Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
67. Terserah Pemilik Hati


__ADS_3

Tania berjalan dengan gontai menelusuri jalanan menuju kampus . pepohonan yang rindang di sisi jalan dan suasana mendung kota bandung tidak membuat hatinya yang gerah karena mendengar percakapan nyonya Irma dan Dila di Rumah Sakit tadi pagi mendingin .


Meski telah berkali-kali mencoba merelakan Dila untuk menjadi kekasih orang lain , namun entah kenapa hati ya tak tidak bisa ikhlas .


Baginya Dila sudah sangat sempurna untuk menjadi kakak ipar pilihannya . Cantik , baik dan berhati lembut . dan juga bersama dengan Dila ia merasa sangat nyaman . karena Dila selalu menjadi teman curhat yang istimewa sekaligus pendengar setia tanpa pernah menghakimi ataupun memarahinya dirinya .


Karenanya mendengar mama berkata sedemikian rupa agar Dila bisa melupakan sang kakak dan memulai lembaran baru dengan pria lain membuat hatinya perih .


Di hati yang paling dalam ia masih berharap ada keajaiban yang membuat Jidan kembali . Karena sama seperti yang pernah Dila katakan , kakaknya tak pernah ingkar janji .


Rasa cemburunya bukan tanpa alasan , ia nyata nyata melihat Jordi begitu dekat dengan Dila , bahkan kini Dila juga terlihat nyaman dengan Jordi .


" Eh.. melamun terus " sebuah tepukan di pundak di barengi dengan sebuah suara yang sepertinya ia kenal membuat lamunannya buyar .


" Kak Bima ..." Ucapnya begitu mendapati Pria seumuran dengan sang kakak berdiri di belakangnya ,


Abimayu yang lebih akrab di panggil Bima , seorang anggota TNI yang juga merupakan sahabat sang kakak bahkan ketika masih duduk di SMU , tersenyum sambil menatap dirinya .


mengenakan Celana loreng khas anggota TNI , memakai kaos Biru Navi yang pas di badannya yang atletis membuat pria itu terlihat gagah dan tampan . membuat beberapa mata mahasiswi yang berada di sekitarnya mau tak mau menatap ke arahnya .


" Di panggil dari sejak di gerbang gak dengar juga " gumam Bima sambil menatapnya dengan tersenyum .


" Oh,,maaf Nia nggak dengar . kak Bima apa kabar ? " Tania bertanya sambil tersipu .


" Baik..., Nia apa kabar ? " Bima balik bertanya sambil berjalan pelan di samping gadis itu .


" Baik...." jawab Tania sambil kembali berjalan . keduanya berjalan beriringan menuju kampus .


" Kakak ngapain Ke sini ? " Tanya Tania .


" aku ingin mencari Dila , Dia kuliah di sini bukan ? " Bima berucap sambil menatap sekelilingnya .


" Oh.. ka Dila sedang sakit , sekarang tengah di rawat di Rumah Sakit " Jawab Tania dengan wajah sedih .


" Sakit ? , Sakit apa ? " Tanya Bima dengan wajah terkejut .


" Batu empedu .., Sudah dua hari ini di Rawat di Rumah Sakit Harapan " Cerita Tania .


" Oh....., Duduk Di sana dulu yuk ! " ajak Bima sambil menunjuk sebuah Kursi di bawah pohon Rindang , dan Tania mengangguk menyetujuinya .


" mama apa kabar ? " Tanya Bima setelah keduanya duduk dengan sempurna di tempat yang teduh itu .


" baik.. sekarang lebih banyak menyibukkan waktu dengan mengurusi tanaman dan memasak aneka kue , Supaya tidak teringat terus sama a' Jidan " jawab Tania sambil membetulkan anak rambutnya yang tertiup angin semilir .


" oh...Kalau papa ? " tanya Bima kemudian .


" Papa ya biasa sibuk dengan kerjaannya , seakan semua baik baik saja " Jawab Tania tanpa semangat .


" Tidak ada berita apa apa di keluarga Nia ? " Tanya Bima Lagi ,


" Apa ? " Tanya Nia yang justru bingung .


Bima terdiam . tujuan sebenarnya adalah ingin mengetahui tentang informasi yang ia dapat dari Jordi dan juga seorang rekan yang mengatakan bahwa Tuan Aditya menggali kembali kasus kecelakaan Jidan , namun sepertinya keluarga itu justru tenang tenang saja . ia pun mengurungka niatnya .


" ya apa saja lah..keluarga kalian kan sering punya sensasi yang aneh aneh " jawab Bima sambil tertawa .


" Memangnya keluarga selebrity " Ucap Nia sambil merengut .


Bima tergelak melihat wajah Tania . gadis itu memang mudah sekali marah dan merajuk .


" Kak Bim...." gumamTania kemudian .


" Hem.." Bima menatap Tania yang terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu ,


" Ada apa ? " Tanya Bima beberapa saat kemudian karena Nia tak kunjung membuka mulut .


" Kalau kak Bim pergi jauh dalam waktu yang lama , lalu saat kembali mendapati wanita yang kakak Cintai sudah jadi kekasih orang lain , apa yang akan kakak lakukan ? " Tanya Nia dengan ragu .


" Tentang siapa ini ? " Bima mencoba menebak .


" Ya pastinya marah " lanjut Bima karena Nia hanya terdiam .


" bakal patah hati juga nggak sich..? " Tanya Nia lagi .

__ADS_1


" Ya pastilah kalau di khianati ya pasti patah hati " Jawab Bima dengan nada tinggi .


" Kan tentara hatinya sekuat baja " Sanggah Nia .


" tentara juga manusia " sahut Bima sambil tersenyum mendengar sanggahan Nia .


" apa Nia berniat selingkuh dari seseorang ? Emang udah punya pacar ? " Tanya Bima penasaran .


" Ini tentang kak Dila... , Nia benci sama kak Jordi , dia sepertinya terus menggoda kak Dila . kan kasian aa' kalau tiba tiba dia pulang kak Dila sudah jadi milik orang lain " sungut Nia , membuat Bima mengernyitkan kening .


" Terus terang Nia nggak percaya Aa' sudah tiada . Nia merasa Aa' Jidan masih ada di dunia ini , hanya saja ada sesuatu yang membuat ia tidak bisa kembali . perasaan Nia gak pernah salah kak Bim..." Ucap Tania kemudian .


" Mama dan Papa tahu tentang pendapat Nia ? " tanya Bima sambil menatap Tania yang tengah tertunduk .


Tania menggeleng pelan masih dengan wajah tertunduk gadis itu menghela nafas panjang .


" Nia tidak berani bilang apa apa , tapi Nia rasa kak Dila juga merasakan hal yang sama " Jawabnya sambil menatap Bima sesaat .


" Kak Bima sendiri Bagaimana ? " Tanya Nia kemudian .


" apa pendapat kakak penting ? , kami meyakini apa yang kami lihat " ucap Bima sambil melihat Arloji di lengannya .


" Sedang Sibuk ? " Tanya Tania yang melihat apa yang di lakukan Bima , tapi di jawab gelengan Bima .


" Nia....kadang yang kita yakini bukanlah hal yang sebenarnya , meski berharap untuk sebuah kebaikan , penerimaan akan sebuah takdir juga perlu . kita berdo'a jika memang Jidan masih selamat semoga ia menemukan jalan untuk pulang . namun hati kita juga harus menerima kenyataan pahit yang sudah kita dengar , keyakinan yang berlebihan kadang justru menutup mata kita akan sebuah kebenaran " Nasehat Bima membuat Tania menatap Pria itu dengan mata yang berkaca .


" Tidak baik membuat Dila terperangkap pada hal yang belum tentu benar , kakak rasa jika pun Dila telah bersama dengan seseorang jika itu bisa membuat Dila bahagia Jidan akan menerimanya dengan Ikhlas " ucap Bima kemudian dengan nada yang cukup bijaksana .


" Ish.... kenapa kakak malah berkata begitu " Gerutu Tania .


" Karena Dila berhak untuk bahagia , ada alasan di semua hal yang terjadi di kehidupa ini . mungkin....ini yang terbaik untuk semuanya . selama ini Jidan Juga hanya membuat Dila menunggu , dan bahkan saat semua belum pasti ia kembali meninggalkan Dila . kamu mau Dila terus terperangkap dalam kesendirian karena menanti Jidan yang belum tentu masih hidup " Jawab Bima yang sedikit banyak tahu cerita cinta sahabatnya itu .


" Tapi Nia rasa kak Jordi tidak benar benar mencintai kak Dila ..." Jawab Nia sewot .


" Kenapa kamu berpikir begitu ? " Tanya Bima .


" sebenarnya ada Wasiat dari kakek yang Nia tidak yakin apakah kak Jidan Tahu " Jawab Nia dengan suara seperti sebuah gumaman .


" kakek akan memberikan sahamnya di perusahaan kepada suami kak Dila " ucapnya setelah menarik nafas panjang .


Sementara Jidan memilih untuk mengikuti jejak dari keluarga sang ibu , Keluarga Dari Nyonya Irma memang punya pengaruh dan karir bagus di Dunia kepolisian dan ketentaraan , itu sebabnya Jidan menuruti nasehat sang kakek dari pihak ibunya untuk masuk pendidikan di Akademi Militer , meski telah lulus kuliah dengan predikat memuaskan di sebuah Universitas di singapura .


dua orang sahabatnya dari keluarga Gunawan itu memiliki karakter yang berbeda dan seakan menjadi orang asing . ia sendiri pun lebih memilih untuk bersikap netral dan tetap berhubungan dengan Jordi meski tak sedekat saat SMU . Tapi mendekati Dila demi mendapatkan hak atas perusahaan ?benarkah ? , ia tak Bisa membenarkan ataupun menyangkal apa yang menjadi kekhawatiran Tania .


" Dila Tentu tahu dan Bisa menilai mana Cinta sejati dan mana yang hanya memanfaatkan dirinya " Ucapnya akhirnya agar Tania tidak bertambah sedih


" Tapi.... Nia tetep gak ikhlas kalau kak Dila dengan kak Jordi " ucapan Tania membuat Bima tersenyum , kini ia tahu Tania bukannya tidak ikhlas melihat Dila dengan Jordi tapi dengan siapapun yang dekat dengan Dila . mungkin ia telah jatuh hati pada karakter Dila dan berharap ia bisa menjadi keluarganya , kakak iparnya . Nia memang terkenal sulit melepaskan sesuatu yang ia sayangi .


" Ikatan Dila dan Jidan bukanlah ikatan suci di hadapan Tuhan ..., mereka belum menikah bahkan mungkin belum benar benar jadian , lalu membuat Dila terikat pada ikatan seperti itu , terjebak selamanya dalam sebuah penantian , apa Itu adil buat Dila ? " pertanyaan Bima hanya di jawab kebisuan Tania .


" Bukan itu yang Jidan inginkan ..., percayalah jika Aa' masih hidup dia tetap akan menyerahkan keputusan terakhir di tangan Dila . Jadi Nia juga harus menghargai apapun yang menjadi keputusan Dila , karena cinta itu terserah pada pemilik hati " Nasehat Bima membuat hati Tania sedikit tersentuh .


" semoga akan ada kebaikan setelah semua ini..." gumam Bima .


" kakak harus pergi...kuliah yang benar jangan banyak pacaran ya.." nasehat Bima sambil beranjak dari duduknya .


Tania hanya tertawa , lalu keduanya saling melambaikan tangan setelah mengucapkan salam perpisahan .


***********


di tempat lain


setelah membaca konsep yang diinginkan oleh Jordi , Dan mendapatkan informasi mengenai semua hal yang ia butuhkan dari berkas yang ia dapat dari Nabila selama dua hari Risa hanya berjibaku di depan laptop , menyelesaikan interior desain yang ia rancang .


entah kenapa ia begitu bersemangat , percakapannya dengan Tania seakan menjadi penyemangat untuknya . meski pada awalnya ia tidak begitu tertarik untuk bergabung dengan Nabila .


Risa menarik nafas lega setelah berhasil menyelesaikan sketsa desain yang ia rancang hingga ia begadang dua malam ini . Risa tersenyum puas dan segera mengirim hasil kerjanya pada Nabila , setelah itu iapun segera mengabari sahabatnya tersebut .


" sudah ku kirim desainku .." ketiknya .


" buka E- mail mu " ketiknya lagi .


setelah itu iapun segera menutup laptopnya . bergegas menuju kamar mandi karena ingin segera menemui Nabila dan berharap mendapat kabar baik .

__ADS_1


Derd....derd...derd...


Suara getar handphone membuat Clarisa yang sedari tadi Hanya duduk bermalas-malasan di sofa kamar segera meraih handphonenya .


Ia menatap layar handphone Dan tersenyum dengan manis saat membaca kontak yang melakukan panggilan .


" Hai Bila..., Udah dapat emailku belum ? " Ucap Risa dengan semangat .


" Ya aku udah lihat hasil desain yang kamu kirim , bagus kok aku suka konsepnya . Aku berencana untuk melakukan pertemuan dengan tim perencanaan dari pihak Jaya Group dan juga sekalian bertemu dengan Jordi , nanti ku kabari lagi ya ! " Jawab Nabilah tak kalah semangat .


" Baiklah aku tunggu kabar baiknya " jawab Risa seraya menutup teleponnya .


Setelah menerima telepon dari Nabila , Risa berencana untuk pergi menemui mamanya . Ia memang sudah malas habiskan waktu di rumah .


Suasana rumah yang sepi membuatnya segera keluar dan meninggalkan rumah sang mertua . Ia malas untuk berpamitan pada mama mertua .


Setelah berputar-putar lama di jalanan padat kota Bandung akhirnya sampai juga Risa di rumah orang tuanya . Langkahnya ringan memasuki rumah , di lihatnya sang Mama sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah wanita .


" Hai Mam good morning " sapa Risa Seraya mencium pipi sang ibu .


" Morning sayang , tumben kamu kesini pagi-pagi ? " Nyonya Larasati menyambut sapaan sang putri .


" Lagi pengen aja mah " jawab Risa Seraya duduk di samping Sang Mama .


Nyonya Larasati hanya terdiam sambil memandang sang putri , Ia mencoba meneliti wajah sang putri .


" kamu dan Reihan...kalian baik baik saja bukan ? " Tanya sang mama .


Raisa hanya terdiam mendengar pertanyaan sang Mama , Dia justru sibuk memainkan Handphonenya .


" Risa....." Panggil nyonya Larasati karena Risa seakan tidak perduli dengan pertanyaanya .


" Ya..., " Jawab Risa datar .


" kamu dengar pertanyaan mama barusan ? " Tanya nyonya Larasati .


Risa menarik nafas panjang , lalu menatap sang Mama dengan wajah datar .


" Kita nggak usah bahas itu lah , Risa lagi malas " Ucapnya sesaat kemudian .


" Apa kalian bertengkar hari itu ? , apa kau masih berhubungan dengan Jordi ? " Nyonya Laras mencerca Risa dengan pertanyaan bertubi .


" Ma...." Ucap Risa jengah .


" mama sudah bilang pernikahan ini bukan main main , kita berhutang banyak pada keluarga Reihan . mereka tidak pernah mempermasalahkan semua hal buruk tentang keluarga kita , apalagi yang kamu inginkan ? " Ucap Nyonya Larasati sambil menatap putrinya .


" kenapa mama selalu berkata hal yang yang sama setiap kali ? tidak adakah pembahasan lain ? " Ucap Risa seraya melangkah pergi menuju kamarnya .


" Risa...mama belum selesai bicara.! " Nyonya Larasati berteriak , namun Risa tidak menghiraukan sang mama yang memanggil namanya , ia terus saja melangkah ke lantai dua rumah dan segera masuk ke kamar .


Risa membantingkan dirinya di atas ranjang , ia sengaja pergi dari rumah sang mertua agar suasana hatinya lebih baik , namun yang ia harapkan sepertinya tidak terwujud . kata kata sang mama seakan menancap dalam di relung dada , membuat sesak yang dari beberapa hari lalu ia rasakan makin menyiksa .


Ketika dirinya sedang larut dalam pikirannya yang bak benang kusut , pintu kamarnya di ketuk dari luar . Sebelum ia mempersilahkan masuk nyonya Larasati telah lebih dulu membuka pintu dan masuk ke kamar . wanita paruh baya itu lantas Menghampiri dirinya yang tengah terbaring dengan lesu di atas ranjang .


Nyonya Larasati menarik nafas panjang setelah keduanya terdiam cukup lama .


" Tidak mudah bertahan dalam sebuah pernikahan , apalagi dengan kelas sosial dan cara hidup yang berbeda . Mama tahu ini tidak adil untukmu , tapi begitulah perempuan Risa . Selalu menjadi yang harus berkorban , mungkin kamu merasa ini tidak adil , tapi cobalah menerima kenyataan ini dan menganggapnya sebagai anugerah . Reihan sangat mencintai kamu , ia bahkan perduli pada keluarga kita " ucap Nyonya Laras Dengan suara dalam .


Clarisa hanya membisu , ia tidak ingin membahas apapun tentang Reihan saat ini .


" Jangan lagi memikirkan laki laki lain , kamu sudah jadi istri orang , dosa ..., Dan lelaki baik baik juga tidak akan merusak pagar ayu orang lain " gumam nyonya Laras beberapa saat kemudian .


" Apa maksud Mama ? " Risa bertanya dengan wajah tak suka .


" Jordi ..apa kamu masih mencintai Dia ? " Nyonya Laras menatap tajam mata sang putri .


Risa tertunduk , pertanyaan sang mama membuat hatinya terasa sakit .


" Ikhlaskan Nak.... kamu tidak boleh bermain main dengan api , kamu bisa terbakar nanti . Saat kamu memutuskan untuk menerima Reihan sebagai suami itu berarti kamu telah siap melepas semua hal tentang orang lain . Termasuk masalah hati . Cinta itu bisa bertumbuh atau mati tergantung pemilik hati . Belajarlah untuk mencintai suamimu karena ia yang kini bertanggung jawab atas dirimu dunia akhirat " Ucap nyonya Larasati melihat reaksi Risa .


" Kenapa mama sama papa nggak ngertiin Risa ? " Ucap Risa setelah membisu beberapa saat .


" Kalau kamu mau papamu dan mama hidup damai , kamu harus belajar menerima kenyataan ini , hapus khayalanmu dan bangunlah..., Belajarlah menikmati semua yang sudah menjadi milikmu tanpa menginginkan hal lain yang tak kamu miliki , bukan hanya kamu , hidup banyak orang bergantung dari pernikahan kalian . Mungkin mama kejam , tapi kamu akan mengerti suatu saat nanti " nyonya Larasati kemudian melangkah keluar tanpa menghiraukan Risa yang terdiam di pembaringan tanpa berkata apapun .

__ADS_1


" aku hanya ingin bahagia , apa aku egois jika mengikuti kata hatiku . apa aku harus bertahan dengan sesuatu yang menyiksaku " gumam Risa sambil menitikkan air mata .


rasa sesak di dadanya seakan membuncah , ia merasa terhimpit dan tak memiliki arah . keluarga yang seharusnya mendukungnya seakan tak perduli akan apa yang ia rasakan . membiarkan ia hidup dalam kesesakan hati demi kemerdekaan dan dan kebahagiaan mereka tanpa perduli jika ia harus menjual hati demi semua itu . sungguh kenyataan hidup yang jauh sekali dari apa yang ia bayangkan .


__ADS_2