
Dila membuka matanya perlahan . Suasana serba biru membuat ia sedikit terkejut . Ia mencoba mengingat kembali kejadian yang menimpa dirinya terakhir kali .
Lalu gadis itu teringat kejadian di mana ia hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil saat ia memutuskan untuk pergi sebentar menenangkan diri , tapi justru ia malah berkendara tak tentu arah .
Dila memandang lengannya , sebuah infus terpasang di sana , sepertinya saat ini ia berada di sebuah rumah sakit .
" Kau sudah sadar ? " Sebuah suara membuat Dila menoleh . Dila memandang wajah itu sekejap lantas berusaha bangkit dari tidurnya .
" Berbaring saja.." ucap Jordi yang sedari tadi duduk memperhatikan dirinya . Gadis itu tidak membantahnya , gadis yang beberapa hari lalu selalu cerewet dan nampak ceria itu hanya terdiam . Dila berbaring memunggungi Jordi .
Jordi menatap Dila sambil menarik nafas dalam-dalam . Perkataan dokter yang menanganinya kembali terngiang di telinganya .
" Nona Dila tidak apa apa . Kemungkinan karena stress . Dan sepertinya ia kurang istirahat , juga tidak makan teratur . Kondisinya sangat lemah , tekanan darahnya juga sangat rendah . Mungkin karena kejadian kakeknya " ucap dokter Faisal .
Jordi memang membawa Dila ke Rumah Sakit tempat eyang saka dirawat terakhir kali . Rumah sakit yang di maksud oleh ibu ibu yang memberitahu dirinya ternyata adalah Rumah Sakit yang sama .
Hampir empat jam Jordi menunggu gadis itu terbangun dari tidurnya yang nyenyak . Jordi telah memberi kabar pada mang Karman dan meminta untuk tidak panik , dan berjanji akan selalu memberi kabar juga mengantarkan Dila pulang .
" Dila.. apakah ada bagian tubuhmu yang terasa sakit ? " Tanya Jordi setelah terdiam beberapa saat namun Dila tak juga bersuara .
Jordi melangkah mendekati gadis itu , ia memutari ranjang rumah sakit untuk melihat wajah Dila yang memunggungi dirinya .
Jordi tersenyum datar melihat gadis itu kembali tertidur hanya beberapa saat setelah ia bangun , tanpa mengucapkan atau bertanya sepatah katapun atas kejadian yang menimpa mereka .
" Gadis ini..." gumam Jordi seraya mengambil sebuah kursi dan duduk di samping ranjang .
Dalam diam ia memperhatikan wanita yang sempat menjadi calon istrinya .
Ya Jordi pernah memutuskan untuk tidak menyukai Dila bahkan sebelum mereka bertemu . Hal itu terjadi karena pada saat itu kakeknya secara tidak langsung seakan memaksa ia menikahi gadis itu .
Jordi duduk sambil mengingat kembali kejadian hampir sebulan yang lalu , saat kakeknya selamat dari serangan jantung .
*****
" Kalian tahu kenapa aku masih hidup " Tanya sang kakek yang masih lemah .
" Ayahku menyuruh aku kembali " lanjutnya sembari memandang tiga orang anaknya beserta dua menantu perempuan , juga 3 cucunya .
" Aku tidak bisa berhadapan dengannya yang berdiri di depan pintu surga.." kakek menarik nafas dalam-dalam .
" Ayah..." Panggil nyonya Karina lembut sambil mengusap tangan sang ayah .
" Ini semua karena mu ..' bentak Tuan Gunawan .
" Serius..??, Ini semua tentang hal itu ? lagi ?" nyonya Karina yang merupakan anak bungsunya berdiri dari duduknya .
" Kalau kau tidak lari dan menerima perjodohan itu semua beres .
" Beres apanya ? , Yang kakek janjikan pada keluarga itu adalah menantu lelaki , aku anak perempuan ayah " jawab nyonya Karina lantang seperti biasanya .
__ADS_1
" Mam..." Rizki putranya mencoba mengingatkan .
" Aduh...jantungku " keluh Tuan Gunawan .
" Ayah tenangkan dirimu " Tuan Aditya yang merupakan anak pertamanya menenangkan .
" Tenang katamu...kau membiarkan putramu keluar negri dan menikahi orang yang kita tidak tahu asal usulnya , dia bahkan tidak datang mendengar aku sakit , kalian keterlaluan " semua terdiam mendengar keluh Tuan Gunawan .
" Aku tidak mau tahu..kalian harus membayar hutang itu..apa kalian tega melihat kakek kalian berdiri di pintu surga , menunggu keturunannya yang menikmati semua peninggalannya melunasi sebuah hutang yang ia buat , aku akan mati dengan mata terbuka seperti ayahku " pria itu menutup matanya .
" Ayah..." Ucap Tuan Juan pelan
" Kami akan membicarakannya dengan anak anak , ayah tenangkan dulu diri ayah oke " tuan Juan adalah putra keduanya .
" Aku tidak mau tau , aku sudah memberi tahu Saka bahwa kali ini Hutang kita akan terbayar " ucapnya sambil memandang anak cucunya satu persatu .
" perlukah aku mencabut hak waris kalian di wasiatku ? " tanya tuan Gunawan tajam .
" Ayah kami akan berbicara dengan anak anak . Ayah tenang saja oke.." tuan aditya mencoba melakukan hal yang sama yang di lakukan adiknya .
" Minggu depan aku akan datang kerumahnya , sekarang aku akan istirahat , kalian semua tinggalkan aku sendiri " Ucapnya seraya menarik selimutnya .
Seluruh anak cucunya keluar dari ruang perawatan kelas VVIP tersebut setelah mendengar perkataannya .
" Kita harus berkumpul , ayo berunding di rumah besar " ucap Tuan Juan sambil melangkah meninggalkan yang lain .
" Ada apa sebenarnya ? " Tanya Jidan pada sang Tante .
mereka semua pergi menuju Rumah besar . Di sebut Rumah besar karna itu tempat keluarga berkumpul dalam setiap acara keluarga dan juga hari Raya .
Rumah di mana Tuan Gunawan menghabiskan seluruh hidupnya .
Di rumah itu ia tinggal bersama anak sulungnya yang merupakan seorang perwira tentara , menantu dan cucu perempuannya .cucu lelaki dari anak sulungnya sudah hampir setahun pergi bertugas sebagai tentara anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Suriah , namun keluarga mendengar kabar ia justru menikah dengan relawan asal Belanda di tempat tugasnya .
*****
" Apa ini gila..kakek buyut yang membuat janji kenapa kita yang harus membayar " Tania berucap sambil menatap nyonya Karina tak percaya .
" Kau aman..." Jawab nyonya Karina sambil tersenyum .
" Mereka hanya memiliki satu keturunan yang belum menikah , dan itu seorang perempuan " lanjutnya yang di sambut dengan tepuk tangan kemenangan Tania .
Kedua sepupunya memelototi mereka .
" Apa dia cantik ? " Tanya Rizki bertanya sambil menatap ibunya .
" Kau juga secara teknis tidak perlu membayar hutang itu ..kau itu cucu dari anak perempuan " lanjut nyonya Karina seraya tersenyum pada Jordi yang tidak bereaksi apapun sejak tadi .
" Apa ini alasan kakak kabur keluar negri ? " Tanya Tania sambil menatap sang ayah .
__ADS_1
" Bukan.." nyonya Irma segera menyahut .
" Jadi sebenarnya tujuan pertemuan ini adalah menyuruh aku bertanggung jawab ?! " ucap Jordi yang dari tadi hanya diam .
" Jaga bicaramu anak muda ! " tuan Juan menegur putranya .
" Kenapa ?! , Apa aku salah ? " Tanya Jordi sambil menatap wajah ayahnya .
" Karna aku tidak ingin menjadi tentara kalian menyuruh aku mengurus bisnis keluarga , Kalian bilang itu tanggung jawabku , sekarang ini juga tanggung jawabku karna dia yang juga menikmati aset kelurga ini secara adat bukan keluarga begitu ? " Jordi menunjuk Rizki yang tengah tersenyum .
" Kami memilihmu karna tau kau yang paling bertanggung jawab " ucap tuan aditya hangat .
" Tapi terserah padamu , semua keputusan ada di tanganmu , kami tidak memaksa , secara umur Rizki masih di bawah gadis itu, jadi kami rasa itu tidak sopan " nyonya Karina juga menimpali perkataan tuan Aditya .
semua anggota keluarga hanya terdiam .
" Beritahu kami jika kau sudah siap mengambil keputusan " ucap sang ayah sembari melangkah pergi . Di ikuti oleh seluruh anggota keluarga , kecuali sang ibu .
" Jo...ikuti saja kata mereka " ucap nyonya Nisa setelah melihat anaknya terdiam cukup lama .
" Kenapa ? " Tanya Jordi ketus
" Karna mama mendengar kisah penuhnya dari almarhum nenekmu " ucap nyonya Nisa sambil mendekati putranya .
" kau tau kenapa kakek buyut membuat wasiat seperti itu " Nyonya Nisa menatap putranya .
" Sebenarnya kakek buyut bisa memulai bisnis karna pemberian dari sahabatnya , dan juga dia berjanji akan memberi menantu pada keluarga sahabatnya itu , konon janji itu di buat saat temannya itu tewas untuk melindunginya dalam perang " nyonya Nisa bercerita .
" Jadi ini seperti membayar hutang , begitu ?" Jordi mengernyitkan keningnya .
" Ya ..bisa di bilang begitu . Bagaimanapun sahabatnya itu menyerahkan separuh hartanya pada kakek buyut mu , dan kau tau pemberian itu adalah modal awal kakek buyut memulai bisnis , dengan kata lain sebenarnya apa yang menjadi milik keluarga kita saat ini , adalah karena kebaikan mereka " jawab sang ibu sambil menepuk pundak Jordi .
" Jadi..."
" Ya...secara tidak tertulis , siapapun yang menjadi penerus bisnis keluarga dialah yang terpilih , termasuk papamu " ucap ibunya .
Jordi menatap ibunya tak mengerti .
" Sebenarnya Dia punya seorang anak perempuan , namun meninggal saat itu ia sudah bertunangan dengan papamu . dan dia adalah cinta pertama papamu " nyonya Anisa bercerita seolah tahu segalanya .
Jordi tidak menyangka keluarganya yang begitu kaya dan memiliki pengaruh ternyata memiliki hutang yang harus di bayar dengan menggadaikan seorang putra , sebenarnya ia hidup di jaman apa ? .
' aku membenci wanita itu . Secantik apapun dia , aku tidak akan menyukainya " Jordi menggumam .
*****
" Eyang...." Gumaman dari bibir Dila menyadarkan lamunan Jordi . Ia melihat setetes air mata mengalir dari mata gadis itu . Tanpa ia sadari tangannya menggapai wajah di hadapannya , lalu mengusap air mata itu .
" Semua yang terjadi pasti berat baginya " gumam Jordi . Segelintir rasa iba menyentuh hatinya .
__ADS_1
Entah kenapa ia tidak bisa membenci gadis itu meski ia ingin . Bahkan kini saat sang kakek merubah wasiatnya , membuat ia dan anggota keluarga lain tak berdaya , ia tidak bisa membenci gadis itu .
Sejak awal bertemu saat ia menyangka harus menikahi gadis itu , Ia berusaha bersikap angkuh , namun kehadiran Dila bagai angin semilir yang menyejukkan , sekuat apapun ia mencoba ia tak bisa membencinya .