
Beberapa hari sebelumnya di Sukabumi .
Pagi hari , seperti biasa Lilis memulai aktivitas pagi dengan melakukan olahraga ringan , lalu membantu Bu Rosidah untuk memasak sarapan .
Setelah semua siap iapun menikmati sarapan bersama dengan Bu Rosidah dan putri bungsu mang Karman yang masih berumur sembilan tahun .
" Mang Karman kemana Bu ? " Tanya Lilis sambil mengunyah makanannya .
" Oh..iya tadi sudah pergi lebih dulu , katanya mesin penggiling padi ada yang rusak kemarin sore jadi dia pergi lebih dulu bersama di Ujang mau ngurus mesin katanya , nanti tolong bawakan sarapan Bapak ya Lis..." Ucap Bu Rosidah yang juga tengah sarapan .
" Baik Bu..." Jawab Lilis dengan santai .
Setelah siap dengan sarapannya Lilis segera menuju pabrik mengendarai sebuah mobil .
Sesampainya di pabrik Lilis langsung menuju ke tempat mesin penggilingan , namun suasana terlihat berbeda hari itu . Salah satu mesin penggilingan padi tidak beroperasi , padahal mereka memiliki pesanan yang harus segera di kirimkan .
" Ada apa mang , kok mesinnya gak jalan ? " Tanya Lilis pada mang Dadang salah satu operator mesin penggilingan padi .
" Masih rusak Lis , belum selesai di perbaiki " jawab mang Dadang .
" Bukannya mang Karman tadi datang untuk memperbaiki bersama kang Ujang ? " Tanya Lilis heran .
"Iya tapi tapi tadi mang Ujang sama mang Karman kecelakaan , tadi di antar mandor Kardi ke puskesmas " cerita mang Dadang .
" Apa ?! , Kok bisa ? " tanya Lilis yang terkejut .
" Iya.., tadi gak tau gimana mereka tertimpa besi , mang Karman kondisinya nggak parah tapi si ujang sepertinya tulang bahunya patah ' cerita mang Dadang .
" Saya mau ke puskesmas dulu mang " seru Lilis seraya berlari meninggalkan pabrik .
Dengan tergesa-gesa Lilis menghidupkan mesin mobilnya , lalu berkendara menuju puskesmas .
Lilis berusaha untuk menghubungi Mang Karman melalui panggilan telepon , namun yang ia terima hanyalah pesan suara operator seluler . Ia juga sibuk menelepon mandor Kardi namun hanya nada sibuk yang ia dengar dari panggilan telepon genggamnya .
Karena tengah sibuk dengan telepon genggamnya Lilis tak menyadari dari jalanan kecil muncul seorang anak lelaki yang sedang mengendarai sepeda . Lilis terkejut dan segera membanting setirnya , hingga mobil yang ia kendarai melaju ke area persawahan yang mengering . Sementara bocah yang mengendarai sepeda terjatuh dan terseret sepedanya yang sempat terserempet mobil dan melaju tak terkendali hingga beberapa meter .
Beberapa warga yang tengah bekerja di sawah berteriak dan berlari ke tempat kejadian . Mereka mulai panik saat menyadari bocah yang terserempet mobil tergeletak dengan Tubuh penuh luka .
" Aduh Kumaha ieu..." Seru seorang ibu ibu dengan panik .
" anak saha éta " seru seorang kakek kakek sembari mendekati sang bocah .
" nyaeta budak masih hirup ? " Seru seorang lainnya sambil mendekati sang bocah .
" Ach....éta putra teh Ratna ? Seru ibu ibu yang dari tadi memperhatikan sang bocah , Namun tak berani mendekati .
" Heeh ....éta si Cecep astaghfirullah...! " Kakek kakek tersebut segera meraih tubuh sang bocah yang Merintih kesakitan .
" Pak Wira...pak Wira ..tolong...! " menyadari bahwa sang bocah adalah Cecep , seseorang segera berlari ke pematang sawah sambil berlari menuju ke sawah pak Wira yang berada sekitar tak jauh dari tempat itu .
Sementara Lilis masih gemetaran di balik kemudi mobil . beberapa warga menghampiri dan menuntun dirinya untuk segera turun dari mobil .
" Aduh..kamu nggak apa apa lis ? " Tanya seorang warga yang sudah berumur .
" Nggak apa apa ..., " Jawab Lilis dengan gemetar . Matanya segera tertuju ke jalanan yang ramai .
" Bagaimana dengan anak yang tadi ? " Tanya Lilis dengan gugup , ia segera berlari ke arah kerumunan orang yang berada di jalanan meski tubuhnya masih gemetaran karena syok .
Semua warga yang berada di sekitar tempat kejadian banyak berhamburan ke jalan tersebut .
Lilis terduduk dengan lemas mendapati bocah yang hampir ia tabrak terlihat berlumuran darah , dan menangis kesakitan .
Di tengah kepanikan tersebut , seorang lelaki muda segera berlari menerobos kerumunan dengan nafas memburu . Ia segera menghampiri dan memeriksa tubuh Cecep yang masih tergeletak .
" Cep..Cecep dengar mas Anto ? " tanya pemuda itu yang tak lain adalah Anto . dengan berjongkok , ia berusaha menenangkan Cecep yang merintih kesakitan .
" Sakit mas..." Tangis Cecep .
Anto menyentuh beberapa bagian tubuh Cecep , lalu membantu bocah tersebut duduk . Ia terdiam sesaat sambil melihat sekelilingnya , lalu membuka kaos yang ia kenakan, mengikat luka di lengan Cecep yang mengeluarkan banyak darah , kaos putih yang ia gunakan untuk mengikat luka tersebut menjadi berwarna merah karena terkena darah Cecep .
Orang orang yang ada di sana segera membantunya melihat apa yang Anto lakukan .
" Makanya kalau bawa mobil hati hati , jangan ngebut ! " Tutur seseorang dengan emosi .
" Waduh... gimana ini darahnya banyak keluar " seru pak Wira sambil menekan luka Cecep karena di minta Anto membantunya .
" Sakit wa..." Tangis Cecep makin Jadi .
" Tidak apa apa , sabar ya cep.." Anto berusaha menenangkan .
" Maaf..maafkan saya " ucap Lilis dengan gemetar menahan tangis .
" Kita harus cepet membawanya ke puskesmas , apa mobilmu masih bisa di gunakan ? " Tanya Anto sambil menghampiri Lilis yang terduduk di dekat Cecep dengan gemetar .
" Aku tidak tau " jawab Lilis sambil mulai menangis .
Anto melihat ke arah mobil yang berada di area persawahan , pemuda itu kemudian berlari ke arah mobil tersebut .
Tak lama ia telah berhasil mengeluarkan mobil tersebut dari area persawahan . Di bantu oleh pak Wira , Ia lalu membopong tubuh Cecep dengan hati hati untuk di bawa masuk mobil . Kemudian ia segera mengemudikan mobil tersebut menuju puskesmas setelah Lilis dan pak Wira ikut naik ke dalam mobil .
Setengah jam kemudian , mereka tiba di puskesmas desa . Anto langsung turun dan membuka pintu belakang , dengan sigap pemuda itu menggendong Cecep kecil .
Perawat puskesmas segera mengajak Anto ke ruang perawatan begitu melihat Anto yang membopong tubuh Cecep yang berlumuran darah .
" Dokter.., cepat panggil dokter..." Ucap Anto sambil meletakkan Cecep di ranjang perawatan .
" Tunggu sebentar , saya panggilkan " jawab sang perawat seraya keluar dari ruangan tersebut .
Anto berdiri sambil menatap Cecep , sementara pak Wira yang baru datang bersama dengan Lilis segera masuk ke ruangan tersebut .
"Apa dokter tidak ada ? " Tanya pak Wira sambil menatap Cecep .
" perawat sedang memanggilnya " Jawab Anto , sementara Lilis hanya terdiam sambil menatap iba Cecep yang tak henti merintih .
" Maafin teteh ya cep " ucapnya sambil memegang tangan Cecep .
Tak lama seorang dokter muda masuk ke ruangan tersebut . Dokter cantik yang menggunakan hijab itu tampak terkejut melihat Anto , namun kemudian ia cepat cepat memeriksa Cecep tanpa sedikitpun berbicara kepada orang orang yang ada di sana .
__ADS_1
" Bagaimana keadaannya dok ? " Tanya pak Wira dengan khawatir .
" Luka di lengannya cukup dalam , saya harus menjahit lukanya , kalau tidak Cecep bisa kehabisan darah . Silahkan Bapak bapak dan teh Lilis tunggu di luar " ucap dokter itu sambil menatap sekilas wajah pak Wira .
Ketiga orang itu segera beranjak meninggalkan ruangan .
" Dokter...saya rasa , saya rasa terjadi dislokasi pada tulang bahunya " ucap Anto sambil berbalik sebelum melangkah pergi .
" Saya akan memastikannya , silahkan Bapak tunggu di luar " Jawab sang dokter tanpa menoleh ke arahnya .
Anto terdiam sejenak , entah kenapa ia merasa mengenal wanita dengan pakaian dokter tersebut . Namun karena sang dokter sedang sibuk membersihkan luka Cecep ia memutuskan untuk bergabung bersama dengan Lilis dan pak Wira .
Lilis dan Pak Wira nampak duduk berdampingan di sebuah Kursi tunggu . Keduanya membisu sambil sesekali menatap ke arah ruangan sang dokter .
" Siapa nama dokter itu om ? " Tanya Anto setelah bergabung dengan keduanya dan membisu beberapa saat .
" Itu Dokter Aisah , dia sudah satu tahun lebih bertugas di sini . banyak yang cocok berobat pada beliau , orangnya juga sangat baik dan ramah " jawab pak Wira .
" Ada apa ? " Tanyanya kemudian .
" Ach...tidak . Saya seperti mengenalnya " jawab Anto bergumam .
" Mungkin saja , kudengar asalnya dari malang , mungkin satu alumni sekolah ? " Ucap pak Wira sambil menatap wajah Anto .
" Tidak...aku seperti pernah bertemu dengan beliau tapi tidak di malang " jawab Anto sambil mencoba mengingat ingat sebuah peristiwa yang tadi sempat berkelebat di kepalanya saat ia menatap wajah dokter muda tersebut . Anto memegang kepalanya yang tiba tiba terasa sakit .
Lilis yang mendengar percakapan mereka hanya terdiam sambil sesekali menatap wajah Anto yang terlihat pucat .
Setengah jam kemudian terdengar teriakan Cecep membuat ketiganya beranjak dari tempat duduknya dan mendekati ruangan perawatan .
Namun teriakan itu tak terdengar lagi , hanya terdengar suara sang dokter memuji Cecep .
" Wah...Cecep hebat . Lihat sudah tidak sakit bukan " ucap sang dokter .
" Lain kali tidak boleh ngebut saat keluar ke jaln raya ya.., " suara sang dokter masih terdengar lembut .
" Sudah selesai , suster mia akan membersihkan luka yang lainnya " kembali terdengar suara lembut sang dokter setelah beberapa saat .
Kemudian terdengar percakapan antara dokter dan perawat . Lalu sang dokter keluar dari ruang tindakan .
" Bagaimana dok ? " Tanya pak Wira begitu sang dokter keluar dari pintu .
" Ah..em.., tidak ada luka dalam yang saya deteksi , tapi untuk lebih aman biarkan dia di rawat di sini pak , tulang bahunya bergeser sedikit , tapi tidak begitu parah . Luka di lengannya butuh beberapa jahitan . Orang tua Cecep , belum tahu hal ini ? " Tanya sang dokter .
" Kami belum memberi kabar , mereka ke kampung sebelah ke rumah nenek Cecep bersama dua adiknya " jawab pak Wira .
" Oh iya pak.., bisa ambilkan baju ganti Cecep . Kalau bisa kemeja , bahunya tidak boleh banyak gerak dulu , jadi pakaian seperti kemeja lebih bagus " sang dokter berbicara dengan lembut .
" Baik dok " jawab pak Wira sopan .
" Terimakasih dokter Ais " ucap Lilis sopan .
" Teh Lilis harus saya periksa juga , untuk berjaga jaga , mari ke ruangan saya saja " ucapnya seraya melangkah ke ruangan sebelah ruang perawatan .
Lilis tak banyak bicara , ia hanya mengikuti langkah ringan dokter Aisah yang terlihat menghindari tatapan muka dengan Anto .
Sementara di dalam ruangan dokter Aisah , Lilis sedang berbaring sambil di periksa sang dokter cantik itu .
Tak lama sang dokter meminta Lilis untuk duduk di kursi di mejanya . Sang dokter lalu mencuci tangan dan duduk di kursinya .
" Tidak apa apa , teh Lilis cuma kaget . Itu biasa setelah mengalami kecelakaan . Istirahat cukup supaya tidak lelah ya . " Ucap sang dokter sambil menulis resep .
" Dokter...., Cecep tidak apa apa kan ? " tanya Lilis dengan suara pelan .
" Untuk saat ini dia baik baik saja , tapi kami perlu melakukan observasi jadi biarkan dia di rawat di sini , kira tunggu sampai besok dan lihat kondisinya " jawab sang dokter dengan lembut .
" Tangannya tidak apa apa kan dok ? " Tanya Lilis sambil memandang dokter Aisah dengan wajah penuh rasa bersalah .
" Dia akan baik baik saja , Selama mendapatkan perawatan yang tepat cidera bahunya akan segera pulih , teh Lilis tidak perlu khawatir . Saya tahu teteh di hantui rasa bersalah , tapi tidak ada yang bisa menghindari sebuah kemalangan , saya yakin keluarga pak Wira juga akan berfikir hal yang sama " sang dokter berusaha menghibur Lilis .
" Terimakasih dokter " ucap Lilis yang mulai sedikit tenang mendengar kata kata dokter cantik si hadapannya .
" Sama sama Teh.., obatnya boleh di ambil di farmasi , sekalian tebus obat untuk Cecep " dokter Aisah menyerahkan dua le.bar kertas resep .
" Saya permisi dulu dokter " pamit Lilis seraya beranjak dari duduknya .
" Teh...laki laki yang menggendong Cecep tadi , Sedang apa dia di kampung kita ? " Pertanyaan sang dokter membuat Lilis yang hendak keluar ruangan menghentikan langkahnya .
" Dia pendatang , dia bekerja di pabrik dan perkebunan , ada apa dokter ? " Tanya Lilis sambil menatap sang dokter yang nampak sedang memikirkan sesuatu .
" Tidak.....tidak apa apa " dokter Aisah menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum paksa.
Meski merasa heran , Lilis segera pamit dan meninggalkan ruangan dokter Aisah .
Dengan langkah ringan Lilis berjalan menuju farmasi , dalam perjalanannya ia sempat melihat Anto tengah berbincang bincang dengan perawat puskesmas yang tengah merapikan tempat tidur dan mempersiapkan tiang penyangga cairan infus di dekat ranjang Cecep di ruang rawat inap . rupanya Cecep sudah di pindahkan dari ruangan tindakan .
Di dalam ruangan , perawat Mia tengah berbincang bincang dengan Anto . Telah beberapa Minggu pemuda itu jadi perbincangan beberapa gadis di kampung karena ketampanan yang ia miliki , dan sikapnya yang baik .
Mulanya ia tidak begitu percaya dengan ucapan beberapa anak tetangga , namun saat ini ia tahu bahwa gosip yang beredar adalah benar adanya .
Anto terlihat tampan , selain itu bagaimana pria itu membawa Cecep dari mobil terlihat begitu keren . Mereka berbincang bincang seperlunya sambil menghibur Cecep . Saat itulah Mia menyadari darah yang ada di lengan Anto yang hanya menggunakan singlet karena kaos yang ia kenakan di gunakan untuk mengikat luka Cecep adalah sebuah luka , dan darahnya terus mengalir .
" Mas Anto itu kenapa tangannya , lukanya sepertinya dalam " ucap Mia sambil menatap lengan berotot Anto dengan seksama .
Anto terdiam sambil menatap lengannya yang tiba tiba terasa perih , ia sendiri tidak tahu dimana ia mendapatkan luka tersebut .
" Ach...iya juga ya.., saya tidak tahu " Anto berkata sambil mengusap rambutnya yang gondrong .
" Coba saya liat.." suster Mia yang telah selesai menyiapkan semua peralatan infus segera memeriksa luka di lengan Anto .
" Wah..ini lukanya lumayan dalam , betul mas nggak tau apa penyebabnya ? " Tanya Mia tak percaya . Anto hanya menggeleng ringan mendengar pertanyaan perawat bertubuh mungil tersebut .
" mungkin terkena paku tiang gubuk saat berlari dari pondok " gumam Anto saat mengingat kembali bagaimana ia melompat dan berlari ke tempat kejadian kecelakaan saat mendengar penuturan seorang warga yang datang ke pondok di dekat sawah om Wira .
" Sudah di pasang infusnya teh Mia ? " Sebuah suara lembut membuat keduanya menoleh ke arah suara .
" Eh.. dokter..belum dok " jawab Mia sambil tersipu .
__ADS_1
Dokter Aisah hanya menggeleng ringan seraya mengambil peralatan yang di perlukan . Tak butuh waktu lama , jarum infus telah terpasang dengan rapi di tangan Cecep yang terlihat mulai mengantuk .
" Sebentar lagi jam istirahat , saya mau pulang ke rumah sebentar ya teh kalau ada pasien darurat kamu telp saya saja " dokter cantik tersebut berucap sambil berlalu .
Entah kenapa Anto merasa sang dokter berusaha menghindari tatapannya .
" Eh..anu dok , lengan mas Anto sepertinya terluka dalam " Mia dengan sungkan menunjukkan luka di lengan Anto .
Dokter Aisah melihat sekilas luka di lengan Anto , lalu menatap sekilas Wajah Anto .
" Emh...mari ke ruang tindakan " ucap sang dokter sambil berlalu .
" Tidak perlu dok..nanti juga sembuh sendiri " ucap Anto yang merasa tidak enak . Dokter Aisah terdiam sesaat di depan pintu .
" Memang bisa sembuh sendiri , tapi jika di obati akan lebih cepat prosesnya " ucap sang dokter tanpa menatapnya .
" Datang saja ke ruang tindakan , saya tunggu " setelah berkata demikian sang dokter berlalu .
" Sana mas " ucap Mia yang melihat Anto masih duduk di samping ranjang .
" Pergi aja , biar saya yang jaga Cecep sampai pak Wira datang . " Ucap perawat Mia sambil tersenyum ramah pada Anto .
Meski ragu Anto berjalan mengikuti dokter Aisah yang telah lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut .
Pintu perawatan terlihat terbuka , Anto melangkah masuk setelah menyapa dokter Aisah yang tengah mempersiapkan beberapa perlengkapan .
" Silahkan duduk " ucap dokter Aisah tanpa menoleh ke arahnya .
Anto duduk di kursi , dokter Aisah bergegas membawa nakas berisi beberapa cairan , lalu dengan cekatan dokter itu membersihkan luka di lengan Anto .
Sebuah kapas yang telah di basahi cairan alkohol membuat Anto meringis menahan perih . Sang dokter dengan telaten membersihkan luka di lengannya , namun darah tak jua berhenti mengalir meski tidak banyak .
Dengan cekatan dokter berwajah lembut dengan mata teduh tersebut mengambil jarum dan benang khusus , setelah mengoleskan siran bius lokal ia mulai menjahit luka selebar 5 cm di lengannya . Lalu membersihkan luka itu dan menutup nya dengan perban .
Anto memperhatikan wajah yang menggunakan hijab yang sedari tadi tertunduk , momen itu seperti mengulangi sebuah peristiwa .
" Apa kita pernah bertemu ? " Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya .
Sang dokter terdiam sejenak , lalu kembali melilitkan kain kasa di lengannya .
" Mungkin saya mirip seseorang yang pernah anda temui " Jawab sang dokter sambil menyelesaikan pekerjaannya .
" Sudah selesai , lukanya jangan di basahi dahulu , bersihkan setiap hari agar tidak infeksi . Saya akan berikan obat agar luka anda cepat sembuh " sang dokter berbicara sambil membersihkan tangannya di wastafel di ruangan itu .
Selama mereka berdua di ruangan itu , sang dokter terkesan menghindari kontak mata dengan dirinya .
" Terimakasih dokter Aisah " ucap Anto seraya bangkit dari kursinya . Lantas melangkah ringan keluar ruangan .
" Kak Adi.,, Saya mohon jangan beritahukan keberadaan saya pada kak Bima " ucapan sang dokter membuat Anto berhenti di depan pintu , dengan ragu pria itu membalikkan tubuhnya .
" Saya tidak tahu harus pergi kemana lagi untuk menghindari dia jika dia menemukan saya di sini . jadi saya mohon , tolong rahasiakan keberadaan saya . " Sang dokter kembali berkata kata kali ini ia menatap wajah Anto dengan wajah memohon .
Anto terdiam , ia sengaja tak bergeming . Meski ia merasa mengenal wajah di hadapannya , namun ia tidak tahu siapa wanita itu . Namun satu hal yang dapat ia simpulkan , dokter tersebut mengenalnya , atau mengenal sosok bernama Adi yang wajahnya serupa dengannya . Anto ingat wanita bernama Dila yang ia temui di malang juga memanggilnya dengan nama itu .
Anto menarik nafas panjang , lalu menatap wajah dokter Aisah yg penuh kelembutan .
" Kenapa kamu menghindari dia ? " Entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya .
" Karena dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari saya . Percayalah...apa yang saya lakukan adalah untuk kebaikan dirinya ' jawab sang dokter sambil tertunduk .
" Bima ? , Nama itu ia pernah mendengarnya . Bima...Bima ..Ach..." Anto berbisik dalam hati ia terdiam cukup lama hingga ia berhasil mengingat nama yang di sebutkan sang dokter . Nama itu di sebutkan sang ayah tempo hari saat mereka berbincang bincang di telepon . Itu artinya lelaki itu tidak berbohong , mereka saling mengenal .
Anto menarik nafas panjang , wanita di hadapannya adalah titik awal untuk menggali masa lalunya dengan aman .
" Dokter ..." Panggil Anto pelan .
Dokter Aisah mengangkat wajahnya , mereka saling menatap satu sama lain beberapa saat .
Anto terdiam sambil berfikir kata kata apa yang tepat untuk ia ucapkan agar sang dokter tidak tahu bahwa ia tidak mengingatnya .
" Saya tidak ingin mencampuri urusan orang lain , tapi bukankah menghindar bukanlah solusi dari sebuah masalah ? " Ucap Anto akhirnya , setelah berpikir beberapa saat .
Dokter Aisyah terdiam sambil merapikan jas dokternya .
" Saya tidak menghindar , hanya memberi ia waktu berpikir dan menimbang . Saya berharap waktu bisa membuat kak Bima membuat keputusan yang tidak akan ia sesali . Saya hanya mengharapkan yang terbaik untuk dia , untuk keluarganya ." sang dokter berkata dengan mata berkaca-kaca .
Dari kata katanya , kini ia tahu seperti apa hubungan dokter itu dengan sosok yang bernama Bima .
" Dokter...bisa kita bicara di lain waktu , ada hal yang ingin saya tanyakan " ucap Anto kemudian .
" Kenapa kakak memanggil saya begitu ? " Tanya Dokter Aisyah heran .
" Kasus apa yang kakak selidiki di kampung ini ? , Apakah ada terduga ******* ? " Dokter Aisyah tiba tiba bertanya dengan suara setengah berbisik .
Anto terdiam sejenak , mencoba mencerna kata kata dokter yang masih sangat muda tersebut .
" Dokter Ais..." Seorang petugas administrasi puskesmas memecah kesunyian mereka .
" Ya kak Nita ? " dokter Aisyah menjawab dengan cepat panggilan petugas administrasi puskesmas tersebut .
" Ternyata di sini , tadi kata Mia mau istirahat , ada pasien apa di suruh nunggu ? " Tanya petugas tersebut sopan .
" Ehm..., Sekalian aja lah , saya sudah selesai . Suruh masuk ke ruangan saya saja dulu . " Jawab dokter itu setelah menatap Anto sesaat .
" Oke dokter.." jawab petugas tersebut seraya berlalu .
" Kalau kakak butuh bantuan datang saja ke rumah dinas saya , saya sudah setahun lebih tinggal di desa ini " ucap dokter Aisyah setelah sang petugas tak terlihat .
" saya harap kak Adi tidak bercerita apapun tentang saya pada kak Bima " dokter Aisyah berjalan keluar ruangan
" Saya pergi dulu kak , ada pasien . Meski sudah terbiasa terluka , kakak tetap harus merawatnya dengan baik supaya lekas sembuh . Jaga diri kakak baik baik " dokter Aisyah melangkah pergi setelah mengucapkan salam .
Anto terdiam sambil memandang kepergian sang dokter yang langsung masuk ruangannya . Lama ia tertegun mencoba menebak nebak tentang siapa dirinya , dan seperti apa hubungannya dengan Bima dan dokter muda itu .
beberapa saat kemudian ia ikut meninggalkan ruangan tersebut sambil terus berfikir . Satu hal yang kini ia yakini , jati dirinya bukanlah dia yang sekarang . Ia harus berusaha mencari sosok dengan nama Adi , nama yang mungkin merupakan miliknya yang sesungguhnya , Dan Dokter Aisyah adalah kunci yang bisa membuka misteri dirinya , ia harus bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari tahu segalanya . ia harus memanfaatkan kesempatan tersebut , kesempatan untuk kembali pada kehidupannya yang terlupakan .
Setelah lama berpikir sambil berjalan , tak terasa ia sampai di ruang rawat inap , di lihatnya Cecep tengah tertidur pulas di atas ranjang , sedangkan pak Wira terlihat duduk di samping ranjang bersama dengan sang istri .
__ADS_1
Anto memilih keluar dari ruangan yang tak terlalu luas tersebut , ia berjalan menuju lobby puskesmas dilihatnya Lilis tengah berbincang bincang dengan petugas puskesmas .