
Jordi terkejut saat merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya .
Ia mendongakkan kepalanya dan menyadari ia tertidur di dekat Dila .wajah gadis itu berada tepat di hadapannya .
Jordi buru buru bangun , ia mengusap wajahnya . di pandangnya Dila yang juga tengah memandangi wajahnya .
" Kenapa ? " Tanya Jordi heran melihat tatapan Dila yang berbeda dari biasanya .
" Wajahmu... sepertinya tidak asing " jawab Dila pelan .
" Tentu saja , kita sudah sering bertemu " jawab Jordi sambil tersenyum .
" Ah... kenapa aku harus tersenyum mendengar kata katanya " ucapnya dalam hati .
" Bukan... bahkan jika ku ingat ingat wajah kakek juga tidak asing buatku " Dila mengernyitkan keningnya mencoba mengingat sesuatu .
" Apa kau mau bilang kau seperti pernah mengenalku ? " Jordi memandang wajah Dila yang sudah terlihat segar .
" Bukan...kau mirip sese..." Dila tak melanjutkan kalimatnya , ia menatap Jordi dengan tatapan yang tak bisa ia artikan .
" Siapa ? " Tanya Jordi
" Ha..? " Dila melongo
" Siapa orang yang mirip denganku ? " Jordi mencoba menebak apa yang ingin di katakan gadis itu dengan sebuah pertanyaan .
" Tidak....bukan siapa siapa " jawab Dila sambil mengalihkan pandangannya .
" Terimakasih .." Gumam Dila beberapa saat kemudian , membuat Jordi menatapnya .
" Terimakasih sudah menolong dan merawatku , bisakah kita pergi ? , Rumah sakit membuat aku tidak nyaman " ucap Dila dengan tatapan sendihnya .
Jordi melihat infus yang tergantung di pinggir ranjang . Infus itu sudah hampir habis .
" Kau boleh pulang setelah itu habis " ucapnya kemudian , Dila mengikuti jari telunjuk Jordi dengan matanya , gadis itu kemudian berusaha duduk , Jordi menatapnya sambil melipat tangannya di depan dada .
" Berapa lama aku tidur ? , Apa kau sudah mengabari Mak Asih ? " Tanya gadis itu dengan suara lembutnya .
Jordi melihat arloji di lengannya . Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam .
" Sekitar tujuh jam.., " jawabnya singkat .
" Jangan khawatir , aku sudah mengabari mereka dan juga membawa mobil eyang ke bengkel ." Lanjutnya sesaat kemudian .
" Kau tunggulah di sini , aku akan mengurus administrasi " ucap Jordi sambil melangkah meninggalkan Dila . Gadis itu menatap punggungnya saat ia melangkah pergi .
" Tidak mungkin...., Kenapa dia harus mirip bedebah itu " gumam Dila seraya menarik nafas panjang . Sebenarnya Dila sudah lama bangun dari tidurnya , ia terkejut saat melihat kepala Jordi tepat berada di hadapannya . Lama gadis itu memperhatikan wajah Jordi , saat itu ia sadar wajah pria itu mirip dengan seseorang . Seseorang yang ingin ia lupakan , namun tidak mudah untuk Dila lupakan .
" Bagaimana keadaannya nona Dila ? , Sudah merasa lebih baik ? " Tanya seorang dokter membuat Lamunan Dila buyar .
" Oh..ya dokter " jawabnya singkat karena terkejut .
" Infusnya sudah habis , jadi boleh pulang . Jangan lupa istirahat yang cukup , dan juga jangan terlalu stres " ucap sang dokter sambil membuka jarum yang menempel di tangannya .
" Vitamin dan obatnya jangan lupa di minum " sang dokter kembali mengingatkan setelah selesai dengan pekerjaannya .
" Ya... terimakasih " jawab Dila singkat .
" Pacar anda akan kembali kesini setelah selesai administrasi " ucap sang perawat yang membantu dokter tersebut .
" Pacar..? " Dila menatap perawat itu dengan kening berkerut.
__ADS_1
" O..oh..ya " Dila tak mau berkomentar dengan pendapat salah perawat itu .
" Kami permisi nona , semoga lekas sehat , anda boleh langsung pulang begitu tuan Jordi datang . Jangan lupa tidur yang cukup " nasehat sang dokter sebelum meninggalkan Dila seorang diri di ruang rawat sementara .
Setelah menunggu setengah jam , Jordi kembali ke ruangan itu dengan membawa sebungkus plastik berisi obat . keduanya kemudian meninggalkan rumah sakit , Jordi mencoba memapah gadis itu , tapi di tolak oleh Dila .
Jordi Membukakan pintu mobil untuk Dila , kemudian segera menutupinya . Seseorang datang menghampiri Jordi yang tengah berjalan memutari mobil .
" Pak Jordi.." panggilnya .
Jordi melihat sekilas ke orang tersebut , tapi sepertinya ia tidak begitu mengenal orang itu .
" Saya...Imam pak , e... calon manager swalayan " pria itu mengenalkan diri .
" Oh...ya , maaf tadi saya ada urusan pribadi " ucap Jordi sambil tersenyum ramah .
" Iya .., pak Adam sudah cerita . Beliau menitipkan ini , takut anda tidak sempat " lelaki itu menyerahkan sebuah bingkisan .
" Oh terimakasih , saya duluan ya " ucapnya setelah menerima bingkisan makan malam dan buah buahan dari lelaki tersebut .
" Ya pak..silahkan " ucap pak Imam sambil membungkuk . Jordi melangkah memasuki mobilnya . Pria itu segera menstarter mobil dan melajukan mobilnya dengan tenang.
" Jadi kau di campakkan .." ucap Dila membuat Jordi menoleh ke arahnya .
" Apa...? " Tanya Jordi tak mengerti . Dila memonyongkan bibirnya kearah dashboard mobil , Jordi melihat undangan pernikahan Clarisa tergeletak di sana .
" Tidak sengaja , tadi ada di kursi ini " ucap Dila sambil menatapnya .
" Oh..itu teman kuliah " Jordi berbohong .
" Ya...teman kuliah yang fotonya menjadi wallpaper di handphonemu " ucap Dila sambil tersenyum .
" Diamlah...., Aku tidak tahu jalan ke rumahmu , jadi beritahu aku jika harus berbelok " Jordi berkata dengan ketus .
" Aku tidak ingin pulang , bisakah kau membawaku ke tempat lain..., Rumah itu membuat dadaku terasa sesak " ucap gadis itu sejurus kemudian .
Jordi memandang Dila sesaat , entahlah hatinya terasa sesak mendengar kata kata gadis itu .
" Baiklah...tapi jangan menangis di dekatku lagi , aku tidak mau bajuku kotor karna ingusmu lagi " ucap Jordi membuat Dila tertawa .
Pemuda itu memutar mobilnya menuju pantai karang sari .
*****
Suara ombak malam terdengar bergemuruh . Angin malam yang dingin menusuk tulang bertiup dengan kencang . Suasana temaram menyelimuti malam di pantai karang sari .
Jordi duduk di kursi kayu , sambil memandang ke arah laut .
Dila duduk di sampingnya dalam diam . Keduanya sudah beberapa menit terdiam seperti itu .
Dila nampak menghela nafas dalam , gadis itu itu memegangi jaket Jordi yang di berikan padanya .
" Aku selalu di tinggalkan..." Ucap Dila sembari menatap jauh ke lautan . Jordi menoleh ke arahnya .
" Ayahku meninggal saat aku berusia dua belas tahun , ibuku menyusul dua tahun setelahnya . Lelaki yang aku cintai lebih memilih impiannya dari pada diriku . Hanya eyang yang paling setia , tapi Tuhan lebih menyayanginya " ucap Dila seraya tertawa datar .
" Kau punya kekasih ? " Tanya Jordi mendengar perkataan Dila .
" Aku juga di campakkan " ucap Dila sembari menatap Jordi dengan wajah polosnya .
" Dia menikahi gadis lain ? " Tanya Jordi penasaran .
__ADS_1
" Tidak..., " Jawab Dila singkat .
Jordi terdiam . Di lihat dari wajahnya yang bisa di bilang cantik , memang mustahil Dila tidak pernah berpacaran . Tapi apakah eyang Saka tahu hal itu ? , Bukankah sebelumnya ia telah menerima lamaran kakeknya untuk Dila .
" Apa eyang tahu ? " Tanya Jordi , Dila memandang lelaki itu tak mengerti .
" Maksudku .., kalian sudah serius" taya Jordi .
" Kalau eyang tahu tentu ia sudah menghajarnya , aku berpacaran sembunyi sembunyi " Dila tersenyum sambil membetulkan anak rambutnya yang berkibar tertiup angin pantai .
" Kau...kenapa kau di campakkan ? " Tanya Dila .
" Aku yang mencampakkan dia " Jawab Jordi kembali berbohong .
" Betulkah..? , Itukah alasanmu mengebut tadi " ejek Dila .
" Kau tau...aku sangat cantik kalau berdandan , ajak aku ke pernikahan mantanmu itu " ucap Dila dengan percaya diri . Jordi menatap Dila sambil tertawa .
" Sesama orang yang di campakkan harus saling membantu " ucap Dila beberapa saat kemudian .
" Sudah ku bilang aku tidak di campakkan ! " sahut Jordi dengan suara tinggi .
" Eih...kita senasib , bagaimana kalau kita berteman ? " Tanya gadis itu polos tanpa menghiraukan protes darinya .ia mengulurkan tangannya , mengajak Jordi bersalaman .
" Lelaki dan perempuan tidak bisa berteman " jawab Jordi seraya menepis tangan Dila .
" Dasar sombong..." Gumam Dila seraya tertawa .
" Lelaki seperti apa yang kau sukai ? " Tanya Jordi mengalihkan pembicaraan .
" Pertanyaan itu hanya di ajukan oleh seorang teman " jawab Dila sambil tersenyum , entah kenapa senyum itu terlihat makin manis bagi Jordi .
" Baiklah ayo berteman " Jordi mengulurkan tangannya .
" Ah...kau mudah sekali berubah pendirian , pantas saja di campakkan " jawab Dila membuat Jordi geram . Ia tidak habis pikir gadis itu kini terlihat baik baik saja dan mulai banyak bicara , padahal tadi ia nampak murung .
Kedua insan itu memandang laut lepas di hadapan mereka .
" Apa kau suka melihat laut ? " Tanya Dila , Jordi tidak menjawabnya , ia hanya diam sambil memandang ke kejauhan .
" Aku benci laut..." Gumam Dila kemudian .
Jordi menoleh ke arahnya .
" Laut membuat aku merasa kesepian , suara angin dan ombaknya yang bising membuat aku ingin diam . diam membuat aku ingin menangis . Mulai hari ini aku berencana membenci laut " Dila berkata seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri .
Jordi tertawa mendengar ucapan gadis di sampingnya yang seperti anak kecil yang sedang berceloteh .
Ia memandang wajah Dila dalam , gadis itu nampak manis jika sedang berperilaku seperti itu .
" Jangan menatapku seperti itu..., Kau membuat aku teringat seseorang " ucap Dila tanpa menoleh ke arahnya . Jordi segera mengalihkan wajahnya ke tempat lain karna malu ketahuan sedang menatap gadis itu .
Keduanya terdiam , tenggelam dalam pikiran masing masing . Hanya suara laut yang terdengar .
Duk...
Kepala Dila tiba tiba bersandar di pundak Jordi , gadis itu tertidur di sampingnya . Jordi menghela nafas panjang .
" Gadis ini...bisa bisanya tertidur di tempat seperti ini ? " Bisiknya . Lelaki itu menyandarkan tubuhnya agar tidak terlalu tinggi dan Dila merasa nyaman .
Ia menatap bintang malam , entah kenapa ia kini lebih suka melihat bintang malam .
__ADS_1
Lama Jordi dalam posisi seperti itu , pundaknya terasa kaku dan mulai kesemutan . Ia menepuk pundak Dila , namun gadis itu masih saja tertidur . Jordi menarik nafas panjang , ia memutuskan untuk menggendong Dila menuju mobilnya .