
Pak Nurdin menghentikan mobilnya tepat di depan Rumah kontrakan Dila . Sambil membawa beberapa paper bag lelaki setengah baya itu memasuki pagar rumah yang nampak sunyi . Ia berdiri beberapa saat setelah memencet bel .
" Siapa..." Ocha yang membukakan pintu rumah menatap pak Nurdin seraya bertanya .
" Selamat pagi Nona Dila ada di Rumah ? " Tanya pak Nurdin.
" Tidak ada , Bapak siapa ? " Ocha berusaha untuk mengingat wajah di depannya .
" Saya supir nyonya Nisa " jawab pak Nurdin berbohong .
" saya kemari untuk mengantarkan barang barang Nak Dila , apa dia ada ?"
" Dila baru saja pergi naik gunung , sebenarnya ada apa pak ? " Tanya Ocha .
Setahu dirinya semalam Dila menginap di rumah orang tua nyonya Nisa .
" Oh...kapan Dila pergi ? , Handphone Dila tertinggal apa ada no lain yang bisa di hubungi ? " Tanya.pak Nurdin .
Ocha memandang wajah pak Nurdin sesaat , ia merasa kesedihan Dila pagi ini ada hubungannya dengan keluarga itu .
" Tidak ada " jawabnya singkat .
" Kemana dia mendaki ? " Tanya pak Nurdin.
" Saya tidak tahu pak , dia hanya bilang akan pergi seminggu lebih " jawab ocha bohong .
Pak Nurdin tahu Ocha sengaja tidak memberikan informasi yang ia inginkan , tatapan gadis itu juga penuh dengan kecurigaan .
" Kalau begitu saya titip barang Dila , tolong sampaikan kepada Dila untuk menghubungi tuan Gunawan , beliau sangat khawatir karena nak Dila pulang tanpa pamit .saya permisi nona " pak Nurdin menyerahkan barang barang Dila pada Ocha seraya melangkah pergi .
*****
" Apa Dila pergi mendaki ? " Tuan Gunawan bertanya dengan terkejut setelah mendengar cerita pak Nurdin .
" Ya tuan , saya belum mendapatkan informasi lagi " jawab pak Nurdin .
" Saya rasa Nona Dila tidak baik baik saja , saya bisa merasakan temannya sengaja tidak memberikan informasi kepada kita , mungkin dia tahu apa yang terjadi " lanjut pak Nurdin .
Tuan Gunawan menarik nafas panjang , lelaki berumur tujuh puluhan tahun itu menyandarkan tubuhnya di kursinya .
" Cari informasi kemana Dila pergi , aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya " ucap tuan Gunawan setelah terdiam beberapa saat .
" Baik tuan " jawab pak Nurdin .
" Din... kenapa kau tidak pernah memberitahukan padaku tentang Jidan " Tuan Gunawan menatap wajah pak Nurdin .
"Sebenarnya ketika kita pulang dari Sukabumi saya hendak memberi tahu tuan , tapi saat itu tuan masih marah " jawab pak Nurdin .
" Lalu bagaimana hubungan antara Jidan dengan wanita itu ? " Tanya tuan Gunawan .
" Saya tidak dapat informasi tentang wanita itu , namun saya dengar tuan muda Jidan mendapatkan sanksi administrasi karena insiden tersebut hampir membahayakan misinya " jawab pak Nurdin .
" begitukah ? " Tuan Gunawan tediam .
" Bagaimana dengan Jordi dan Rizky ? " Tanya tuan Gunawan .
" Tuan muda Jordi hanya dekat dengan nona Dila akhir akhir ini , bahkan mereka sempat makan malam di sebuah resto bersama dengan anak anak panti Jum'at malam kemarin " lapor pak Nurdin.
" Jordi ..? , Makan dengan anak panti ?!" Tanya tuan Gunawan tidak percaya .
Pak Nurdin mengangguk sambil tersenyum .
" Tuan muda Rizky tidak sedang dekat dengan siapapun tuan " pak Nurdin melanjutkan laporannya .
" Bagaimana dengan Dila ?" Tanya tuan Gunawan .
" Sejauh ini kami tidak bisa menyimpulkan apapun , Nona Dila banyak memiliki teman baik laki laki atau perempuan , ia juga dekat dengan beberapa orang lelaki dari komunitas pendaki , tapi saya rasa Nona Dila hanya menganggap mereka sebagai seorang sahabat " jawab pak Nurdin .
" Benarkah, bagaimana dengan pihak lelaki ? " Tanya tuan Gunawan .
Pak Nurdin terdiam sejenak seraya tersenyum , tuan Gunawan menatap orang kepercayaannya sambil menarik nafas panjang .
" dia terlalu naif , dia bisa terkena masalah seperti Kartika " gumamnya kemudian .
" Tapi Nona Dila bisa melindungi diri tuan , saya dengar dari mang Karman tuan Saka melatihnya taekwondo , dia juga berlatih Jitsu dan karate " pak Nurdin bercerita .
" Oh ..itu bagus , tapi aku tetap khawatir akan keselamatannya . Kau tahu...bagiku yang terpenting adalah dia bahagia seperti harapan Saka . meski aku berharap dia bisa menjadi cucu menantuku , aku tidak ingin keinginanku membuat dia tidak bahagia " tuan Gunawan berbicara sambil memandang ke langit langit ruangan .
" Seharusnya aku dulu memilih untuk hidup sederhana seperti Saka " gumam tuan Gunawan .
" Kau boleh pergi , Aku ingin istirahat sebentar " tuan Gunawan beranjak dari Kursinya .
Lelaki tua itu melangkah menuju kamarnya dengan berbagai pemikiran di kepalanya .
* * * * *
Jidan terbangun dari tidurnya setelah tertidur lelap beberapa saat . Ia segera beranjak dari ranjang setelah terdiam beberapa saat .
__ADS_1
Dengan gontai Jidan melangkah menuju kamar mandi , ia membersihkan diri lalu segera keluar dari kamarnya setelah berpakaian .
Mengenakan kaos berkerah berwarna biru ,dan celana jeans dengan warna senada , pria muda itu terlihat tampan dan maskulin .
Saat itu jam menunjukkan pukul tujuh malam , tapi ruang makan masih sepi , Jidan melihat jam tangannya lalu melangkah menuju ruang keluarga .
Jordi tengah duduk di sana sambil memegang handphone , Tania dan Rizky dan juga tuan Aditya berserta sang istri juga udah bersiap untuk makan malam . Mereka semua tengah menanti tuan Gunawan .
" Kakak....' teriak Tania seraya berlari ke arah Jidan . gadis kecil itu memang telah mendengar kepulangan sang kakak , namun ia belum bertemu dengannya .
Dengan manja Tania memeluk Jidan .
" Kau sudah bertambah besar " ucap Jidan sambil mengusap kepala Tania .
Rizky juga segera bangkit dari duduknya dan memeluknya .
" Kakak sehat ..? " Tanya Rizky dengan wajah gembira .
" Yah...aku masih hidup " jawab Jidan seraya menepuk pundak sepepunya tersebut .
" Kau baik baik saja " Jidan menyapa Jordi yang hanya duduk diam di tempatnya .
" Ya.... syukurlah kau kembali dengan utuh " ucap Jordi membuat Jidan tertawa .
Jidan duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Tania yang asik menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak .
" gadis manja duduk sendiri sana " ucap Jidan sambil mendorong kepala Tania .
" Tidak....., Aku kangen kak Jidan " jawab Tania manja sambil memeluk erat lengan Jidan .
Jidan hanya bisa pasrah menerima kelakuan adik semata wayangnya .
" Nia..kakak pasti lelah jangan manja begitu " seru nyonya Irma sambil tersenyum . Ia gembira kedua anaknya sangat akur .
" Biar saja ..." jawab Tania , ia semakin mengeratkan pelukannya pada Jidan .
" Ah..kenapa kakek lama sekali aku sudah lapar " rengek Tania .
" Aku akan melihatnya " ucap Jidan seraya bangkit dari duduknya . Ia melangkah menuju kamar Tuan Gunawan .
Setelah mengetuk pintu Jidan segera membuka pintu kamar Tuan Gunawan . Dilihatnya sang kakek tengah duduk sambil termenung .
" Kek...semua orang menunggu kakek untuk makan malam " ucap Jidan seraya menghampirinya .
" Kalian makanlah aku sedang tidak selera " jawab tuan Gunawan .
" Kau yakin dia mencintaimu ? , Sejauh mana hubungan kalian ? " Tuan Gunawan menatap Jidan .
" Entahlah...., Kini aku tidak yakin " jawab Jidan .
" Apa yang membuat kamu ragu , hatimu atau perasaannya ? " Tanya tuan Gunawan
" Kakek tau aku tidak pernah mencintai seseorang , aku tidak tau cinta itu apa dan bagaimana ? , Tapi bersamanya aku menemukan kedamaian " jawab Jidan .
" Dia mengajariku cara bahagia dengan cara yang sangat sederhana " lanjut Jidan sambil tersenyum .
" Lalu kenapa kau tidak melepas seragammu ?" Tanya tuan Gunawan .
" Bukankah Seragammu yang menjadi penghalang hubungan kalian ? " Tanya tuan Gunawan sambil menatap wajah sang cucu .
Jidan menelan ludahnya , lelaki muda itu terdiam sesaat lalu menghela nafasnya .
" Karena ini adalah hidupku . Aku adalah seorang tentara , jika dia sungguh mencintaiku maka dia akan menerima aku apa adanya , jika tidak maka aku juga tidak ingin berubah menjadi orang lain untuk ia cintai " jawab Jidan .
" Itu adalah pengorbanan yang harus kau lakukan untuk mencapai tujuan yang kau inginkan , untuk mendapatkan hal yang berharga kau harus mengorbankan hal yang berharga " tuan Gunawan menimpali .
" Kakek aku adalah seorang prajurit . Jika Ku harus memilih antara seorang gadis atau seragamku , maka itu bukanlah pilihan . Itu adalah sebuah penolakan . Kami tidak bisa menukar seragam kami , bahkan dengan nyawa kami sekalipun " Jidan beranjak dari duduknya .
" Apa kakek tetap tidak mau makan ? " Tanya Jidan sambil melangkah pergi .
" Kau.. sungguh tidak ingin memperjuangkan Dila..? " Tuan Jidan kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Jidan.
" Ku rasa kakek sudah tau jawabanku " ucap Jidan sambil membuka pintu .
Pemuda itu melangkah menuju ruang keluarga seraya memberi tahu pada semua orang bahwa tuan Gunawan tidak ingin makan malam .
Setelah makan malam semua anggota keluarga sibuk dengan aktifitasnya masing-masing . Rizky Berpamitan untuk pulang ke rumahnya , sementara Jordi memilih untuk menikmati secangkir kopi di teras belakang .
Jidan menatap Jordi yang tengah duduk santai . Dengan langkah ringan ia menghampiri sang sepupu .
" Ku dengar kekasihmu menikah , siapa namanya..? " Tanya Jidan sambil duduk di samping Jordi .
" Dia bukan kekasihku lagi , kami sudah putus " jawab Jordi .
" Kenapa kau bertanya ? " Tanya Jordi heran . Tidak biasanya Jidan mencampuri urusan seseorang .
" kau tidak terlihat patah hati seperti biasanya , apa kau tengah dekat dengan seseorang ? " tanya Jidan tanpa menghiraukan perkataan Jordi .
__ADS_1
Jordi tertawa mendengar pertanyaan Jidan . dengan wajah curiga ia menatap wajah Jidan .
" Ada apa denganmu ? , Apa terlalu banyak minum obat ? " Tanya Jordi .
" Aku hanya penasaran " jawab Jidan seraya tersenyum tenang .
" Apa kau.... pernah mencintai seseorang ? " Tanya Jordi tiba tiba setelah mereka terdiam beberapa saat .
" Aku tidak ada waktu untuk itu " jawab Jidan sambil menatap wajah Jordi .
" aku....kurasa aku menyukai seseorang ' Jordi bergumam . Jidan terdiam sambil menatap wajah Jordi dalam .
" Dia gadis yang unik , suka memarahi seseorang sesuka hatinya , juga sangat ceroboh , tapi kurasa dia sudah punya kekasih " kata kata Jordi membuat Jidan tertegun .
" Kenapa kau berkata begitu ? " Tanya Jidan kemudian .
" Hanya dugaanku , dia sepertinya tidak tertarik padaku . Kau tahu..banyak gadis yang tergila-gila padaku . Mencoba mendekati aku atau bahkan dengan terus terang mengatakan cinta . Tapi dia berbeda , dia bahkan selalu mengejekku " cerita Jordi .
Jidan terdiam . Jika benar yang dikatakan Jordi berarti gadis itu tidak tertarik pada sepupunya tersebut .
" lalu apa rencana mu tuan muda ? " tanya Jidan
" tentu saja membuat dia menyukaiku , apapun caranya " jawab Jordi
" kau pikir cinta itu adalah kompetisi ? , hati seseorang bukan sesuatu yang dapat kau menangkan sesuka hati mu ! " ucap Jidan sambil menatap tajam sepupunya yang memang selalu penuh ambisi jika menginginkan sesuatu .
" begitukah cara berpikir seorang prajurit , bukankah kalian pantang pulang jika kalah ? " ucap Jordi
" cinta dan peperangan adalah dua hal berbeda " jawab Jidan .
" di mana bedanya ? " tanya Jordi
" cinta itu adalah tentang memberi tanpa mengharapkan imbalan apapun " jawab Jidan .
" apa bedanya dengan dirimu ? , bukankah saat kau pergi bertugas kau tidak mengharapkan apapun untuk diri sendiri , tapi kau tetap berharap dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai misi yang kau jalankan , untuk apa ? , bukankah karna cinta pada negara ? , meski kadang tidak ada yang tau hal itu " ucap Jordi sambil menatap wajah Jidan .
" hidup ini hanya sekali bagaimana bisa kau berkata cinta adalah tentang memberi , cinta itu adalah tentang berjuang bersama , buat dia jatuh hati padamu , jadikan milikmu , lalu bahagia sampai akhir " lanjut Jordi .
"bahagia sampai akhir kepalamu !! , lalu kenapa kau membiarkan kekasihmu menikahi orang lain " Jidan mengejek Jordi .
" itu hal yang berbeda " sanggah Jordi .
" di mana bedanya ? " Jidan melotot .
" kau harus yakin dulu tentang hatimu dan hatinya , setelah itu barulah kau bisa berkata dengan bangga bahagia hingga akhir ! , dasar manusia bodoh " ucap Jidan seraya tertawa .
" kenapa , bukankah cukup membuat dia senang , dia juga lama lama akan mencintai kita ?! " tanya Jordi .
" oh... begitukah... dengan apa kau akan membuatnya senang ? "
Jordi terdiam sambil memandang keluar jendela yang menghadap ke taman belakang .
Suara handphone dari saku celana Jidan membuat kedua pria yang tengah membisu itu terkejut .
" Ya.." ucap Jidan menerima panggilan telepon tersebut .
" Tidak dia tidak menghubungi aku " ucap Jidan .
" Benarkah ? , Apa terjadi sesuatu sebelumnya ? " Wajah Jidan nampak serius .
" Baiklah...aku akan mencarinya " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .
Jordi menatap wajah Jidan yang tiba tiba serius .
" Aku harus pergi , lanjutkan cerita cintamu lain kali " ucapnya Jidan pada Jordi seraya berdiri .
" Apa kau akan pergi bertugas lagi ? " Tanya Jordi .
Jidan menggeleng kepalanya . Lelaki itu tersenyum masam .
" Tidak..kali ini ada urusan pribadi yang harus ku selesaikan " jawab Jidan .
" Oh ya...kurasa dia tidak tertarik padamu ..gadis yang kau ceritakan itu . Berhentilah mengejarnya , kalau kau tidak ingin patah hati " ucap Jidan seraya melangkah pergi dengan tersenyum lebar .
" Apa..?! , Memangnya kau siapa ?! " Teriak Jordi yang merasa di ejek .
" Dia bahkan tidak pernah berpacaran dengan seseorang " Jordi bergumam sendiri .
Jidan melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan perkataan Jordi . dari awal dia tahu Jordi adalah pria pintar tapi bodoh dalam urusan asmara , Jordi selalu menganggap semua hal dapat di raihnya dengan mudah . ia pikir uang dapat membeli semuanya .
Lelaki muda itu menuju garasi mobil dan segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah .
Jidan meraih earphone yang tergeletak di dashboard mobilnya lalu memasangnya di telinganya . Lalu pemuda itu menelpon seseorang .
Jidan menghela nafas beberapa kali saat panggilan teleponnya tidak di angkat .
" Kemana dia pergi " gumam Jidan sambil terus mengemudi .
__ADS_1
Pemuda itu terus saja mengemudikan mobilnya menuju jalan tol keluar dari kota Bandung . Ia menuju ke arah kota Semarang , wajahnya tampak resah dan penuh kekhawatiran .