
Jordi tiba di Hotel pukul dua malam . Ia duduk di balik kemudi dengan bingung , di sampingnya Dila masih tertidur dengan pulas .
" Ach...yang benar saja..." gumam Jordi sambil menatap Dila .
Jordi segera menelpon Adam .
" Ya Halo bos " suara parau khas bangun tidur terdengar di telepon .
" Di mana kamarku ? " Tanya Jordi tanpa basa basi .
" Di lantai tiga bos , aku menitipkan kunci pada resepsionis " Jawab Adam antara tidur dan sadar .
" Kamar no berapa ? ''
" Kamar no 69 " jawab Adam ,
" Aku tidur di kamar tepat depan kamarmu " lanjutnya
" Baguslah.. ambilkan kuncinya untukku , tunggu aku di depan kamar " perintah Jordi .
" A..apa ? " Tanya Adam bingung .
" Tunggu aku di depan kamarku , aku datang setengah jam lagi " ucap Jordi seraya menutup telponnya .
Jordi menggendong Dila sambil menuju lift hotel , setelah melewati lobby tanpa membalas sepatah katapun sambutan security yang kebetulan mengetahui siapa dirinya . Resepsionis dan beberapa pegawai hotel nampak berbisik bisik membicarakan dirinya . Jordi berusaha bersikap biasa . Hatinya mengumpati keputusannya untuk membawa Dila ke hotel , namun ia tidak mau tersesat karna mengemudi menuju kampung tempat gadis itu tinggal di tengah malam begini .
Adam terkejut melihat kedatangan atasannya yang membopong Dila layaknya bridal style , hanya saja pengantin wanitanya bak sleeping beauty .
" Jangan tanya..." Ucap Jordi melihat wajah heran Adam , ia meminta asistennya itu membukakan pintu kamarnya .
Adam mengikuti Jordi masuk , ia memperhatikan Jordi yang membaringkan wanita yang tidak di kenalnya itu ke ranjang .
Jordi meletakkan Dila pada posisi nyaman , lalu menyelimutinya .
" Bos...kamu tahu ini bisa jadi skandal , kalau kakekmu tahu bagaimana ? " Tanya Adam khawatir
" Siapa wanita ini ? " Tanya Adam sambil melihat wajah mungil di ranjang bosnya .
" Jangan khawatir kakek ku tidak akan marah..dia calon istri pilihan kakek ku " ucap Jordi sambil membuka bajunya . Ia bergegas mengambil kaos dan mengganti pakaiannya .
" Oh maksudmu dia..." Adam memandang keduanya bergantian .
" Apa kamu tadi terlibat kecelakaan dengan dia ?! " Tanya Adam mencoba menebak yang terjadi .
" Ah...aku mengantuk , aku mau tidur " Jordi tidak menghiraukan pertanyaan Adam seraya menuju kamar mandi .
" Apa kau akan sekamar dengan dia ? " Tanya Adam sambil mendekati kamar mandi .
Jordi keluar setelah membasuh muka dan menggosok giginya .
" Kau masih di sini ? " Tanya Jordi menyadari Adam masih berdiri di kamarnya .
" Apa kau akan tidur sekamar dengan dia ? " Tanya Adam lagi sambil menatap Jordi .
Ia hanya khawatir , kejadian ini akan menjadi skandal . Bagaimanapun Jordi adalah direktur perusahaan Jaya Group .
Adam adalah sahabat Jordi saat kuliah . Ayahnya yang juga bekerja sebagai accounting di perusahaan keluarga Prayoga mengalami kecelakaan saat pemuda itu masih SMP , ibunya hanya ibu rumah tangga biasa .
Saat itulah tuan Gunawan mengurus mereka . dia dan adik perempuannya mendapat dukungan finansial dari keluarga itu . Ibunya mendapatkan pekerjaan di rumah besar . Menjaga sang direktur untuk tidak melakukan hal yang akan berpengaruh pada perusahaan adalah salah satu tugas yang diberikan tuan Juan kepadanya .
" Sampai kapan kau akan di sini " tanya Jordi yang melihat Adam berdiri di kamarnya .
" Jangan khawatir , aku akan tidur di sofa " ucapnya melihat wajah khawatir Adam .
" Tetap saja..., Aku tidak bisa meninggalkan kalian " jawab Adam sambil mengikuti Jordi .
" Kau pikir aku ini lelaki hidung belang apa ? ,Tanya Jordi sewot .
" Bukan begitu..kamu tahu jika seorang lelaki berdua dua dengan seorang gadis , yang ketiga itu..
" Setan...aku tahu , " sahut Jordi cepat .
__ADS_1
" Makanya kau tidur di kamarku saja " bujuk Adam .
" Kau mau mati..., Kembali ke kamarmu sekarang " Jordi menatap tajam Adam . Dengan berat hati pemuda itu meninggalkan kamar Jordi .
Setelah Adam keluar Jordi segera merebahkan tubuhnya di sofa , karena lelah tak menunggu waktu lama baginya untuk terlelap .
*****
Ting tong .....
Ting tong .....
Ting tong......
Suara bel membuat Dila berjingkat dari tidurnya , gadis itu sedikit bingung menyadari ia tidak tidur di kamarnya . Dengan lesu ia bangkit dari ranjang dan menuju pintu setelah menebak apa yang terjadi , dilihatnya Jordi terlelap di sofa .
" Ya...." Dengan muka bantal Dila membuka pintu kamar . Di hadapannya tampak seorang lelaki setengah baya yang wajahnya tidak asing . Lelaki itu tampak marah ia menatap Dila dari ujung rambut sampai ujung kaki .
" Dila..." Ucap lelaki itu kemudian raut wajahnya berubah drastis .
" Ya..." Jawab Dila sungkan .
" Em...mana Jordi ? " Tanyanya kemudian .Dila membuka pintunya lebar lebar seraya mempersilahkan lelaki itu masuk .
" Siapa ?" Tanya Jordi yang baru bangun .
Ia terkejut begitu menyadari siapa yang datang ke arahnya yang masih berbaring di sofa . Dengan sigap ia segera berdiri .
Dila merasa heran dengan sikap Jordi yang berubah formal . Ia menutup pintu kamar seraya memandangi dua lelaki beda usia itu bergantian dengan wajah tanpa dosa .
Lelaki itu memandang sekeliling kamar sesaat lalu duduk di tepian ranjang .
" Kalian berdua tidur sekamar ? " Tanya lelaki setengah baya itu dengan wajah tegasnya .
" Pa...ini tidak seperti yang papa pikirkan " jawab Jordi dengan tenang .
" Papa " Dila berbisik pada diri sendiri . Gadis itu menutup mulutnya , memikirkan apa yang ada di kepala lelaki yang ternyata adalah ayah Jordi .
" Kalian duduklah.." ucapnya sambil memandang Dila dan Jordi bergantian .
Dila dengan hati hati mendekati Jordi yang berdiri di depan sofa , keduanya lalu duduk berdampingan di sofa itu .
" Kalian tahu dari mana aku mendengar kabar ini ? , Seluruh pegawai hotel ini membicarakan kalian . Di mana wibawa mu sebagai pemimpin ?! " Bentak Tuan Juan membuat Dila makin takut .
Seandainya ia adalah siput ia akan bersembunyi di dalam cangkangnya agar tidak menatap wajah tuan Juan yang nampak garang .
Keduanya hanya terdiam . Tuan Juan menarik nafas panjang .
" Maaf om.. sebenarnya Dila yang salah.."
" Tentu saja kau yang salah..kamu seorang gadis , kenapa begitu bodoh sehingga seorang pria harus menggendongmu ke kamar hotel ! " Bentak Tuan Juan memotong ucapan Dila .
" Dila..kakek dan ayahmu pria terhormat , banyak orang yang mengenal beliau , tapi baru saja beberapa hari beliau meninggal kamu sudah membuat ulah seperti..
" Hu..u..." Suara tangis Dila yang tiba tiba membuat tuan Juan menghentikan amarahnya . lelaki itu terkejut dengan reaksi Dila .
" Hu..hu..hu..." Dila masih saja menangis , membuat tuan Juan menjadi bingung . Perlahan ia mendekati gadis itu sambil membawa sekotak tissue .
Tuan Juan duduk di hadapan mereka , lantas memberi Dila selembar tissue . Ia menyuruh gadis itu untuk duduk .
Setelah beberapa saat akhirnya tangis Dila reda , nafasnya tersengal sengal .
Tuan Juan memijit mijit kepalanya , sementara Jordi nampak menahan tawa melihat ekspresi wajah ayahnya yang kebingungan . Gadis di sampingnya sungguh luar biasa , Ia bisa membuat Juanda Prayoga yang selalu tenang dan berwibawa tampak seperti orang bodoh .
" Dila...om tidak marah padamu , om hanya merasa khawatir , kamu tahu maksud om baik bukan ? " Tuan Juan berkata lembut pada Dila .
" Dila tahu Dila salah..." Jawab Dila sambil terisak seperti anak kecil .
Tuan Juan menarik nafas dalam , ia berdiri dari duduknya .
" Eh.... bersiap siaplah om akan menyuruh orang mengantar kamu " ucapnya sambil melangkah.
__ADS_1
" Jo sudah janji akan mengantarnya pulang pagi ini pada Mak Asih " Jordi menyahut cepat .
" Terserahlah...., Kita bica lagi nanti , hubungi ayah setelah kau mengantar dia pulang " tuan Juan melangkah pergi meninggalkan kamar itu sambil menarik nafas berat .
Dila masih terdiam di kursinya . Jordi melangkah dengan santai menuju kamar mandi .
" Jadi aku dulu yang mandi atau kau dulu ? , atau kita mandi bareng ? " Tanya Jordi menggoda Dila yang masih duduk termenung.
Dila menatap sinis ke arahnya , hidungnya yang kecil kembang kempis menahan kesal .
" Kau....!! , Bisa bisanya kau membawaku ke sini ! " Bentak Dila membuat Jordi berjingkat karna kaget . Suara gadis itu sangat kuat seperti petir yang menggelegar .
" Kau menyalahkan aku..?! " Jawab Jordi kesal .
" Tentu saja ...!? , kau bisa tidur di kamar lain ! " Bentak Dila .
" Memangnya ini rumah ? , Apa kau selalu seperti itu tidur sembarangan di semua tempat ? " Jordi mendekatinya .
" Atau...kau sengaja ? ' ucapnya sembari mendekatkan wajahnya pada gadis itu .
Plak !!
Sebuah pukulan mendarat di kepalanya . Jordi meringis menahan sakit di tengkuknya , ia ingin marah namun Dila menatap tajam dirinya dengan mata bulatnya yang indah . Mereka beradu pandang beberapa saat . Jordi memalingkan wajahnya seraya pergi ke kamar mandi dengan kesal .
" Dasar mesum!!" Umpatan Dila masih terdengar olehnya . Lelaki itu menertawai dirinya sendiri seraya melepaskan pakaiannya .
" Bagaimana bisa aku jadi dekat dengan gadis sepertinya " Jordi bergumam sambil mengguyur tubuhnya dengan air hangat dari shower .
Belum ada seorang pun yang pernah memukulinya , namun ntah kenapa ia tidak bisa murka pada gadis itu .
Dila duduk di sofa sambil menahan kesal .
Ada rasa bersalah yang menyelimuti hatinya . Melihat kemarahan tuan Juan membuat ia teringat pada sang ayah . Sudah lama tidak ada yang marah padanya , moment itu meski menakutkan membuatnya merasa senang sekaligus sedih .
kakeknya selalu memanjakan dirinya selama ini .gadis itu seakan bernostalgia dengan masa kecilnya yang sering di marahi sang ayah . Meski sang ayah hanya pulang sesekali dari tugas , namun lelaki itu tidak pernah memanjakan dirinya seperti sang kakek , itulah sebabnya ia lebih dekat dengan kakeknya .
" Dila kau masih di sana ? " suara Jordi memecahkan lamunannya .
" Ya kenapa ? " Tanya Dila dengan nada kesal
" Aku lupa membawa baju ke kamar mandi " ucap Jordi sembari membuka kamar mandinya , Dila melihat Jordi hanya mengenakan handuk keluar dari kamar mandi .
" Kau....dasar mesum..!! " Teriak Dila seraya berlari keluar dari kamar hotel , Jordi tertawa melihat reaksi gadis itu .
" Dila membanting pintu kamar dengan kesal , gadis itu berdiri di balik pintu .
" Kanapa jantungku ...Ach...aku ingin mati " ucapnya seraya terduduk di lantai . Walaupun sekilas ia bisa melihat kulit mulus Jordi dan tubuhnya yang atletis . Dila menggeleng gelengkan kepalanya mencoba menghapus bayangan tubuh Jordi dari kepalanya .
Dua orang petugas hotel lewat di depannya sambil berbisik bisik .
" Iya .. mereka tidur sekamar " ucap seorang pegawai wanita yang berambut ikal .
" Benarkah...apakah anak tuan Juan bersekolah di luar negri , kok gaya hidupnya bebas gitu ya " sahut temannya .
Kedua pegawai itu tengah memegang ponsel sambil membicarakan keduanya tanpa mengetahui jika yang di bicarakan ada di dekatnya . Dila menutup telinganya mencoba untuk tidak mendengarkan percakapan itu .
Jordi membuka pintu kamar setelah berpakaian rapi , ia terkejut melihat wajah Dila yang nampak kusut seperti zombie berdiri tepat di depan pintu .
" Ada apa denganmu ? " Tanya Jordi heran , Dila tidak menjawab , gadis itu berjalan sambil menundukkan wajahnya .
" Aku ingin mati..." Dila mengeluh dengan lesu .Jordi tertawa mendengarnya .
" Cepatlah mandi..aku akan menunggu di restoran hotel , setelah sarapan ku antar kau pulang " ucap Jordi sambil menatap Dila yang duduk di sofa dengan malas .
" Bisakah kita langsung pulang saja ? " Tanya Dila dengan nada memohon .
" Kalian menjamuku dengan baik di rumahmu , ini hotel keluarga kami , sudah kewajibanku membalas kebaikan kalian " ucap Jordi sambil tersenyum .
" Bisakah kalian tidak menganggap kebaikan sebagai hutang , aku malu sekali " keluh Dila seraya beranjak ke kamar mandi .
Jordi terdiam di tempatnya mendengar kata kata Dila barusan . Lelaki itu menulis sebuah nota lalu melangkah keluar dari kamarnya .
__ADS_1