
Matahari telah mulai bersinar, kuning keemasan dan memantul di air laut. Deburan ombak yang meliuk liuk santai, membuat cahaya matahari seperti menari di atasnya.
Rinto kembali ke gua dengan membawa dua ekor ikan hasil tangkapannya. Terlihat Choki dan Sheli sudah tampak begitu akrab, sesekali terlihat canda tawa mereka.
"Pagi," sapa Rinto. Keduanya langsung beralih ke Rinto yang berdiri tegak di depan gua.
"Wow, kau mendapatkannya, brapo" tanya Choki.
Rinto hanya mengangguk sambil meletakkan ikan siap untuk dibakarnya.
Mereka bertiga mengelilingi api yang telah dihidupkan kembali oleh Rinto dan mulai memanggang ikannya.
"Lelaki yang hebat, tapi menyebalkan." Tanpa sadar Sheli mengagumi Rinto. Sosok laki-laki yang memiliki karisma tersendiri.
"Bukankah Rinto hebat, Sheli," ujar Choki.
"Hm." Sheli hanya mengangguk sedikit. Membuat Rinto memandang Sheli.
"Hanya, segitu?" tanya Rinto.
Sherli hanya mengangkat bahunya. Secara spontan Rinto menjentikkan kening Sheli. Yang berada disampingnya.
"Sakit." Sheli menggosokan keningnya dan melotot pada Rinto. Hal ini mengakibatkan Rinto tertawa.
"Itu baru cocok untukmu, Murai."
"Ish." Sheli mengerucutkan kedua bibirnya.
"Apakah dirimu berasal dari sini, Rinto?" tanya Choki.
"Iya,"
__ADS_1
"Pantas saja, kau cukup akrab dengan lingkungan ini."
"Iya aku cukup mengenal daerah ini. Pulau xxx tempat yang kita tuju kemarin, memiliki lima pulau kecil disekitarnya, dan ini adalah pulau agak besar. Cukup agak jauh dari pulau xxx." jawab Rinto.
"Pantas saja kau tak canggung, terus untuk apa kayu itu, apakah kita akan menginap disini lagi malam ini?" tanya Sheli.
"Iya," jawab Rinto singkat.
"Serius." ujar Sheli.
Rinto mengangkat kedua bahunya.
"Rinto," Rinto hanya tertawa melihat Sheli cukup kesal.
"Tidak, sebentar lagi regu penyelamat akan datang. Ini kayu hanya persiapan saja. Kita tidak tau keadaan laut. Mungkin saja ada yang
terdampar sama dengan kita, Sepertinya kalian sudah cukup saling mengenal?." Rinto memandang Choki dan Sheli.
"Maksudnya?"
"Yakin, kau tidak tau dengan kami?" tanya Choki.
"Iya, kita baru saja bertemu kemarin."
Choki tertawa mendengar penjelasan Rinto.
"Kau harus lebih mengenal dunia luar, bro. Agar kau tau dunia tak selebar daun kelor," ujar Choki.
Rinto hanya tersenyum, apa yang disampaikan Choki betul saja. Ia tak begitu peduli dengan namanya media sosial, baginya media sosial hanyalah setingan.
Mereka saling bercerita, sambil menyantap ikan hasil tangkapan Rinto.
__ADS_1
Choki ternyata merupakan selebgram yang tujuannya berkunjung kepulau xxx adalah mencari spot fotonya. Menurutnya pulau xxx yang akhir-akhir ini sudah mulai dikenal dan memiliki pemandangan yang seperti surganya dunia. Wajar saja wajahnya sangat tampan,membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Dengan tubuh yang cukup kekar ditambah lagi model rambut yang sangat styles.
Sedangkan Sheli adalah anak tunggal dari pengusaha kuliner masakan daerah yang terkenal, memiliki begitu banyak cabang bahkan sampai keluar negeri. Sedangkan, Sheli sendiri adalah merupakan desainer terkenal yang hasil karyanya bisa termasuk populer dikalangan remaja.
"Wow, kebetulan yang hebat. Mungkin saja kalian berdua bisa saling kerja sama," ujar Rinto.
"Bukankah itu rencana yang bagus, Sheli?" Choki menatap Sheli yang berada disampingnya.
"Iya, bisa saja," sahut Sheli
"Mantap, kalian jangan melupakan tour guidenya, Rinto." Rinto menepukkan dadanya. Membuat mereka tertawa bersama.
Tak lama kemudian, tim penyelamatpun datang menjemput mereka.
"Kita akan bertemu kembali di kafe Y, besok pagi jam sepuluh. Ok!" seru Rinto sesaat sebelum mereka terpisah.
__ADS_1