Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
30 . pria pintar tapi bodoh


__ADS_3

Pak Nurdin menghentikan mobilnya tepat di depan Rumah kontrakan Dila . Sambil membawa beberapa paper bag lelaki setengah baya itu memasuki pagar rumah yang nampak sunyi . Ia berdiri beberapa saat setelah memencet bel .


" Siapa..." Ocha yang membukakan pintu rumah menatap pak Nurdin seraya bertanya .


" Selamat pagi Nona Dila ada di Rumah ? " Tanya pak Nurdin.


" Tidak ada , Bapak siapa ? " Ocha berusaha untuk mengingat wajah di depannya .


" Saya supir nyonya Nisa " jawab pak Nurdin berbohong .


" saya kemari untuk mengantarkan barang barang Nak Dila , apa dia ada ?"


" Dila baru saja pergi naik gunung , sebenarnya ada apa pak ? " Tanya Ocha .


Setahu dirinya semalam Dila menginap di rumah orang tua nyonya Nisa .


" Oh...kapan Dila pergi ? , Handphone Dila tertinggal apa ada no lain yang bisa di hubungi ? " Tanya.pak Nurdin .


Ocha memandang wajah pak Nurdin sesaat , ia merasa kesedihan Dila pagi ini ada hubungannya dengan keluarga itu .


" Tidak ada " jawabnya singkat .


" Kemana dia mendaki ? " Tanya pak Nurdin.


" Saya tidak tahu pak , dia hanya bilang akan pergi seminggu lebih " jawab ocha bohong .


Pak Nurdin tahu Ocha sengaja tidak memberikan informasi yang ia inginkan , tatapan gadis itu juga penuh dengan kecurigaan .


" Kalau begitu saya titip barang Dila , tolong sampaikan kepada Dila untuk menghubungi tuan Gunawan , beliau sangat khawatir karena nak Dila pulang tanpa pamit .saya permisi nona " pak Nurdin menyerahkan barang barang Dila pada Ocha seraya melangkah pergi .


*****


" Apa Dila pergi mendaki ? " Tuan Gunawan bertanya dengan terkejut setelah mendengar cerita pak Nurdin .


" Ya tuan , saya belum mendapatkan informasi lagi " jawab pak Nurdin .


" Saya rasa Nona Dila tidak baik baik saja , saya bisa merasakan temannya sengaja tidak memberikan informasi kepada kita , mungkin dia tahu apa yang terjadi " lanjut pak Nurdin .


Tuan Gunawan menarik nafas panjang , lelaki berumur tujuh puluhan tahun itu menyandarkan tubuhnya di kursinya .


" Cari informasi kemana Dila pergi , aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya " ucap tuan Gunawan setelah terdiam beberapa saat .


" Baik tuan " jawab pak Nurdin .


" Din... kenapa kau tidak pernah memberitahukan padaku tentang Jidan " Tuan Gunawan menatap wajah pak Nurdin .


"Sebenarnya ketika kita pulang dari Sukabumi saya hendak memberi tahu tuan , tapi saat itu tuan masih marah " jawab pak Nurdin .


" Lalu bagaimana hubungan antara Jidan dengan wanita itu ? " Tanya tuan Gunawan .


" Saya tidak dapat informasi tentang wanita itu , namun saya dengar tuan muda Jidan mendapatkan sanksi administrasi karena insiden tersebut hampir membahayakan misinya " jawab pak Nurdin .


" begitukah ? " Tuan Gunawan tediam .


" Bagaimana dengan Jordi dan Rizky ? " Tanya tuan Gunawan .


" Tuan muda Jordi hanya dekat dengan nona Dila akhir akhir ini , bahkan mereka sempat makan malam di sebuah resto bersama dengan anak anak panti Jum'at malam kemarin " lapor pak Nurdin.


" Jordi ..? , Makan dengan anak panti ?!" Tanya tuan Gunawan tidak percaya .


Pak Nurdin mengangguk sambil tersenyum .


" Tuan muda Rizky tidak sedang dekat dengan siapapun tuan " pak Nurdin melanjutkan laporannya .


" Bagaimana dengan Dila ?" Tanya tuan Gunawan .


" Sejauh ini kami tidak bisa menyimpulkan apapun , Nona Dila banyak memiliki teman baik laki laki atau perempuan , ia juga dekat dengan beberapa orang lelaki dari komunitas pendaki , tapi saya rasa Nona Dila hanya menganggap mereka sebagai seorang sahabat " jawab pak Nurdin .


" Benarkah, bagaimana dengan pihak lelaki ? " Tanya tuan Gunawan .


Pak Nurdin terdiam sejenak seraya tersenyum , tuan Gunawan menatap orang kepercayaannya sambil menarik nafas panjang .


" dia terlalu naif , dia bisa terkena masalah seperti Kartika " gumamnya kemudian .


" Tapi Nona Dila bisa melindungi diri tuan , saya dengar dari mang Karman tuan Saka melatihnya taekwondo , dia juga berlatih Jitsu dan karate " pak Nurdin bercerita .


" Oh ..itu bagus , tapi aku tetap khawatir akan keselamatannya . Kau tahu...bagiku yang terpenting adalah dia bahagia seperti harapan Saka . meski aku berharap dia bisa menjadi cucu menantuku , aku tidak ingin keinginanku membuat dia tidak bahagia " tuan Gunawan berbicara sambil memandang ke langit langit ruangan .


" Seharusnya aku dulu memilih untuk hidup sederhana seperti Saka " gumam tuan Gunawan .


" Kau boleh pergi , Aku ingin istirahat sebentar " tuan Gunawan beranjak dari Kursinya .


Lelaki tua itu melangkah menuju kamarnya dengan berbagai pemikiran di kepalanya .


* * * * *


Jidan terbangun dari tidurnya setelah tertidur lelap beberapa saat . Ia segera beranjak dari ranjang setelah terdiam beberapa saat .

__ADS_1


Dengan gontai Jidan melangkah menuju kamar mandi , ia membersihkan diri lalu segera keluar dari kamarnya setelah berpakaian .


Mengenakan kaos berkerah berwarna biru ,dan celana jeans dengan warna senada , pria muda itu terlihat tampan dan maskulin .


Saat itu jam menunjukkan pukul tujuh malam , tapi ruang makan masih sepi , Jidan melihat jam tangannya lalu melangkah menuju ruang keluarga .


Jordi tengah duduk di sana sambil memegang handphone , Tania dan Rizky dan juga tuan Aditya berserta sang istri juga udah bersiap untuk makan malam . Mereka semua tengah menanti tuan Gunawan .


" Kakak....' teriak Tania seraya berlari ke arah Jidan . gadis kecil itu memang telah mendengar kepulangan sang kakak , namun ia belum bertemu dengannya .


Dengan manja Tania memeluk Jidan .


" Kau sudah bertambah besar " ucap Jidan sambil mengusap kepala Tania .


Rizky juga segera bangkit dari duduknya dan memeluknya .


" Kakak sehat ..? " Tanya Rizky dengan wajah gembira .


" Yah...aku masih hidup " jawab Jidan seraya menepuk pundak sepepunya tersebut .


" Kau baik baik saja " Jidan menyapa Jordi yang hanya duduk diam di tempatnya .


" Ya.... syukurlah kau kembali dengan utuh " ucap Jordi membuat Jidan tertawa .


Jidan duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Tania yang asik menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak .


" gadis manja duduk sendiri sana " ucap Jidan sambil mendorong kepala Tania .


" Tidak....., Aku kangen kak Jidan " jawab Tania manja sambil memeluk erat lengan Jidan .


Jidan hanya bisa pasrah menerima kelakuan adik semata wayangnya .


" Nia..kakak pasti lelah jangan manja begitu " seru nyonya Irma sambil tersenyum . Ia gembira kedua anaknya sangat akur .


" Biar saja ..." jawab Tania , ia semakin mengeratkan pelukannya pada Jidan .


" Ah..kenapa kakek lama sekali aku sudah lapar " rengek Tania .


" Aku akan melihatnya " ucap Jidan seraya bangkit dari duduknya . Ia melangkah menuju kamar Tuan Gunawan .


Setelah mengetuk pintu Jidan segera membuka pintu kamar Tuan Gunawan . Dilihatnya sang kakek tengah duduk sambil termenung .


" Kek...semua orang menunggu kakek untuk makan malam " ucap Jidan seraya menghampirinya .


" Kalian makanlah aku sedang tidak selera " jawab tuan Gunawan .


" Kau yakin dia mencintaimu ? , Sejauh mana hubungan kalian ? " Tuan Gunawan menatap Jidan .


" Entahlah...., Kini aku tidak yakin " jawab Jidan .


" Apa yang membuat kamu ragu , hatimu atau perasaannya ? " Tanya tuan Gunawan


" Kakek tau aku tidak pernah mencintai seseorang , aku tidak tau cinta itu apa dan bagaimana ? , Tapi bersamanya aku menemukan kedamaian " jawab Jidan .


" Dia mengajariku cara bahagia dengan cara yang sangat sederhana " lanjut Jidan sambil tersenyum .


" Lalu kenapa kau tidak melepas seragammu ?" Tanya tuan Gunawan .


" Bukankah Seragammu yang menjadi penghalang hubungan kalian ? " Tanya tuan Gunawan sambil menatap wajah sang cucu .


Jidan menelan ludahnya , lelaki muda itu terdiam sesaat lalu menghela nafasnya .


" Karena ini adalah hidupku . Aku adalah seorang tentara , jika dia sungguh mencintaiku maka dia akan menerima aku apa adanya , jika tidak maka aku juga tidak ingin berubah menjadi orang lain untuk ia cintai " jawab Jidan .


" Itu adalah pengorbanan yang harus kau lakukan untuk mencapai tujuan yang kau inginkan , untuk mendapatkan hal yang berharga kau harus mengorbankan hal yang berharga " tuan Gunawan menimpali .


" Kakek aku adalah seorang prajurit . Jika Ku harus memilih antara seorang gadis atau seragamku , maka itu bukanlah pilihan . Itu adalah sebuah penolakan . Kami tidak bisa menukar seragam kami , bahkan dengan nyawa kami sekalipun " Jidan beranjak dari duduknya .


" Apa kakek tetap tidak mau makan ? " Tanya Jidan sambil melangkah pergi .


" Kau.. sungguh tidak ingin memperjuangkan Dila..? " Tuan Jidan kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Jidan.


" Ku rasa kakek sudah tau jawabanku " ucap Jidan sambil membuka pintu .


Pemuda itu melangkah menuju ruang keluarga seraya memberi tahu pada semua orang bahwa tuan Gunawan tidak ingin makan malam .


Setelah makan malam semua anggota keluarga sibuk dengan aktifitasnya masing-masing . Rizky Berpamitan untuk pulang ke rumahnya , sementara Jordi memilih untuk menikmati secangkir kopi di teras belakang .


Jidan menatap Jordi yang tengah duduk santai . Dengan langkah ringan ia menghampiri sang sepupu .


" Ku dengar kekasihmu menikah , siapa namanya..? " Tanya Jidan sambil duduk di samping Jordi .


" Dia bukan kekasihku lagi , kami sudah putus " jawab Jordi .


" Kenapa kau bertanya ? " Tanya Jordi heran . Tidak biasanya Jidan mencampuri urusan seseorang .


" kau tidak terlihat patah hati seperti biasanya , apa kau tengah dekat dengan seseorang ? " tanya Jidan tanpa menghiraukan perkataan Jordi .

__ADS_1


Jordi tertawa mendengar pertanyaan Jidan . dengan wajah curiga ia menatap wajah Jidan .


" Ada apa denganmu ? , Apa terlalu banyak minum obat ? " Tanya Jordi .


" Aku hanya penasaran " jawab Jidan seraya tersenyum tenang .


" Apa kau.... pernah mencintai seseorang ? " Tanya Jordi tiba tiba setelah mereka terdiam beberapa saat .


" Aku tidak ada waktu untuk itu " jawab Jidan sambil menatap wajah Jordi .


" aku....kurasa aku menyukai seseorang ' Jordi bergumam . Jidan terdiam sambil menatap wajah Jordi dalam .


" Dia gadis yang unik , suka memarahi seseorang sesuka hatinya , juga sangat ceroboh , tapi kurasa dia sudah punya kekasih " kata kata Jordi membuat Jidan tertegun .


" Kenapa kau berkata begitu ? " Tanya Jidan kemudian .


" Hanya dugaanku , dia sepertinya tidak tertarik padaku . Kau tahu..banyak gadis yang tergila-gila padaku . Mencoba mendekati aku atau bahkan dengan terus terang mengatakan cinta . Tapi dia berbeda , dia bahkan selalu mengejekku " cerita Jordi .


Jidan terdiam . Jika benar yang dikatakan Jordi berarti gadis itu tidak tertarik pada sepupunya tersebut .


" lalu apa rencana mu tuan muda ? " tanya Jidan


" tentu saja membuat dia menyukaiku , apapun caranya " jawab Jordi


" kau pikir cinta itu adalah kompetisi ? , hati seseorang bukan sesuatu yang dapat kau menangkan sesuka hati mu ! " ucap Jidan sambil menatap tajam sepupunya yang memang selalu penuh ambisi jika menginginkan sesuatu .


" begitukah cara berpikir seorang prajurit , bukankah kalian pantang pulang jika kalah ? " ucap Jordi


" cinta dan peperangan adalah dua hal berbeda " jawab Jidan .


" di mana bedanya ? " tanya Jordi


" cinta itu adalah tentang memberi tanpa mengharapkan imbalan apapun " jawab Jidan .


" apa bedanya dengan dirimu ? , bukankah saat kau pergi bertugas kau tidak mengharapkan apapun untuk diri sendiri , tapi kau tetap berharap dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai misi yang kau jalankan , untuk apa ? , bukankah karna cinta pada negara ? , meski kadang tidak ada yang tau hal itu " ucap Jordi sambil menatap wajah Jidan .


" hidup ini hanya sekali bagaimana bisa kau berkata cinta adalah tentang memberi , cinta itu adalah tentang berjuang bersama , buat dia jatuh hati padamu , jadikan milikmu , lalu bahagia sampai akhir " lanjut Jordi .


"bahagia sampai akhir kepalamu !! , lalu kenapa kau membiarkan kekasihmu menikahi orang lain " Jidan mengejek Jordi .


" itu hal yang berbeda " sanggah Jordi .


" di mana bedanya ? " Jidan melotot .


" kau harus yakin dulu tentang hatimu dan hatinya , setelah itu barulah kau bisa berkata dengan bangga bahagia hingga akhir ! , dasar manusia bodoh " ucap Jidan seraya tertawa .


" kenapa , bukankah cukup membuat dia senang , dia juga lama lama akan mencintai kita ?! " tanya Jordi .


" oh... begitukah... dengan apa kau akan membuatnya senang ? "


Jordi terdiam sambil memandang keluar jendela yang menghadap ke taman belakang .


Suara handphone dari saku celana Jidan membuat kedua pria yang tengah membisu itu terkejut .


" Ya.." ucap Jidan menerima panggilan telepon tersebut .


" Tidak dia tidak menghubungi aku " ucap Jidan .


" Benarkah ? , Apa terjadi sesuatu sebelumnya ? " Wajah Jidan nampak serius .


" Baiklah...aku akan mencarinya " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .


Jordi menatap wajah Jidan yang tiba tiba serius .


" Aku harus pergi , lanjutkan cerita cintamu lain kali " ucapnya Jidan pada Jordi seraya berdiri .


" Apa kau akan pergi bertugas lagi ? " Tanya Jordi .


Jidan menggeleng kepalanya . Lelaki itu tersenyum masam .


" Tidak..kali ini ada urusan pribadi yang harus ku selesaikan " jawab Jidan .


" Oh ya...kurasa dia tidak tertarik padamu ..gadis yang kau ceritakan itu . Berhentilah mengejarnya , kalau kau tidak ingin patah hati " ucap Jidan seraya melangkah pergi dengan tersenyum lebar .


" Apa..?! , Memangnya kau siapa ?! " Teriak Jordi yang merasa di ejek .


" Dia bahkan tidak pernah berpacaran dengan seseorang " Jordi bergumam sendiri .


Jidan melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan perkataan Jordi . dari awal dia tahu Jordi adalah pria pintar tapi bodoh dalam urusan asmara , Jordi selalu menganggap semua hal dapat di raihnya dengan mudah . ia pikir uang dapat membeli semuanya .


Lelaki muda itu menuju garasi mobil dan segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah .


Jidan meraih earphone yang tergeletak di dashboard mobilnya lalu memasangnya di telinganya . Lalu pemuda itu menelpon seseorang .


Jidan menghela nafas beberapa kali saat panggilan teleponnya tidak di angkat .


" Kemana dia pergi " gumam Jidan sambil terus mengemudi .

__ADS_1


Pemuda itu terus saja mengemudikan mobilnya menuju jalan tol keluar dari kota Bandung . Ia menuju ke arah kota Semarang , wajahnya tampak resah dan penuh kekhawatiran .


__ADS_2