
Siang itu Adam menghabiskan waktunya dengan melakukan tugas yang di berikan oleh Jordi . Setelah pulang dari RS ia langsung melakukan pertemuan dengan beberapa perusahaan kontruksi yang pernah mengajukan proposal pada perusahaan untuk ikut andil dalam proyek pembangunan resort yang berada di Suka Bumi yang mengalami masalah .
selesai melakukan pertemuan itu ia semakin yakin adanya kesengajaan memenangkan kontraktor oleh pegawai yang bertanggung jawab atas pembangunan proyek . Ia pun segera kembali ke kantor untuk melakukan penyelidikan internal dan melaporkan hasil penyelidikannya pada Jordi .
Saat tiba di kantor Jordi ternyata sedang keluar untuk melakukan pertemuan dengan beberapa anggota Dewan direksi . Adam terpaksa menunda laporannya dan memulai penyelidikan sendiri .
Adam meneliti berkas yang ia terima dari bagian pemasaran dan pengembangan perusahaan . Ia pun mulai menemukan titik terang dari hal yang ia selidiki .
" Dian..tolong panggilkan pak Rama kemari ! " Perintah Adam pada sekretaris Jordi . Sebagai asisten Jordi , ruang kerjanya memang bersebelahan dengan ruangan Jordi .
" Baik pak.." jawab sang sekretaris singkat .
Tak lama seorang lelaki separuh baya masuk ke ruangan Adam . Lelaki itu duduk di hadapannya setelah Adam mempersilahkan ia duduk .
Adam terdiam sesaat, lalu memberikan berkas yang telah ia selidiki kepada pak Rama .
" Saya tidak ingin bertele tele , katakan..atas dasar apa bapak memberikan tender proyek sebesar itu pada perusahaan yang tidak memiliki pengalaman kerja untuk membangun sebuah resort ? " Ucapnya tajam sambil menatap wajah pak Rama yang terlihat terkejut .
" Saya tidak mengerti maksud Bapak ? " Ucap pak Rama tergagap .
" Apa perlu saya bicara keras pak ?! " Adam bertanya dengan lantang .
" Katakan siapa yang meminta Bapak melakukannya ? " Adam bertanya dengan suara dalam .
" Tidak ada pak...semua adalah kesalahan saya , karena saya mengambil keputusan yang tidak tepat perusahaan mengalami kerugian yang besar " jawab pak Rama sambil tertunduk .
" Bapak yakin ? , Bapak tahu konsekwensinya memberi jawaban seperti itu ? " Adam mencoba melunak .
" Saya bersedia untuk menerima hukuman apapun pak " jawab pak Rama tak bergeming .
" Saya tahu kerja Bapak selama ini , itu sebabnya pak Jordi juga langsung menyetujui keputusan bapak tanpa melakukan penyelidikan mendalam . Ini bukan cara kerja bapak . Jujur saja pada kami jika ada yang menekan bapak " Ucap Adam .
Tapi pak Rama tak bergeming , ia hanya tertunduk sambil mengucapkan kata maaf beberapa kali .
Adam menarik nafas panjang menyadari jalannya buntu untuk membongkar konspirasi yang sengaja tercipta untuk membuat orang orang yang ingin menggeser kedudukan Tuan Juan .
" Baiklah...bapak boleh keluar " ucap Adam putus asa .ia terdiam sejenak setelah Pak Rama pergi , namun kembali berkutat dengan laptopnya Beberapa saat kemudian .
Karena sibuk bekerja Adam melewatkan waktu makan siang , perutnya yang lapar membawanya menuju restaurant yang berada di dekat gedung perusahaan . Dalam perjalanan yang ia tempuh dengan berjalan kaki itu , ia melihat sosok yang sepertinya pernah ia lihat berdua dengan Jordi Beberapa hari lalu .
Langkahnya yang berat seperti sedang kelelahan membuat Adam tersenyum . Sosok itu berwajah seperti orang Eropa dan memiliki rambut kecoklatan , tubuhnya indah , tingggi dan proporsional .
" Isabella bukan ? " tanyanya setelah mengingat ingat wajah yang tengah berjalan dengan lesu di sepanjang Trotoar di depan gedung perusahaan .
gadis itu terdiam sesaat , kemudian menganggukkan wajah dan menjawab sapaanya dengan senyum ramah .
"Halo pak Adam " sapa gadis yang sedari tadi ia perhatikan yang tak lain adalah Isabella .
" Hai ...mau makan siang ? " tanya Adam setelah jarak mereka sudah dekat .
" iya pak Adam , Bapak juga mau makan siang ? " Bella balik menanyainya .
" Ya...kamu sendirian ? " Tanyanya sambil tersenyum , dan di jawab anggukan Isabella .
" bareng yuk...aku juga tak ada kawan " Tiba tiba Adam mengajak Isabella untuk makan siang bersama .
' boleh pak..." Jawab Isabella sambil tersenyum .
Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah restaurant di sebelah kantor . Mereka langsung memilih meja yang berada di luar ruangan ketika sampai di restorant . Keduanya hanya terdiam sambil menunggu makanan tiba .
" Emh...kau sudah tahu kalau Dila di rawat di Rumah sakit ? " Tanya Adam memecah kesunyian mereka .
" Ya... , Tapi hari ini aku belum sempat untuk menjenguk Dila " jawab Bella dengan datar .
" Kalian sepupu bukan ? " Tanya Adam dan di jawab anggukan Bella .
" Kau pernah ke Sukabumi ? " Tanya Adam lagi .
' ya sudah dua kali sepertinya .., di sana indah , tapi bukan tempat yang cocok untuk ku " Jawab Isabella sambil tersenyum .
" kenapa ? " Tanya Adam heran .
" kau tahu jika berasal dari kampung , dua mata melihat seribu mulut berbicara .., and then gaya hidupku tidak cocok di tempat itu " jawab Bella sambil tertawa ,
" ya ya ....aku tahu itu . bagaimana rasanya tingal di Indonesia ? " Tanya Adam lagi .
" not bad ..., Tuan Aditya juga baik padaku aku merasa terlindungi di sini . dan aku juga punya Dila yang sangat welcome padaku meski kami tidak pernah menyangka kalau kami saudara . meski aku harus banyak belajar tapi semuanya lebih baik di sini " Jawab Bella .
keduanya terdiam saat pelayan membawakan pesanan mereka . merekapun segera menikmati makan siang mereka yang sudah sangat terlambat . sesekali keduanya mengomentari rasa dari hidangan yang mereka santap .
" ngomong ngomong Bela ..apakah kakek Dila adalah pengusaha ? " tanya Adam yang masih diliputi rasa penasaran terhadap Dila .
" I don't know..., tapi mereka punya lahan yang sangat luas . kakeknya mewariskan banyak harta padanya . hampir sebagian besar penduduk di kampung tempatnnya tinggal mengelola tanah keluarga mereka . Dia juga punya perkebunan dan juga merupakan pengepul hasil sawah penduduk sekitar . memiliki pabrik padi yang yang merupakan pemasok beras ke bandung dan sekitarnya ." Jawab Bella sambil menikmati makanannya .
__ADS_1
" Oh..., Jadi boleh di bilang Dila cukup berada ." ucap Adam sambil mengangguk angguk .
" ku rasa begitu . kalau hanya untuk hidup Dila tidak akan kelaparan . bahkan mungkin lebih kaya , dulu kakeknya adalah pengusaha tapi entah kenapa beliau memilih berhenti menjadi pengusaha dan memilih untuk hidup berbaur dengan masyarakat di pedesaan . " cerita Isabella .
" Tapi..kenapa kau seolah olah menyelidiki kehidupan Dila ? apa kau juga jatuh hati padanya ? " Tanya Bella menggoda .
" What ?! , No....aku hanya penasaran bagaimana Dila bisa kenal dengan tuan Andarya ? dan memiliki koneksi dengan beberapa pengusaha lain " jawab Adam jujur .
" oh.... sewaktu menjadi pengusaha dan seorang pejabat kakeknya sangat royal terhadap rekan rekan bisnisnya , jadi walaupun sudah pensiun ku dengar rekan rekan bisnisnya masih sering datang berkunjung saat saat tertentu . beberapa malah masih sering menawarkan kerjasama . dan Dila juga mengenal beberapa orang itu . beberapa anak buah kakeknya yang kini menjadi pejabat bahkan masih sangat perduli pada Dila . " Bella bercerita setelah menyudahi makan siangnya .
Adam mengangguk angguk mengerti , ternyata penilaiannya terhadap Dila yang terlihat biasa saja itu sangat keliru . pantaslah menurut cerita sang ibu tuan Gunawan sangat menyayangi Dila . ternyata ada alasan di balik semua itu .
" aku harus balik kerja pak Adam.." ucap Bella setelah keduanya terdiam beberapa saat .
" Oh...ya..panggil saja aku Adam ..ku rasa umur kita tidak berbeda jauh " Ucap Adam mencoba akrab .
Bella hanya mengangguk dan tersenyum pada Asisten Jordi yang selama ini terlihat sangat dingin pada siapa saja , namun ternyata sangat sopan dan baik . Adam memanggil pelayan dan meminta tagihan makanan mereka .
" Hari ini aku yang traktir " Ucap Adam sambil tersenyum pada Isabella .
" Thanks..aku duluan ya.., nanti di cari atasanku " Ucap Bella sambil beranjak pergi . Adam hanya bisa mengangguk meski Ia masih ingin berbincang bincang dengannya lebih lama lagi .
Isabella melangkah pergi meninggalkan restaurant tersebut dengan langkah lebar . Ia masih memiliki setumpuk pekerjaan yang harus Ia selesaikan agar bisa menemui Dila sore ini .
Setelah kepergian Isabella Adam masih terdiam di tempatnya sambil menikmati minuman dingin yang belum sempat ia habiskan . Sesekali matanya menatap ke pintu keluar di mana sosok Bella tadi menghilang .
" Cantik juga sepupunya " gumamnya tanpa sadar .
**********
Di tempat lain Jordi tengah menunggu Tuan Andarya yang juga merupakan salah satu pemegang saham Jaya Group . selain sebagai pemegang saham ia merupakan patner penting perusahaan , karena ia juga memiliki perusahaan yang juga bekerja sama dengan Jaya Group .
mereka berjanji bertemu di perusahaan milik pengusaha tersebut yang bergerak di bidang kuliner dan telah memiliki beberapa cabang di Jakarta dan Bandung . sebelumnya ia telah bertemu dengan dua orang pemegang saham dan ia masih belum mendapatkan hasil yang ia inginkan .
untuk mengusir jenuh Jordi membaca sebuah majalah yang terletak di meja kecil di sudut ruangan meeting tempat ia menunggu tuan Andarya yang tak jua muncul . ketika ia tengah asik membaca majalah pintu ruangan itu tiba tiba terbuka , dan seorang lelaki yang masih terlihat muda muncul dari balik pintu .
Jordi segera meletakkan majalah yang ia baca dan segara bangkit dari duduknya saat menyadari kehadiran tuan Andarya yang ternyata lebih muda dari dugaanya . selama ini ia memang belum pernah berjumpa langsung dengan tuan Andarya karena sang ayah yang lebih dominan mengurus komunikasi dengan para pemegang saham .
" silahkan duduk .." ucap lelaki itu setelah mereka saling menyapa .
mereka pun mulai berbincang bincang mengenai hal ringan , setelah suasana sudah sedikit mencair Jordi segera menyerahkan proposal yang telah ia kerjakan pada tuan Andarya . lelaki itu membaca sekilas berkas yang ia berikan lalu meletakkannya di atas meja . dengan tenang ia menatap wajah Jordi .
" apa kau sungguh sungguh akan mengelola Jaya Group dengan baik ? " tanya tuan Andarya beberapa saat kemudian .
" tentu saja om..., " jawab Jordi mantap .
namun juga bingung , siapa yang telah membujuk lelaki yang terkenal selalu kukuh pada keputusan bisnisnya itu .
" terima kasih om .." Ucap Jordi dengan lega .
" ya...tolong jangan sia siakan kepercayaan om..., kelola perusahaan dengan baik " Jawab tuan Andarya .
" yang paling penting adalah mendapatkan dan menjaga sebuah kepercayaan , dapatkan itu dari direksi lain maka akan mudah bagimu membuat kebijakan dalam perusahaan " nasehat Tuan Andarya .
" ya om...akan saya ingat itu baik baik .
" bersikap amanah , dan terbuka pada semua pemegang saham . om rasa kakekmu lebih tahu akan hal itu . " Tuan Andarya kembali tersenyum ramah .
" Oh ya bagaimana keadaan Dila ? apa sakitnya tidak parah ? " pertanyaan tuan Andarya membuat Jordi mengernyitkan kening .
" om dengar ia sakit , sayang om sedang ada urusan mendesak jadi harus ke jakarta sore ini jadi tidak bisa menjenguknya . " lanjut tuan Andarya sebelum Jordi menjawab pertanyaannya .
' emh...sudah lebih baik om..selain karena sakitnya , kelelahan juga faktor ia harus di rawat di Rumah sakit " Jawab Jordi akhirnya .
" ya ya..dia memang mudah lelah , saat bayi juga pernah sakit dan di rawat beberapa bulan di Rumah Sakit . Syukurlah dia tumbuh jadi gadis cantik dan ceria . kau harus menjaga dia dengan baik , mengerti ! " Ucap Tuan Andarya .
" ya om..." jawab Jordi dengan sungguh sungguh .
" ada lagi yang ingin kau sampaikan ? " tanya Tuan Andarya .
" Tidak ada om.., terima kasih atas kepercayaan om padaku , aku akan berusaha dengan baik " Jawab Jordi dengan sopan .
" Om harus pergi masih banyak urusan , sampai jumpa Jordi " Tuan Andarya menepuk Punggung Jordi setelah keduanya bersalaman . lelaki itupun segera keluar meninggalkan Jordi .
Setelah terpaku sesaat , Jordi pun segera meninggalkan ruang meeting . dan segera meninggalkan perusahaan itu , sambil membawa rasa penasarannya atas hubungan tuan Andarya dengan Dila . Ia pun berencana untuk langsung menemui Dila .
*********
Matahari telah mulai condong ke barat saat Lilis sampai di Suka Bumi . Ia di jemput oleh seorang supir pabrik di terminal . Karena sudah waktunya gajian para buruh ia pun mampir ke bank untuk melakukan penarikan uang dari rekening bisnis Dila yang di percayakan padanya .
Setelah selesai iapun segera mengajak Kusnadi untuk segera pulang karena hari sudah semakin sore . Saat melewati sebuah halte matanya menangkap sosok yang beberapa hari lalu sempat ia temui .
" Kus...reureuh sakeudeung ( berhenti sebentar ) " ucap Lilis spontan .
__ADS_1
Kusnadi yang bungung segera menepikan kendaraannya .
" Keunaon teh ? ( kenapa kak ? ) " Tanya Kus heran .
" éta anu' di halte beus lain si Anto ? ( bukankah yang di halte tadi adalah Anto )" Tanya Lilis .
" saha' ? ( siapa ? )" tanya kus
" Anto kus..., sok tingali' heula' di halte " ( Anto .., coba lihat dulu di halte ! ) perintah Lilis .
" Anto nu rek ngajaga' kuda ? ( Anto yang akan menjadi penjaga kuda ? ) " Kusnaidi memastikan .
" Iya...klu benar biar sama kita , sore sore mah jarang angkot " jawab lilis sambil melihat ke belakang
" oh..nuhun teh " kusnadi langsung turun dari mobil dan berjalan menuju halte .
beberapa saat kemudian ia telah kembali dengan seorang pemuda yang tak lain adalah Anto .
" sore bu..." sapa Anto begitu melihat wajah Lilis di balik jendela mobil yang terbuka .
" sore mas..mau pulang ? , hayu' bareng kita aja " ucap Lilis sambil tersenyum .
" Oh iya Bu , terimakasih " Jawab Anto . Iapun segera menaiki mobil yang membawa Lilis dan Kusnadi . Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampung .
" Dari mana Nto .? " Tanya Kusnadi .
" Main ke tempat teman a' " jawab Anto singkat . Pria itu nampak tengah memikirkan sesuatu .
" Ada teman di Sukabumi ? " Tanya Lilis .
" Emh...tetangga lama Bu.." jawab Anto gagap .
" Panggil saja Lilis " ucap Lilis sambil tersenyum .
Mereka kemudian membisu untuk waktu yang lama sampai Kusnadi memecah kesunyian .
" Si Eneng kumaha' teh ? " Tanya Kusnadi tiba tiba .
" Belum tahu..., Mudah mudahan cepat sembuh . Emak di sana ngejagain " jawab Lilis .
" Mudah mudahan cepat sembuh ya teh ? , Gimana nasib kita kalau sampai Eneng sakitnya lama terus nggak ada " ucap Kusnadi sedih .
" Aduh..mang jangan ngomong gitu ah " Lilis cepat cepat menyela .
" Gak kebayang aja teh..., Kemarin juragan Kusam ada nanya nanya ke warga soal sawah . Katanya dia mau beli kalau neng mau jual sawahnya . Nggak kebayang klu dia yang punya sawah..makin susah hidup kami " Kusnadi berbicara sambil geleng-geleng kepala .
" Benarkah..nggak akan mang , kita nanti berdo'a buat kesehatan dan kesembuhan Dila ya .." ucap Lilis menenangkan .
Anto yang duduk di kursi penumpang hanya terdiam menyimak percakapan mereka berdua . Telinganya dengan awas menangkap satu nama yang di ucapkan Lilis yang terasa tak asing baginya .
Mereka sampai di kampung satu setengah jam kemudian . Anto memilih turun di area persawahan dekat dengan pondoknya , sementara Lilis melanjutkan perjalanan ke Rumah .
Bu Rosidah , istri mang Karman menyambut kedatangan Lilis dengan wajah hangatnya .
Awalnya mereka tinggal di Lembang , menempati rumah milik orang tua Dila , namun setelah anak pertamanya lulus dan berencana kuliah di Jogja , setelah liburan keluarga beberapa waktu lalu mang Karman mengajak sang istri untuk pindah ke Sukabumi .
Mereka tinggal di rumah yang telah lama ia bangun di dekat Pabrik padi . karena Lilis dan Mak Asih kemarin pergi ke Bandung ialah yang menjaga rumah .
" Kumaha' neng Dila Lis tos' sehat ? " Tanya Bu Rosidah tak sabar .
" Acan bik...., Tapi sudah mendingan .." jawab Lilis sambil membawa beberapa barang yang ia beli di Bandung .
" Bik..emak pesan ,. Katanya buat selamatan mendo'akan kesehatan Dila.., biar cepat keluar rumah sakit " ucap Lilis setelah berada di ruang makan .
" He eh emak juga bilang ke saya lewat telp . Nanti di rembuk lagi Lis " Bu Rosidah menjawab sambil membuatkan teh hangat untuk Lilis . Ia lalu meletakkan teh buatannya di hadapan Lilis yang tengah duduk melepaskan lelahnya di kursi ruang makan .
" Makasih bik.." ucap Lilis seraya menghirup teh manis hangat buatan Bu Rosidah . Bu Rosidah hanya mengangguk sambil tersenyum .
" Kamu mau makan ? Bibik masak sambel leuncak sama ikan asin , terus ngaliwet " ucap Bu Rosidah .
" Wah...enak tuh bik.., aku mandi dulu baru makan , sore ini mau ke pabrik , waktunya orang gajian bik" jawab Lilis .
" Sudah sore Lis , besok lagi " ucap Bu Rosidah karena melihat Lilis terlihat lelah .
" Eyang selalu pesan , bayar karyawan jangan pernah telat apapun alasannya itu adalah hak mereka bik " Jawab Lilis sambil tersenyum . Ia meneguk minumannya hingga tersisa sedikit lalu segera menuju ke kamarnya ia kini menempati kamar Dila atas perintah Dila , sementara Dila memilih menempati kamar sang ayah yang telah lama kosong saat pulang kampung .
Lilis meletakkan amplop berisi uang di laci , lalu duduk sejenak di depan cermin meja rias .
" Ach..kusut banget " desisnya pelan .
Entah kenapa beberapa hari ini ia selalu bercermin . Apalagi jika habis bertemu Anto , senyum hangat dan matanya yang tajam namun penuh keteduhan membuat hatinya sangat nyaman .
Rasa yang selama ini hilang terhadap kaum Adam karena gagalnya pernikahannya yang terdahulu seakan perlahan tumbuh . Entahlah...apakah karena Anto begitu tampan ? , Atau kharismanya yang begitu kuat . ia kini mengakui gosip yang tersebar di antara para wanita kampung , lelaki itu seperti Arjuna yang menggoda mata yang melihatnya .
__ADS_1
" Ach...apa yang aku pikirkan " gumam Lilis .
Namun hati kecilnya tidak bisa menyangkal apa yang ia rasakan , sesuatu yang lama layu seakan kini bersemi kembali . Lilis tersenyum sendiri dengan wajah merona , Ia menggelengkan kepalanya seraya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri .