
Seperti biasa Rumah besar Nampak sibuk di awal pagi .para pelayan di rumah itu sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing . Apalagi hari ini seluruh tuan dan Nona muda ada di sana , nyonya Kirana yang paling cerewet dan galak juga menginap .
Pak Nurdin tengah berolah raga di halaman depan bersama dengan Tuan Aditya dan ajudannya .
Tuan Aditya memang seorang perwira . Selalu ada seorang anggota militer yang menemani ia pergi kemanapun . Ajudannya itu juga tinggal di rumah besar , di paviliun belakang bersama para pekerja .
Biasanya di akhir Minggu ia pulang , namun karena istrinya tengah pulang ke Sulawesi ia memilih tinggal di rumah itu .
Sebenarnya tuan Aditya memiliki sebuah Rumah warisan dan juga rumah pribadi di Jakarta , Selain itu ia juga mendapatkan rumah Dinas di Bandung . Namun ia memilih tinggal di rumah itu agar Tuan Gunawan tidak sendirian .
Sebuah mobil Jeep memasuki gerbang rumah , membuat ketiga pria yang tengah berolah raga itu menghentikan kegiatannya .
Seorang lelaki muda yang menggunakan seragam tentara muda turun dari mobil Jeep tersebut sambil menggendong sebuah ransel besar .
" Tuan Jidan..." Seru pak Nurdin seraya menghampiri pemuda itu .
" Pak Nurdin..apa kabar " jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah .
" Papa...aku pulang " ucap Jidan setelah menghampiri sang ayah yang menatapnya dengan lega seraya mencium punggung tangannya .
" Ach... Syukurlah ,. Kenapa baru pulang kerumah sekarang ? , Ku dengar kau sudah pulang beberapa hari lalu " tanya tuan Aditya sambil menepuk pundak putranya .
" Ada hal yang harus ku selesaikan " jawabnya
' oh..ibumu pasti akan senang , pergilah membersihkan diri dan temui kakekmu ketika sudah siap " ucap tuan Aditya .
" Mari ku bantu tuan " ucap pak Nurdin seraya meminta ransel besar yang di bawa pria muda itu .
" Tidak usah pak , biar aku saja " ucapnya seraya melangkah pergi .
" Ibumu ada di ruang gym " teriak tuan Aditya yang di jawab acungan jempol pria itu .
Pria itu segera ke lantai dua untuk ke kamarnya , namun karna letak ruang gym lebih dekat ia memutuskan untuk menemui ibunya lebih dulu .
*****
Dila terbangun dari tidurnya , gadis itu nampak bingung sambil mengingat kembali kejadian semalam .
" Ach...sialan .." umpatnya .
" Kenapa aku selalu tertidur di dekatnya memalukan sekali " Keluhnya seraya bangkit dari ranjang .
Saat itu pintu kamar terbuka Dila terkejut , begitu juga seorang pelayan di pintu kamar .
" Oh...kenapa Nona tidur di sini ? " Tanya pelayan itu
" Hem..? " Aku juga tidak tahu , semalam aku tidur di ruang TV " jawab Dila .
" Oh mungkin seseorang membawa nona kemari karna kami belum menyiapkan kamar anda , saya akan menyiapkannya untuk anda , tapi saya harus membereskan kamar ini tuan Jidan akan datang " ucap pelayan itu takut takut .
" Siapa ?" Tanya Dila .
" Pemilik kamar ini , dia " pelayan itu menunjuk foto yang tergantung di dinding kamar , namun suasana gelap karna lampu tidak menyala dan tirai kamar tertutup membuat Dila tidak bisa melihat jelas .
Pelayan itu dengan sopan meminta ijin untuk membuka tirai kamar .
Mata Dila membelalak melihat foto berukuran poster di dinding kamar . seorang lelaki muda mengenakan seragam tentara tengah berdiri sambil membawa ransel tengah tersenyum ke arahnya , maksudnya ke arah kamera .
Bukan tampang keren dan ganteng foto itu yang membuat Dila terkejut , tapi wajah itu amat sangat ia kenal , wajah yang selama ini ia rindukan .
" Kenapa foto orang ini ada di sini " gumam Dila .
__ADS_1
" Karna ini kamar beliau " jawab pelayan itu , ia heran kenapa calon istri tuan Jidan terkejut melihat fotonya , apakah mereka belum pernah bertemu .
Gosip yang menyebar di kalangan para pelayan saat mempersiapkan makan malam kemarin adalah calon menantu pilihan Tuan Gunawan untuk tuan Jidan akan datang .
" Apa..?! " Tanya Dila dengan bingung .
" Kenapa Nona ? " Tanya Pelayan itu ia merasa heran melihat wajah bingung Dila , iapun segera keluar kamar , karena takut ia ingin melaporkan hal itu pada Nyonya Irma yang tengah berada di ruang gym .
Sementara di ruang gym nyonya Irma sedang menangis sambil memeluk sang putra yang hampir satu tahun pergi dari rumah .
" Ma...sudahlah aku sudah pulang " ucap Jidan sambil melepas pelukannya , ia mengusap air mata sang ibu sambil tersenyum .
Nyonya Irma tersenyum , ia sangat bahagia melihat putranya kembali dengan selamat dari tugas .
" Kamu tahu mama hampir tidak tidur tiap malam karna mengkhawatirkan dirimu " ucapnya .
" Aku sudah kembali , mama bisa tidur pulas sekarang " jawab Jordi .
" Aku mandi dulu dan istirahat " Jidan hendak keluar dari ruangan itu saat tiba tiba seorang pelayan datang .
" Nyonya ...Nona menantu ternyata tidur di kamar tuan Jidan " lapor pelayan itu .
" Siapa ? " Tanya Jidan
" Emh...semalam kami mengundangnya " ucap nyonya Irma dengan khawatir .
" Apa ?! , Siapa yang mengijinkan dia tidur di kamarku !? " Jidan nampak marah ia melangkah dengan cepat menuju kamarnya .
" Panggilkan tuan " perintah nyonya Irma Pada pelayan sambil mengejar putranya .
Jidan membuka pintu kamarnya dengan keras, ia marah karena wanita yang tidak ia inginkan memasuki kamarnya tanpa ijin .
" Dila...." Gumam pria itu tak percaya .
" Kamu....bagaimana bisa..??" Gumam Dila tak percaya melihat sosok Adi tengah berdiri di depannya dengan wajah penuh kebingungan .
Gadis itu melangkah mundur menjauhinya .
" Sayang jangan begini " nyonya Irma yang baru datang menghampirinya Jidan . Ia melihat Dila nampak bingung .
" Ma dia...?" Tanya Jidan yang juga tengah bingung dengan situasinya .
Nyonya Irma cepat mengangguk supaya Jidan tidak menyebut tentang perjodohan itu .
" Dia hanya makan malam karna kakek mengundangnya " ucap nyonya Irma .
" Ma tolong tinggalkan kami " ucap Jidan dengan nada dalam .
Nyonya Irma memandang keduanya dengan khawatir , namun ia segera keluar kamar melihat wajah serius Jidan .
Jidan melangkah ke arah Dila dengan cepat , dia bisa menebak kebingungan gadis di depannya . Bagaimana tidak , pria yang selama ini ia cintai ternyata memiliki identitas lain dan memiliki profesi yang masuk dalam kategori laki laki dengan profesi yang ingin ia jauhi .
" Berhenti di sana ! " Ucap Dila dalam kebingungannya , nafas gadis itu seakan habis menerima kenyataan yang tidak ia mengerti .
" Kau bohong padaku selama ini ? , Kau sengaja menipuku ? " Tanya Dila berusaha mengatur suaranya sepelan mungkin . Ia tidak ingin pertengkaran mereka terdengar hingga keluar kamar .
" Dila dengarkan aku..." Ucap Jidan lembut .
" Apa yang harus aku dengar !? , Pengakuan tentang sebuah kebiasaan ? , Kebohongan tentang identitas mu , tentang profesi mu yang selalu kau bilang rahasia ? " Tanya Dila yang tak mampu menahan kekesalannya gadis itu mulai terisak .
Jidan menarik nafas panjang , ia tidak menduga ada dalam situasi kacau ini , meski ia sendiri bingung namun ia sedikit mengerti situasinya .
__ADS_1
" Namaku Aadheva Raka Jidan Prayoga " ucap Jidan pelan .
" Aku tidak berbohong , teman temanku biasa memanggilku Adi , aku juga pernah menyebutkan nama panjangku padamu " ucap Jordi sambil meletakkan ransel besarnya ke lantai .
" Maaf...tapi seorang prajurit pasukan khusus tidak boleh mengatakan profesi mereka sembarangan , kadang kami harus menyembunyikannya " lanjut Jidan . Ia ingin sekali memeluk gadis di depannya namun ia yakin Dila sedang marah saat ini .
" Kau seorang tentara ? " Tanya Dila
Jidan mengangguk dengan berat . Ia menarik nafas panjang sambil memandang wajah Dila dalam .
" kau tahu aku tidak benci tentara , tapi aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mencintai seorang prajurit . Lupakan pernyataan cintaku , aku mengambilnya kembali . Kau tidak pantas mendapatkannya " Dila berucap sambil menundukkan wajahnya . Hatinya terasa sakit mengucapkan kata-katanya barusan .
" Dila.....' gumam Jidan sambil berjalan ke arah Dila . Gadis itu memberi isyarat padanya untuk berhenti .
" Aku berharap apa yang terjadi di antara kita tidak pernah keluar dari kamar ini . Aku tidak ingin kakek tahu salah satu cucunya adalah pengecut yang mempermainkan wanita dengan kebohongan seperti ini ' lanjut Dila sambil berjalan Melawati Jidan .
"Kau ingat kejadian Saat aku datang dengan mengenakan kaos dan celana tentara ketika kita pertama kali bertemu setelah di pangrango , saat itu aku ingin mengatakan siapa diriku , tapi kau bilang kau tidak akan berkencan dengan tentara , sejak saat itu aku tidak bisa mengatakan padamu siapa aku meski kau bertanya , aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu " ucap Jidan sambil meraih lengan Dila .
" Seharusnya kau mengatakannya , dengan begitu kisah kita tidak akan sepanjang ini , aku juga tidak akan jatuh cinta padamu " ucap Dila sambil menepis lengannya .
Gadis itu hendak melangkah pergi , namun lengan kekar Jidan dengan cepat meraihnya .ia memeluk Dila dengan erat .
" Wulandari Ratnadila...aku mencintaimu " bisik Jidan lembut . Dila menitikkan air matanya , telah lama ia ingin mendengar kalimat itu , namun saat ia mendengar itu Sekarang hatinya justru merasa sangat sakit .
" kenapa harus kamu ? , kenapa harus seragam ini yang melekat di tubuhmu saat aku mengetahui pekerjaanmu " bisik hati Dila hampir putus asa .
" Maaf...kau bukan lagi seseorang yang aku inginkan " ucap Dila seraya melepaskan pelukan Jidan .
" Aku bahkan tidak mengenalmu " ucapnya seraya melangkah keluar kamar , di luar kamar nampak tuan Aditya dan nyonya Irma tengah mendengarkan percakapan mereka .
" Apa Tante dan om mendengar percakapan kami ? " Tanya Dila yang menyadari keduanya tengah menguping .
" Ehm...tidak " jawab nyonya Irma .
Dila mengusap air matanya yang masih mengalir . Ia berusaha untuk tenang dan tidak menangis namun hatinya yang merasa di bohongi dan perasaannya yang bingung membuat ia tidak bisa menahan tangisnya .
" Ayahku akan menghukum orang yang berbohong , setidaknya lakukan itu untukku jika om memang seorang prajurit , aku harap kakek tidak tahu apa yang terjadi aku tidak ingin ia merasa malu bertemu dengan ku" ucap Dila seraya melangkah pergi .
Jidan keluar dari kamarnya , ia mengejar Dila yang berjalan cepat menuju tangga , gadis itu berlari kecil menuruni setiap anak tangga . Ia tidak ingin Tuan Gunawan melihat wajahnya saat ini .
Dila berlari menuju halaman , Dilihatnya pak Nurdin tengah berbincang-bincang dengan seorang lelaki . Dila berlari ke arahnya .
" Pak boleh antar Dila pulang , Dila ingin pulang " ucap Dila dengan nafas hampir habis . Matanya yang sembab dan wajahnya yang sedih membuat pak Nurdin terkejut .
" Ada apa Non...?! " Tanya pak Nurdin .
"Tolong antar Dila pulang " ucap Dila dengan nada memohon .
" Oh baik baik..mari " ucap pak Nurdin yang bingung .
Pak Nurdi segera mengambil mobil di garasi , Dila segera masuk ke dalam mobil begitu pak Nurdin tiba di halaman dengan mobilnya . Ia duduk di depan di samping pak Nurdin karna melihat Jidan datang ke arahnya .
Jidan menghentikan mobil mereka , Pemuda itu berjalan ke arah pintu pak Nurdin dan menyuruh pak Nurdin turun . Dengan cepat ia masuk dan duduk di balik kemudi .
Dila ingin turun , namun Jidan menahannya .
" Kakek sedang menuju kemari , pakailah sabuk pengaman , aku akan bilang kau tiba tiba harus pulang padanya nanti ' ucap Jidan berbohong .
Dengan berat Dila menuruti perintahnya . ia tidak ingin Tuan Gunawan tahu apa yang terjadi . Jidan segera tancap gas meninggalkan rumah itu .
Pak Nurdin memandang kepergian mereka dengan penuh pertanyaan . Ia segera Menuju Rumah untuk mencari informasi pada pelayan tentang kejadian barusan .
__ADS_1