
Flassback
Seperti biasanya Rinto ikut memantau bagaimana perundingan kerjasama yang akan dilakukan di perusahaannya. Walaupun, ia sendiri tidak langsung bertatap muka dengan para pengusaha tersebut.
Ia hanya menggunakan headset di telinganya, sesekali memberikan instruksi kepada Jack apa saja yang harus dilakukan.
Seperti biasanya, setelah meeting selesai dilaksanakan Jack tidak langsung mematikan alat komunikasinya dengan Rinto. Ia akan berdiskusi lebih lanjut tentang rencana yang akan dilaksanakannya. Rinto masih saja dengan headset, setelah pak Surya meninggalkan ruangan.
"Kau telah mendengarkannya, jika pak Surya tidak ingin memaksa anaknya untuk tinggal, walaupun penawaran yg kita berikan cukup menarik," ucap Jack .
"Iya, aku mendengarnya," jawab Rinto
"Aku serahkan bagiannya untukmu lagi, bukankah kamu hari ini janji bertemu dengan anaknya"
"Iya, Aku sedang menunggunya."
"Selamat berjuang, dapatkan cintamu, bro." Jack terkekeh di sebrang.
"Ish." Rinto mematikan ponselnya .
Flassback off
***
Mereka bertiga bercerita sambil menikmati makanyang tersaji.
Sesaat setelah makan terdengar suara ponsel Choki.
__ADS_1
"Maaf aku mengangkat telepon terlebih dahulu." Choki mencari tempat yang nyaman untuk menelepon.
"Rencana berapa hari disini." tanya Rinto.
"Dua atau tiga hari." ujar Sheli.
"Bukankah itu terlalu cepat?"
"Aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan," Sheli terus mengaduk minumannya menggunakan pipet.
"Apakah kita tidak akan bertemu lagi?" tanya Rinto.
Sheli menghentikan aktivitasnya dan memandang Rinto, kedua mata mereka saling bersitatap dalam beberapa detik.
Menyadari hal tersebut, mereka berdua secara bersamaan membuang muka.
Sebuah perasaan aneh yang ada diantara mereka berdua, tidak tau entah sejak kapan ada di hati.
Rinto dan Sheli hanya tersenyum sendiri saat kecanggungan tercipta antara mereka berdua. Untung saja Choki cepat datang dengan sebuah senyuman yang bahagia.
"Kalian tau, ada hikmah dibalik musibah," ujar Choki semangat.
"Gue dapat Job, perusahaan Dirgantara pemilik pulau ini, sekaligus memiliki berbagai cabang usaha, ingin kami saling kerjasama. Aku akan mengendorse beberapa produknya. Ini hebatkan, wow." Diikuti dengan tawa Choki yang sangat semangat seperti seolah memenangkan lotre.
"Apa hebatnya?" tanya Rinto seolah olah tidak tau.
"Tentu saja ini cukup hebat, selain bisa jalan jalan gratis. Kau bisa juga mendapatkan money, money, bro." Choki menunjukkan tanggannya seolah sedang menghitung uang.
Rinto hanya mengangguk.
"Apakah kau tidak akan kerja sama dengan Choki, Sheli?" Rinto mulai membujuk Sheli.
"Ayolah, Sheli. Kita sama-sama untung. Mungkin saja pertemuan kemarin awal dari sejarah kita untuk kerja sama," ujar Choki.
"Betul, betul." Rinto hanya angguk-angguk kepala sambil minum air kelapa mudanya.
__ADS_1
"Apakah kau memang benar ingin aku tinggal disini?" Sheli sambil menatap Rinto.
Tentu saja hal itu membuat Rinto gugup.
"Nggak, maksudnya, gimana gitu saling kerja sama," ucap Rinto sambil mengusap kepalanya sendiri.
Melihat tingkah Rinto, membuatnya Sheli tertawa.
"Aku masih banyak janji dengan pelanggan yang harus diselesaikan, takut mereka kecewa. Liburan hanya untuk istirahat sejenak dan nyatanya aku bertemu dengan kalian berdua," Jawab Sheli.
Choki dan Rinto hanya mengangguk mendengar penjelasan Sheli.
Choki mengambil ponsel dan mengamati notifikasi yang ada diponselnya.
Choki terlihat tersenyum.
"Lihat, mereka menyukainya," ujar Choki.
"Siapa?" tanya Rinto dan Sheli bersamaan yang membuat mereka berdua tertawa.
"Chokis," jawab Choki.
"Bukankah itu sejenis makanaan?" tanya Rinto yang membuat Sheli dan Choki tertawa.
"Chokis itu sejenis perkumpulan fansnya Choki, Rinto." Sheli memberikan penjelasan.
Rinto hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1