Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
46 . Saudara sedarah


__ADS_3

kau ingin pulang ? " Tanya tuan Aditya sambil menatap Dila .


" Iya om.., lusa adalah peringatan empat puluh hari eyang " Jawa Dila .


Tuhan Aditya terdiam sejenak sambil menatap Dila yang duduk di hadapannya.


" Tapi kamu akan tetap tinggal di rumah ini kan ?" Tanya Tuan Aditya .


"Dila hanya pulang sebentar , setelah selesai Dila akan kembali " jawab Dila sopan .


" Kau janji..?! " Tanya tuan Aditya , yang di jawab anggukan kepala Dila .


" Baiklah...akan ada orang yang menemanimu , Ini demi keamanan mu . Malam ini kami akan melakukan penggerebekan semoga semua berjalan lancar " ucap tuan Aditya .


" Mereka sudah tertangkap ? " Tanya Dila .


" Belum...tapi malam ini mereka tidak akan kemana mana " jawab tuan Aditya mantap .


" Dila pamit om , Dila berangkat pagi dari sini " ucap Dila beberapa saat kemudian .


" Ya ya.. sampaikan salam kami pada semua orang di rumah , pak Nurdin akan mengatur segalanya "ucap tuan Aditya .


Dila beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya .


" Dila....." Panggilan tuan Aditya menghentikan langkahnya .


" Om tidak tahu seberapa dalam hubungan kalian , seberapa banyak kamu mencintai Jidan..tapi om berharap kamu bisa melupakannya . Hidup terus berjalan nak.....ada hal yang harus kau jadikan masa lalu agar kau bisa merajut hal baru di masa yang akan datang " ucap Tuan Aditya lembut .


Dila berbalik dan menatap wajah tuan Aditya . Ada sebagian diri Jidan di wajah itu .


" Apa yang harus aku lupakan om..? , Kami bahkan belum memulai , Dia datang mendekat , saaat aku merapat ia menjauh . Lalu ia mengetuk pintu hatiku , saat aku membukanya dia menghilang begitu saja . Aku bahkan tidak tahu apa nama hubungan kami , bagaimana aku ingin melupakan sesuatu yang belum selesai ? " Ucap Dila dengan mata berkaca-kaca .


" Semua hubungan akan terputus saat salah satunya kembali pada Tuhan . Jangan kehilangan kehidupanmu karena kehidupan Jidan sudah berakhir . Om... sungguh berharap kamu menemukan laki laki yang akan menyayangi kamu lebih dari dia , membuat kamu bahagia tanpa harus merasakan sunyinya hari dalam penantian " ucap tuan Aditya tulus .


Dila menarik nafas panjang untuk melapangkan dada yang tiba tiba terasa sesak .


" Terimakasih atas do'a om " ucap Dila seraya melangkah pergi .


Gadis itu segera naik ke kamarnya di lantai dua , saat melewati kamar Jidan pintu kamar itu terbuka . Dengan langkah ragu gadis itu masuk .di lihatnya nyonya Irma tengah duduk di ranjang besar di kamar itu .


" Tante...?" Sapa Dila


" Oh Dila...., Tante sedang memikirkan Jidan . Kemarilah... duduklah di sini " ucap nyonya Irma sambil tersenyum .


Dila menuruti ajakan wanita itu , ia duduk di smtepi ranjang di kamar itu .


" Setelah peringatan tujuh hari Tante akan pindah ke rumah kami sendiri , jadi kakek mungkin akan sendirian . Kamu tolong jaga kakek ya !" Ucap nyonya Irma.


" Kenapa pindah ? " Tanya Dila .


" Terlalu banyak kenangan di rumah ini , Tante ingin fokus pada Tania " jawab nyonya Irma sambil menatap wajah Dila .


" Sayang...maaf jika Adi pernah membuat kamu menangis . Anggaplah kalian tidak berjodoh , lupakan semuanya dan kembali pada hidupmu yang bahagia . Wajah ini...bukan wajah yang Tante lihat beberapa hari lalu " ucap nyonya Irma sambil memegang dagu Dila .


" Kamu lebih cantik saat tersenyum " ucap wanita setengah baya itu sembari tersenyum .


" Mari kita ikhlaskan dia..." Nyonya Irma menatapnya .


Dila hanya mengangguk tanpa bersuara . Keduanya terdiam sambil memandang foto Jidan yang terpajang di dinding kamar . Kedua wanita beda generasi itu hanyut dalam pikirannya masing masing .

__ADS_1


*****


Dila turun dari mobil yang ia tumpangi , seorang tentara muda mengantar kepulangannya ke suka bumi hari itu . dengan langkah cepat ia menuju rumah di ikuti oleh Pemuda yang mengawal dirinya . Mak Asih yang menyadari kepulangan gadis itu segera memeluknya .


Dila langsung menuju kamar setelah berbincang bincang dengan Mak Asih dan memperkenalkan pengawalnya .


Setelah meletakkan bawaannya di kamar Dila beranjak ke dapur , beberapa istri buruh pabrik padi dan perkebunan tengah sibuk memasak untuk selamatan nanti malam . Setelah berbincang dan beramah tamah dengan mereka Dila pamit pada Mak Asih untuk pergi ke luar . Dila pergi ke makam sang bunda .


Dila duduk bersimpuh di samping sebuah makan lama . Tangan kanannya mengusap-usap nisan makan tersebut . Tertulis di makan tersebut " Diandra Larasati Binti Jamal .


" Bunda....apa kabar...? " Gumam Dila pelan .


" Bunda....apa kini Bunda telah tenang bersama ayah ? , Bunda..... Apa yang harus Dila lakukan sekarang ? . Lelaki itu Kini telah pergi dan tidak akan kembali . Tapi....entah kenapa Dila masih berharap dia bisa kembali meski itu tidak mungkin . Apa itu yang dulu bunda lakukan ? , Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi ? ." Dila berbicara pada makam sang Bunda .


" Tolong bantu Dila bunda....bantu Dila agar bisa menjadi tegar seperti bunda . Bantu Dila agar bisa terus melangkah meski Kini Dila seperti kehilangan arah . Bantu Dila melupakan setiap kenangan bersama dengan dia agar hidup Dila dapat terus berjalan " Dengan suara sendu gadis itu mencurahkan kesedihannya .


Lama Dila bersimpuh di makam sang Bunda sambil mencurahkan kesedihan dan duka yang ia rasakan , setelah puas curhat , gadis itu lalu berdoa dan menabur bunga kemudian melangkah pergi meninggalkan makam itu.


Selesai mengirim Do'a dan menabur bunga Dila kembali ke rumah dengan hati yang lebih tenang . Sesi curhat pada makam sang Bunda memang selalu membuat beban di hatinya lebih ringan .


Acara selamatan empat puluh hari eyang Saka berlangsung hikmat . Banyak warga yang datang ikut berdoa dan tahlilan . Malam itu Dila tidur dengan tenang setelah beberapa hari tak bisa tidur . Ia merasa lebih ikhlas menerima kenyataan yang kini menimpanya , kehilangan dua orang lelaki yang sangat berarti di hidupnya .


Pagi haripun menjelang , Dila yang selasai mandi dan berganti pakaian mendengar bercakapan Mak Asih dengan suara yang tidak ia kenal di teras rumah . Dengan penasaran gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke teras .


" Jadi bisakah saya berjumpa dengan putri beliau ? " Tanya seseorang yang berpakaian sederhana tersebut pada Mak Asih .


" Ada apa Mak ? " Tanya Dila yang baru muncul .


" Apa anda putri dari dokter Diandra Larasati ? " Tanya orang tersebut sambil beranjak dari duduknya .


" Ya...siapa anda ? " Tanya Dila heran . Sudah lama sang Bunda meninggal dunia kini ada seseorang yang menyebutkan nama lengkapnya .


" Dia mengaku sebagai seorang detektif swasta neng " ucap mak Asih sambil mendekati Dila .


" Kenalkan nona saya Anton " pria itu mengulurkan tangannya .


Dila terdiam sambil menatap pria itu .


" Ada perlu apa mencari ibu saya ? " Tanya Dila curiga .


Setahu dirinya sang bunda sudah tidak memiliki saudara , beliau adalah yatim piatu yang kehilangan kontak dengan saudara kembarnya sejak saudara kembarnya itu da adopsi oleh seseorang .


"Awalnya Saya mencari ibu anda , saya sedang mencari seseorang yang memiliki hubungan saudara dengan ibu dari klien saya " cerita pak Anton .


" Boleh minta waktu sebentar ? " Tanya bapak tersebut .


Dila mempersilahkan pria itu kembali duduk , sementara itu ia segera duduk di hadapan sang tamu . Mak asih mendampingi Dila karena rasa penasaran .


" Jadi sebenarnya saya sedang menyelidiki sebuah kasus karena permintaan seseorang untuk mencari keluarga temannya yang berasal dari luar negri " cerita pak Anton .


" Luar negri ? " Tanya Dila meyakinkan pendengarannya .


" Benar..temannya tersebut mencari saudara kembar sang ibu . informasi yang saya dapat membawa saya ke desa ini " pak Anton melanjutkan ceritanya . Ia kemudian menunjukkan sebuah foto dari saku jaketnya .


" ini adalah foto ibu dari sahabat teman saya " pak Anton memperlihatkan sebuah foto lama .


Mak asih yang berdiri di samping Dila terkesiap melihat foto tersebut .


" Masya Allah wajahnya benar benar terlihat seperti dokter Dian " seru Mak asih .

__ADS_1


" Siapa nama orang ini " tanya Dila tak sabar .


" Namanya Nadira lestari " jawab pak Anton singkat .


Dila terdiam ,. Ia tidak ingat siapa nama saudara kembar sang bunda , namun wajah di foto itu membuat ia terpaku . Wajah itu benar benar mirip sang ibu .


Namun peristiwa yang baru saja menimpanya membuat ia tidak bisa lagi percaya pada seseorang begitu saja .


" Dari mana anda mendapatkan informasi tentang ibu saya ? " Tanya Dila lagi .


" Dari panti asuhan kasih ibu di Semarang . Dari ibu panti saya dengar bahwa beliau telah menjadi seorang dokter dan bertugas di Ambon. Lalu menikah dengan seorang tentara dari Jawa barat dan ikut suaminya .


Saya mendapatkan alamat ini dari seseorang di Bandung yang merupakan seorang teman dari ibu Dian " cerita pak Anton .


" Boleh tahu siapa klien anda ? " Tanya Dila .


" Dia juga seorang tentara , beliau hanya membantu anak dari ibu Nadira yang kemungkinan adalah sepupu anda . Namanya Isabella Henzie " jawab pak Anton .


Dila terdiam sesaat mendengar nama tersebut . Dia mencoba mengingat di mana ia mendengar nama itu , matanya yang bulat melebar sesaat kemudian .


" Isabella.....? , Apa orang yang meminta tolong kepada anda adalah Jidan ? " Tanya Dila .


" Ya benar...tunggu anda mengenal pak Jidan ? " Tanya pak Anton .


" Tidak mungkin..." Gumam Dila dengan lemas . Jika itu benar maka wanita yang ingin di selamatkan oleh kekasihnya adalah sepupunya .


Ini adalah sebuah kebetulan yang mengejutkan . Bagaimana mungkin , ternyata sang kekasih mengenal seseorang yang ternyata masih memiliki hubungan darah dengan dirinya ?


Dila terdiam sejenak sambil menghela nafas panjang .


" Ya Allah...ku mohon selamatmu dia " gumam Dila .


" Neng...ada apa ? " Tanya Mak Asih .


" Mak..Dila tidak sebatang kara Mak..Dila punya saudara..." Ucap Dila .


" Benarkah..? ,. Bagaimana bisa ? " Tanya Mak Asih bingung .


" Jadi nona juga tau bahwa ibu nona punya saudara kembar ? " Tanya pak Anton .


" Ia pak .., itu benar . Tapi....apa anda tidak tahu apa yang terjadi ? " Tanya Dila heran .


" apa anda tidak tahu kalau orang yang memperkerjakan anda sudah meninggal ? " Tanya Dila heran .


" Apa ..?! , Saya masih berhubungan dengan beliau seminggu yang lalu ?! " Jawab pak Anton tidak percaya .


" Semalam adalah peringatan tujuh hari kematian beliau " gumam Dila sendu .


" Benarkah ? " Pak Anton tak percaya .


" Bagaimana dengan nona Isabella ? , Beliau tidak punya siapa pun ? " Gumam pak Anton .


Dila terdiam sambil memandang pak Anton yang gelisah .


" saat ini terjadi hal buruk padanya . Semoga saja orang yang ia andalkan mampu menyelamatkan dia " gumam Dila


" Pak Anton saya akan membayar upah bapak sesuai yang Jidan janjikan , urusan selanjutnya saya yang akan mengatur " ucap Dila kemudian .


" Oh benarkah nona ? " Tanya pak Anton .

__ADS_1


Dila hanya mengangguk mendengar pertanyaan pak Anton . Gadis itu kemudian meminta penjelasan mengenai perjanjian kerja yang di buat Jidan dengan pak Anton .


Tanpa ragu ia melunasi semua pembayaran yang Jidan janjikan pada lelaki itu yang ternyata tidak sedikit . hatinya bahagia sekaligus was was memikirkan keselamatan Isabella yang belum pasti .


__ADS_2