Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
42. kabar Duka


__ADS_3

Jidan dan Bima bersama seorang prajurit sampai pada sebuah villa terpencil di daerah perbatasan dengan Cianjur . Daerah di sana berbukit bukit dan berudara sejuk .


Jidan dan Bima mulai mengendap endap dalam remang cahaya malam . Dengan teropong khusus malam Bima mengawasi tempat itu .


" Ada pergerakan di dalam ? " Tanya Jidan .


" Negatif " jawab Bima .


" Dua orang berjaga di gerbang depan , dua orang di halaman " ucap seorang tentara bernama Amir yang bergabung dengan mereka.


" Di mana posisi bintang " ucap Jidan .


" Ada di bawah " jawab Bima .


Ketiga pria itu segera mendekati bangunan tersebut dengan kewaspadaan tinggi . Mereka berhasil menaklukkan penjaga yang ada dengan cepat , tiba tiba sebuah alarm berbunyi , saat Bima berjalan di teras villa ketiga orang itu tidak menyadari ada kamera yang memiliki sensor gerak di teras villa itu .


Penjaga yang ada di di gerbang segera melakukan tembakan peringatan untuk membangunkan Andrew dan Mike , serta anggota lainnya .


" Andrew dan Mike bergegas menuju kamar di mana Isabella dan seorang gadis di tahan , mereka segera membawa keduanya menuju halaman belakang villa yang mempunyai akses jalan kecil , lalu kabur bersama tiga orang lainnya dengan sebuah mobil .


Jidan dan kawan kawan melakukan perlawanan , mereka berhasil melumpuhkan beberapa orang anak buah Andrew yang tertinggal . Ada satu orang yang tewas s


Dari pihak Andrew , sementara Bima dan Jidan hanya luka ringan .


Lalu ketiganya memeriksa rumah tersebut , ternyata di tempat itu tersimpan beberapa obat obatan terlarang dalam sebuah gudang .


Bima segera melapor ke pusat dengan temuan mereka , sementara Jidan menyisir kamar demi kamar di villa besar itu .


" Aku tidak menemukan Isabella ? ,. Kau bisa melacak mereka ?! " Jidan berteriak pada Bima yang tengah mengikat enam orang anak buah Andrew .


" Mereka menuju daerah Cianjur lewat jalur gunung Sumbul " jawab Jidan .


" Aku akan mengejar mereka kau tunggu bantuan datang " ucap Bima seraya menuju mobilnya yang terparkir beberapa ratus meter dari sana .


Jidan mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah kesunyian malam di jalanan yang berada di tengah hutan . Ia mengikuti petunjuk alat navigasi yang telah di hubungkan ke Handphonenya oleh Bima .


Sementara dalam perjalanan pelariannya Andrew memarahi Mike yang tidak dapat menjamin keselamatan mereka .


" Kau bilang mereka tidak akan menemukan kita ?! ' bentak Andrew.


" Aku yakin , jika mereka tidak akan secepat itu menemukan kita , pasti ada sesuatu " ucap Mike .


Pria itu menatap Isabella dan gadis yang di pelukannya .


" Ku kira kau tidak pernah mengikat rambutmu ? " Tanya Mike sambil meraih ikat rambut Isabela lalu memeriksanya .


" Bos..." Ucap Mike sambil menunjukkan sebuah chip yang menempel di ikat rambut Isabela .


" Sial !!!" Bentak Andrew seraya menampar gadis itu .


Mike ingin membuang pelacak tersebut , namun Andrew melarangnya .

__ADS_1


" Aku punya rencana , di mana jalur dekat jurang ? " Tanyanya pada sang sopir .


" Ada beberapa puluh meter di depan bos " jawab sang sopir .


" Bagus .. tinggalkan gadis yang itu di tengah jalan , buat pria itu kehilangan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa seseorang " ucap Andrew sambil menyeringai .


" Bangsat kau bajingan..!!! " Teriak Isabella yang mengetahui rencana Andrew .


" Kita akan bersenang senang sayang " ucap Andrew sambil tertawa .


Mereka kemudian berhenti di sebuah jalur di atas jurang , lalu mengikat tali dan tangan Rara , dan mengikat rambut gadis dengan ikat rambutnya , dan meletakkan gadis itu di tengah jalur kiri . mereka lalu berjalan beberapa puluh meter dari sana .


Jidan masih fokus menyusuri jalanan sepi jalur pegunungan dengan mengikuti pelacakannya . Ia merasa beruntung karena kawanan Andrew tidak menyadari apa yang ia lakukan .


Di tempat perjalanan ada seorang pemuda berpakaian pendaki gunung tiba tiba menghentikan mobilnya dan meminta tumpangan Ia nampak kelelahan .pemuda itu hanya membawa sebuah Ransel kecil .


" Kau mau Kemana ? " Tanya Jidan .


" Kampung sebelah kak , saya kehabisan ongkos , karena kecopetan terus ketinggalan bis terakhir " jawab pemuda itu .


"Naiklah , aku akan memberimu tumpangan sampai ke penginapan terdekat " ucap Jidan sambil membuka pintu mobil .


" Terimakasih banyak kak " ucap pemuda itu seraya masuk ke dalam mobil .


" Siapa namamu " tanya Jidan sambil mengemudi dengan kecepatan tinggi .


" Adi kak , saya tinggal di Cibodas " jawab pemuda itu .


Jalanan itu menyusuri pegunungan hingga banyak kelokan tajam dan berada di atas jurang . Jidan berusaha berkonsentrasi di tengah Jalanan yang minim penerangan , namu. Ia juga ingin segera menyelamatkan gadis yang mempercayai dirinya .


Jidan terkejut saat ia tengah mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan fokus melihat alat navigasi , tiba' ia melihat seorang gadis terikat di tengah jalan , pemuda itu ingin langsung membanting setir ke kanan , Namun ada sorot lampu dari arah berlawanan , iapun segera membanting setir kekiri dengan cepat agar tidak menabrak gadis tersebut .


Mobil yang di kendarai Jidan berguling guling dan menabrak pembatas jalan , lalu menerobos lebatnya hutan lalu jatuh ke jurang . Lima menit kemudian terdengar suara ledakan dan terlihat sebuah api di jurang .


" Akhirnya .." ucap Andrew yang segera turun dari mobil . Mobil yang tadi dilihat oleh Jidan adalah mobil yang di tumpangi oleh Andrew .


Isabella menangis mendengar suara ledakan dari dasar jurang , air mata gadis itu tak terbendung .


" Kau benar benar bukan manusia .!! " Teriak Isabella sambil tersedu .


Sementara Andrew tidak perduli dengan teriakan gadis itu , mereka segera menyeret Rara kembali ke dalam mobil setelah melempar alat pelacak di rambutnya ke jalanan dan segera meninggalkan tempat itu .


*****


Di villa Bima sudah menyerah semua barang bukti dan para penjahat pada polisi yang bekerja sama untuk mengurus kasus tersebut . Ia segera berkoordinasi dengan Amir karena tidak ada pergerakan dari pelacak Isabella , ia juga tidak mendapatkan kabar dari Jidan . Pria itu merasa khawatir telah terjadi sesuatu pada sahabatnya .


Bersama dengan dua anggota kepolisian Bima menyusuri jalanan pegunungan dengan alat navigasi .


Setelah hampir satu jam mereka tiba di sebuah jalanan di mana alat pelacak yang terpasang pada tubuh Dila berhenti bergerak , saat itu sudah hampir dini hari .


" Bim lihat ada bekas sebuah kecelakaan " seru seorang anggota polisi .

__ADS_1


" Ini pelacakannya " seru Amir yang menemukan pelacak Isabella tergeletak di jalanan .


Mereka segera memeriksa tempat tersebut . Setelah meneliti tempat itu Bima mereka menyimpulkan telah terjadi kecelakaan , entah Jidan atau Andrew yang mengalaminya , tapi kemungkinan besar adalah Jidan , sebab pria itu tak bisa di hubungi .


" kita hubungi pusat untuk meminta bantuan penyelidikan " ucap seorang anggota polisi seraya menghubungi kantor Pusat .


" Tidak...ini mustahil " gumam Bima yang dari tadi punya firasat tidak bagus . Pria itu terduduk lemas di pinggir jalan .


" Bangun tentara ! " Bentak Amir namu. Bima tidak menghiraukan teriakan rekannya tersebut .


*****


Pukul tiga Dini hari , tuan Aditya terbangun dari tidurnya saat Handphonenya tidak berhenti berdering .


Dengan langkah ringan tuan Aditya melangkah meninggalkan kamar menuju ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar . telp tengah malam biasanya adalah telp penting dari petinggi TNI atau telp rahasia .


" Malam pak " sapa suara di telepon .


" Malam , katakan bagaimana hasilnya ? " Tanya tuan Aditya pada seorang komandan yang bergabung dengan misi penyelamatan Dila .


" Saya baru mendapatkan berita duka dari Lapangan pak " ucap Amir ragu .


" Katakan saja " ucap tuan Aditya dengan dada berdebar .


" Ini tentang Jidan...kami menyimpulkan beliau tewas dalam sebuah kecelakaan " ucap Amir dengan tenang .


Tuan Aditya terdiam mendengar berita tersebut , sebagai prajurit ia sering menyampaikan berita duka , tapi baru kali ini ia mendapat berita duka itu .


" Kau yakin ?" Tanyanya berusaha tenang .


" Delapan puluh persen yakin pak , kami sedang mengirimkan tim utuk melakukan penyelidikan di jurang , tempat di duga mobil terjatuh " ucap Amir dengan hati hati .


" Pak....kami turut berdukacita " ucap Amir setelah lama tuan Aditya membisu .


" Bagaimana dengan Sandera dan pelaku ? " Tanya tuan Aditya .


" Kami sedang bekerja sama dengan kepolisian , saat ini lokasinya sudah terdeteksi " jawab Amir .


" Lakukan yang perlu di lakukan , jangan sampai gagal " ucap tuan Aditya seraya menutup teleponnya .


Tuan Aditya duduk di sofa sambil menahan nafas panjang . Dengan lesu ia berjalan kembali ke kamarnya .


Tuan Aditya duduk di tepi ranjang , di pandanginya wajah sang istri yang tengah tertidur pulas , ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan situasi sekarang kepada sang istri .


Tuan Aditya mengusap air mata yang mengalir keluar . Bagaimanapun sebagai suami dan ayah ia harus kuat .


" Sayang ada apa ? " Tanya Nyonya Irma yang tiba tiba terbangun .


" Tidak... tidurlah kembali , hanya berita duka dari seorang prajurit " jawab tua. Aditya berbohong .


" Oh...kau juga harus tidur , beberapa hari ini ku lihat kau sangat sibuk " ucap nyonya Irma sambil kembali menarik selimut .

__ADS_1


__ADS_2