Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
80 . peluang yang sama .


__ADS_3

Jordi menatap wajah Dila , matanya yang sembab dan hidung Dila yang memerah adalah hal yang berbeda yang sempat membuat ia untuk pertama kalinya menganggap gadis yang habis menangis terlihat cantik .


"Cuci wajahmu dan bergabunglah dengan kami di bawah " ucap Jordi sambil mengusap kepala Dila .


" Kakek ? " Tanya Dila .


" Pergilah ke kamarnya jika kau ingin berpamitan , kami belum memandikan jenazahnya . Kami sedang menunggu om Adit , ia sebentar lagi datang " jawab Jordi sembari mengusap wajah Dila .


" Maaf.... seharusnya aku yang menghibur kalian " ucap Dila sambil menatap Jordi dengan rasa bersalah .


Jordi tersenyum datar seraya mengusap lembut pipi putih dan kenyal yang berada di hadapannya .


" Kami tahu kamu sangat menyayanginya " jawab Jordi .


" Ganti pakaianmu dan temui dia untuk terakhir kali " ucap Jordi seraya bangkit dari duduknya .


Dila hanya mengangguk sambil menatap Jordi . Gadis itu masih terdiam di atas ranjang hingga sang kekasih pergi meninggalkan dirinya .


Beberapa menit kemudian Dila turun ke bawah setelah berganti pakaian . Ruang tengah di penuhi oleh beberapa orang , di antara mereka ada seorang ustadz dan beberapa orang yang sedang mengaji . Nyonya Nisa segera menghampiri Dila . Keduanya berpelukan .


" Kami akan segera memandikannya , Bicaralah dengannya " ucapnya seraya mengajak Dila ke kamar tuan Gunawan .


Di dalam kamar , nyonya Irma juga ada di sana bersama dengan nyonya Kirana dan Tania Mereka saling berpelukan dan saling menguatkan . Setelah nyonya Nisa berbicara pada semua orang , Dila tinggal sendirian di kamar itu .


Lama gadis itu tertegun , Matanya yang sembab menatap kosong ke wajah tuan Gunawan yang terlihat begitu tenang . Ada banyak hal yang ingin ia katakan , namun ia memilih membisu sambil sesekali menarik nafas panjang .


Tak selang berapa lama , sosok yang sangat ia kenal memasuki kamar tersebut . Dengan masih mengenakan seragam seorang perwira , tuan Aditya masuk Ke kamar itu . Wajahnya tampak tegar , lelaki setengah baya itu menepuk pundak Dila perlahan .


" Kita harus ikhlas Dila , cukup ucapkan selamat jalan . Jangan menangisi yang pergi menghadap sang Kholik " ucap lelaki itu datar .


Dila hanya bisa mengangguk , lalu menatap wajah tuan aditya yang penuh kharisma .


Tuan Aditya duduk di kursi yang terletak di samping Dila . Ia menatap jenazah Tuan Gunawan sesaat lalu menggenggam tangan dingin di hadapannya .


" Selamat jalan pa...., Maafkan semua kesalahanku , anakmu ini banyak melakukan hal yang membuat papa khawatir selama hidup " gumamnya pelan .


Dila beranjak dari kursinya , Ia ingin memberikan privasi pada tuan Aditya .


Gadis itu perlahan pergi meninggalkan kamar tersebut agar tuan Aditya kuasa mengatakan apapun pada tuan Gunawan .


Dila memilih bergabung dengan beberapa anggota keluarga yang berada di ruang tengah . Gadis itu duduk bersimpuh di sudut ruangan . Tak lama tuan Aditya datang dan meminta acara memandikan jenazah segera di langsungkan .


Keluarga berencana memakamkan tuan Gunawan selepas shalat Dzuhur . Sementara itu telah banyak tamu yang datang untuk mengucapkan belasungkawa baik dari kalangan pengusaha ataupun dari kalangan pejabat . Semua orang tidak menduga kepergian tuan Gunawan , meski beliau pernah sakit jantung tapi dokter telah menyatakan beliau telah sembuh , dan belakangan ini terlihat lebih sehat dan bugar .


Setelah semua proses pengurusan jenazah selesai acara pemakaman segera di mulai . Semua anggota keluarga yang datang ikut mengantar kepergian Tuan Gunawan ke tempat peristirahatan terakhirnya , termasuk kerabat jauh dari pihak sang istri .para tamu yang sebagian besar adalah karyawan juga ikut mengantar kepergian beliau .


Acara pemakaman berjalan lancar . banyak do'a dan bunga yang mengiringi kepergian tuan Gunawan untuk kali terakhir . satu persatu keluarga mulai meninggalkan area pemakaman . suasana yang tadi ramai menjadi sunyi .


putra dan putri tuan Gunawan satu persatu mulai melangkah meninggalkan pemakaman , Dila dan Jordi menjadi orang terakhir yang masih terdiam di dekat kubur pengusaha sukses tersebut . sementara Adam dan mak Asih memilih menunggu mereka di area parkir pemakaman .


" Dila...." panggil Jordi pelan sambil meraih tubuh Dila yang bersimpuh dalam diam .


" ayo kita pulang ...." ucapnya setelah Dila menoleh lemah .


" Sebentar lagi..., sebentar lagi saja " jawab Dila pelan .


" Selamat tinggal Kakek...., semoga kakek tenang di alam sana " gumam Dila .


" kami semua ikhlas melepas kepergian kakek , semoga kakek juga ikhlas melepas semua urusan kakek yang belum selesai di sini " Bisik Dila , tangannya mengusap usap batu Nisan yang masih baru .


Dila menatap Jordi yang tengah menatap dirinya kemudian mengangguk lemah . keduanya lalu pergi meninggalkan makam tuan Gunawan yang masih basah .


" kau Ingin berjiarah ke sana ? " tanya Jidan yang melihat Dila tengah menatap Tuan Aditya yang dan keluarganya yang tengah berdo'a di makam Jidan yang berada tak jauh dari tempat itu , namun gadis itu hanya menggeleng pelan .


" aku lelah.." jawabnya pelan sambil melangkah menuju area parkir .


tanpa ia sadari Tania dan Nyonya Irma menatap kepergianya dengan sedih . sementara Jordi hanya menarik nafas panjang , ia tahu Bukan karena telah melupakan Jidan gadis itu tidak mau berjiarah , namun karena kini Dila tidak yakin jika yang ada di kubur tersebut adalah Jidan .


Jordi berjalan pelan di belakang Dila , keduanya hanya membisu hingga sampai di mobil . bahkan dalam perjalanan pulang suasana tampak sunyi , jordi duduk di samping Adam yang mengemudikan mobil , sedangkan Dila dan mak Asih di kursi penumpang .


sesekali Jordi menoleh ke belakang , di lihatnya Dila hanya terdiam sambil menatap keluar jendela . perjalanan pulang mereka di iringi rintik hujan gerimis yang tiba tiba turun . begitu sampai di rumah Dila masih diam , gadis itu memilih menuju kamarnya setelah mengucapkan terima kasih pada Adam dan Jordi . Jordi hanya menatap kepergian Dila tanpa mampu berkata apapun , Pria itu juga memilih beristirahat ke kamarnya .


Sudah dua hari Tuan Gunawan berpulang , keluarga selalu mengadakan Tahlilan setiap malam , dan semua orang masih berduka . setiap orang larut dalam kegiatan masing masing untuk menghibur diri .


Dila memilih menghabiskan waktu di taman atau balkon saat siang hari dan ikut bergabung dengan para tamu yang hadir untuk mendo'akan tuan Gunawan di malam hari . lalu memilih pergi tidur saat semua tamu telah pulang . Ia bahkan menghindari berbicara pada Jordi .


Saat malam tiba , Jordi diam diam masuk ke kamar Dila , menatap gadis itu dengan sejuta pertanyaan yang tak pernah menemukan jawab . Ia akan pergi setelah puas menatap Dila yang tengah terlelap .


Dila bukannya tidak tahu Jordi mengunjungi kamarnya , namun gadis itu memilih untuk menutup mata . Entah kenapa ia tidak ingin mengatakan apapun . Ia bahkan tidak tahu apa yang di inginkan hatinya kini .


Siang itu Dila tengah duduk terdiam di balkon . Matanya menatap pemandangan di sekitar perumahan yang terlihat dari tempat tempat itu .


" Hai Dila...." suara yang sangat ia kenal membuat lamunan Dila buyar , saat itu ia tengah duduk termenung di balkon lantai tiga . gadis itu menoleh ke arah suara .


" Kak Bima...." Ucap Dila sambil terbengong melihat kedatangan Bima .


Bima tersenyum padanya , lalu berjalan perlahan menghampiri Dila dan tanpa basa basi langsung duduk di sebelah gadis itu .

__ADS_1


" Hemh....di sini menenangkan...." Gumam Bima sambil menatap wajah Dila yang terlihat tirus .


" Bukannya kakak ada di Ambon ? " Tanya Dila sambil menatap Bima sesaat .


" Yah....tiba tiba ada perubahan rencana . Kau baik baik saja ? " Bima menatapnya tak berkedip .


Dila hanya mengangguk sambil berusaha tersenyum mendengar pertanyaan pria itu .


" Lama banget sih orang itu..." Gumam Bima .


" Siapa ? " Tanya Dila heran . Bima hanya tertawa sambil mengangkat dagunya , menunjuk ke arah tangga .


Dila mengikuti pandangan Bima , gadis itu langsung beranjak dari duduknya .


" Kak Ivan. !" Pekik Dila Seraya berlari memeluk sosok yang telah lama tidak ia temui .


Ivan mengusap kepala Dila yang tengah memeluknya dengan erat .


" Aku turut berdukacita ..., Kamu harus sabar " Pria itu menepuk-nepuk punggung Dila pelan .


" Terimakasih kak ..." Dila mengusap matanya yang sembab , gadis itu segera melepaskan pelukannya . keduanya berjalan ke arah kursi .


" Di sini pemandangan lumayan , seperti berada di gunung " ucap Ivan memecah kesunyian setelah mereka duduk bersama dalam kebisuan untuk beberapa saat .


" aku rindu mendaki " gumam Dila


" ayo pergi bersama " sahut Ivan cepat


Dila menarik nafas panjang , kepalanya menunduk untuk sesaat sambil menghembuskan nafas perlahan .


gadis itu tertawa sumbang lalu mulai terisak sambil menundukkan kepalanya kedua pria yang ada di sampingnya hanya terdiam , Ivan menepuk nepuk punggung Dila dengan lembut . setelah beberapa saat isakan Dila mulai reda , Ivan mengulurkan sebungkus tissue dari saku jaketnya .


" thanks ..." gumam Dila seraya membersihkan airmata dan ingus di hidungnya .


" Merasa lebih baik ? " tanya Ivan sambil menatap Dila yang kini bermata sembab , dan hidungnya memerah .


" entahlah...." jawab Dila seraya mendesah pelan .


" aku bahkan tidak bisa lagi membedakan apakah aku baik baik saja atau....aku hanya sedang berusaha baik baik saja " jawab Dila seraya kembali menarik nafas panjang .


" telepon aku kapan saja jika kau butuh teman bicara " ucap Ivan sambil menatap wajah Dila dengan lembut .


" Maaf..." Gumam Dila pelan .


" Untuk apa ? " Tanya Ivan .


" Aku selalu membagi beban ku dengan kak Ivan . Aku merasa seperti kehilangan rumah untuk kembali . Terasa kosong sekali di sini " Dila mengusap dadanya yang kembali terasa sesak . Buliran air mata kembali mengalir keluar dari matanya .


" Kenapa Tuhan melakukan hal ini padaku ? . Kenapa semua orang yang aku sayangi selalu pergi meninggalkan aku ? " Tanya Dila seakan berbicara pada dirinya sendiri .


" Sssset , tidak boleh berkata begitu " Ivan mengusap punggung Dila dengan lembut .


" Ayah , Bunda , eyang , Adi , sekarang kakek . Aku selalu di tinggalkan " gumam Dila pelan .


" Mereka tidak meninggalkanmu . Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa orang yang kita sayangi selalu hidup di hati kita . Kebaikan , cara hidup , dan nasehat bijak mereka akan selalu ada di hati kita " ucapan Ivan membuat Dila terdiam .


" Kehilangan seseorang bukanlah akhir dari segalanya . Semua hal pasti berlalu saat inilah waktunya kita belajar ikhlas . Kakak tahu kamu bisa , kamu gadis paling kuat yang pernah aku temui " Ivan berjongkok di depan kursi Dila sambil tersenyum pada gadis yang diam diam sangat ia kagumi .


" Sikap berani , ceria , dan baik hati adalah karakter yang ibumu tinggalkan . Kecintaan kepada alam dan orang orang yang ada di sekeliling mu adalah pribadi eyang yang tertanam di hatimu . Tidak ada yang benar benar pergi , mereka hanya berada di tempat yang berbeda . Jadi .... Menangislah untuk sebentar saja , setelah itu kamu harus lebih kuat . Mereka tidak akan bahagia kalau kamu seperti ini " Ivan mengusap air mata di pipi Dila .


Keduanya membisu , saling menatap untuk beberapa saat . Sementara Bima hanya menyimak pembicaraan mereka dalam diam . Pria itu pernah mendengar tentang Hubungan dekat Ivan dengan Dila dari Jidan , itu sebabnya ia mengajak pria itu datang bersama .


" Ayo senyum , ini bukan wajah yang ku kenal . Serius...kamu terlihat sangat jelek " ucap Ivan setelah Dila terlihat tenang .


Dila tertawa kecil sambil memukul lengan Ivan .


" Nah begitu....ku terlihat cantik dengan tawa itu " Ivan mengusap kepala Dila dengan lembut .


" Gaess...aku turun dulu , kalian mengobrol saja dengan tenang ya.." Bima menyela mereka .


" Ya pergi sana kamu mengganggu di sini " jawab Ivan sembari beranjak dari hadapan Dila .


" Eh..dasar ****** ! " Makian Bima membuat Dila dan Ivan tertawa .


" Aku mau cari makanan dulu , lapar.." Bima melangkah pergi meninggalkan tempat itu .


" Sisain buat gue Bim..." Teriak teriakan Ivan hanya di anggap angin lalu oleh Bima .


Bima melangkah turun , nun langkahnya terhenti saat menyadari ada Jordi di balik pintu menuju tangga .


Bima urung untuk membuka mulutnya saat melihat Jordi meletakkan satu jari di bibirnya sendiri , keduanya kemudian meninggalkan tempat itu bersama . Mereka berjalan dalam diam hingga tiba di area kolam renang di halaman belakang .


" Bik..saya mau kopi " ucap Bima pada bu Narti yang memang sangat akrab dengan Bima . Saat keluarga Aditya masih tinggal di rumah itu ia sering berkunjung .


" Iya nak Bima..., Mau makan ? Biar saya ambilkan " jawab Bu Narti yang tengah mengatur beberapa pelayan .


" Boleh bik...bibik tau aja orang lagi laper " jawab Bima sambil tertawa .

__ADS_1


Kedua pria itu memilih duduk di tepi kolam renang .


" Kenapa Lo ? " Bima menatap Jordi yang terdiam sambil memandang air di kolam renang yang tenang .


" Lelaki di atas..., Apa dia dekat dengan Dila ? " Tanya Jordi yang tak mampu menahan rasa penasarannya .


" Kamu cemburu ? " Tanya Bima .


Jordi terdiam sambil tersenyum masam . Seorang pelayan menyuguhkan kopi pada keduanya .


" Makasih teh..." Ucap Bima pada pelayan itu ,. Dan di jawab anggukan sopan olehnya .


" Ivan itu seperti guru , kakak , dan sahabat terbaik Dila . Dia lebih tahu semua tentang Dila lebih dari siapapun " Bima berbicara dengan santai setelah menghirup kopi hitam yang di suguhkan .Jordi menatap Bima tak percaya .


" Gue serius Bro..., Sepertinya pria itu adalah the true first love nya Dila " ucapan Bima membuat Jordi menatapnya dengan sinis .


" Kamu nggak percaya ? " Tanya Bima sambil tertawa .


" Percaya " jawab Jordi acuh .


" Gimana kalian ? " Tanya Bima .


" Ini makanannya nak Bima.." Bu Narti memotong pembicaraan mereka sambil membawa sepiring nasi berisi lauk pauk .


" Wah...makasih Bik.." ucap Bima dengan gembira .


" Makan yang banyak " ucap Bu Narti sambil meletakkan segelas air di meja . Bima menatap lauk pauk yang berada di piringnya dengan tatapan lapar .


" Bibik pergi dulu , masih banyak lagi klu belum kenyang nambah aja " ucap Bu Narti dengan ramah . Wanita berusia matang itu meninggalkan keduanya .


" Aman itu bi.." ucap Bima seraya melahap makanan yang ada di hadapannya .


" Dila menerima cintaku " ucapan Jordi membuat Bima tersedak , pria itu buru buru meneguk air putih .


" Dila bilang akan memberi aku kesempatan untuk membuat ia jatuh cinta " gumam Jordi Sambil menatap wajah Bima yang terkejut .


" Shut up " gumam Bima tak percaya .


Jordi tersenyum melihat reaksi Bima yang menurutnya berlebihan .


" Are you serius ?! " Tanya Bima yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar .


Bima menarik nafas panjang , melihat Jordi mengangguk tanpa ragu .


" Baguslah..." Ucap Bima setelah terdiam beberapa saat , pemuda itu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya .


" Kamu senang ? " Tanya Bima setelah menghabiskan hampir separuh makanannya .


" entahlah....dia bahkan tidak mengatakan apa-apa padaku , tapi dia bisa berbicara begitu banyak pada pria itu " jawab Jordi seraya menghirup kopi miliknya .


Bima hanya diam , lelaki itu asik dengan makanannya seakan tak mendengar ucapan Jordi .


" Aku bukan pria yang memiliki rasa percaya darinya . Dia bahkan seperti menghindari aku sejak pemakaman kakek " Jordi meraih sebatang rokok milik Bima yang tergeletak di atas meja , beberapa saat kemudian kepulan asap putih keluar dari mulut dan kedua lubang hidungnya .


Keduanya membisu , hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring karena ulah Bima . Sesaat kemudian Bima meletakkan piring kosong di atas meja , lelaki itu meminum air putih hingga tandas , lalu meraih sebatang rokok .


" Bagaimana hubungan Dila dan Jidan dulu ? " Tanya Jordi setelah keduanya membisu sambil menghisap rokok mereka .


" Tidak baik " jawab Bima santai .


" Dila begitu mencintai dia , bagaimana bisa seseorang mencintai begitu dalam " gumam Jordi pelan .


" Aku tidak yakin bisa membuat ia mencintai aku seperti itu " lanjut Jordi seakan bicara pada diri sendiri .


" Kalau begitu jangan di lanjutkan " jawab Bima santai .


" Apa maksudmu ? " Tanya Jordi sambil meletakkan rokoknya di asbak , menekan rokok tersebut hingga patah dan padam .


" Kalau kau tidak yakin dia akan mencintai kamu maka jangan kamu lanjutkan " ucap Bima sambil menatap wajah Jordi dalam .


" Dila itu istimewa , dia akan memegang setiap kata yang terucap dari bibirnya . Meski itu akan membuat ia merasa sakit . Kamu tahu keadaannya bukan ? . Jika tiba tiba Jidan kembali hubungan kalian akan menempatkan ia pada situasi yang sulit . Dia tidak akan pernah menyakiti kamu meski itu meyakitinya . Dan aku tahu sampai detik ini dia masih mencintai Jidan . Jadi jangan kamu teruskan jika kamu tidak yakin akan membuat dia jatuh cinta padamu . Hubungan kalian hanya akan saling menyakiti " ucap Bima dengan wajah serius .


" Aku ingin bertemu dengan om Adit , apa dia ada ? " Tanya Bima seraya bangkit dari duduknya setelah mematikan rokoknya .


" Apak kalian masih mencari pria itu ? " Tanya Jordi dengan wajah kaku .


" Jika dia masih hidup bukankah memang seharusnya kita membuat ia kembali pada keluarganya yang sebenarnya " jawab Bima tenang .


" Bisakah kau berada di pihak ku kali ini " ucap Jordi dengan wajah serius .


" Tentang hal apa ini " tanya Bima sambil berkacak pinggang .


" Bantu aku memenangkan hati Dila " ucap Jordi pelan .


" Sayembara itu antara kalian bertiga . Aku tidak perduli dengan hal itu . Seperti kataku tadi , menangkan hatinya bukan dirinya . Kalian berdua memiliki peluang yang sama . Karena ada hal yang tidak bisa Jidan berikan , dan kamu bisa memberikannya " jawab Bima sambil seraya berbalik .


" Apa itu..? ! " Jordi mengejar Bima yang berlalu .

__ADS_1


Bima tidak menjawabnya , pria itu melangkah menuju ruang tamu tanpa berkata sepatah katapun .


Sebenarnya apa yang tidak Jidan punya dan ia miliki , Jordi mencoba mencerna ucapan Bima barusan . Tapi pikirannya kembali pada senyum kecil Dila karena Ivan , pria itu begitu dekat dengan Dila . Ia sungguh merasa iri pada pria itu .


__ADS_2