
kau ingin pulang ? " Tanya tuan Aditya sambil menatap Dila .
" Iya om.., lusa adalah peringatan empat puluh hari eyang " Jawa Dila .
Tuhan Aditya terdiam sejenak sambil menatap Dila yang duduk di hadapannya.
" Tapi kamu akan tetap tinggal di rumah ini kan ?" Tanya Tuan Aditya .
"Dila hanya pulang sebentar , setelah selesai Dila akan kembali " jawab Dila sopan .
" Kau janji..?! " Tanya tuan Aditya , yang di jawab anggukan kepala Dila .
" Baiklah...akan ada orang yang menemanimu , Ini demi keamanan mu . Malam ini kami akan melakukan penggerebekan semoga semua berjalan lancar " ucap tuan Aditya .
" Mereka sudah tertangkap ? " Tanya Dila .
" Belum...tapi malam ini mereka tidak akan kemana mana " jawab tuan Aditya mantap .
" Dila pamit om , Dila berangkat pagi dari sini " ucap Dila beberapa saat kemudian .
" Ya ya.. sampaikan salam kami pada semua orang di rumah , pak Nurdin akan mengatur segalanya "ucap tuan Aditya .
Dila beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya .
" Dila....." Panggilan tuan Aditya menghentikan langkahnya .
" Om tidak tahu seberapa dalam hubungan kalian , seberapa banyak kamu mencintai Jidan..tapi om berharap kamu bisa melupakannya . Hidup terus berjalan nak.....ada hal yang harus kau jadikan masa lalu agar kau bisa merajut hal baru di masa yang akan datang " ucap Tuan Aditya lembut .
Dila berbalik dan menatap wajah tuan Aditya . Ada sebagian diri Jidan di wajah itu .
" Apa yang harus aku lupakan om..? , Kami bahkan belum memulai , Dia datang mendekat , saaat aku merapat ia menjauh . Lalu ia mengetuk pintu hatiku , saat aku membukanya dia menghilang begitu saja . Aku bahkan tidak tahu apa nama hubungan kami , bagaimana aku ingin melupakan sesuatu yang belum selesai ? " Ucap Dila dengan mata berkaca-kaca .
" Semua hubungan akan terputus saat salah satunya kembali pada Tuhan . Jangan kehilangan kehidupanmu karena kehidupan Jidan sudah berakhir . Om... sungguh berharap kamu menemukan laki laki yang akan menyayangi kamu lebih dari dia , membuat kamu bahagia tanpa harus merasakan sunyinya hari dalam penantian " ucap tuan Aditya tulus .
Dila menarik nafas panjang untuk melapangkan dada yang tiba tiba terasa sesak .
" Terimakasih atas do'a om " ucap Dila seraya melangkah pergi .
Gadis itu segera naik ke kamarnya di lantai dua , saat melewati kamar Jidan pintu kamar itu terbuka . Dengan langkah ragu gadis itu masuk .di lihatnya nyonya Irma tengah duduk di ranjang besar di kamar itu .
" Tante...?" Sapa Dila
" Oh Dila...., Tante sedang memikirkan Jidan . Kemarilah... duduklah di sini " ucap nyonya Irma sambil tersenyum .
Dila menuruti ajakan wanita itu , ia duduk di smtepi ranjang di kamar itu .
" Setelah peringatan tujuh hari Tante akan pindah ke rumah kami sendiri , jadi kakek mungkin akan sendirian . Kamu tolong jaga kakek ya !" Ucap nyonya Irma.
" Kenapa pindah ? " Tanya Dila .
" Terlalu banyak kenangan di rumah ini , Tante ingin fokus pada Tania " jawab nyonya Irma sambil menatap wajah Dila .
" Sayang...maaf jika Adi pernah membuat kamu menangis . Anggaplah kalian tidak berjodoh , lupakan semuanya dan kembali pada hidupmu yang bahagia . Wajah ini...bukan wajah yang Tante lihat beberapa hari lalu " ucap nyonya Irma sambil memegang dagu Dila .
" Kamu lebih cantik saat tersenyum " ucap wanita setengah baya itu sembari tersenyum .
" Mari kita ikhlaskan dia..." Nyonya Irma menatapnya .
Dila hanya mengangguk tanpa bersuara . Keduanya terdiam sambil memandang foto Jidan yang terpajang di dinding kamar . Kedua wanita beda generasi itu hanyut dalam pikirannya masing masing .
__ADS_1
*****
Dila turun dari mobil yang ia tumpangi , seorang tentara muda mengantar kepulangannya ke suka bumi hari itu . dengan langkah cepat ia menuju rumah di ikuti oleh Pemuda yang mengawal dirinya . Mak Asih yang menyadari kepulangan gadis itu segera memeluknya .
Dila langsung menuju kamar setelah berbincang bincang dengan Mak Asih dan memperkenalkan pengawalnya .
Setelah meletakkan bawaannya di kamar Dila beranjak ke dapur , beberapa istri buruh pabrik padi dan perkebunan tengah sibuk memasak untuk selamatan nanti malam . Setelah berbincang dan beramah tamah dengan mereka Dila pamit pada Mak Asih untuk pergi ke luar . Dila pergi ke makam sang bunda .
Dila duduk bersimpuh di samping sebuah makan lama . Tangan kanannya mengusap-usap nisan makan tersebut . Tertulis di makan tersebut " Diandra Larasati Binti Jamal .
" Bunda....apa kabar...? " Gumam Dila pelan .
" Bunda....apa kini Bunda telah tenang bersama ayah ? , Bunda..... Apa yang harus Dila lakukan sekarang ? . Lelaki itu Kini telah pergi dan tidak akan kembali . Tapi....entah kenapa Dila masih berharap dia bisa kembali meski itu tidak mungkin . Apa itu yang dulu bunda lakukan ? , Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi ? ." Dila berbicara pada makam sang Bunda .
" Tolong bantu Dila bunda....bantu Dila agar bisa menjadi tegar seperti bunda . Bantu Dila agar bisa terus melangkah meski Kini Dila seperti kehilangan arah . Bantu Dila melupakan setiap kenangan bersama dengan dia agar hidup Dila dapat terus berjalan " Dengan suara sendu gadis itu mencurahkan kesedihannya .
Lama Dila bersimpuh di makam sang Bunda sambil mencurahkan kesedihan dan duka yang ia rasakan , setelah puas curhat , gadis itu lalu berdoa dan menabur bunga kemudian melangkah pergi meninggalkan makam itu.
Selesai mengirim Do'a dan menabur bunga Dila kembali ke rumah dengan hati yang lebih tenang . Sesi curhat pada makam sang Bunda memang selalu membuat beban di hatinya lebih ringan .
Acara selamatan empat puluh hari eyang Saka berlangsung hikmat . Banyak warga yang datang ikut berdoa dan tahlilan . Malam itu Dila tidur dengan tenang setelah beberapa hari tak bisa tidur . Ia merasa lebih ikhlas menerima kenyataan yang kini menimpanya , kehilangan dua orang lelaki yang sangat berarti di hidupnya .
Pagi haripun menjelang , Dila yang selasai mandi dan berganti pakaian mendengar bercakapan Mak Asih dengan suara yang tidak ia kenal di teras rumah . Dengan penasaran gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke teras .
" Jadi bisakah saya berjumpa dengan putri beliau ? " Tanya seseorang yang berpakaian sederhana tersebut pada Mak Asih .
" Ada apa Mak ? " Tanya Dila yang baru muncul .
" Apa anda putri dari dokter Diandra Larasati ? " Tanya orang tersebut sambil beranjak dari duduknya .
" Ya...siapa anda ? " Tanya Dila heran . Sudah lama sang Bunda meninggal dunia kini ada seseorang yang menyebutkan nama lengkapnya .
" Dia mengaku sebagai seorang detektif swasta neng " ucap mak Asih sambil mendekati Dila .
" Kenalkan nona saya Anton " pria itu mengulurkan tangannya .
Dila terdiam sambil menatap pria itu .
" Ada perlu apa mencari ibu saya ? " Tanya Dila curiga .
Setahu dirinya sang bunda sudah tidak memiliki saudara , beliau adalah yatim piatu yang kehilangan kontak dengan saudara kembarnya sejak saudara kembarnya itu da adopsi oleh seseorang .
"Awalnya Saya mencari ibu anda , saya sedang mencari seseorang yang memiliki hubungan saudara dengan ibu dari klien saya " cerita pak Anton .
" Boleh minta waktu sebentar ? " Tanya bapak tersebut .
Dila mempersilahkan pria itu kembali duduk , sementara itu ia segera duduk di hadapan sang tamu . Mak asih mendampingi Dila karena rasa penasaran .
" Jadi sebenarnya saya sedang menyelidiki sebuah kasus karena permintaan seseorang untuk mencari keluarga temannya yang berasal dari luar negri " cerita pak Anton .
" Luar negri ? " Tanya Dila meyakinkan pendengarannya .
" Benar..temannya tersebut mencari saudara kembar sang ibu . informasi yang saya dapat membawa saya ke desa ini " pak Anton melanjutkan ceritanya . Ia kemudian menunjukkan sebuah foto dari saku jaketnya .
" ini adalah foto ibu dari sahabat teman saya " pak Anton memperlihatkan sebuah foto lama .
Mak asih yang berdiri di samping Dila terkesiap melihat foto tersebut .
" Masya Allah wajahnya benar benar terlihat seperti dokter Dian " seru Mak asih .
__ADS_1
" Siapa nama orang ini " tanya Dila tak sabar .
" Namanya Nadira lestari " jawab pak Anton singkat .
Dila terdiam ,. Ia tidak ingat siapa nama saudara kembar sang bunda , namun wajah di foto itu membuat ia terpaku . Wajah itu benar benar mirip sang ibu .
Namun peristiwa yang baru saja menimpanya membuat ia tidak bisa lagi percaya pada seseorang begitu saja .
" Dari mana anda mendapatkan informasi tentang ibu saya ? " Tanya Dila lagi .
" Dari panti asuhan kasih ibu di Semarang . Dari ibu panti saya dengar bahwa beliau telah menjadi seorang dokter dan bertugas di Ambon. Lalu menikah dengan seorang tentara dari Jawa barat dan ikut suaminya .
Saya mendapatkan alamat ini dari seseorang di Bandung yang merupakan seorang teman dari ibu Dian " cerita pak Anton .
" Boleh tahu siapa klien anda ? " Tanya Dila .
" Dia juga seorang tentara , beliau hanya membantu anak dari ibu Nadira yang kemungkinan adalah sepupu anda . Namanya Isabella Henzie " jawab pak Anton .
Dila terdiam sesaat mendengar nama tersebut . Dia mencoba mengingat di mana ia mendengar nama itu , matanya yang bulat melebar sesaat kemudian .
" Isabella.....? , Apa orang yang meminta tolong kepada anda adalah Jidan ? " Tanya Dila .
" Ya benar...tunggu anda mengenal pak Jidan ? " Tanya pak Anton .
" Tidak mungkin..." Gumam Dila dengan lemas . Jika itu benar maka wanita yang ingin di selamatkan oleh kekasihnya adalah sepupunya .
Ini adalah sebuah kebetulan yang mengejutkan . Bagaimana mungkin , ternyata sang kekasih mengenal seseorang yang ternyata masih memiliki hubungan darah dengan dirinya ?
Dila terdiam sejenak sambil menghela nafas panjang .
" Ya Allah...ku mohon selamatmu dia " gumam Dila .
" Neng...ada apa ? " Tanya Mak Asih .
" Mak..Dila tidak sebatang kara Mak..Dila punya saudara..." Ucap Dila .
" Benarkah..? ,. Bagaimana bisa ? " Tanya Mak Asih bingung .
" Jadi nona juga tau bahwa ibu nona punya saudara kembar ? " Tanya pak Anton .
" Ia pak .., itu benar . Tapi....apa anda tidak tahu apa yang terjadi ? " Tanya Dila heran .
" apa anda tidak tahu kalau orang yang memperkerjakan anda sudah meninggal ? " Tanya Dila heran .
" Apa ..?! , Saya masih berhubungan dengan beliau seminggu yang lalu ?! " Jawab pak Anton tidak percaya .
" Semalam adalah peringatan tujuh hari kematian beliau " gumam Dila sendu .
" Benarkah ? " Pak Anton tak percaya .
" Bagaimana dengan nona Isabella ? , Beliau tidak punya siapa pun ? " Gumam pak Anton .
Dila terdiam sambil memandang pak Anton yang gelisah .
" saat ini terjadi hal buruk padanya . Semoga saja orang yang ia andalkan mampu menyelamatkan dia " gumam Dila
" Pak Anton saya akan membayar upah bapak sesuai yang Jidan janjikan , urusan selanjutnya saya yang akan mengatur " ucap Dila kemudian .
" Oh benarkah nona ? " Tanya pak Anton .
__ADS_1
Dila hanya mengangguk mendengar pertanyaan pak Anton . Gadis itu kemudian meminta penjelasan mengenai perjanjian kerja yang di buat Jidan dengan pak Anton .
Tanpa ragu ia melunasi semua pembayaran yang Jidan janjikan pada lelaki itu yang ternyata tidak sedikit . hatinya bahagia sekaligus was was memikirkan keselamatan Isabella yang belum pasti .