Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
90. kisah lainnya# Aisyah Nuraini


__ADS_3

**masih dalam ingatan masa lalu Aisyah**


Aisyah memasuki pintu kamar penginapan . Ia kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur . Hari telah malam saat ia kembali ke penginapan setelah puas berputar putar di kota bogor sambil menangis sepanjang sore tadi . Pada akhirnya pikiran jernihnya menyuruh ia kembali ke penginapan .


Ia merasa sangat lelah , kepalanya juga terasa sakit . Dengan lesu ia membuka koper mencari tas kecil berisi obat obatan miliknya . Setelah meminum obat pereda sakit kepala ia berbaring di atas ranjang . Entah karena lelah atau pengaruh obat , ia kemudian tertidur pulas .


Alarm dari handphone membuat Aisyah membuka mata perlahan . Ia segera meraih handphonenya yang tergeletak begitu saja .


Setelah mematikan alarm di handphonenya , Aisyah memeriksa beberapa panggilan telepon yang ia lewatkan . Puluhan panggilan dari Prasetyo , beberapa panggilan dari ibu mertuanya dan sang Ayah , lalu ada panggilan dari Ayu .


Perlahan Aisyah bangkit dari tempat tidur . Ia segera mandi karena waktu subuh telah hampir tiba . Setelah selesai mandi ia mengenakan baju tidur dan mengambil air wudhu , lalu mulai menggunakan mukenah dan duduk bersimpuh di atas sajadah . Sambil mendengarkan suara adzan dari masjid terdekat .


Air mata Aisyah mengalir tak tertahankan sambil beristighfar dalam hati . Ia kemudian mulai menjalankan shalat subuh begitu suara iqomah terdengar . Dengan khusu' ia menjalankan shalat subuh , mencoba berkomunikasi dengan Allah SWT melalui shalatnya . Selesai Shalat ia memanjatkan do' a sambil meneteskan air mata .


Di hadapan sang Kholik , ia menumpahkan rasa sakit dan kekecewaan yang ia rasakan terhadap sang suami . Lalu mulai bertanya pada diri sendiri dimana letak kesalahannya hingga menerima ujian yang ia rasa begitu berat . Kenapa suami yang ia percayai tega menghancurkan kepercayaan yang ia berikan . Setelah puas iapun mengakhiri do'a dengan memohon kebaikan bagi dirinya dan kedua orang tuanya .


Aisyah melipat mukenah dan sajadahnya , lalu meletakkannya dengan rapi di lemari penginapan . Hatinya terasa lebih ringan setelah selesai shalat . Iapun mulai bersiap siap untuk mengikuti jadwal seminar hari ini . Setelah rapi dengan pakaian sederhana dan riasan wajah yang seadanya Aisyah duduk di kursi kamar tersebut . Sebenarnya satu kamar di isi oleh dua dokter perwakilan daerah , namun rekan sekamarnya memilih menginap di rumah orang tuanya yang tinggal di kota Bogor .


Ia dan Anita teman sekamarnya sama sama dokter muda yang di tugaskan di kota Lampung . Meski mereka lulusan dari universitas yang berbeda . Suara telepon genggam membuat Aisyah yang tengah melengkapi beberapa dokumen untuk di bawa ke ruang seminar menghentikan kegiatannya . Ia menatap layar handphonenya sesaat lalu mengangkat panggilan telepon dari sang ayah .


' assalamualaikum pak .." ucap Aisyah dengan sopan dan lembut .


" Walaikumsalam..., Kamu baik baik saja ndok...? " Pertanyaan sang Ayah membuat Aisyah menahan nafasnya .


" Njeh pak...,maaf semalam saya kecapean jadi tidak dengar telepon dari Bapak " Aisyah berusaha berbicara setenang mungkin .


" Oh... syukurlah...ntah kenapa perasaan Bapak tidak enak . Kami sudah memberitahu Pras kalau kamu ada di Bogor . Biar dia bisa menemui kamu ndok.., kalau di kasih ijin menginaplah beberapa hari di tempat suami kamu sebelum pulang ke kota dinasmu " nasehat sang Ayah seperti biasanya .


Aisyah hanya terdiam mendengar penuturan sang ayah .


" Kamu sudah memberitahu dia ? " Tanya sang ayah karena Aisyah hanya terdiam .


" Saya sibuk dengan pekerjaan pak , Jadi belum sempat memberi tahu mas Pras " jawab Aisyah sambil menahan kepedihan hatinya .


Entah apa yang akan terjadi jika sang ayah sampai tahu kalau menantu pilihannya ternyata telah beristri lagi , atau jangan jangan dirinyalah istri kedua Prasetyo .


" harusnya kamu kasih tau dia ndok..., Sesibuk apapun usahakan untuk berkomunikasi setiap malam dengan suamimu . Hal terpenting dalam rumah tangga adalah komunikasi dan rasa saling percaya antara keduanya . Kalian sudah berjauhan begitu menikah , tentu akan sulit untuk menjalani rumah tangga seperti itu . tapi jika kamu dan suami kamu saling percaya dan menjaga kepercayaan masing-masing , semua akan baik baik saja . dan yang paling penting , berikan cinta sebanyak banyaknya pada suami kamu , maka dia akan mencintai kamu sebanyak kamu mencintainya " nasehat sang ayah dengan suara lembut yang memang sudah menjadi ciri khasnya .


Aisyah tak mampu membendung air matanya . Kristal bening itu mengalir begitu saja dari kedua kelopak matanya .


Untunglah telepon itu hanya panggilan suara , jika panggilan video tentu sang ayah dapat melihat betapa ia telah berusaha untuk tidak menangis dan mengeluarkan suara tangisnya .


" Ndok...." Panggil sang ayah setelah kesunyian panjang darinya .


" Maaf pak , saya sedang bersiap siap pak " ucap Aisyah memberikan alasan .


" Oh...ya sudah kalau begitu , nanti jangan lupa Telp Prasetyo . Hati hati di sana ndok..ingat kamu sudah jadi istri orang harus pandai menjaga kehormatan suami kamu di manapun kamu berada "


" Njeh..pak " jawab Aisyah cepat .


" Assalamu'alaikum..." Ucap sang ayah menutup panggilan teleponnya .


" Walaikumsalam..." Aisyah menutupi panggilan tersebut dengan suaranya yg menahan tangis .


Hari sudah terang , Aisyah segera bercermin , merapikan wajahnya yang kusam karena kembali menangis . Lalu dengan cepat meninggalkan kamar penginapan . Ia tidak ingin Pras menemukan dirinya di sana , dengan cepat ia segera menuju ruang seminar yang baru akan di mulai dua jam lagi .


" Aisyah..." Sebuah suara menghentikan langkahnya yang sedang berada di lobby .


Seorang lelaki dengan pakaian rapi dan jas berwarna hitam menghampiri Aisyah . Lama Aisyah memperhatikan Pria tersebut sambil mengernyitkan keningnya , ia seperti pernah Melihat pria itu , tapi lupa di mana .


" Aisyah , masih ingat dengan saya ? " Lelaki itu menghampiri dirinya .


Aisyah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan .


" Dokter Andriyan " ucap lelaki itu menyebutkan namanya dengan senyum mengembang .


Aisyah berusaha mengingat ingat wajah dan nama di depannya .


" Oh...apa kabar dok ? " Akhirnya Aisyah berhasil mengingat sosok di hadapannya .


Pria itu adalah Andriyan Nugraha , dokter spesialis saraf yang dulu ia kenal saat menjalani koas di sebuah rumah sakit ketika sedang kuliah . Dokter muda spesialis saraf yang sangat berbakat .


" Kamu tambah cantik aja Ais .." ucapan sang dokter hanya di balas senyum oleh Aisyah .


" Kamu ikut seminar juga ? " Tanya sang dokter setelah beberapa saat .


" Ya.., dokter sendiri ? " Tanya Aisyah sambil menatap wajah tampan yang penuh kharisma di hadapannya .


" Tidak.. kebetulan ada saudara yang mengisi acara jadi kami sarapan bersama di sini . Kamu sudah jadi dokter sekarang ? " Tanya sang dokter sambil menatap wajah Aisyah dengan seksama .

__ADS_1


" Masih dalam masa intership " jawab Aisyah dengan rendah hati .


" Oh ya acaranya masih dua jam lagi , mari kita sarapan bersama " ucap dokter Andriyan .


" Aisyah...." Panggilan seorang wanita cantik dari pintu masuk lobby membuat keduanya memalingkan wajahnya ke arah suara .


" kamu di telp gak di angkat , itu ada orang yang menunggu kamu di gerbang " wanita yang tak lain adalah Anita langsung bicara panjang lebar pada Aisyah .


" Aisyah yang sudah bisa menebak siapa yang mencari dirinya segera menarik tangan Anita dan menjauhi dokter Andriyan .


" Ih..ada apa ? " Tanya Anita heran .


" Bisa tolong aku " ucap Aisyah setengah berbisik setelah keduanya berada beberapa


Meter dari dokter Andriyan .


" Tolong bilang pada orang yang menunggu aku di luar , aku tidak ingin menemui dia sekarang " ucap Aisyah dengan wajah sedih .


" Kamu tahu siapa yang menunggu kamu ? " Tanya Anita meyakinkan .


" Suamiku bukan ? " Aisyah menatap Anita dengan mata berkaca-kaca .


" I...iya ? , Ada apa bukankah kemarin kamu semangat banget mau mampir ke Jakarta dan memberikan kejutan padanya setelah selesai acara ? " Tanya Anita yang makin heran .


" Tolong Nit , sekali ini saja bantu aku " bujuk Aisyah .


" Kalian bertengkar ? " Anita makin penasaran .


" Nanti aku ceritakan . Tolong ya..." Aisyah menggenggam tangan Anita erat .


"Baiklah...tapi lebih baik bicara baik baik daripada menghindarinya " jawab Anita sambil tersenyum .


" Terimakasih ...kamu yang terbaik " Aisyah berkata dengan lega .


Anita segera kembali ke gerbang untuk menyampaikan pesan Aisyah , sementara Aisyah hanya menelan ludahnya sambil menatap kepergian Anita .


Setelah beberapa saat , Anita kembali lagi padanya . Sementara Dokter Andriyan nampak berbincang bincang dengan seseorang sambil menatap Aisyah yang duduk di sebuah kursi jauh dari tempatnya .


Anita mengajak Aisyah pergi sarapan lebih dulu di resto yang berada di penginapan tersebut sebelum menghadiri seminar . Keduanya berjalan sambil berbincang bincang . Anita mencoba mencari tahu apa yang terjadi , namun Aisyah memilih untuk menyimpan masalah rumah tangganya sendiri .


*****


Pukul tiga sore seminar telah selesai , para peserta seminar keluar dari ruangan pertemuan . Saat itulah Aisyah menyadari bahwa di luar tengah hujan deras . Aisyah diam diam melihat layar handphonenya , ia membuka chat dari Prasetyo yang dari tadi ia abaikan .


" Aisyah... kamu di mana ? " chat dari Prasetyo kemarin sore .


" Ais... tolong angkat Teleponnya "


" Demi Allah Ais , tolong maafkan mas . Setidaknya biarkan aku bicara . Ayo kita bertemu "


" Ais... setidaknya katakan bahwa kamu baik baik saja "


" Aku tahu aku salah . Tapi setidaknya biarkan aku tahu keadaan kamu "


" Tidak apa apa kamu tidak ingin menemui aku . Setidaknya aku lega mendengar kamu baik baik saja dari Anita . Tolong temui aku di depan , aku akan menunggu sampai kamu mau menemui aku " chat terakhir Pras .


Aisyah terdiam sesaat , ia menatap keluar gedung melalui jendela , hujan lebat di luar membuat ia merasa mengkhawatirkan suaminya .


Delapan bulan memang waktu yang singkat baginya untuk mengenali sang suami , apalagi mereka terpisah jarak dan hidup berpisah sejak menikah . Namun mereka tumbuh bersama , ia tahu sang suami sering masuk angin jika terkena hujan .


" Eh ..kamu di sini aku cari kemana mana " seruan Anita membuyarkan lamunannya .


" Kamu masih mau menginap di rumah orang tuamu ? " Tanya Aisyah sambil menatap wajah manis Anita .


" Iya dong , Nanti malam kami mau makan malam keluarga . Besok hari terakhir kan malamnya kita jalan jalan ya ? , Sekalian sama beberapa dokter dari Lampung dan Palembang " ajak Anita penuh semangat .


" Liat nanti ya " jawab Aisyah sambil sesekali menatap keluar gedung .


" Ya udah aku pulang duluan ya . Kamu sebaiknya kencan sama suami kamu , nginep aja di kamar kan aku gak ada " bisik Anita dengan nada menggoda .


Aisyah hanya terdiam sambil menahan sesak . Jika saja kejadian kemarin sore tidak pernah terjadi , ia tentu akan melakukan apa yang dikatakan oleh Anita . Tapi kini jangankan untuk memikirkan hal itu , untuk menemui Prasetyo saja hatinya sungguh merasa sakit .


" Aku duluan ya..., Taksi online yang ku pesan sudah menunggu di luar . Dadah Aisyah..." Anita berucap sambil berjalan pergi meninggalkan dirinya .


Aisyah perjalanan menuju kamar dengan pikiran menerawang . Hati nuraninya masih memikirkan dan menghawatirkan Prasetyo , iya takut pria itu masih menunggunya di depan gedung . Namun rasa marah dan sakit hati lebih mendominasi , sehingga Ia memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar .


Saat Aisyah hendak membuka pintu kamar, namun handphonenya tiba-tiba berdering .


" Ais .. sebaiknya kamu temui suami kamu deh . Kasihan ternyata dia masih menunggu di depan . Mana hujan deras lagi kamu tega banget sih ? , Memangnya apa sih kesalahannya ? " Suara Anita sudah lebih dulu terdengar sebelum ia mengucapkan sepatah kata pun .

__ADS_1


" Dia masih di luar ? " Tanya Aisyah dengan nada khawatir .


" Iya...., Kamu temui dia dulu ya " ucap Anita Seraya menutup teleponnya .


Aisyah berdiri dengan ragu , namun rasa sayang terhadap suaminya mampu mengalahkan rasa sakit dan kemarahannya kepada Prasetyo . Wanita itu bergegas menuju lobby lalu meminjam sebuah payung kepada petugas resepsionis . Tanpa ragu Aisyah berjalan diantara derasnya hujan menuju pintu gerbang gedung penginapan milik pemerintah tersebut . Di luar gedung ia melihat Prasetya yang tengah berdiri di teras pos security . Namun derasnya hujan tetap saja membuat pakaian yang ia kenakan basah .


Aisyah berjalan perlahan menghampiri sang suami sambil memayunginya . Prasetya tampak terkejut melihat kehadiran Aisyah , lelaki itu hanya terpaku menatap sosok di hadapannya , matanya nanar penuh dengan keharuan .


" A...Ais .." gumam Prasetyo dengan bibir yang kebiruan karena udara dingin dan hujan


Aisyah hanya terdiam sambil menatap wajah yang terlihat pucat di hadapannya . Keduanya membisu Beberapa saat .


" Oh masnya lagi nunggu pacarnya to..., Kan bisa lewat telepon tidak perlu repot-repot kena hujan seperti ini " ucap security yang berada di dalam pos memecah kebisuan mereka .


" Emh..saya suaminya pak . Saya memang ingin memberikan kejutan kepada istri saya " ucap Prasetyo sambil tersenyum pada security tersebut .


" Oh...maaf pak , tadi seharusnya bapak bilang saja no kamarnya , jadi bisa langsung masuk kamar , tidak perlu menunggu di luar sambil hujan hujanan " ucap sang security dengan wajah menyesal .


" Tidak apa apa pak " jawan Prasetyo sambil meraih tangan Aisyah . Aisyah perlahan mundur dari hadapan Prasetyo .


" Kasian Bapaknya Bu...ajak dulu ke dalam " ucapan sang security memberi angin segar pada Prasetyo .


" Maaf ya pak , merepotkan " ucap Aisyah seraya melangkah pergi , dengan ragu Prasetyo mengikuti langkah ringan Aisyah , keduanya berjalan sambil berpayungan menuju penginapan . Aisyah tidak memperdulikan sapaan petugas resepsionis di lobby , setelah mengembalikan payung ia segera menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada .


Prasetyo hanya berdiri mematung di depan pintu kamar , setelah keduanya sampai . Aisyah tidak bicara sepatah katapun , ia berjalan menuju kamar mandi lalu menyerahkan handuk pada Prasetyo .


" Terimakasih " ucap Pras dengan haru , ia menatap lekat wajah seputih susu milik Aisyah .


Tanpa bersuara Aisyah membuka lemari hotel , lalu memberikan sebuah kaos putih berukuran besar miliknya pada Prasetyo . Pras menerima kaos tersebut lalu tanpa ragu membuka kemejanya di hadapan Aisyah , dan memakai kaos tersebut . Tentu saja kaos itu menjadi ketat di pakai oleh Pras .


Aisyah berdiri di dekat jendela kamar ia hanya diam , tak ingin berkata apapun dalam keadaan hatinya yang seperti sekarang , ia juga memilih untuk menatap keluar , menikmati pemandangan air hujan yang jatuh dari langit dari pada memandang wajah pria yang kini berada di kamarnya .


Prasetyo mendekati dirinya , ia mencoba memeluk Aisyah , Namun Aisyah dengan cepat menghindari pelukannya .


" Jangan sentuh saya mas " ucap Aisyah dengan suara bergetar .


" Ais... aku bisa menjelaskan semuanya " ucap Prasetyo dengan suara lembut .


" Menjelaskan apa ? . Menjelaskan kalau mas sudah beristri lagi di sini . Atau saya yang ternyata adalah istri kedua mas ? " Aisyah menatap wajah Prasetya dengan tajam .


" Aku tidak bermaksud menyembunyikannya dari kamu . Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya " jawab Prasetyo dengan lembut .


" Kamu tega mas..., Kamu menyakiti aku mas..." Aisyah mulai terisak .


" Siapa dia ? . Dia atau aku yang lebih dulu kamu nikahi ? " Suara Aisyah mulai meninggi .


Prasetyo terdiam , ia berusaha untuk menenangkan sang istri dengan memegang pundak Aisyah .


" Jangan sentuh saya " ucap Aisyah tajam .


" Maafkan aku " Prasetyo berucap sambil berlutut di hadapan Aisyah .


" Siapa yang lebih dulu ? " Tanya Aisyah sambil menangis .


" Kamu yang pertama Ais dan aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal ini " ucap Prasetyo dengan suara pelan .


" tapi mas melakukannya " sahut Aisyah dengan cepat .


" Aku...aku melakukan sebuah kesalahan . Aku bersumpah itu terjadi di luar kesadaran . Aku sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi . Saat aku terbangun kami sudah melakukannya . Dia mengandung anakku . Aku menikahi dia karena dia mengandung anakku " ucapan pelan Prasetyo bagaikan petir menggelegar di telinga Aisyah .


" Kalian berzina ? " Aisyah bertanya dengan suara gemetar .


" itu karena aku mabuk . Aku tahu aku tidak bisa menyangkalnya ,ya...aku berzina " jawab Pras Dengan pasrah .


Aisyah terdiam sambil menatap wajah Prasetya yang tertunduk . Air mata tak henti mengalir dari kedua kelopak matanya . Prasetyo mengangkat wajahnya tangannya terangkat ke depan iya ingin mengusap air mata Aisyah namun Aisyah segera menepisnya .


" Ais... Mas tahu mas salah . Tapi maaf tidak bisa membalikkan waktu , dan menghapus begitu saja dosa yang telah mas lakukan . Mas tahu mas telah melukai hati kamu sangat dalam dengan kejadian ini . Mas bahkan tidak berhak untuk mendapatkan maaf darimu . Tapi kamu harus tahu...kamu satu satunya yang aku pilih untuk membina keluarga sakinah . Satu satunya yang aku inginkan menjadi istriku . Aku menikahi dia karena rasa tanggung jawab . Aku tidak memberitahukan hal ini karena tidak ingin kehilangan kamu . Mimpi terbesarku saat meminangmu adalah membina keluarga sakinah hingga kita sama sama menua " Prasetyo menarik nafas panjang .


" Aku .... melakukan dosa , dan tidak ingin menambah dosa yang lainnya . Aku akan menerima apapun hukuman dari kamu , karena aku pantas mendapatkannya . " Prasetyo beranjak. Ia menatap sang istri yang masih membisu . Ia tahu itu adalah kebiasaan Aisyah saat sedang marah , diam seribu bahasa .


" Aisyah....aku mencintaimu " ucapan Prasetyo bagaikan sembilu yang menyayat hati Aisyah . Kenapa ucapan itu baru terucap sekarang , setelah 8 bulan pernikahan , setelah ia menghamili dan menikahi wanita lain . Sedangkan selama ini ini Aisyah sering merengek karena Prasetyo tidak pernah mengatakan kalimat itu kepadanya , bahkan saat ia meminta .


" Aku pergi dulu , mari kita bicara setelah kamu merasa lebih tenang " ucap Prasetyo sambil melangkah keluar kamar .


Aisyah menangis sejadi-jadinya begitu Prasetyo keluar kamar . Penjelasan Pras yang hanya sekilas telah menghancurkan semua mimpi indah yang ia rangkai ketika mereka memutuskan untuk menikah . Iya tidak menyangka lelaki yang ia cintai dan ia kagumi sebagai sosok yang bertanggung jawab , shaleh , dan berbudi luhur sejak remaja bisa melakukan kesalahan yang membuat ia kini menjadi wanita yang harus berbagi suami . Bagaimana mungkin Prasetyo tega tidur dengan wanita lain , bahkan menghamilinya sedangkan mereka sendiri yang telah menikah secara sah belum pernah memiliki waktu untuk melakukan hubungan suami istri .


Kisah hidup seperti apa yang telah Allah SWT tentukan untuknya , hingga ia harus mengalami ujian yang begitu berat . Aisyah makin merasa hancur dan sedih saat mengingat bagaimana perasaan kedua orang tuanya dan perasaan ibu Prasetyo yang telah ia anggap sebagai ibu kandungnya saat mengetahui kejadian ini .


mereka menikah karena perjodohan dari kedua keluarga . berita ini tentu saja akan mengejutkan keduanya . Bagaimana ia bisa menjelaskan dan menceritakan kejadian ini . hatinya makin merasa hancur memikirkan hal itu .

__ADS_1


__ADS_2