
" Anda tidak ingin melakukan operasi " dr Andre mengulangi kata kata Dila . gadis itu mengangguk lemah .
" Kakek saya seorang prajurit , tubuh yang tidak mampu berbuat apapun lebih buruk dari kematian baginya , lagi pula dokter yang bilang kemungkinan berhasil hanya tigapuluh persen " Dila menjawab dengan mantap .
" perawatan saat tidak akan menolong beliau , dan saya tidak bisa menjamin beliau akan sadar , saya harap anda mengerti akan pilihan anda . Sebagai dokter meski tigapuluh persen itu tetap sebuah harapan meski ada resiko lainnya " dr andre menjelaskan .
" itu keinginam beliau " jawab Dila mantap .
" Tolong beri dia ruang perawatan terbaik " Dila melanjutkan ucapannya dengan suara bergetar .
" Baiklah jika itu keinginan anda " ucap dr Andre sembari tersenyum ramah .
" Anda bisa mengurus segala sesuatunya di bagian administrasi , semoga masih ada keajaiban untuk kita " ucap dr Andre . Dila segera pamit dan mengurus administrasi rawat inap di ruang kelas satu untuk sang kakek .
" Tidak sus..tolong rawat di ruang VIP " ucap Tuan Gunawan yang tiba tiba muncul bersama Jordi . Kakek tua itu kini tidak lagi memakai kursi roda , ia berjalan dengan gagah di samping sang cucu
" Ini hadiah dari seorang teman " ucapnya sambil memandang hangat wajah Dila .
" Kek..tidak perlu.."
" Jangan menolaknya " tuan Gunawan memotong perkataan Dila .
" Jordi urus semuanya " ucapnya pada sang cucu yang hanya di jawab anggukan . Dila mengucapkan terimakasih , Tuan Gunawan menuntun gadis itu untuk duduk di kursi sambil menunggu Jordi menyelesaikan administrasi .
Tidak butuh waktu lama untuk mendapat ruang rawat inap VIP . Tak sampai satu jam mereka sudah ada di sebuah ruangan luas .
Tuan Gunawan berbaring di sofa panjang atas bujukan Dila , ia beristirahat sambil menunggu pak Nurdin menjemputnya . Jordi tampak duduk dengan tenang di sebuah sofa . Mang Karman duduk di sofa bersama dengan Dila , semua orang di ruangan itu sibuk dengan pikiran masing masing .
*****
Dua hari eyang Saka di rawat , tapi tidak ada perubahan . Tuan Gunawan tetap rajin menemani Dila merawat sang kakek . Jordi telah pulang ke bandung satu hari yang lalu dengan naik kereta .
mak Asih dan lilis datang bergantian ke rumah sakit . Hanya orang orang dekat yang tahu keadaan eyang saka , Dila meminta semua orang yang bekerja pada keluarganya untuk tidak membicarakan keadaan kakeknya .
Sore itu lilis berencana mengantarkan makanan Dila di Rumah sakit . mak Asih khawatir karna mang Karman bercerita cucu tuannya itu hanya makan sedikit . karenanya ia meminta lilis memastikan Dila telah makan sebelum pulang .
"Dila makanlah , mak sangat khawatir mendengar kamu tidak makan " ucap lilis sambil meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja .
" aku akan makan nanti " ucap Dila yang tengah duduk di sofa .
Lilis menarik gadis itu hingga duduk bersimpuh di depan meja pendek tempat ia meletakkan bawaannya . Dengan sigap gadis itu membuka kotak bekal di hadapannya dan menaruh sendok di tangan kanan Dila .
__ADS_1
" aku tidak akan kemana mana sebelum kau menghabiskan ini " ucap lilis sambil menyodorkan kotak bekal di hadapan Dila lalu duduk di hadapan gadis itu .
Dila tidak berkata apa apa . gadis itu mengambil makanannya lalu memasukkan ke mulutnya . Dila memakan makanannya beberapa suap dengan lahap . Tapi setelah beberapa saat Dila merasa sangat sesak hingga susah untuk menelan makanan dengan menu favoritnya . Namun tangan gadis itu terus saja memasukkan makaknan ke mulutnya hingga mulutnya penuh .
" apa yang kau lakukan .." lilis menghampiri Dila sambil mengusap air matanya , ia lalu memberi gadis itu segelas air .tapi Dila justru menangis sambil berusaha menelan makanannya , ia bahkan terus memakan makanan itu sambil meneteskan air mata . Lilis hanya mampu menatap majikan yang telah jadi sahabat dan saudaranya itu sambil berlinang air mata .
Di samping ranjang Tuan Gunawan yang dari tadi mengawasi mereka hanya menarik nafas panjang , mencoba melonggarkan dadanya yang terasa sesak .
*****
" Kau tau...aku iri pada eyangmu " suara tuan gunawan membuat Dila yang tengah duduk di samping ranjang sambil memandangi sang kakek menoleh ke arahnya .
" hidupnya begitu sempurna " tuan Gunawan memandang Dila sambil tersenyum .
" Dia memiliki keluarga yang luar biasa dan kehidupan yang indah . seharusnya kakek juga memilih kehidupan sepertinya " lanjut tuan Gunawan .
" kehidupan seperti eyang ? maksudnya ? " Dila menatap tuan Gunawan tak mengerti .
" kau tahu..sore itu waktu eyang pergi dengannya ? " tanya tuan Gunawan .
Dila mengernyitkan keningnya kemudian mengangguk .
"Kami banyak membicarakan dirimu hari itu " lanjut tuan Gunawan .
Dila memandang tuan Gunawan dengan mata nanar .
" Dia percaya kau tau yang terbaik untuk dirimu sendiri dan semua orang . menurutnya kamu benar benar cucunya . Jadi tidak ada alasan baginya untuk takut meninggalkanmu . Dia bahkan mentertawakan kakek " tuan Gunawan tertawa hambar .
" Kenapa ? " Tanya Dila .
" Karna kakek belum boleh mati meskipun ingin . Kakek punya banyak anak dan cucu tapi mereka semua tidak bisa Kakek percaya . Kakek bahkan terlilit hutang " jawab tuan Gunawan lesu .
Dila tertawa mendengar keluhan tuan Gunawan .
" Apa itu benar ? , Bukannya kakek orang kaya ? " Tanya Dila dengan polos
" Yah kau tau...banyak orang berkata , semakin kaya seseorang semakin besar hutangnya , itu semua benar " tuan Gunawan berbicara sambil berjalan ke arah Dila .
" Kau tau..dia orang yang luar biasa , prajurit pemberani , ayah yang luar biasa , juga sahabat yang akan di rindukan oleh banyak orang " gumam tuan Gunawan .
" Ya...dia orang yang seperti itu " ucap Dila sembari menarik nafas panjang .
__ADS_1
" Dia selalu melakukan yang terbaik di hidupnya , kakek rasa tidak ada yang ia sesali di kehidupan ini " gumam tuan Gunawan sambil menatap hangat gadis manis di sampingnya . Dila mengangguk membenarkan ucapan tuan Gunawan .
" Jadi kakek rasa ini saatnya " ucap tuan Gunawan dengan lembut .
" Relakan Dia sayang...., Dia tentu sudah sangat ingin bertemu belahan jiwanya yang sudah menunggunya cukup lama " ucap tuan Gunawan sambil menepuk lembut punggung gadis itu .
" Kakek ingin mencari udara segar di luar .." ucap tuan Gunawan setelah keduanya terdiam beberapa saat .
Dila memandang wajah kakeknya dalam . Percakapannya dengan tuan Gunawan membuat ia ingin mengakhiri ketidakpastian yang ia nanti .
" Eyang....apa eyang mendengar Dila ..? " Dila bergumam sambil menggenggam tangan sang kakek .
" Dila rasa ini saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal , eyang ngin pulang bukan ? " Dila menarik nafas dan menghembuskannya kuat kuat , mencoba menguatkan hatinya .
" Jangan lupa janji eyang untuk mengawasiku dari tempat eyang , jangan khawatir Dila akan mencari seseorang yang sangat baik dan tentunya lebih tampan dari eyang untuk berkencan " Dila berbisik sambil menahan air matanya .
" Selamat jalan eyang " Dengan lembut Dila mencium punggung tangan kakeknya , gadis itu kemudian beranjak dari duduknya .
Dila melangkah menuju kamar mandi , gadis itu membasuh mukanya lalu mengambil air wudhu . Tak lama gadis itu keluar , mengambil mukenahnya dan melakukan shalat malam . dengan kusu' Dila memohon pada Allah agar eyangnya di beri kemudahan untuk kembali padanya atau pada sang pencipta . air mata Dila tak henti mengalir selama ia berdo' a . Dila mengusap air wajahnya setelah selesai berdo'a .
Bersamaan dengan itu bedside monitor berbunyi . Suara , yang sangat ia kenal karna sering mendengarnya dari drama drama sedih yang ia tonton .
Dila beranjak dari duduknya dengan hati berdebar . kakinya setengah berlari mendekati ranjang dimana kakeknya berbaring , dengan cepat tangannya menyambar tombol untuk memanggil perawat . air mata Dila mengalir meski tak ada suara tangis dari mulutnya .
Tak lama dokter dan perawat datang . Tuan Gunawan dan semua orang juga berlari ke ruang rawat melihat dokter dan perawat kesana . semua orang berkumpul untuk menemani eyang . Tim medis berusaha maksimal menolongnya namun pada akhirnya mereka hanya pasrah pada takdir yang Esa .
" Waktu kematian pukul 01: 06 " ucap dr Tomi , dokter jaga malam itu .
Semua orang di ruangan itu tertunduk mendengar ucapan sang dokter . Dila yang masih menggunakan mukenahnya terus saja mengusap matanya yang tidak berhenti mengeluarkan air mata .
Para perawat segera melepaskan semua alat yang menempel di tubuh eyang Saka dua hari ini . Suasana ruangan itu cukup tenang hanya isakan pelan dari Dila yang terdengar . Mang Karman dengan setia mendampingi gadis itu .
Tuan Gunawan menghampiri tubuh eyang Saka , mengecup kening sahabatnya itu lalu mengusap wajahnya .
" Selamat jalan teman..., " Bisiknya pelan .
" Kami ingin membawanya pulang malam ini juga dok " ucap tuan Gunawan pada dokter Tomi . Dokter itu mengangguk .
" Nurdin...urus segalanya secepat mungkin , dan Karman...kabari orang rumah " tuan Gunawan berkata dengan tegar pada pak Nurdin dan mang Karman yang masih terpaku .
" Baik tuan.." jawab pak Nurdin yang selalu siaga di dekat majikannya setelah Jordi pulang ke Bandung .
__ADS_1
Ia segera menuju ke bagian administrasi .
Mang Karman juga segera menghubungi Mak Asih dan beberapa pegawai perkebunan serta pak lurah .