
Sudah hampir setengah jam Jidan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi , Dila yang duduk di sampingnya masih terdiam . gadis itu sama sekali tidak bergeming . Ia bahkan tidak mengatakan apa-apa saat mobil yang mereka tumpangi memasuki jalanan yang tidak menuju kerumah kontrakannya .
Tiga puluh menit kemudian mereka melewati jalanan yang tak lagi ramai , sepanjang perjalanan hanya ada rimbunnya pohon Pinus dan hijau hamparan perkebunan teh . Jidan membawa Dila ke taman wisata gunung Tangkuban perahu .
Jidan memarkir mobilnya di tempat parkir . Tepat di hadapan mereka terpampang pemandangan pegunungan yang hijau di selimuti kabut .
Sebagai anak gunung , tentu hal itu menggelitik hati Dila , namun gadis itu hanya duduk diam di sana , rasa marah dan kecewa lebih menguasai tubuhnya .
Jidan terdiam sambil menatap Dila yang memandang jauh ke depan , sejak tadi gadis itu memang tidak sekalipun menatapnya .
Jidan sadar kali ini Dila benar benar marah . Ia tidak menyangka bahwa kebohongan yang ia lakukan akan membuat ia berada di situasi ini .
Jidan mengangkat handphonenya yang dari tadi tak berhenti bergetar di sakunya .
" Jidan ini papa , jika kau masih bersama Dila , jangan katakan apapun cukup beri tanda " suara sang ayah terdengar di telepon .
" Hem..." Jawab Jidan .
" Dengar baik baik , Dila tidak tahu apapun tentang perjodohan yang di atur keluarga dan juga tentang surat wasiat kakekmu , jadi jangan mengungkit hal itu , mengerti ! "
" Ya ..baiklah.." Jidan menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari sang ayah .
Jidan menarik nafas dalam-dalam . Pria muda itu tersenyum masam , situasinya kini lebih menantang dari misi militer ataupun misi khusus yang ia terima dalam penyamaran .
" Dila apa kau tidak ingin bicara ? " Tanya Jidan akhirnya , setelah mereka terdiam cukup lama .
Dila masih terdiam sambil menatap jauh ke depan . Jidan mengulurkan tangannya hendak meraih wajah mungil yang ia rindukan setengah mati , namun tangan gadis itu segera menepisnya .
" Ayo bicara..kau bisa memarahi aku seperti biasanya , diam mu ini lebih menyiksa " ucap Jidan .
Dila memandang wajah Jidan sesaat , ia hendak membuka mulutnya namun gadis itu kembali diam .
" Baguslah kalau begitu aku akan diam !! ' teriak Dila dalam hati .
Mereka kembali terdiam .
" Aku sungguh tidak bermaksud berbohong , saat kita bertemu pertama kali saat itu aku dalam latihan sebuah misi , tapi ku rasa aku gagal meski orang lain menilainya berhasil " ucap Jidan beberapa saat kemudian .
" Sebagai prajurit rahasia kadang kita memiliki misi melindungi seseorang dengan diam diam . Kau adalah misiku saat itu . Atasanku memintaku untuk menjagamu selama pendakian , kau latihan pertamaku sebagai anggota pasukan khusus " cerita Jidan membuat Dila tertegun .
Jidan menarik nafas dalam , pria itu menelan ludahnya .
" Saat aku melihatmu tertidur di camp , saat itu aku berfikir kenapa gadis kecil secantik dirimu begitu berani melakukan perjalanan ke puncak dengan banyak laki laki yang bukan saudara . kenapa kau begitu berani ? itu pertanyaan pertamaku tentang kamu " ucap Jidan seraya tersenyum .
" lalu Saat kau tertidur begitu saja di sampingku saat beristirahat siang hari di camp Aku tertawa dan menyadari informasi tentangmu sangat tepat , kau tertidur di manapun saat lelah meskipun itu kandang singa "
" Apa ?! Siapa yang memberikan informasi palsu itu ?! " Dila protes .
" Tidakkah kau sadar saat itu banyak singa yang menatapmu dengan lapar saat kau tidur dengan pulas ?" Tanya Jidan .
Dila terdiam , singa yang di maksud Jidan ternyata adalah kaumnya . Jidan tersenyum dalam hati karna berhasil membuat Dila berbicara .
" Lalu saat kau tertawa ketika terperosok saat menuju puncak , kau menenangkan seorang tentara yang sangat panik , Salah satu misiku adalah membawa kau pulang tanpa satu luka pun , jadi aku sempat panik saat kau terperosok , tapi tawamu menenangkan hatiku , itu juga kali pertama tawa seseorang menenangkan hatiku " Jidan melanjutkan pengakuannya karna Dila kembali terdiam .
" Jika aku bukan sebuah misi apa kau tetap akan menjagaku seperti saat itu ? " Tanya Dila tanpa menatapnya.
" Tidak ....aku akan mengatakan isi hatiku saat kita berdua di puncak gede , aku akan mencium mu sebagai seorang pria saat itu . karena kau terlihat sangat cantik dengan wajah merona mu " jawab Jidan tanpa ragu , membuat Dila tertegun .
" Saat aku mengawasimu yang tertidur di dalam sleeping bag di tenda aku berfikir kau begitu cantik.., wajahmu terus saja berputar di kepalaku membuat aku bahkan tidak bisa bernafas . Kau wanita pertama yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari detak jantung ku ketika mencapai summit pertama ku " ucap Jidan seraya menatap dalam mata Dila yang tengah menatap dirinya .
Dila terdiam , gadis itu memalingkan wajahnya dari tatapan Jidan .
" Antar aku pulang " ucap Dila dalam kebingungannya . Ia tidak ingin berlama lama dengan pria itu akan merubah keputusan yang ia ambil .
__ADS_1
" Dila...apa kau tidak mendengarkan aku ? " Tanya Jidan tegas dengan nada yang sangat Dila kenal
" Tentu saja aku mendengarmu itu sebabnya aku tidak ingin mendengarkan kelanjutannya " jawab Dila spontan .
" Berhenti menggunakan nada itu ! " Bentak Dila yang sadar Jidan tengah menggunakan kelemahannya .
" Kenapa ? Apa kau takut kau sadar kau masih mencintai aku meski kau tau aku seorang tentara ! " Tanya Jidan lagi , dengan nada yang sama .
" Ya.." jawab Dila tanpa sadar .
" Berhenti berbicara dengan nada itu ! " Bentak Dila sambil membuka pintu , gadis itu segera keluar dari mobil .
Jidan tersenyum , tujuannya membuat Dila keluar dari mobil tercapai , dengan cepat ia keluar dan menghampiri Dila yang berdiri di pinggir batas parkir sambil memandang Tangkuban perahu yang berkabut .
" jangan mendekat ! " Bentakan Dila menghentikan langkahnya .
Jidan berdiri di depan Dila sambil menahan senyum . Bagaimana mungkin cara itu masih ampuh untuk mengetahui isi hati gadis itu . .
" Baiklah.., aku tidak akan memakai nada itu lagi , berhenti marah padaku " ucap Jidan seraya mendekati Dila ..
Dila terdiam sambil menggosok gosokan kedua telapak tangannya . Gaun yang ia kenakan tidak cocok untuk udara di sini .dan lagi ia tidak menggunakan alas kaki .
Jidan menarik nafas panjang , dengan cepat ia meraih tubuh Dila lalu menggendongnya bak bridal style . Dila terkejut menyadari ia sudah berada di gendongan pria itu dalam sekejap .
" Apa yang kau lakukan , turunkan aku " ucap Dila sambil menahan rasa terkejutnya.
" Diamlah..." Bisik Jidan lembut tepat di depan wajahnya , membuat jantungnya seakan lepas dan tak berfungsi .
Jidan meletakkan Dila di atas kap belakang mobil , pemuda itu lalu melepaskan sepatunya dan memakaikannya pada Dila , ia juga melepaskan baju seragamnya dan memakaikannya pada gadis itu .
" Sejak kapan kau memakai gaun seperti ini ? " Tanya Jidan sambil tersenyum kepadanya seraya mengusap sayang rambut Dila , pria itu berdiri tepat di hadapannya .
Dila terdiam sambil menggigit bibirnya karna malu mendengar ejekan Jidan .
" Jangan lakukan itu , aku bukan adikmu " ucap Dila sambil mengelap bekas kecupan Jidan di keningnya . Jidan tersenyum mendengar ucapan Dila yg polos .
" Jadi kau ingin aku menciumi di sini ? " Ucap Jidan seraya mendekatkan bibirnya ke bibir Dila .
Dila cepat cepat menutup bibirnya dengan telapak tangannya .
" aku belum sikat gigi " ucapnya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Jidan .
" jadi apa arti ciuman di bibir ? , berarti aku masih kekasihmu bukan ? Tanya jidan sambil mengerling . Dila hanya terdiam dengan wajah gugup .
Siapa yang mengajarimu ? " Tanya Jidan sambil meraih tubuh Dila .
" Apa ..? " Tanya Dila tak mengerti .
" Siapa yang memberitahumu kecupan di kening adalah ciuman kepada seorang adik ? , Apakah seseorang yang kau panggil sayang ? " Tanya Jidan
Dila menggeleng gelengkan kepalanya . gadis itu bingung bagaimana pria itu bisa tahu maksud perkataannya .
" Ciuman di kening adalah ungkapan rasa sayang yang paling dalam , itu artinya aku akan menghargai kamu , mencintai kamu tanpa batas , melindungi kamu sepenuh hati dan aku juga takut kehilangan kamu " ucap Jidan sambil menatap Dila dalam .
" Tapi kalau kau lebih suka ciuman di bibir aku akan melakukannya " ucapnya sambil tersenyum Devil .pria itu meraih tengkuk Dila dengan tangannya , Dila membulatkan matanya sambil menahan degub jantungnya yang tak menentu .
Krukuuuuk.
Suara perut Dila yang lapar membuat Jidan tertawa pria itu menghentikan aksinya dan menurunkan tubuh Dila dari kap mobil . Dila menunduk malu sambil menggigit bibirnya .
" Ayo kita sarapan " ucap Jidan seraya meraih tangan Dila , ia kemudian membuka pintu mobil dan menyuruh Dila masuk lebih dulu . Mereka segera meninggalkan Tangkuban perahu .
"Siapa orang itu ? " Tanya Jidan setelah Mereka terdiam beberapa saat dalam perjalanan pulang .
__ADS_1
" Hem..? " Tanya Dila tak mengerti dengan pertanyaan Jidan .
" pria mesum yang kau panggil sayang ? Siapa namanya ? " Tanya Jidan sambil mengemudi .
" Bukan siapa siapa " jawab Dila singkat . Ia tidak mungkin memberi tahu Jidan bahwa Jordi yang mengatakan bahwa ciuman di kening adalah ciuman untuk seorang adik . pria bodoh dan mesum itu bisa babak belur di tangan Jidan .
" Dasar pria mesum sialan " umpat Dila dalam hati .
Mereka tiba di Bandung satu jam kemudian , Jidan mengajak Dila sarapan di sekitar jalan gempol wetan . Jidan memarkir mobilnya tak jauh dari kafe .
" Aku di sini saja , aku belum mandi " ucap Dila .
" Baiklah kita bawa pulang saja " ucap Jidan seraya keluar dari mobil ,, dengan bertelanjang kaki ia menuju kafe .
Dila menunggu Jidan sambil berfikir dan merenung . banyak hal yang berkecamuk di hati dan kepalanya , ada rasa bahagia yang tumbuh di hatinya mengetahui kenyataan Adi juga mencintai dirinya sejak pertemuan pertama mereka . namun satu sisinya yang lain timbul sebuah kesedihan dan rasa takut yang besar .
Lima belas menit kemudian pria itu datang dengan membawa bingkisan . Ia meletakkan sebungkus plastik di kursi belakang dan masuk mobil dengan membawa sebuah kotak dan dua paper cup berisi minuman hangat .
" Minumlah.." ucapnya sambil menyodorkan sebuah gelas pada Dila , ia juga memberi Dila sekotak Roti bakar .
Jidan meneguk minumannya lalu memakai sabuk pengaman , pria itu kembali mengemudikan mobil .
Dila meneguk minumannya lalu memakan sepotong roti .
" Kenapa kau bisa tidur di kamarku ? " Tanya Jidan tiba tiba membuat Dila tersedak .
Jidan menyodorkan sebuah botol berisi air mineral pada Dila . gadis itu meminumnya hingga tandas .
" Kenapa kau marah padaku tadi ? " Dila balik bertanya tanpa menjawab jidan begitu selesai minum .
" Tentu saja ku kira kau wanita gila yang seenaknya tidur di kamarku , wanita yang boleh tidur di sana hanya istriku ' jawab Jidan sambil tersenyum penuh arti .
" Apa hubunganmu dengan kakek ? " Tanya Jidan berpura-pura tak tahu .
" Tanya saja sendiri " jawab Dila Seraya meraih sepotong roti lalu menyuapkan ke mulutnya .
' oh ya jangan cerita apapun kepada kakek tentang hubungan kita " Dila berbicara setelah menelan makanannya .
" Kenapa ? , Aku baru mau mengenalkan mu sebagai calon istriku " jawab Jidan menggoda Dila .
" Siapa yang mau jadi calon istrimu ?! " Sahut Dila cepat .
" Kita putus sejak aku tau seragam busuk ini adalah pakaian dinas mu " lanjutnya .
Jidan terdiam sambil memandang ke jalanan di depannya . ia tahu Dila pernah memberi tahu dirinya bahwa dia tidak akan pernah menjalin hubungan dengan seorang prajurit , dan itu alasan Jidan merahasiakan pekerjaannya pada gadis itu selama ini .
" Kenapa kau tidak mau mempunyai kekasih seorang tentara ? " Tanya Jidan beberapa saat kemudian .
" Aku tidak ingin menjadi janda " jawab Dila sekenanya .
" Bagaimana kalau aku janji akan hidup untuk waktu yang sangat lama ? " Tanya Jidan lagi .
" Kau harus jadi tentara yang lebih hebat dari kakekku untuk melakukan itu " jawab Dila .
Tak terasa mereka sampai di rumah kontrakan Dila . Jidan memarkir mobilnya tepat di depan gerbang rumah .
" Aku tentara yang hebat , aku janji akan selalu selamat dalam setiap misi dan pulang untukmu , hidup dalam waktu yang cukup lama , menjalani semua hal indah hingga tua " ucap Jidan sambil menatap Dila dengan hangat .
" Kau tau..aku melihat ibuku merindukan ayahku hingga akhir hayatnya , kami bahkan tidak tahu dimana jasadnya " Dila berkata sambil tertunduk . Ia kemudian menatap pria di sebelahnya dengan tersenyum .
" Aku senang kau seorang tentara , itu artinya kau adalah lelaki hebat , sama seperti ayah dan eyang , aku bersyukur untuk itu . Artinya aku tidak salah menilai mu . Tapi ini bukan tentang seragam mu , ini tentang hatiku , aku belum siap untuk menerima seragam itu sebagai bagian dari dirimu . Butuh keberanian yang besar untuk itu " ucap Dila lembut .
" Sebaiknya kita jangan bertemu lagi " ucap Dila setelah keduanya membisu sesaat , gadis itu melepaskan baju seragam Jidan dan sepatu yang ia kenakan . dengan telanjang kaki gadis itu keluar dari mobilnya .
__ADS_1
Jidan menatap Dila yang masuk ke rumah dengan dada sesak . Untuk beberapa saat ia masih tertegun di balik kemudi . Setelah menghela napas panjang beberapa kali iapun kemudian meninggalkan rumah itu .