
Setengah jam kemudian mereka tiba di Rumah Sakit . Adam mengajak Keduanya menyusuri lorong sunyi RS yang masih sepi , mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah ruangan .
Seluruh anggota keluarga tengah duduk di sana , hanya tuan Aditya dan tuan Juanda yang tidak berada di sana . Nyonya Nisa melambaikan tangannya , meminta Dila yang baru datang duduk di sampingnya .
" Di mana kakek Tante ? " Tanya Dila setelah duduk di sofa di sebelah nyonya Nisa .
" Kita Do'a sama sama untuk kesembuhan kakek ya Dila.." jawab Nyonya Nisa sambil menggenggam tangan Dila erat .
Semua orang di ruangan itu membisu , hingga pintu ruangan terbuka dan tuan Aditya berdiri di sana .
" Dila...ayo ikut om..." Ucap tuan Aditya yang baru saja muncul .
Dengan cepat Dila melangkah mendekati lelaki berwajah penuh kharisma tersebut .
Jordi yang duduk di sudut ruangan ikut berdiri dari duduknya .
Tuan Aditya mengajak Dila memasuki sebuah ruangan ICU , tak jauh dari tempat mereka berkumpul . Dua orang perawat disiagakan menjaga tuan Gunawan .
Dila tertegun melihat tuan Gunawan yang tengah berbaring tak berdaya di atas ranjang pasien . Beberapa alat bantu menempel di tubuhnya . Tuan Juanda tengah duduk di samping ranjang sambil memegang tangan tuan Gunawan , lelaki itu terlihat habis menangis .
Mereka saling pandang beberapa saat , lalu tuan Juanda berjalan keluar meninggalkan mereka berdua . Saat keluar di lihatnya Jordi tengah berdiri di luar ruangan , di samping pak Nurdin yang memang sejak tadi berada di depan pintu untuk berjaga jaga .
" Kenapa kau di sini ? " Tanya Tuan Juan sambil mengusap wajahnya .
" Bagaimana keadaan kakek ? " Tanya Jordi tanpa menjawab pertanyaan sang ayah .
" Ach ... entahlah..dokter sudah berusaha , kita tunggu saja kakekmu sadar " jawab tuan Juanda seraya duduk di kursi di lorong RS tersebut .
" Kenapa Dila di ajak kedalam ? " Tanya Jordi sambil menatap pintu ruangan .
" Tadi kakek mengigau , ia memanggil nama Dila " Jawab tuan Juanda dengan suara pelan .
Tak lama nyonya Kirana datang mendekati mereka yang tengah mengobrol .
" Bagaimana keadaan papa ? " Tanya nyonya Kirana yang langsung duduk di samping mereka .
Dan pertanyaannya hanya di jawab tatapan kedua orang pria beda usia yang tengah duduk di sampingnya .
"apa Aa'....mengaku padanya ? " Tanya nyonya Kirana tiba tiba .
" Kiran....." Tuan Juanda menatap tajam nyonya Kirana .
" Kenapa Dila ke dalam ? " Tanya nyonya Kirana seakan tak perduli dengan tatapan tuan Juanda .
" Papa sudah bisa bicara ? " Tanya nyonya Kirana sambil menatap wajah kesal tuan Juanda .
Tuan Juanda hanya terdiam sambil memandang nyonya Kirana dengan kesal .
" What ?! " Nyonya Kirana bertanya dengan kesal .
" Jo... tinggalkan kami..." Ucap tuan Juanda sambil menatap sang putra yang tengah duduk terdiam .
" Kenapa ?! " Tanya Jordi sambil menatap wajah sang Ayah .
" Aku ingin bicara empat mata dengan Tante Kiran " Jawab tuan Juanda sambil menatap nyonya Kirana .
Jordi melangkah pergi , meninggalkan mereka berdua meski ia merasa heran dengan sikap sang ayah yang nampak tidak suka dengan sikap nyonya Kirana yang nampak khawatir .
" Kenapa kamu harus berkata begitu di depan putraku ? " Tuan Juanda bertanya sambil menatap sang adik dalam setelah Jordi tak terlihat lagi .
" Apa maksud kakak ? " Tanya nyonya Kirana .
" Kau tahu maksudku " sahut tuan Juan sedikit kesal .
" Oh....apakah benar ? , Kakak mengakui perbuatan kakak dulu pada Papa ..? " Tanya nyonya Kiran .
" Kiran...kau gila ? " Bentak tuan Juanda .
" Jika papa tahu yang sebenarnya , apa dia masih mengijinkan Jordi mendekati Dila ? , Apa kakak ingin menutupi semuanya hingga papa tiada ? " Nyonya Kirana berkata dengan sinis .
" Aku tidak seperti kak Adit yang bisa diam saja dan seakan tak perduli , dan lagi dia tidak ada harapan . Aku bukannya tidak tahu Nisa berusaha membuat papa memilih Jordi sebagai suami Dila . Mengakulah pada Papa atau aku yang akan mengatakan semuanya pada putramu " Nyonya Kirana menatap tajam sang kakak .
" Kau gila...? , Kau tidak memikirkan kesehatan Papa ? " Tuan Juanda menatap sang adik dengan kesal .
" Jangan pura pura kak..., Kita semua tahu jika papa setuju dengan kata kata Nisa kalian yang paling beruntung di antara kami , padahal kakak yang membuat kita berada pada keadaan seperti ini ! . Aku dan putraku yang paling di rugikan dengan keputusan papa " nyonya Nisa menatap tajam tuan Juanda .
" Kirana...." Tuan Juanda bergumam sambil menatap sang adik dengan wajah kecewa .
" Apa hanya itu yang ada di kepalamu di saat seperti ini ? " Lanjutnya setelah menatap nyonya Kirana beberapa saat .
__ADS_1
" buat Jordi menjauhi Dila , maka aku akan percaya kakak benar benar menyesal . Atau aku akan ceritakan semua kebenaranya pada putra dan istrimu " ucap nyonya Kirana .
Keduanya saling menatap , lalu beberapa saat kemudian tuan Juanda menunduk dalam .
" Aku tidak punya keberanian untuk itu . Jika aku punya keberanian sedikit saja , maka hal itu tidak akan terjadi " ucap tuan Juanda setelah menarik nafas panjang .
" Aku takut kejujuranku akan ikut melukai seseorang " lanjutnya sembari menerawang .
" Apa maksud kakak ? "
" Jangan bilang kakak berpikir Dila adalah anak dari Kartika ? " nyonya Kirana menatap wajah tuan Juanda penuh selidik .
" Kau tahu kadang perasaan tidak dapat di bohongi " gumam tuan Juanda .
Keduanya membisu hanyut dalam pikirannya masing masing . Tanpa mereka sadari tuan Aditya telah lama berdiri di belakang mereka tanpa mengatakan sepatah katapun .
* Di dalam ruangan ICU Beberapa saat sebelumnya *
Dila duduk termenung sambil menatap wajah tak bedaya tuan Gunawan . Ia kembali teringat kata-kata tuan Aditya ketika hendak masuk ke ruangan tersebut .
" Papa terus menerus menyebutkan namamu . Om tidak tahu kenapa , tapi om rasa dia ingin mendengar sesuatu darimu " ucap Ayah dari Jidan itu sambil menatap lembut dirinya .
" Dila....om tahu dia sangat ingin kamu menjadi cucu menantunya . Tapi ....semua itu tergantung pada hatimu . Kebahagiaanmu yang terpenting di sini . Kau mengerti ? ! " Tuan Aditya menepuk pundak Dila lembut seraya keluar dari ruangan tersebut .
Dila menarik nafas panjang , sesekali ia Menundukkan kepalanya .
" Dila...." Terdengar gumaman tuan Gunawan pelan .
" Ya...." Jawab Dila dengan sedih .
Tuan Gunawan hanya terdiam , ruangan itu kembali sunyi . Hanya terdengar suara alat alat medis yang terpasang di tubuh tuan Gunawan .
" Kakek..... apapun yang kakek khawatirkan tentang Dila..., Lepaskan semuanya . Dila janji akan hidup dengan baik " Bisik Dila di telinga Tuan Gunawan .
Suasana kembali sepi , hanya terdengar bunyi alat medis yang bersahutan .
" Apa kakek tahu ? Dulu....Eyang sering mengganggu Dila dengan menelpon , hanya untuk bertanya " kamu sedang apa ? , Kamu sudah makan ? Apa yang kamu lakukan hari ini ? " Dia selalu menggangguku.." Dila berbicara sambil menahan kesedihannya .
Setelah dia tiada..tidak ada yang bertanya hal itu padaku . Lalu aku mulai menyesal kenapa tidak melakukan hal yang sama padanya . Seharusnya aku juga melakukan hal yang sama , Karena dia adalah keluargaku satu satunya " Dila mengusap air matanya yang mengalir sambil menarik nafas .
" Karena itu..... setahun ini aku terus mengganggu kakek....., Aku ingin melakukan hal yang tidak pernah ku lakukan padanya bersama kakek . Jadi....." Dila kembali menarik nafas panjang .
" Kakek harus sembuh , aku tahu kakek kuat " bisik Dila kemudian .
Gadis itu kembali terdiam . Matanya sesekali menatap wajah tuan Gunawan sambil menerawang , mengingat peristiwa hampir setahun lalu saat ia menemani Eyang saka di saat terakhirnya .
Apakah hari ini ia akan mengulang peristiwa yang sama ? . Tuan Gunawan adalah penghibur baginya , karena kehadirannya membuat Dila merasa Eyangnya masih ada . Menjaganya , dan memberikan kasih sayang yang berlimpah hingga ia tidak begitu kesepian .
Setelah beberapa saat terdiam dalam sepi , Tuan Aditya memasuki ruangan tersebut . Lelaki separuh baya itu duduk di samping Dila , sambil sesekali menarik nafas panjang .
" Om...Dila keluar dulu " pamit Dila setelah keduanya duduk bersama cukup lama dalam diam .
" Hem...., " Jawab tuan Aditya bergumam .
Tuan Aditya menatap punggung Dila yang melangkah keluar ruang rawat , pria itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan .
Dila berjalan perlahan menyusuri lorong , tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat tuan Juanda dan nyonya Kirana tengah duduk membisu . Ia tidak ingin mengganggu keduanya dan memilih untuk mencari tempat lain .
" Apa yang kau pikirkan ? " Sebuah suara membuyarkan lamunan Dila yang sedang duduk terdiam di sebuah kursi , tak jauh dari kursi di mana nyonya Kirana dan tuan Juanda tengah duduk .
" Jo...kenapa kau di sini ? " Tanya Dila setelah tahu pemilik suara yang membuyarkan lamunannya .
Lelaki muda itu tidak menjawab pertanyaan Dila , ia memilih duduk di samping Dila yang terlihat tengah memikirkan sesuatu .
" Apa yang sedang kau pikirkan ? " Tanyanya sambil menatap wajah Dila yang masih terlihat sedikit lesu .
Dila hanya menjawab pertanyaan Jordi dengan gelengan kecil .
" Apa tentang kakek ? " Tanya Jordi setelah terdiam beberapa saat .
" Kau tidak perlu khawatir , dia akan. baik baik saja " ucap Jordi berusaha menenangkan Dila yang terlihat resah .
"Jo..." Panggil Dila pelan tanpa menatap ke arah Jordi . Jordi menatap gadis fi sebelahnya dalam .
" Mari kita berkencan...." Lanjut Dila seraya menatap Jordi yang tengah ternganga tak percaya mendengar kata katanya .
Keduanya terdiam , Jordi hanya membisu sambil menatap wajah di sampingnya tanpa berkedip .
" Buat aku jatuh cinta padamu , kau bilang punya banyak cinta untuk kita berdua , mari berkencan hingga sampai di titik masa di mana aku juga bisa jatuh cinta padamu . Karena ada yang berkata cinta datang karena terbiasa " lanjut Dila setelah menunggu begitu lama dan Jordi hanya membisu sambil menatapnya .
__ADS_1
" Kau bersungguh sungguh ? " Tanya Jordi tak percaya , dan di jawab anggukan Dila tanpa ragu .
" Apa karena kakek ? " Tanya Jordi beberapa saat kemudian .
" Tidak....., Aku hanya ingin mencoba melanjutkan hidup " jawab Dila seraya tersenyum .
" Sungguh.....? , Kau serius ? " Tanya Jordi sembari meraih tangan Dila .
Dila hanya menggangguk sambil tersenyum .
" Jadi sekarang kita adalah kekasih ? " Tanya Jordi memastikan .
" Ya...." Jawab Dila sambil menunduk
" Thanks you...." Ucap Jordi seraya memeluk gadis di sebelahnya .
Dila hanya terdiam di dalam pelukan hangat Jordi . Ia tidak tahu apa yang ia rasakan kini . Apakah ia sedih atau bahagia ? . Satu hal yang pasti , ia ingin melepas ego untuk bertahan pada satu cinta yang pada akhirnya membuat hidupnya seakan tak berjalan .
" Kau juga tidak boleh terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti . Kau berhak bahagia dan mendapatkan yang terbaik . Jika ada sedikit saja rasa di hatimu pada Jordi , maka berkencanlah dengannya . kau tahu ada yang bilang , cinta bisa datang karena terbiasa . Mungkin ada takdir lain yang lebih indah dari apa yang kau harapkan " ucapan Bima waktu itu membuat ia tiba tiba mengambil keputusan tersebut .
Jordi mengusap dengan lembut rambut Dila setelah melepaskan pelukannya . Keduanya saling pandang beberapa saat , lalu tersenyum bersama .
" Kau sudah makan ? " Tanya Jordi beberapa saat kemudian .
" Ya..." Jawab Dila singkat . Seraya menatap ke tempat lain , karena Jordi terus saja menatapnya .
" Jangan khawatir ..., Dia akan baik baik saja " Jordi berkata lembut .
" Hem..?" Dila hanya bergumam mendengar ucapan Jordi
" Kakek akan baik baik saja " ucap Jordi sembari meraih tangan Dila dan menggenggamnya erat .
" Apa yang kau lakukan ? " Tanya Dila sembari berusaha melepaskan genggaman Jordi .
" Sebentar saja ...,. Aku sudah lama ingin menggenggam tanganmu seperti ini " Jordi berucap sambil menarik tangan Dila ke pangkuannya . Wajahnya tak henti hentinya tersenyum .
" Ehm..." Sebuah suara membuat Dila melepaskan tangan Jordi dengan paksa .
" Pa....
"Om...
Keduanya menyapa tuan Juan yang tiba tiba ada di belakang mereka bersamaan .
" Kenapa kalian ada di sini ? " Tanya tuan Juan sambil menatap keduanya .
" Jo...kau sudah mengurus semuanya ? Ia kembali bertanya sebelum keduanya menjawab pertanyaannya .
" Hah..? " Tanya Jordi yang tak mengerti .
" Semua urusan administrasi apa kau sudah urus ?" Tanya tuan Juan sembari menatapnya .
" Pak Nurdin sudah mengurusnya " jawab Jordi cepat .
" Oh..., Ayah ingin kau mengurus Beberapa hal , ayo ikut ayah.." ucap tuan Gunawan sambil berjalan meninggalkan keduanya .
" Aku pergi dulu.., kau sebaiknya bergabung dengan yang lain . Jangan banyak berfikir nanti kau sakit lagi " ucap Jordi sambil mengusap pipi lembut Dila .
" Em..." Jawab Dila sembari menepis tangan Jordi dengan lembut dari wajahnya .
Dengan langkah berat Jordi meninggalkan Dila yang masih terdiam di kursinya .
Dila hanya terdiam menatap kepergian Jordi yang sesekali masih membalikkan badannya untuk melihatnya .
Setelah Jordi tak terlihat , gadis itu menundukkan wajahnya sembari menggigit bibir bawahnya . Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan kuat , berusaha melepaskan rasa sesak yang menghimpit dadanya .
Mungkin inilah saatnya ia berkata , tidak ada yang bisa merubah takdir , semua yang terjadi dal hidupnya seakan memang terjadi untuk memisahkan ia dan Jidan .
" Selamat tinggal masa lalu...maaf...jika cinta ini harus ku akhiri sampai di sini . Aku ingin berhenti berharap , dan mencoba hidup dengan apa yang ada di tanganku , aku..ingin melepas mu dengan ikhlas.." gumam Dila dalam hati sembari menatap wallpaper handphonenya .
" Maaf......" gadis itu kembali bergumam pelan . setitik kristal bening menetes membasahi foto Jidan yang tersenyum di layar handphonenya . Ia ingin berhenti menatap wajah itu , namun jari jemarinya tak jua menekan tombol power agar layar handphonnya tak lagi menyala .
Tanpa sadar air matanya terus saja mengalir . Sungguh mengikhlaskan sesuatu yang berharga untuk hati adalah hal yang paling menyakitkan . Meski menyimpan Jidan dalam hati juga selalu membuat ia menangis , namun melepasnya tidak membuat ia merasa lebih baik . Ia tidak bisa mengikis harap yang ia simpan , jika suatu saat kekasihnya akan kembali .
Satu sosok memperhatikan dirinya dari jauh , Tanpa ia dan Jordi ketahui Tania yang sibuk mencari-cari dirinya , menyimak dan mendengarkan percakapannya dengan Jordi sejak pertama kali Jordi menghampiri dirinya .
__ADS_1
Gadis itu hanya menelan ludah mendengar isakan pelan Dila , ia hanya mampu terdiam di tempatnya sembari memperhatikan punggung Dila yang sesekali terlihat bergerak , menandakan gadis itu tengah menahan tangisnya agar tak bersuara . tanpa ia sadari air matanya ikut mengalir membasahi kedua pipinya .