
Jidan dan Bima bersama seorang prajurit sampai pada sebuah villa terpencil di daerah perbatasan dengan Cianjur . Daerah di sana berbukit bukit dan berudara sejuk .
Jidan dan Bima mulai mengendap endap dalam remang cahaya malam . Dengan teropong khusus malam Bima mengawasi tempat itu .
" Ada pergerakan di dalam ? " Tanya Jidan .
" Negatif " jawab Bima .
" Dua orang berjaga di gerbang depan , dua orang di halaman " ucap seorang tentara bernama Amir yang bergabung dengan mereka.
" Di mana posisi bintang " ucap Jidan .
" Ada di bawah " jawab Bima .
Ketiga pria itu segera mendekati bangunan tersebut dengan kewaspadaan tinggi . Mereka berhasil menaklukkan penjaga yang ada dengan cepat , tiba tiba sebuah alarm berbunyi , saat Bima berjalan di teras villa ketiga orang itu tidak menyadari ada kamera yang memiliki sensor gerak di teras villa itu .
Penjaga yang ada di di gerbang segera melakukan tembakan peringatan untuk membangunkan Andrew dan Mike , serta anggota lainnya .
" Andrew dan Mike bergegas menuju kamar di mana Isabella dan seorang gadis di tahan , mereka segera membawa keduanya menuju halaman belakang villa yang mempunyai akses jalan kecil , lalu kabur bersama tiga orang lainnya dengan sebuah mobil .
Jidan dan kawan kawan melakukan perlawanan , mereka berhasil melumpuhkan beberapa orang anak buah Andrew yang tertinggal . Ada satu orang yang tewas s
Dari pihak Andrew , sementara Bima dan Jidan hanya luka ringan .
Lalu ketiganya memeriksa rumah tersebut , ternyata di tempat itu tersimpan beberapa obat obatan terlarang dalam sebuah gudang .
Bima segera melapor ke pusat dengan temuan mereka , sementara Jidan menyisir kamar demi kamar di villa besar itu .
" Aku tidak menemukan Isabella ? ,. Kau bisa melacak mereka ?! " Jidan berteriak pada Bima yang tengah mengikat enam orang anak buah Andrew .
" Mereka menuju daerah Cianjur lewat jalur gunung Sumbul " jawab Jidan .
" Aku akan mengejar mereka kau tunggu bantuan datang " ucap Bima seraya menuju mobilnya yang terparkir beberapa ratus meter dari sana .
Jidan mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah kesunyian malam di jalanan yang berada di tengah hutan . Ia mengikuti petunjuk alat navigasi yang telah di hubungkan ke Handphonenya oleh Bima .
Sementara dalam perjalanan pelariannya Andrew memarahi Mike yang tidak dapat menjamin keselamatan mereka .
" Kau bilang mereka tidak akan menemukan kita ?! ' bentak Andrew.
" Aku yakin , jika mereka tidak akan secepat itu menemukan kita , pasti ada sesuatu " ucap Mike .
Pria itu menatap Isabella dan gadis yang di pelukannya .
" Ku kira kau tidak pernah mengikat rambutmu ? " Tanya Mike sambil meraih ikat rambut Isabela lalu memeriksanya .
" Bos..." Ucap Mike sambil menunjukkan sebuah chip yang menempel di ikat rambut Isabela .
" Sial !!!" Bentak Andrew seraya menampar gadis itu .
Mike ingin membuang pelacak tersebut , namun Andrew melarangnya .
__ADS_1
" Aku punya rencana , di mana jalur dekat jurang ? " Tanyanya pada sang sopir .
" Ada beberapa puluh meter di depan bos " jawab sang sopir .
" Bagus .. tinggalkan gadis yang itu di tengah jalan , buat pria itu kehilangan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa seseorang " ucap Andrew sambil menyeringai .
" Bangsat kau bajingan..!!! " Teriak Isabella yang mengetahui rencana Andrew .
" Kita akan bersenang senang sayang " ucap Andrew sambil tertawa .
Mereka kemudian berhenti di sebuah jalur di atas jurang , lalu mengikat tali dan tangan Rara , dan mengikat rambut gadis dengan ikat rambutnya , dan meletakkan gadis itu di tengah jalur kiri . mereka lalu berjalan beberapa puluh meter dari sana .
Jidan masih fokus menyusuri jalanan sepi jalur pegunungan dengan mengikuti pelacakannya . Ia merasa beruntung karena kawanan Andrew tidak menyadari apa yang ia lakukan .
Di tempat perjalanan ada seorang pemuda berpakaian pendaki gunung tiba tiba menghentikan mobilnya dan meminta tumpangan Ia nampak kelelahan .pemuda itu hanya membawa sebuah Ransel kecil .
" Kau mau Kemana ? " Tanya Jidan .
" Kampung sebelah kak , saya kehabisan ongkos , karena kecopetan terus ketinggalan bis terakhir " jawab pemuda itu .
"Naiklah , aku akan memberimu tumpangan sampai ke penginapan terdekat " ucap Jidan sambil membuka pintu mobil .
" Terimakasih banyak kak " ucap pemuda itu seraya masuk ke dalam mobil .
" Siapa namamu " tanya Jidan sambil mengemudi dengan kecepatan tinggi .
" Adi kak , saya tinggal di Cibodas " jawab pemuda itu .
Jalanan itu menyusuri pegunungan hingga banyak kelokan tajam dan berada di atas jurang . Jidan berusaha berkonsentrasi di tengah Jalanan yang minim penerangan , namu. Ia juga ingin segera menyelamatkan gadis yang mempercayai dirinya .
Jidan terkejut saat ia tengah mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan fokus melihat alat navigasi , tiba' ia melihat seorang gadis terikat di tengah jalan , pemuda itu ingin langsung membanting setir ke kanan , Namun ada sorot lampu dari arah berlawanan , iapun segera membanting setir kekiri dengan cepat agar tidak menabrak gadis tersebut .
Mobil yang di kendarai Jidan berguling guling dan menabrak pembatas jalan , lalu menerobos lebatnya hutan lalu jatuh ke jurang . Lima menit kemudian terdengar suara ledakan dan terlihat sebuah api di jurang .
" Akhirnya .." ucap Andrew yang segera turun dari mobil . Mobil yang tadi dilihat oleh Jidan adalah mobil yang di tumpangi oleh Andrew .
Isabella menangis mendengar suara ledakan dari dasar jurang , air mata gadis itu tak terbendung .
" Kau benar benar bukan manusia .!! " Teriak Isabella sambil tersedu .
Sementara Andrew tidak perduli dengan teriakan gadis itu , mereka segera menyeret Rara kembali ke dalam mobil setelah melempar alat pelacak di rambutnya ke jalanan dan segera meninggalkan tempat itu .
*****
Di villa Bima sudah menyerah semua barang bukti dan para penjahat pada polisi yang bekerja sama untuk mengurus kasus tersebut . Ia segera berkoordinasi dengan Amir karena tidak ada pergerakan dari pelacak Isabella , ia juga tidak mendapatkan kabar dari Jidan . Pria itu merasa khawatir telah terjadi sesuatu pada sahabatnya .
Bersama dengan dua anggota kepolisian Bima menyusuri jalanan pegunungan dengan alat navigasi .
Setelah hampir satu jam mereka tiba di sebuah jalanan di mana alat pelacak yang terpasang pada tubuh Dila berhenti bergerak , saat itu sudah hampir dini hari .
" Bim lihat ada bekas sebuah kecelakaan " seru seorang anggota polisi .
__ADS_1
" Ini pelacakannya " seru Amir yang menemukan pelacak Isabella tergeletak di jalanan .
Mereka segera memeriksa tempat tersebut . Setelah meneliti tempat itu Bima mereka menyimpulkan telah terjadi kecelakaan , entah Jidan atau Andrew yang mengalaminya , tapi kemungkinan besar adalah Jidan , sebab pria itu tak bisa di hubungi .
" kita hubungi pusat untuk meminta bantuan penyelidikan " ucap seorang anggota polisi seraya menghubungi kantor Pusat .
" Tidak...ini mustahil " gumam Bima yang dari tadi punya firasat tidak bagus . Pria itu terduduk lemas di pinggir jalan .
" Bangun tentara ! " Bentak Amir namu. Bima tidak menghiraukan teriakan rekannya tersebut .
*****
Pukul tiga Dini hari , tuan Aditya terbangun dari tidurnya saat Handphonenya tidak berhenti berdering .
Dengan langkah ringan tuan Aditya melangkah meninggalkan kamar menuju ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar . telp tengah malam biasanya adalah telp penting dari petinggi TNI atau telp rahasia .
" Malam pak " sapa suara di telepon .
" Malam , katakan bagaimana hasilnya ? " Tanya tuan Aditya pada seorang komandan yang bergabung dengan misi penyelamatan Dila .
" Saya baru mendapatkan berita duka dari Lapangan pak " ucap Amir ragu .
" Katakan saja " ucap tuan Aditya dengan dada berdebar .
" Ini tentang Jidan...kami menyimpulkan beliau tewas dalam sebuah kecelakaan " ucap Amir dengan tenang .
Tuan Aditya terdiam mendengar berita tersebut , sebagai prajurit ia sering menyampaikan berita duka , tapi baru kali ini ia mendapat berita duka itu .
" Kau yakin ?" Tanyanya berusaha tenang .
" Delapan puluh persen yakin pak , kami sedang mengirimkan tim utuk melakukan penyelidikan di jurang , tempat di duga mobil terjatuh " ucap Amir dengan hati hati .
" Pak....kami turut berdukacita " ucap Amir setelah lama tuan Aditya membisu .
" Bagaimana dengan Sandera dan pelaku ? " Tanya tuan Aditya .
" Kami sedang bekerja sama dengan kepolisian , saat ini lokasinya sudah terdeteksi " jawab Amir .
" Lakukan yang perlu di lakukan , jangan sampai gagal " ucap tuan Aditya seraya menutup teleponnya .
Tuan Aditya duduk di sofa sambil menahan nafas panjang . Dengan lesu ia berjalan kembali ke kamarnya .
Tuan Aditya duduk di tepi ranjang , di pandanginya wajah sang istri yang tengah tertidur pulas , ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan situasi sekarang kepada sang istri .
Tuan Aditya mengusap air mata yang mengalir keluar . Bagaimanapun sebagai suami dan ayah ia harus kuat .
" Sayang ada apa ? " Tanya Nyonya Irma yang tiba tiba terbangun .
" Tidak... tidurlah kembali , hanya berita duka dari seorang prajurit " jawab tua. Aditya berbohong .
" Oh...kau juga harus tidur , beberapa hari ini ku lihat kau sangat sibuk " ucap nyonya Irma sambil kembali menarik selimut .
__ADS_1