Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
40.janji dan permintaan Jidan


__ADS_3

Saya sudah mendapatkan lokasi Jidan pak " ucap Bima setelah menutup teleponnya .


Di hadapannya nampak tuan Aditya yang tengah duduk bersama beberapa orang kepercayaannya di markas angkatan laut di Bandung .


Bima memberanikan diri menghubungi ayah Jidan dan menceritakan situasi Jidan . Tuan Aditya yang baru datang dari Papua langsung mengajak Bima untuk bertemu dengannya di kantornya .


" Bagus .." ucap tuan Aditya .


" Rafi lacak lokasinya , coba kamu selidiki daerah itu , cari tempat yang memungkinkan seseorang untuk menyembunyikan sesuatu " ucap kapten Dimas sahabat tuan Aditya kepada seorang prajurit . Kapten Aditya adalah perwira di angkatan Darat . ia bersedia membantu tuan Aditya secara diam diam bersama beberapa orang bawahannya .


" Bima kau pergilah ke sana , aku akan mengirimkan beberapa orang yang akan membantu kalian diam diam " ucapnya kemudian kepada Bima .


" Baik pak " jawab Bima seraya bergegas pergi .


Tuan Aditya menyuruh Bima menggunakan helikopter menuju Sukabumi agar cepat sampai . ia juga menelpon Isabella dan menceritakan kejadian yang menimpa Dila . Tuan Aditya juga menyuruh gadis itu bersiap untuk kemungkinan terburuk .yaitu menjadi barter demi membebaskan Dila .


Tidak sampai lima belas menit Bima sudah sampai di Sukabumi karena menggunakan Helikopter sewaan tuan Aditya . Di tempat tujuan Bima juga mendapatkan sebuah mobil sport , Pria itu segera menuju ke penginapan tempat Jidan menunggunya .


Jidan membuka pintu kamar saat mendengar ketukan berkode yang biasa ia gunakan ketika sedang bertugas .


Bima berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah ransel besar dan sebuah kotak panjang . Tanpa basa basi pria itu langsung masuk ke dalam kamar .


" Kau mendapatkannya ? " Tanya Jidan .


Bima menyerahkan ranselnya pada Jidan .


Dengan cepat Jidan memeriksa seluruh bawaan Bima .


Dua buah pistol , pisau lontar , granat , rompi anti peluru , sekotak peluru dan peralatan lain menjadi satu di dalam ransel tersebut .


" Ada orang yang mengawasimu saat kau kemari ? " Tanya Jidan .


" Ya ku rasa , tapi aku berhasil membuat ia lengah " jawab Bima.


" Ayo kita tukar pakaian , aku harus terlihat pulang ke Bandung dan menjemput Isabella "ucap Jidan .


" Apa ? " Tanya Bima terkejut .


" Mereka meminta pertukaran , jika ada yang mengawasiku setidaknya mereka harus percaya aku melakukan keinginan mereka . Aku tidak ingin mengambil resiko " Jidan berucap sambil membuka pakaiannya dan berganti dengan pakaian yang di bawa Bima .


" Jangan khawatir , Isabella akan datang beberapa saat lagi " ucap Bima setelah mendengar perintah tuan Aditya dari earphone yang terpasang di telinganya .


Jidan terdiam sambil menatap sahabatnya dengan curiga dengan cepat ia menyambar earphone Bima .


Bima hanya terdiam menyadari Jidan mengetahui kenyataan bahwa ia berkomunikasi dengan orang lain .


" Aku terpaksa menghubungi ayahmu , aku khawatir padamu " ucap Bima berusaha membuat Jidan tenang .


Jidan mengulurkan tangannya , meminta handphone Bima yang ada di kantong celananya . Bima hanya bisa pasrah sambil menatap wajah Jidan ia mengambil handphonenya lalu menyerahkan pada Jidan .


" Apa yang papa lakukan , apa papa ingin menukar nyawa seseorang ? " Tanya Jidan yang menyadari ayahnya tengah berkomunikasi dengan Bima lewat ponsel .


" Tidak..itu hanya sebuah rencana cadangan " jawab tuan Aditya .


" Aku yang akan menyelesaikan rencana ini , aku tidak akan menukar nyawa dengan nyawa , karena setiap nyawa berharga " ucap Jidan seraya mematikan ponselnya .


" Ikuti saja rencana ku " ucap Jidan sambil menatap wajah Bima dengan serius .


" Tapi ...."


" Aku rasa aku tau di mana mereka , ku rasa Dila memberiku petunjuk , bantu aku mengamankan Isabella " Jidan menyela perkataan Bima .


" Kau yakin bisa mengatasinya ? " Tanya Bima .


" Aku akan berusaha , kita harus bergegas " Jidan menjawab pertanyaan Bima sambil mempersiapkan diri , ia melengkapi dirinya dengan peralatan yang di bawa Bima .


" Baiklah.." Bima bergumam seraya melepaskan bajunya , ia kemudian menggunakan baju Jidan . Perawakan mereka hampir sama jadi bagi orang yang hanya melihat mereka sekilas akan sulit membedakannya .


Bima memakai topi agar wajahnya tidak terlihat . Mereka berdua telah selesai bertukar pakaian . Jidan mengambil sebuah telepon genggam kuno , lalu menelpon no Bima .


" Jangan terima telepon dari siapapun kecuali no itu sampai aku memberitahumu , saat kau menelpon cukup dengarkan aku " ucap Jidan .


" Kenapa..? " Tanya Bima .


" Untuk memastikan Andrew mendapatkan informasi yang benar jika kau di ikuti . " Jawab Jidan sambil mengangkat telepon kamar penginapan .


" Halo ..saya dari kamar 24 , bisa saya memesan sewa mobil ? " Tanya Jidan setelah tersambung dengan resepsionis .


" Oke terimakasih , saya akan turun lima belas menit lagi " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .


" Berikan kunci mobilmu , Kau jemput Isabella , suruh papaku mengirimnya menggunakan taksi di terminal bus . Dan tunggu kabar dariku " ucap Jidan .


Bima menuruti perintahnya , lalu iapun segera keluar kamar sebagai Jidan setelah waktu yang di tentukan .


Jidan mengawasi halaman penginapan dari ke kamarnya , benar dugaannya , tak lama setelah mobil sewaan pergi , seorang pria juga keluar menggunakan sepeda motor mengikuti mobil itu .Jidan segera menghubungi Bima .


" Sebuah motor mengikuti mu , pastikan ia melihatmu bersama Isabella " ucap Jidan seraya menutup teleponnya .

__ADS_1


Pria itu kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut dengan kendaraan yang di bawa oleh Bima .


*****


Jidan mengendarai mobilnya menuju sebuah perkebunan teh . Pria itu menyusuri jalanan dengan mengamati suasana sekitarnya . Ia yakin Dila berusaha memberi ia petunjuk persembunyian kelompok itu .


Baru setengah perjalanan ia mendapat telepon dari Andrew . Jidan segera menghubungi Bima dengan ponsel antiknya .


" Kau hebat.. rupanya kau bisa di percaya , dengar akan ada sebuah pertandingan bola di stadion di dekat tempatmu sekarang , temui aku di sana bersama wanita itu pukul empat " ucap Andree seraya menutup teleponnya .


Jidan terpaku . Apakah ia salah mengartikan pesan dari Dila ? . Pria itu melihat jam tangannya sudah pukul tiga di sana , dia tidak punya banyak waktu untuk mengatur strategi .


" Bima kau dengar percakapan tadi , beri aku tanda " ucap Jidan , ia mendengar suara batuk pria itu .


" Suruh sopir mengantar kalian ke tempat itu , aktifkan lokasimu aku akan melacak mu dari sini , ulur waktu jangan sampai kau menemuinya " ucap Jidan seraya memutar balik mobilnya , ia kembali ke desa Lebak Muncang .


Dalam perjalanan Jidan melewati sebuah persimpangan , tak lama pria itu melihat sebuah mobil berada di belakangnya . Dan Jidan mengenali mobil tersebut , mobil itu adalah mobil yang membawa Dila dan dirinya tadi . Jidan mencoba membaca situasi , dengan tenang ia menepi di sebuah jalanan sepi yang banyak di tumbuhi pohon Pinus .


Mobil hitam itu melewatinya dengan cepat . Jidan lalu menjaga jarak dengan mobil tersebut dan mulai mengikutinya .


Mereka tiba di sebuah stadion kecil di desa itu , parkiran stadion itu tampak ramai di penuhi oleh penonton dari desa desa di sekitarnya .


Ternyata ada turnamen sepak bola remaja antar desa di kecamatan ciwedey , hari itu adalah final .


Banyak warga yang berjualan makanan dan juga ikut menyaksikan pertandingan tersebut , suasana sangat ramai , Jidan merapatkan giginya menyadari situasinya kini , yang berada di luar perkiraan dan kendalinya .


Dari mobil Dila keluar dengan wajah tenang , gadis itu berjalan perlahan di antara keramaian penonton dengan menggunakan topi yang menutupi wajahnya , rambutnya tergerai , menutupi sebagian wajahnya . Ia juga menggunakan sebuah Jaket tebal .


Jidan mencoba melihat dengan jelas wajah Dila dengan teropong binokular yang ia bawa untuk memastikan gadis itu adalah kekasihnya . Ia juga melacak keberadaan Bima yang tak jauh dari tempat itu . Setelah yakin gadis itu adalah Dila ia segera mencari Bima .


Dengan langkah tenang Jidan membaur dengan kerumunan dan langsung mendekati Bima dan Isabella , lalu mengajak mereka berbaur dan menjauhi tempat itu .


" Ada apa ? " Tanya Bima


" Berikan jaket dan topimu " ucap Jidan seraya membuka jaket dan topinya .


" Kita tidak bisa apa apa di tempat ini , cukup awasi aku dari jauh " ucapnya .


Tanpa berkata apa apa Bima mengikuti perintah Jidan . Mereka segera bertukarjaket dan topi , Jidan membawa dua buah pistol otomatis dan beberapa peralatan lain di jaketnya .


Isabella hanya menatap mereka dengan wajah yang di penuhi kesedihan . Ia telah tahu nasibnya kini .Dengan wajah tenang Jidan menatap gadis itu .


" Jangan khawatir aku akan menyelamatkanmu , aku janji akan menemukanmu jika hari mereka membawamu " Jidan berucap dengan lembut seraya mengikat rambut Isabela yang tergerai .


" Ada pelacak di ikat rambut ini , selama kau mengenakannya aku bisa menemukanmu " bisik Jidan di telinganya


" Aku janji...akan menyelamatkanmu dan mempertemukan kamu dengan keluargamu dan hidup damai di negri ini .


Maaf...jika hari ini aku harus membuatmu menunggu dan kembali pada bajingan itu " ucap Jidan dengan nada menyesal .


" Kau sungguh akan menepati janjimu ? " Tanya Isabella .


" Ya..kau tahu aku adalah orang yang selalu menepati janji . Hari ini aku memintamu membantuku menyelamatkan orang yang aku cintai . Aku janji..akan mengabulkan semua permintaanmu jika kita bertemu " ucap Jidan .


" Kau sungguh mencintainya ?" Tanya Isabella sambil tersenyum sedih .


Jidan mengangguk seraya mengajak gadis itu berjalan dengan tenang , mereka berbaur dengan para calon penonton pertandingan setelah memasang alat komunikasi dengan Bima .


Bunyi handphone Jidan berdering , pria itu segera mengangkatnya .


" Ku kira kau akan pergi , atau kau punya rencana lain ? " Suara Andrew terdengar senang .


" Di mana kalian ?" Tanya Jidan dengan suara bergetar .


" kau lihat arah jam 3 " ucap Andrew .


Jidan segera memalingkan pandangannya ke arah jam tiga , di lihatnya Dila tengah memandang ke arah mereka berdua , ia bersama dengan Andrew dan tiga orang anak buahnya , salah satunya adalah Mike .


Mereka semua terdiam di tempatnya masing masing , mereka terpisah sekitar dua puluh meter . Andrew memegang sebuah alat dan menunjukkan pada Jidan .


Jidan menatap ke arah tubuh Dila , di pinggang gadis itu terlilit sesuatu , Jidan membelalakkan matanya menyadari ada sebuah Bom terpasang di tubuh Dila .


" Itu sebuah bom waktu , namun juga bisa di ledakkan dengan pemicu jarak jauh , saat ini sudah aktif , waktunya hanya tiga puluh menit untuk meledak tanpa pemicu " suara Bima terdengar dari alat komunikasi mereka .Bima saat itu sudah bergabung dengan ahli bahan peledak yang di kirim tuan Aditya yang bergabung dengan mereka .


" Kita tak punya banyak waktu , Bom.itu bisa meledak kapanpun " lanjut Bima , Isabella yang juga mendengar ucapan hanya terpaku , ia merasa bersalah kekasih malaikat penolongnya berada dalam bahaya karena dirinya .


" Biarkan aku pergi dengan tenang bersama kekasihku , maka aku akan membiarkan kalian hidup dengan tenang " ucap Andrew seraya melangkah mendekatinya dan Isabella .


" Hai babby ..., " Sapa Andrew pada Isabella setelah mereka cukup dekat .


Isabella menatapnya Andrew dengan penuh kebencian . Ia juga menatap Dila yang tengah menatap mereka dari kejauhan dengan wajah pucat .


" Jidan.. terimakasih , karna pernah hadir dalam hidupku . Aku berharap yang terbaik untukmu " ucap gadis itu seraya melepaskan sebuah kalung yg melingkar di lehernya gadis itu lalu memakaikan kalung berliontin sebuah hati tersebut pada Jidan .


Jidan menatap Isabella dengan rasa bersalah , ia sungguh tidak tega pada gadis malang itu , namun saat ini ia tidak berdaya , dan ia tahu jika pun ada yang membantunya diam diam saat ini seluruh tim juga tidak bisa membuat sebuah serangan di tempat umum tersebut .


' i'm sorry " ucap Jidan seraya menarik nafas dalam-dalam .

__ADS_1


" I know.., aku percaya kamu akan menyelamatkanku lagi , tapi jika aku tidak selamat aku ingin kau menyimpan ini untukku . Ada foto ibuku dan aku di dalam liontin itu . Dan lagi..aku rasa kau sudah tau..aku sungguh sungguh telah jatuh cinta padamu my anggel " ucap Isabella seraya memeluk Jidan , ia lalu mengecup pipi pria itu penuh cinta .


Dengan langkah berat Isabella melangkah mendekati Andrew , pria itu langsung menarik kasar dirinya . Andrew Membawa Isabella melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana , lalu segera pergi bersama anak buahnya meninggalkan tempat itu . Jidan segera berlari ke arah Dila , namun gadis itu sudah berjalan dengan tenang menjauhi keramaian .


" Dila..." Panggil Jidan sambil mengejar Dila .


" Menjauh dariku.." ucap Dila sambil terus berjalan menjauhi Jidan dan keramaian . gadis itu berfikir jika harus mati ia tidak ingin membuat orang-orang tak bersalah di tempat itu menjadi korban .


tak berapa lama ada beberapa orang yang mengejar mereka . Jidan membalikkan badannya menatap orang orang tersebut .


Jidan merasa tenang saat menyadari mereka adalah beberapa anggota pasukan khusus yang membantunya diam diam .


" Da berhenti di sana " ucap Jidan seraya berlari , pria itu berhenti tepat di hadapan gadis itu .


" Kau mau kemana ? " Tanya Jidan sambil menatap wajah Dila , ada luka di ujung bibirnya .


" Ku mohon pergilah..aku tidak ingin orang orang yang tidak bersalah ikut mati " ucap Dila Dengan mata berkaca kaca .


" Kami akan menjinakkannya ' ucap Jidan sambil menunjuk serombongan pria yang mendekati mereka .


" Kita harus menjauh dari tempat ini dulu " ucap salah satu dari mereka . Tak lama sebuah mobil menghampiri mereka .


" Ayo cepat masuk..." Ucap Bima seraya membuka pintu mobil , mereka semua masuk ke mobil lalu bergegas menuju tempat yang sepi .


Mereka berhenti di area persawahan penduduk tak jauh dari stadion , setelah keluar dari mobil , dua orang pria segera berusaha membuka bom yang menempel di tubuhnya .


" Pergilah dari sini " ucap Dila pada Jidan yang berdiri sambil memperhatikan mereka .


" Apakah kau bisa menjinakkannya ? ' tanya Jidan pada tentara yang sedang berusaha menjinakkan Bom tersebut .


" Butuh waktu untuk ini " jawab tentara itu sembari menatap serius bom itu .


" Kalian sumua pergi saja " ucap Dila sambil terisak .


" Dila tolong tenang " ucap Jidan seraya tersenyum .


" Bagaimana bisa kau terlibat dengan orang seperti itu ?! " Bentak Dila pada Jidan .


" Sudah selesai " ucap seorang tentara seraya melepas benda itu dari pinggang Dila .


Jidan langsung memeluk Dila dengan erat . Ia kemudian menatap wajah Dila .


" Mereka memukulmu ?" Tanyanya sambil menahan amarahnya . Ia mengusap memar di sudut dagu gadis itu .


" Aku baik baik saja " ucap Dila sambil mengusap air matanya . Gadis itu terdiam di tempatnya . Dadanya masih berdegup kencang karena rasa takut dan panik .


" Ada tim yang mengikuti mereka , tapi saat melakukan pencegatan , mereka tidak ada di mobil itu , kurasa kita telah di kelabui " ucap Bima .


" Aku menaruh pelacak pada Isabella , tolong temukan tempatnya " ucap Jidan seraya menyerahkan ponselnya pada Bima .


" Apa kalian hanya bertiga ? " Tanya Jidan pada salah seorang dari mereka .


" Kami berlima , Dua dari kami mengikuti mereka " jawab tentara itu .


" Kau bisa mengawalnya hingga sampai pada ayahku " tanya Jidan pada mereka berdua sambil menatap wajah Dila .


" Ya , kami bisa " jawab tentara itu .


" Dila..pulanglah bersama mereka aku dan Bima akan mengejar bajingan itu " ucap Jidan sambil menatap wajah Dila .


" Apa kau ingin mengejar mereka ?" Tanya Dila .


" Aku telah berjanji akan menyelamatkan dan membantunya , gadis itu dia tidak punya siapa siapa " jawab Jidan mencoba membuat Dila mengerti


" Ya pergilah ! " Ucap Dila berat .


" Aku akan baik baik saja , aku akan kembali ?! " Ucap Jidan .


"Apa aku mengatakan sesuatu ?! , aku tidak perduli . Pergilah selamatkan kekasihmu , Dia bahkan menciummu di depan banyak orang . Aku ini bukan siapa siapa " ucap Dila dengan jengkel .


Jidan tersenyum mendengar ucapan Dila , ia tahu gadisnya sedang cemburu dan juga marah ..


" Kalau kau cemburu seharusnya kau tidak menolak cintaku , katakan kau mencintaiku " ucap Jidan .


Wajah Dila memerah mendengar perkataan lelaki itu , ia menatap pria itu dengan kesal karena masih saja bercanda dalam situasi seperti itu .


Para tentara yang ada di sana tertawa mendengar pertengkaran mereka .


" Sudah ku temukan lokasinya , ku rasa mereka menuju daerah Rancabali " tiba tiba Bima yang dari tadi asik berkutat dengan sebuah alat berbicara .


" Dila ..aku harus pergi , kisah kita belum selesai , tunggu aku pulang , saat itu kau harus bilang I Love you padaku " ucap Jidan seraya berlari bersama Bima dan seorang tentara .


" Nona kita harus pulang ke pangkalan " ucap tentara itu seraya mengajak Dila menaiki mobil .


gadis itu berdiam diri di tempatnya sambil memandang kepergian Bima dan Jidan . Entah mengapa hatinya terasa pedih seakan saat itu menjadi hari terakhir ia melihat sang kekasih .


Panggilan tentara yang bertugas mengawal Dila menyadarkan gadis itu . Ia bergegas naik mobil .Mereka meninggalkan tempat tersebut .

__ADS_1


__ADS_2