
Dila terduduk di lantai dengan lemas , gadis itu mencoba menahan tangisnya , namun tetap saja air mata gadis itu mengalir tak terbendung .
" Sayang...Kamu tidak boleh begini , jika kamu yang paling kuat begini bagaimana om menyampaikan kabar ini pada Tante dan yang lainnya " ucap tuan Aditya sembari memeluk gadis di depannya .
Namun Dila tidak perduli dengan kata kata tuan aditya , gadis itu terisak dalam pelukan tuan Aditya.
Saat itu Jordi tiba tiba muncul di depan pintu kamar tuan Aditya .
" Om.. benarkah berita itu ? " Tanyanya . Ia menatap wajah Dila yang sedang menangis dalam pelukan tuan Aditya . Pemuda itu nampak bingung .
" Kau sudah datang di mana ibumu dan yang lainnya ? " Tanya tuan Aditya .
" Mereka sedang dalam perjalanan , aku hanya ingin memastikan lebih dulu , yang lain sepertinya belum tahu ? " Tanya Jordi yang telah mendapatkan kabar itu dari pak Nurdin .
" Kau temani Dila om akan menyampaikan berita ini sendiri " ucap tuan Aditya seraya menyerang Dila pada pemuda itu .
Jordi berdiri di depan pintu kamar kerja tuan Aditya sambil memandang Dila yang tengah terduduk di lantai sambil terisak .
Tuan Aditya melangkah keluar dengan tenang setelah menarik nafas panjang beberapa kali .
" Sayang kau tidak jadi ganti baju ? " Tanya nyonya Irma .
" Emh ya ...ah..aku ingin menyampaikan sesuatu " tuan Aditya berjalan mendekati sang istri seraya duduk di sampingnya .
" Kalian tahu semalam aku mengatakan Jidan sedang menjalankan sebuah tugas penting " ucap tuan Aditya seraya menarik nafas panjang .
" Jidan ..putra kita gugur dalam tugas itu " tuan Aditya melanjutkan kalimatnya setelah terdiam beberapa saat .
" Sayang jangan bercanda dengan hal seperti itu " ucap nyonya Irma sambil menatap tak percaya wajah suaminya .
" Papa..please...." Teriak Tania .
" Sayang kita harus kuat , Jidan ingin kita kuat " ucap tuan Aditya sambil memeluk sang istri .
" No..kumohon itu tidak benar ! " Nyonya Irma mulai menangis .
Tania juga menangis dan berlari memeluk sang ayah .
" Papa itu berita bohong bukan ..?, Kak Jidan janji akan mengajak aku mendaki gunung setelah lulus , itu tidak benar kan papa ? " Tania menangis tersedu sedu .
Tuan Gunawan terdiam di kursinya dengan lemas , ia menduga ada yang aneh dengan tingkah pak Nurdin hari ini , internet yang tak berfungsi , pasti terjadi sesuatu . Namun ia tidak menduga berita duka ini yang akan ia dengar .
" Hah..anak pembangkang itu...,. Bagaimana bisa " tuan Gunawan bergumam sambil menitikkan air mata .ia kemudian mendekati cucu dan anak menantunya , lalau memeluk mereka , mencoba menguatkan hati masing masing .
Tania dan nyonya Irma masih menangis dengan keras .
" Sayang... lakukan sesuatu .. kumohon ..., Selamatkan anak kita " ucap nyonya Irma .
" Kita tidak bisa apa apa semua telah terjadi " jawab tuan Aditya mencoba kuat .
" Putraku ..anakku , dia bahkan belum berbicara banyak dengan ku setelah pergi sekian lama " nyonya Irma berkata sambil menangis .
" Jidan...., Hu..hu.." tangis nyonya Irma .
Suasana rumah menjadi sendu . Tangisan nyonya Irma terdengar pilu . Membuat seluruh pelayanan ikut terisak dalam diam mereka .
Dua buah mobil memasuki rumah besar , nyonya Kirana dan Rizky tiba dengan sebuah mobil . Lalu di susul oleh nyonya Nisa .
__ADS_1
Ketiga orang itu memasuki rumah besar bersamaan .
" Oh..Nisa..putraku...hu..hu.., putraku " ucap nyonya Irma saat melihat kedatangan nyonya Nisa yang selalu bijaksana dan menjadi teman curhatnya ..
Nyonya Nisa menghampiri nyonya Irma lalu memeluk erat wanita malang itu .
" Sabar teh..., Sabar..." Ucap nyonya Nisa sambil menahan tangisnya .
" Ini tidak benar kan..tidak benar..." Nyonya Irma pingsan di pelukan nyonya Nisa .
Rizky dan pelayan segera membawa nyonya Irma ke kamarnya . Nyonya Nisa dengan sabar menemani ibu malang itu .
Sementara nyonya Kirana menemani Tania , ia mengajak Tania ke kamar .
Tinggal tuan Aditya dan tuan Gunawan di ruangan itu bersama dengan pak Nurdin .
" Apa sudah pasti ? " Tanya tuan Gunawan masih tak percaya .
" Mobilnya hangus terbakar , hanya tinggal kerangka , ada abu manusia di mobil itu , kami yakin itu Jidan .
" Jadi om tidak melihat jasadnya ? " Tanya Dila yang tiba-tiba ada di ruangan itu .
" Semuanya sudah hangus , kejadiannya tengah malam dan kami baru bisa turun ke jurang pagi ini " ucap tuan Aditya .
" Jurang ?! " Tanya tuan Gunawan .
" Lakukan dulu tes DNA om.., ku mohon itu bukan Adi.. , dia meminta aku menunggu dia pulang , om .." ucap Dila dengan terisak.
Jordi menatap gadis itu, ia mulai mengerti kenapa Dila terlihat terpukul dengan kabar tentang Jidan .
" Gunakan kekuasaan kakek , cari dia di seluruh tempat itu , dia janji padaku akan selamat kek..kumohon " Dila mulai menangis kristal bening mengalir tiada henti dari kedua matanya yang sudah sembab .
" Sayang tidak ada yang bisa kita lakukan " ucap tuan Gunawan mencoba menenangkan gadis itu .
" Tidak itu bukan Dia .dia bilang dia ingin mendengar aku mengucapkan kata " i love you " aku belum mengatakannya ...ku mohon aku ingin mengatakannya " Dila terduduk di lantai di hadapan tuan Gunawan .
" Dila .. Jidan ingin kita kuat , om mohon jangan seperti itu " ucap tuan Aditya yang tidak tega melihat ratapan gadis itu .
" Jordi..bawa Dila ke kamarnya " perintah tuan Aditya pada Jidan yang terpaku di tempatnya melihat dan mendengar ucapan Dila .
" Oh...baik om " ucap Jordi seraya mendekati Dila .
" Tidak om..ku mohon..., Ku mohon Cari dia lebih dulu , kumohon jangan menyerah " ucap Dila sambil menolak ajakan Jordi .
Karena Dila terus menolak , Jordi segera menggendong Dila dan membawa gadis itu ke kamarnya .
" Apa kita harus melakukan pencarian lebih dulu ? , Siapa tahu dia benar " ucap tuan Gunawan setelah kepergian Dila .
" Ayah kami juga sudah mencari di tempat itu , dan tidak ada yang bisa selamat jatuh dari ketinggian seperti ini " jawab tuan Aditya .
" Lalu apa sudah melakukan tes DNA pada jasad yang di temukan ? " Tanya tuan Gunawan .
" Kita tidak bisa melakukan tes DNA pada jasad yang telah menjadi abu " jawab tuan Aditya .
" a..abu ! " Teriak tuan Gunawan dan Rizky berbarengan .
" Ya..kita harus merahasiakan hal ini dari para wanita , mereka akan semakin se...
__ADS_1
" Cucuku yang malang... Hu..hu.." tuan Aditya menghentikan ucapannya karena tiba tiba tuan Gunawan menangis .
" Ayah..ku mohon " ucap tuan Aditya sambil menatap sang ayah .
Tuan Gunawan mencoba tenang , lelaki tua itu menarik nafas dalam-dalam dan hembuskannya perlahan .
" Nurdin panggil dokter " perintah tuan Aditya yang khawatir akan terjadi sesuatu pada kesehatan tuan Gunawan .
" Ya tuan saya sudah melakukannya " jawab pak Nurdin yang dari tadi berada di dekat situ .
" Persiapkan semuanya , semakin cepat pemakaman semakin baik " ucap tuan Aditya .
" Nurdin sampaikan berita duka ini pada semua karyawan di seluruh cabang , minta mereka mengadakan acara do'a bersama untuk Jidan " ucap tuan Gunawan dengan pelan.
" Baik tuan " jawab pak Nurdin seraya menelpon Adam , asisten Jordi untuk melakukan hal itu .
" Kapan Juan kembali dari Batam ? " Tanya tuan Gunawan .
" Oh tadi sekretarisnya menelpon , mereka sudah akan naik pesawat tuan , mungkin 2 atau 3 jam lagi " jawab pak Nurdin .
" Bagaimana dengan pemakaman ? " Tanya tuan Gunawan .
" Ajudan ku sudah mengurus semuanya , kita akan langsung ke pemakaman , jika membawanya kemari aku takut mereka ingin melihat jasadnya " jawab tuan Aditya .
" Semakin cepa pemakaman semakin baik " ucap tuan Gunawan kemudian .
" Siapkan semuanya Nurdin " perintahnya pada sang asisten .
" Baik tuan .." jawab pak Nurdin .
*****
Jidan berdiri di samping jendela balkon kamar Dila , sesekali ia melihat kehalaman rumah yang mulai di datangi tamu pejabat dan pengusaha . Sesekali ia melihat Dila yang masih duduk mematung di atas ranjang setelah menangis cukup lama .
" Apa kau ingin menghubungi seseorang ? Agar ada yang menemanimj " ucap Jordi setelah menatap lama wajah penuh duka di hadapannya .
" Tidak perlu..." Gumam Dila .
" turunlah....aku baik baik saja " ucap Dila sesaat kemudian .
Gadis iti6 memandang wajah di depannya , lalu memejamkan matanya perlahan .
" Aku akan berganti pakaian , turunlah..." Ucap Dila kali ini dengan nada lebih tenang .
" Baiklah...kau bisa memeinta bantuanku jika butuh sesuatu " ucap Jordi sebelum melangkah keluar kamar .
" Hem..." Dila hanya menjawab singkat .
Jordi melangkah keluar dari kamar Dila dengan sejuta pemikiran . Tangis pilu Dila dan ucapan gadis itu telah mengungkap tanda tanya besar dalam hatinya selama ini .
Sikap Jidan pada Dila yang tidak biasa sebenarnya sempat menganggu hatinya , namun saat itu ia berfikir bahwa Jidan juga berencana merebut hati Dila karena surat wasiat sang kakek .
Kini ia mengerti dengan semua keadaan yang terjadi .
Pemuda itu menarik nafas dalam , entah kenapa melihat Dila yang terlihat patah hati , hatinya juga merasa sakit . Rasa cinta yang terlihat begitu besar di wajah Dila membuat hatinya terasa tercabik .
Benarkah ia juga telah jatuh cinta pada gadis itu ? . Lalu bagaimana ia bisa membuka hati Dila yang kini telah terisi dengan nama seseorang yang juga ia sayangi. Bagaimana? Kenapa ? Pertanyaan pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya .
__ADS_1