
Dila baru saja selesai mengemasi beberapa barang bawaannya . Hari ini ia berencana pergi ke kampus untuk mengambil ijin kuliah . Dokter Panji menyarankan agar dirinya beristirahat dan menunggu benar benar fit untuk melakukan aktivitas padat .
Itulah sebabnya ia memilih bertemu pergi sendiri ke kampus dan mengurus semuanya .
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Dila yang sudah siap bergegas keluar . Saat pintu terbuka , Jordi telah berdiri di depan pintu sambil tersenyum .
" Hai... selamat pagi..." Sapa Jordi sembari tersenyum lebar .
" Pagi...kenapa kau ada di sini ? " Tanya Dila dengan wajah heran .
" Tentu saja mengantar kamu " jawab Jordi sembari mempersilahkan Dila berjalan lebih dulu .
" Aku...? , Kenapa ? , Aku bisa menyetir sendiri " jawab Dila sembari berjalan menuju tangga .
" Tidak....kali ini aku akan mengantarmu " ucap Jordi yang berjalan di belakangnya .
Keduanya menuruni anak tangga dalam kebisuan .
" Neng.... sarapan dan minum obat dulu..." Panggil Mak Asih yang telah berdiri di ruang makan seakan telah menanti kedatangan Dila .
" Makasih Mak..." Ucap Dila seraya duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Jordi .
" Biar saya bu..." Ucap Jordi ketika melihat Mak Asih membawa semangkuk bubur hangat dari dapur .
Dengan cekatan pemuda itu membawa Nampan berisi bubur ayam yang baru saja di hangatkan dan menghidangkannya kepada Dila .
" Makanlah...." Ucap Jordi seraya duduk di samping Dila .
" Kenapa jadi kamu yang melayani aku ? " Ucap Dila sambil menatap wajah Jordi yang hanya terpaku menatap wajahnya .
" Karena aku kekasihmu " jawab Jordi santai .
Dila memukul lengan Jordi yang seakan tidak peduli dengan hadirnya Mak Asih yang masih mondar mandir di ruangan itu .
" Kenapa ...? " goda Jordi yang mengetahui Dila terkejut dengan kata katanya , sementara Mak Asih hanya menahan tawa .
" Bagaimana keadaan kakek ? " Tanya Dila seraya menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya .
" Sudah stabil , keadaannya sudah lebih baik " jawab Jordi .
" Syukurlah.." ucap Dila Seraya meneguk air minum yang ada di hadapannya .
" Jam berapa urusanmu selesai ? " Tanya Jordi sambil meraih tisu dan memberikannya pada Dila .
" Belum tahu, kenapa?" Dila bertanya dengan heran .
" Aku akan menjemputmu " jawab Jordi seraya meraih selembar roti tawar dan mengoleksinya dengan selai kacang.
" Tidak perlu aku bisa naik taksi , kau sudah cukup sibuk aku tidak ingin membuatmu repot " jawab Dila dengan wajah serius .
" Aku tidak merasa direpotkan " Jawab Jordi seraya menyuapkan makanan ke mulutnya .
" Aku bilang tidak perlu aku bisa sendiri " Dila kekeh dengan keinginannya .
" Kamu belum sembuh total , Aku tidak ingin kamu kelelahan , jadi tolong telepon aku begitu urusanmu selesai " ucap Jordi dengan tegas .
" Aku akan baik-baik saja " Dila masih membantah .
"Oke..... Kamu merasa aku kerepotan aku akan minta Didit untuk siaga antar jemput kamu sampai kamu benar-benar sehat " kali ini Jordi berkata dengan tegas .
" Saat ini yang perlu kita hawatir kan adalah kakek bukan Aku " Dila berkata sambil menyudahi sarapannya .
" Kakek akan melakukan hal yang sama untukmu " Jordi meraih tangan Dila .
Dila menarik nafas panjang . Ia menatap wajah Jordi dengan seksama , lelaki itu tak menampakkan rasa lelahnya , padahal Dila tahu ia sibuk mengurus perusahaan , apalagi begitu banyak masalah sejak kakek masuk RS dua hari lalu .
" Kenapa menatap aku begitu ? , Apa aku terlihat lebih tampan ? " goda Jordi .
Dila menahan senyumnya mendengar ucapan pria di hadapannya . entah kenapa gurauan Jordi terasa menghiburnya .
" kau harus lebih memperhatikan kakek " ucap Dila setelah terdiam beberapa saat .
" dia akan baik baik saja " jawab Jordi singkat .
Lelaki itu kemudian meraih piring kecil berisi obat yang harus di minum Dila . Ia pun meletakkan obat tersebut di depan Dila begitu Dila selesai sarapan . Tanpa banyak bertanya Dila segera meminum obat tersebut .
Keduanya kemudian meninggalkan Rumah bersama sama . Tidak ada siapapun di rumah , Nyonya Kirana telah pergi sejak pagi , Rizky telah dua hari tidak pulang ke rumah .
Sudah dua hari tuan Gunawan tidak sadarkan diri . Dila masih datang ke RS meski semua orang menyuruh dirinya untuk beristirahat di rumah .
Jalanan tampak macet , ini adalah awal Minggu di mana semua orang kembali sibuk dengan urusan pekerjaan . Jordi menatap ke depan dengan tenang , kemacetan lalulintas seakan tidak mempengaruhi moodnya hari ini .
Tentu saja , ini adalah hari pertama dirinya mengantar Dila ke kampus , dan pertama kali mereka hanya duduk berdua setelah mereka resmi berpacaran .
Dila menyandarkan kepalanya di sandaran kursi , alunan lagu lembut suara Katon Bagaskara dengan tembang lawasnya menjadi pengantar baginya mengenang sebuah momen beberapa tahun lalu , kenangan yang tiba tiba saja terlintas di benaknya .
Cinta selembut Awan...
Masih tersimpan di hati...
Pesona menerawang
Ku di Landa sepi...
Mengapa hanya padamu
Tercurah seluruh rasa
Hadir di setiap nafasku
bayangmu menyapa...
" Woe....kalian ayo makan dulu ? " Seruan Ivan menghentikan kegiatan Dedi yang tengah asik memetik gitar .
" Bentar lagi Ach..." Sahut Dila yang tengah duduk di sebelah Dedi .
Mereka saat itu baru saja turun gunung , dan mampir di rumah salah seorang saudara jauh Ivan yang tinggal di lereng dekat gunung Papandayan .
" Aku mau makan dulu " ucap Dedi seraya meletakkan gitarnya .
" Ayolah kak Dedi..." Rengek Dila yang memang sangat suka melihat orang bernyanyi sambil bermain gitar .
" Aku laper la..nanti lagi Ach...! " Dedi berlalu tanpa menghiraukan dirinya .
Dila meraih gitar tersebut , ia memegang gitar itu sambil menatap jauh ke gunung Papandayan . Sesekali bibirnya bergumam , menyanyikan lagu favoritnya .
" Kau begitu suka lagu itu ? " Pertanyaan seseorang membuat Dila menoleh .
" Berikan gitarnya " lanjut pemilik suara dalam yang seakan tidak peduli dengan keterkejutan Dila .
" Apa yang kau lakukan disini ? , Bagaimana kau bisa ada di sini ? " Tanya Dila yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya .
Seperti kebiasaannya , Jidan tiba tiba muncul saat dirinya sedang merasa kesal . saat itu ia sering tiba tiba membatalkan perjalanan mereka , dan muncul tiba-tiba di tengah perjalanan atau saat perjalanan telah usai .
Lelaki itu tidak menjawab pertanyaannya , ia justru mengambil gitar dari tangan Dila lalu duduk bersila di sampingnya .
Dila tentu saja sangat kesal , tapi seperti biasanya rasa kesalnya akan menguap begitu saja saat melihat senyum hangat pria itu .
Jari jemari Jidan mulai memetik senar gitar dengan lihai , sesekali pria itu tersenyum padanya . Suara dalamnya menggema lembut menyanyikan lagu Katon Bagaskara , lagu favoritnya sepanjang masa .
__ADS_1
" Dila...." Sebuah suara membuyarkan lamunan Dila .
" Kau melamun ? "
Dila menatap pria yang kini ada di sampingnya , dan tentu saja itu bukan Jidan tetapi Jordi . Mobil yang mereka kendarai juga telah terparkir di depan kampusnya .
Dengan cepat Dila membuka safety belt yang melingkar di tubuhnya . Ia berdehem beberapa kali untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di hatinya .
" Apa yang kau pikirkan ? " Tanya Jordi sembari menatap dalam ke wajah Dila .
Dila hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya , ia tentu tidak ingin melukai hati Jordi dengan berkata jujur bahwa lagu yang mengalun dari CD player di mobilnya telah membangkitkan sebuah kenangan antara dirinya dengan Jidan .
" Aku pergi dulu , hati hati menuju ke kantor " ucap Dila sambil meraih pintu mobil .
" Ya...., Jangan lupa telp aku saat urusanmu selesai " ucap Jordi sambil tersenyum manis .
Dila melambaikan tangannya , melepas kepergian Jordi dengan senyum hangat yang ia miliki . Setelah mobil Jordi berlalu gadis itupun melangkah menuju kantor kampus .
" Dila...." Suara yang sangat ia kenal terdengar dari belakang .
Dila tanpa ragu memutar tubuhnya , di lihatnya Ocha tengah berlari ke arahnya .
" Hai..., Kamu ada kelas hari ini ? " Tanya Dila sambil memeluk Ocha . Gadis itu hanya mengangguk sambil mengatur nafasnya yang memburu .
" Ich ...kamu nih...aku udah melambaikan tangan saat kamu turun dari mobil " ucap Ocha kesal setelah berhasil mengatur nafasnya yang hampir putus .
" Masa ? , Aku nggak dengar , sumpah.." jawab Dila sambil mengangkat tangan , membentuk huruf v dengan jarinya .
" Kamu udah sehat ? " Tanya Ocha sambil menatap wajah Dila .
" Lumayan..." jawab Dila sambil melangkahkan kakinya .
Keduanya berjalan beriringan dengan santai .
" Oh...., Apa kamu mau mulai kuliah hari ini ? " Tanya Ocha
" Aku ingin memulihkan kesehatan ku dulu , jadi hari ini aku mau urus cuti akademik secara resmi , kemarin kakek sudah mengurusnya saat aku tiba tiba sakit , aku datang untuk mengucapkan terimakasih dan menyerahkan beberapa dokumen " jawab Dila .
" Oh....berapa lama ? " Tanya Ocha
" Hanya satu semester , aku ingin menenangkan diri " jawab Dila santai .
" Ya....kurasa selama ini kamu mang perlu waktu untuk diri sendiri " Ocha tersenyum hangat .
" Apa kau akan pulang ke Sukabumi ? " Tanya Ocha sambil menatapnya .
" Entahlah aku belum tahu , aku ingin menunggu kakek sadar terlebih dahulu , setelah itu baru memikirkan rencana selanjutnya " jawab Dila .
" Tuan Gunawan ? , Memangnya kenapa beliau ? " Ocha mengernyitkan keningnya .
" Sakit jantungnya kambuh lagi sudah tua hari beliau dirawat di rumah sakit dan belum sadar sampai sekarang" Jawab Dila .
" Owh..... , Ach aku ke kelas dulu ya , nanti ku hubungi lagi . Dach......" Ocha berjalan menuju kelasnya sambil melambaikan tangan pada Dila .
Dila segera berjalan menuju gedung admistrasi . Ia ingin segera menyelesaikan urusannya di kampus , karena ingin segera menemani tuan Gunawan .
☀️☀️☀️☀️☀️
Mobil yang dikendarai Jordi melaju dengan tenang di jalan raya . Pemuda itu masih berkendara dengan santai menikmati lantunan musik . Sesekali bibirnya bergumam , mengikuti lirik lirik indah dari lagu yang ia putar .
Saat Jordi tengah asik menikmati musik , suara handphone mengganggu kesenangan .
dengan santai Jordi meraih handphone yang diletakkan di dashboard mobil , melihat layar handphone sesaat sebelum menerima panggilan tersebut .
" Ya halo...." Jawab Jordi santai .
" Jo ini mama , cepatlah ke rumah sakit sekarang juga " suara Nyonya Nisa dari seberang telepon .
" Tidak , kamu datang saja ke rumah sakit " jawab nyonya Nissa Seraya menutup teleponnya .
Tanpa pikir panjang Jordi pun segera merubah rute perjalanannya menuju Rumah Sakit tempat dimana Tuan Gunawan dirawat .
Sekitar setengah jam kemudian , Jordi sampai di Rumah Sakit . Pemuda itu segera berlari ke ruangan ICU , di mana tuan Gunawan di rawat . Saat ia tiba di lorong di depan ruangan ICU di lihatnya nyonya Irma tengah menangis sambil memeluk ibunya dan Mak Asih . Sementara para sepupunya tengah mematung sambil bersandar pada dinding .
Jordi terpaku di tempatnya , seluruh tubuhnya terasa kaku . Ia menatap pintu ruangan ICU yang terbuka . Dengan gontai ia berjalan menuju ruangan tersebut tanpa perduli pada panggilan sang ibu .
Di dalam ruangan itu terlihat nyonya Kirana tengah terduduk lesu di sebuah kursi , dan sang ayah yang tengah berdiri di samping nyonya Kirana . Di lihatnya dua orang tengah membuka peralatan medis yang menempel di tubuh sang kakek . sedangkan dua orang dokter tengah berdiri tak jauh dari sana sambil berbicara dengan beberapa perawat lain .
" apa kalian lakukan ?! " Jordi berteriak sambil berjalan cepat menuju pembaringan dan mendorong seorang perawat yang hendak melepaskan alat alat medis tersebut .
Tuan Juan dengan sigap menarik tubuh Jordi untuk mencegah putranya melakukan kekerasan kepada sang perawat .
" apa yang kalian lakukan....!!! , aku ingin bicara padanya ! " teriak Jordi . beberapa perawat yang tengah bicara dengan sang dokter segera membantu tuan Juanda menenangkan pemuda itu .
" Jo...its noting we can do.." bisik sang ayah sambil mengusap punggungnya . pria separuh baya itu mencoba menenangkan sang putra yang memang merupakan cucu yang paling dekat dengan sang kakek .
" Aku ingin bicara padanya ..." gumam Jordi dengan suara bergetar .
" He is gone..." bisik Tuan Juanda .
" kita harus merelakannya " lanjutnya .
" aku sudah janji pada Dila dia akan baik baik saja " gumam Jordi dengan tatapan kosong . pemuda itu duduk dengan lemas di lantai di sudut ruangan .
kedua tangan Jordi yang kokoh mengusap wajahnya yang memerah menahan tangis . lama ia terduduk di lantai , sementara sang ayah hanya berjongkok sambil terus mengusap usap pungungnya . beberapa saat kemudian Jordi telah tenang , para perawat kembali melanjutkan pekerjaan mereka .
Jordi bangkit dari lantai , dengan lesu ia meraih sebuah kursi dan menyeretnya ke samping ranjang , lalu pemuda itu segera menjatuhkan tubuhnya di kursi tersebut. lama ia terdiam , matanya menatap jasad tak berdaya sang kakek .
" i'am sorry...maafkan Jordi kek..." gumam Jordi seraya menundukkan kepalanya .
" pa....boleh aku bicara dengannya , berdua ? " ucap jordi setelah terdiam cukup lama .
" Ya...ya..." jawab Tuan Juanda sambil mengangguk anggukkan kepalanya . Ia pun segera mengajak nyonya Kirana keluar dari ruangan itu , para dokter dan perawat telah lama pergi meninggalkan mereka .
" kakek bilang aku harus memenangkan hatinya ...., maka kau bisa pergi dengan tenang , kenapa kau pergi tergesa gesa ? " Jordi berbicara sambil menggenggam telapak tangan sang kakek yng sudah dingin .
" apa kakek bertemu Jidan sekarang ? , Jika tidak..tentu kakek sudah tahu dia masih di dunia ini . Apa kakek masih mempercayakan Dila padaku ? " Jordi tersenyum masam .
" Aku tahu meski kakek begitu keras pada Jidan , kakek selalu bangga padanya . dia tidak pernah mengecewakan siapapun . dia sempurna di matamu dan di mata Dila , aku tidak akan pernah bisa mengalahkan dia bukan ? . Tapi kali ini akan ku pastikan aku menjadi yang terbaik di matamu . aku janji ...Dila akan menjadi cucu menantu keluarga kita . jadi tenanglah di sana..., aku akan menjaganya dengan baik , tolong restui aku..." perlahan Jordi melepaskan genggaman tangannya . ia lalu terdiam sesaat .
" Dila..." Jordi bergumam lalu segera bangkit dari duduknya yang lesu , dengan cepet ia berjalan keluar ruangan .
" apa sudah ada yang memberitahukan hal ini pada Dila ? " tanya Jordi dengan suara keras , ia bertanya pada semua orang yang tengah duduk di depan ruangan itu .semua orang hanya terdiam , sambil menatap ke arahnya.
" Adam sedang menjemputnya " jawab Nyonya Nisa yang terlihat begitu tenang .
" om Adit juga belum datang , dia sedang ada pertemuan dengan para petinggi telpnya tidak di angkat sejak tadi " nyonya Irma menimpali .
Jordi melihat sekeliling , mencoba mencari sosok sang Ayah .
" papa sedang berbicara dengan pihak RS untuk kepulangan jenazah , juga sedang memberitahu pihak kantor agar menyampaikan berita duka ini pada semua karyawan dan dewan direksi " ucapan sang ibu membuat Jordi merasa tenang , ia pun segera duduk di sebuah kursi , tepat di samping Rizky yang tengah mengunggah status di media sosial .
Nyonya Irma dan Nyonya Nisa segera masuk ke ruangan untuk memberikan penghormatan terakhir pada sang mertua .
Jordi masih terdiam , pikirannya buntu . Ia tidak tahu harus melakukan apa , pemuda itu memilih duduk termenung di kursi tersebut . wajah sedih Dila ketika kehilangan Eyang Saka membuat hatinya mengkhawatirkan gadis itu .
tangannya segera meraih ponsel di sakunya lalu segera menelepon nomer Adam .
" kau sudah bertemu dengannya ? " Jordi langsung mencerca Adam dengan sebuah pertanyaan begitu panggilannya terhubung .
__ADS_1
" Aku masih di parkiran , menunggu dia keluar " jawab Adam di tengah suasana bising .
" Jangan katakan apapun , cukup antar ia kerumah " ucap Jordi seraya menutup teleponnya .
☀️☀️☀️☀️☀️
Dila menghela nafas lega setelah menyelesaikan semua urusannya . Gadis itu melangkah ringan meninggalkan gedung admistrasi . Hari sudah siang , ia memutuskan untuk mencari Ocha dan mengajaknya makan siang bersama .
Dengan sigap Dila mencari handphonenya yang ia simpan di dalam tas . Dila pun segera mencari nama Ocha di kontak handphonenya , ia segera menelepon sahabatnya tersebut , namun tangannya menghentikan niatnya untuk menelpon Ocha karena melihat notifikasi chat di handphonenya .
Sebuah notifikasinya chat dari Bima menarik perhatian Dila , tanpa ragu ia membuka chat dari sahabat baik Jidan tersebut .
" Kau baik baik saja ? " Sebuah pertanyaan membuat Dila mengernyitkan keningnya .
" Telp aku Jika kau butuh teman untuk bicara " chat Bima selanjutnya membuat Dila makin mengernyitkan keningnya .
Dila melangkahkan kakinya tanpa memandang sekelilingnya , gadis itu asik menatap handphonenya .
" Maaf aku sedang berada di Ambon , jadi tidak bisa menghiburmu secara langsung , semoga kau bisa menerima semua ini dengan ikhlas " Dila masih melanjutkan membaca chat dari Bima yang membuat ia makin mengernyitkan dahi .
Dila hendak mengetik beberapa kata , namun handphonenya keburu berdering . panggilan telepon dari Jordi membuat ia menghentikan apa yang ingin ia lakukan .
" Kau sudah selesai dengan urusan mu ? " Suara yang sangat ia kenal langsung mencercanya dengan sebuah pertanyaan begitu ia menerima panggilan tersebut .
" Ya...., Baru saja ..., Kau sudah di kantor ? " Tanya Dila sambil berjalan pelan .
" Emh.... pulanglah.., Adam sudah menunggumu di tempat parkir .
" Hah ?! ...., Aku baik baik saja . Aku mau bertemu Ocha , hari ini aku mau makan siang dengannya " ucap Dila .
" Tidak boleh....., Kau baru sembuh . Pulanglah aku menunggumu " ucap Jordi dengan lembut .
Dila tersenyum mendengar ucapan sang kekasih . Entahlah ia merasa sejak mereka resmi berpacaran , pria itu menjadi over protektif terhadap dirinya .
" Jo...aku baik...
" No debat...." Jordi memotong kalimat yang akan ia ucapkan .
Dila menarik nafas dalam-dalam . Ia merasa tidak nyaman sekaligus kesal .
" Kau dengar aku ? " Tanya Jordi setelah keduanya terdiam . Terdengar suara berisik dari tempat Jordi , bahkan samar samar ia mendengar suara pak Nurdin .
" Apa kau bolos kerja lagi ? " Tanya Dila dengan nada kesal .
" Ada yang harus ku lakukan " jawab Jordi dengan suara sedikit bergumam .
" Pulanglah.....jangan kemana mana " lanjut Jordi .
" Dila...." Suara yang ia kenal membuat Dila menoleh . di lihatnya Adam tengah melambaikan tangan ke arahnya .
" Adam di sini..." Ucap Dila dengan sebal .
" Syukurlah...., Cepatlah pulang " ucap Jordi seraya menutup teleponnya .
Dila hanya mengernyitkan keningnya menyadari teleponnya telah di tutup . Gadis itu melangkah menghampiri Adam yang tengah berbicara di telepon entah dari siapa . Tak lama pria itupun menutup teleponnya .
" Dam....sorry membuat kamu repot . Tapi hari ini aku ingin bertemu dengan beberapa teman " ucap Dila begitu keduanya telah berhadapan .
" Emh...tuan Aditya ada perlu denganmu " jawab Adam cepat .
" Om Adit ? , Bukannya ia di Jakarta ? " Dila menatap Adam .
" Ya beliau sudah pulang , dan meminta aku menjemputmu " jawab Adam seraya berjalan dengan tenang mendahului Dila .
Dila masih terdiam di tempatnya dengan bingung .
" Dila...ayo cepat ! " Seruan Adam membuat Dila refleks berjalan membuntuti Adam .
Tak lama keduanya sampai di area parkir , dengan cepat Adam membukakan pintu mobil untuknya . Dan pemuda itu dengan cepat membawanya keluar meninggalkan kampus .
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam mereka memasuki area komplek perumahan . Dalam perjalanan Dila lebih banyak diam , karena Adam sibuk menjawab telepon entah dari siapa saja , Dila merasa sangat bersalah pada pemuda itu .
Saat mendekati rumah besar Dila merasa heran karena mendapati banyak mobil yang telah terparkir di jalanan sekitar .
" Ada apa ini...? Tumben rame " gumam Dila sambil menatap Adam yang terlihat tak tenang .
Keduanya hanya terdiam sambil menatap jalanan yang di penuhi mobil yang mengular , hingga Dila melihat sebuah standing flower yang tengah di angkat oleh dua orang dari sebuah mobil pick up yang terparkir tak jauh dari rumah tuan Gunawan .
Turut berdukacita atas berpulangnya Bapak Gunawan Prayoga ......
Deg ! Jantung Dila seakan berhenti saat itu juga . Ia menatap wajah Adam yang terlihat mulai tak tenang .
Dila berusaha menarik nafas panjang ,namun nafasnya seakan habis . dunianya seakan berhenti berputar . Kakinya lemas dan pandangan mulai berlubang kunang dan entah apalagi yang ia rasakan , dalam sekejap semua menjadi gelap dalam penglihatannya .
Dila merasa kepalanya berat , ia merasa sangat lemas meski belum bisa membuka mata gadis itu mencium aroma minyak kayu putih , dengan susah payah ia mencoba membuka mata .
Gadis itu membuka matanya lebar , dan melihat sosok yang sangat ia kenal tengah memijitnya . seorang lelaki memakai kemeja juga berdiri di samping ranjang nya .
" Syukurlah...neng sudah sadar " suara lega Mak Asih membuat Dila mencoba mencerna situasinya .
Lelaki yang ia rasa adalah seorang dokter segera memeriksa dirinya .
" Dia sudah baik baik saja , tolong ambilkan minum Bu..." Pinta lelaki itu dengan lembut .
Dila segera meminum beberapa teguk air putih yang di sodorkan Mak Asih padanya setelah sang dokter yang tidak ia kenal membantu gadis itu duduk sambil bersandar .
" Saya keluar dulu ,, sebaiknya Nona Istirahat sebentar ya .." ucap lelaki itu seraya melangkah pergi .
Dila mulai sadar dengan apa yang terjadi , ia rasa ia pingsan saat di mobil tadi . Dila menatap Mak Asih yang terlihat sangat khawatir , gadis itupun tak mampu membendung kristal bening yang menetes dari kedua kelompok mata indahnya .
" Menangis saja...tidak apa apa .." gumam Mak Asih seraya memeluk Dila .
Dila hanya bisa terisak , tak mampu mengatakan apapun lidahnya terasa kelu .
" Kenapa....." Ucap Dila di tengah tangisnya tanpa mampu mengatakan hal lainnya .
" Tuhan lebih sayang pada beliau " bisik Mak Asih menenangkan .
Dila terdiam sambil terus menangis . Hingga pintu kamarnya terbuka dan sosok Jordi berjalan dengan langkah perlahan menghampiri mereka .
Mak Asih segera melepaskan pelukannya , dan berjalan meninggalkan keduanya .
" Mak mau kasih kabar orang rumah ya neng " Ucap Mak Asih sebelum pergi .
Dila hanya mengangguk sambil menatap wajah Jordi yang terlihat tenang . Pria itu duduk di tepi ranjang , perlahan tangannya terulur , pria itu merapikan beberapa helai anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya .
Dila hanya membisu dengan air mata berlinang , namun pandangannya yang buram karena air mata masih mampu menangkap wajah yang terlihat berusaha tegar di hadapannya , karena ia tahu mata itu menyimpan kesedihan mendalam .
" Maaf...." Ucap lelaki itu dengan berat .
" maaf karena tidak bisa menepati janjiku bahwa dia akan baik baik saja " gumam Jordi pelan .
Dila menggigit bibir bawahnya , mencoba untuk tegar . Ia tahu lelaki di depannya tentu lebih kehilangan di banding dirinya . Ia pun segera meletakkan kepalanya di dada pria itu tanpa mengatakan apapun .
Jordi meraih tubuh mungil itu , hingga berada dalam pelukannya . Ia membiarkan Dila terisak di sana untuk beberapa waktu , hingga bajunya terasa hangat karena basah oleh air mata Dila .
Sungguh ironis , mereka telah berada pada saat seperti ini dua kali . saat pertama kali gadis itu membasahi punggungnya saat Eyang saka meninggal Dunia dan kini saat sang kakek meninggalkan dunia .
Perlahan tangisan Dila mulai reda , Jordi memegang lembut pundak Dila dan melepaskan pelukannya . Ia menatap wajah gadis itu , lalu meraih beberapa lembar tissue yang berada di meja kecil dekat ranjang , mengusap air mata gadisnya yang mulai kering .
__ADS_1
Jordi menatap Dila dalam , ia sungguh menyesal telah menjanjikan sesuatu yang berada di luar kendalinya pada gadis itu . dengan mudah ia menjanjikan pada Dila bahwa kakeknya akan baik baik saja , dan kini ia melihat gadis itu menangisi kepergian sang kakek .
" maaf ..." gumaman Jordi hanya di balas tatapan nanar mata Indah Dila .