi .


Sementara mang Karman hanya terpaku sambil menatap Anto ,selama ini mereka memang belum pernah bertatap muka langsung dengan pemuda tersebut . Sementara mandor Kardi berusaha menenangkan Istri kang Ujang .


Setengah jam kemudian Lilis datang di temani Beberapa perawat , dan seorang dokter . Dokter yang bersama Lilis menjelaskan proses operasi yang akan dijalani oleh kang Ujang kepada mandor Kardi dan mang Karman .


Setelah semua persiapan dan administrasi untuk melakukan operasi siap mang Ujang kemudian dibawa ke ruang operasi . Lilis menghampiri mang Karman yang tengah duduk sambil menatap Anto tak berkedip .


" Mang Lilis harus pulang sekarang , takutnya terjadi sesuatu kepada Cecep Dan Lilis tidak ada sana " ucap Lilis sambil menatap heran wajah mang Karman yang terlihat tengah memikirkan sesuatu .


" Ada apa mang ? " Lilis menatap ke arah pandangan mang Karman .


" Jadi dia yang bernama Anto ? " Tanya Mang karman .


" Iya kenapa ? " Lilis heran dengan sikap mang Karman .


" Katamu dia itu...."


" Saudara jauh Pak Wira Dia berasal dari Jawa " jawab Lilis memotong kalimat mang Karman Seraya duduk di samping mang Karman .


" Kamu yakin ? " Mang Karman menatap Lilis dengan serius .


" Begitu menurut pengakuan mereka , memangnya ada apa ? " Tanya Lilis ingin tahu .


" Tidak ada apa-apa , sampaikan pada istriku tentang semua kejadian hari ini . Aku akan pulang setelah keadaan Mang Ujang stabil " mang Karman berjalan menuju ke arah Anto yang tengah duduk di samping mandor Kardi dan istri kang Ujang .


" Dari mana asal mu anak muda ? " Tanya mang Karman setelah menatap Anto sesaat .


" Saya dari Malang " jawab Anto sopan .


" Kalau ada waktu datanglah ke rumah untuk bertemu dengan saya , kita tidak pernah berjumpa kan ? " Mang Karman menatap wajah Anto seksama .


" Iya pak terima kasih banyak , saya akan berkunjung Setelah semuanya selesai " Anto menjawab dengan sopan .


" Ayo mas Anto kita harus pulang , saya takut kita kemalaman di jalan " ucapan Lilis membuat keduanya memalingkan pandangan , setelah saling pandang untuk beberapa saat .


Anto segera beranjak dari duduknya dan berpamitan kepada mang karma untuk kembali ke kampung . Lilis dan Anto pun pergi meninggalkan tempat itu diiringi pandangan mata mang karman yang nampak menggelengkan kepalanya sambil menatap kepergian keduanya .


" Apa mungkin ? " gumam mang Karman .


Lelaki setengah baya itu masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat . Meski sudah cukup lama ia masih dapat mengenal dengan jelas wajah yang baru saja ia jumpai . Wajah seseorang yang sempat membuat Eyang Saka marah karena orang itu telah lancang mendekati cucunya yang sangat ia lindungi .


" Apa mungkin yang eyang katakan waktu itu bisa terjadi ? . Bagaimana jika non Dila bertemu dengannya ? , Apa dia benar benar bangkit dari kematian ? " Bisik hati mang Karman .


" Aku harus bertemu dengan dia lagi , untuk memastikan semuanya " gumam mang Karman .


" Bertemu siapa pak ? " Tanya mandor Kardi yang sedari tadi memperhatikan atasannya .


" Oh...ehm....tidak bukan siapa siapa " jawab mang Karman . Suasana kembali hening , di depan ruangan operasi itu .


Mang Karman terdiam , ia tidak menyangka akan menemukan kejutan yang tak terduga di penghujung hari yang melelahkan ini .

__ADS_1


__ADS_2