Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
22 . cinta adalah hal yang pantas di perjuangkan .


__ADS_3

Kring.....!!!!!!


Bunyi alarm dari jam Beker membuat Dila terbangun . Gadis itu segera meraih jam kuno yang ada di atas ranjangnya .


Dengan malas Dila melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu .


Lima belas menit kemudian gadis itu sudah keluar dengan segar . Ia kembali ke kamarnya untuk menjalankan perintah agama .


Selesai shalat Dila berganti pakaian , ia mengenakan kaos longgar panjang dan celana legging , sebuah tas pinggang melingkar di pinggangnya yang ramping . Seperti biasa Dila mengikat rambutan dengan gaya kuncir kuda . dengan langkah cepat gadis itu melangkah ke ruang tamu dan mengambil sepatu sport di rak sepatu .


Dila Mulai melakukan peregangan di halaman rumah . Lalu setelah merasa cukup iapun mulai berlari lari kecil di jalanan yang masih sunyi .


" Pagi pak kumis" sapa Dila pada security kompleks saat melewati gerbang masuk perumahannya .


" Pagi neng...sudah pulang ? " Tanya pak security yang biasa di panggil pak kumis karena wajahnya yang berewok .


" Ya pak kemarin , Dila lari dulu ya " jawab Dila seraya kembali berlari .


" Aduh itu anak meni' marahmay , bageur geulis pisan ( aduh anak itu sudah ramah , baik cantik lagi ) " pak kumis menatap kepergian Dila sambil bergumam .


Nafas Dila mulai berat setelah berlari hampir setengah jam . Gadis itu mulai memperlambat larinya untuk mengatur nafas . Ia memang berlari di trotoar jalan umum karena masih pagi dan sepi . gadis itu berjalan menyusuri trotoar untuk pulang setelah merasa cukup berolahraga .


Getar handphone di tas pinggangnya membuat gadis itu berhenti sejenak seraya mengambil handphonenya .


Panggilan itu dari Ivan .


" Assalamualaikum kak..." Ucap Dila sambil melangkah ringan .


" Walaikumsalam.., gimana kamu mau ikut nggak nih ? " Tanya Ivan tanpa basa basi .


" Belum tahu kak , Dila mesti kejar tugas kayaknya dah banyak ketinggalan " jawab Dila karna masih ragu .


" Oh...baiklah kalau gitu , soalnya masih dikit yang mau ikut , lagi pula pasti seru kalau ada kamu " ucap Ivan di telepon .


" Iya kak , ntar Dila kabari lagi " ucapnya seraya menutup teleponnya .


Belum sempat ia menyimpan handphonenya sebuah panggilan kembali masuk . Ternyata Mak Asih yang menelpon .


" Neng... apa kabar ? " Sapa Mak Asih ramah .


" Baik Mak... , Mak sendiri gimana ? " Tanya Dila , gadis itu berbicara sambil berjalan santai .


" Mak baik..., Neng Dila sudah sarapan ? " Tanya Mak Asih penuh perhatian .


" Belum Mak.. , Dila baru juga selesai lari pagi , Mak masak apa ? " Tanyanya


" Ach..belum tau neng..." Jawab Mak Asih .


Mereka terus mengobrol di telepon hingga Dila sampai di depan gerbang kompleks perumahan .


" Oh ya neng... , Pemuda yang waktu itu kemarin datang lagi ke rumah mencari neng Dila " ucapan Mak Asih membuat Dila menghentikan langkahnya .


" Terus...?" Tanya Dila .


" Ya..dia pergi begitu tau neng Dila sudah di Bandung " jawab Mak Asih .


" Oh...apa dia mengatakan sesuatu ? " Tanya Dila .


" Nggak dia langsung pamit pulang , sebenarnya siapa dia neng ? " Tanya Mak Asih penasaran .


" Hanya teman Mak , oh ya Mak sudah dulu ya , salam buat Lis dan mang Karman " ucap Dila untuk mengakhiri percakapan mereka .


Ia tidak ingin Mak Asih terus bertanya tentang Adi .


" Oh baiklah...jaga diri ya , jangan lupa makan dan istirahat , ingat nasehat eyang " Mak Asih mengingatkan .


" Ya Mak.. assalamualaikum.." ucap Dila


" Walaikumsalam..." Mak Asih menutup teleponnya .


Dila melanjutkan langkahnya , gadis itu tidak lupa menyapa pak kumis yang masih berjaga .


Lima belas menit kemudian Dila telah sampai di rumahnya . Dila duduk di teras rumah sambil melepaskan sepatu sportnya .


Handphone Dila kembali bergetar , kali ini panggilan Dari Lala , sahabat satu SMA-nya yang kuliah di ITB .


" Hai sayang..., Ku dengar kamu sudah kembali ? " Suara lantang Lala menggema .


" Ya...tapi tak ada oleh oleh untukmu " jawab Dila dengan ceria .


Lala tertawa mendengar ucapan gadis itu .


" Kangen nih.. ketemuan yuk..? " Ucap Lala .


" Aku sepertinya akan sibuk , kapan kapan deh..." Jawab Dila sambil masuk ke rumah .gadis itu menyimpan sepatunya .


" Ya elah......, Ayolah , bentar aja , makan mie ayam bareng aja ..." Bujuk Lala .


" Ehm.....kapan ? " Tanya Dila sambil berjalan menuju kamar.


" Siang ini , kan hari Sabtu nih " jawab Lala antusias .


" Oke ntar ku kabari ya , mu mandi dulu " jawab Dila seraya menutup telponnya .


Telephon Dila kembali berbunyi sesaat setelah di letakkan , Dila melihat layar , Lala kembali menelpon .


" Apa lagi...." Tanya Dila .


" Betulan ya , ku tunggu kabar darimu " Lala berteriak dengan semangat .


" Ya..." Jawab Dila singkat .


" Oke bye..." Tutup Lala .

__ADS_1


Dila menggeleng gelengkan kepalanya . Lala memang biasa berbuat iseng seperti itu .


Belum sempat Dila bergerak jauh hapenya berbunyi lagi .


" Ada apa lagi sih sayang..." Jawab Dila manja tanpa membaca layar hapenya .


" Sayang..?? " Sebuah suara dengan nada dalam membuat Dila terpaku .


Dadanya berdesir mendengar suara yang sangat akrab di telinganya hampir setahun lalu .


Dila membisu , bibirnya kelu ia tidak menduga telepon itu dari Adi .


" Siapa yang kau panggil sayang ? " Tanya Adi dengan nada tenang .


Dila tidak menjawab pertanyaan pria itu , ia sendiri tidak tahu harus berkata apa .


" apa kau baik baik saja ? " Tanya pria itu setelah keduanya terdiam sesaat .


" Kenapa kau bertanya ? , Hanya itu yang ingin kau ketahui ? " Tanya Dila sambil menahan tangisnya .


Terdengar tarikan nafas panjang Adi .


" Saat ini aku belum bisa menemui mu , jika sudah saatnya aku akan datang dan menjelaskan semuanya ' ucap Adi dengan tenang .


" tidak ada yang perlu di jelaskan , memangnya apa hubungan kita " Dila hampir terisak .


" Dila.....Aku tahu aku salah , tidak seharusnya aku pergi tanpa pamit tapi ada alasan yang tak bisa ku katakan , ku mohon bersabarlah tunggu aku pulang " suara dalam Adi kembali membuat Dila terpaku .


" Saat ini aku belum bisa menemuimu , tapi percayalah ...aku akan kembali padamu " lanjut pria itu .


Dila terdiam . Setiap kata , setiap pernyataan Adi meski terasa sakit ia mendengarnya, namun baginya itu lebih baik dari pada moment di mana ia tidak bisa mendengar suara itu .


Meski kerap kecewa karena di tinggalkan tanpa kabar , kecewa karena hubungan mereka yang tak pasti , dan dia tidak tahu apa nama hubungannya dengan Adi , Gadis itu seperti manusia bodoh yang menerima semua itu dengan senang .


" Kau mau membuat aku menunggu hingga mati ?! siapa yang mau nungguin kamu ! , Pergi saja sesukamu ! , Aku juga akan berkencan dengan lelaki lain , memangnya siapa yang mau men....


" Aku akan kerumahmu seminggu lagi " ucap Adi membuat Dila terdiam dari ocehannya .


" Benarkah ? " Tanya Dila dengan nada yang berubah seratus delapan puluh derajat .


" Ya..tunggu aku , akan ku jelaskan semuanya " jawab Adi dengan yakin .


" Jangan berkencan dengan lelaki lain , mengerti ! " Lanjut Adi seperti berbicara pada anak kecil .


" Ya..." Jawab Dila dengan polosnya . Hatinya berbunga-bunga hingga ia lupa kemarahannya .


terdengar tawa Adi di telepon ,, wajah Dila merona membayangkan betapa tampan pria itu ketika tertawa .


" Aku harus bekerja , sudah dulu . Jaga dirimu baik-baik , jangan berbuat hal yang bodoh " ucap Adi seperti seorang ayah .


" Bye..." Telepon terputus sebelum Dila sempat menjawab kata katanya .


" Jangan berkencan dengan lelaki lain ! " Dila menirukan cara bicara Adi .


Namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal yang berbeda dari yang ia ucapkan . Gadis itu segera sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan teman temannya .


Sahabat sahabat Dila masih sibuk dengan mimpi mereka , sementara ia telah selesai membuat nasi goreng dan tempe goreng .ia lalu menyibukkan diri dengan bersih bersih setelah lebih dulu sarapan .


Dila tengah asik menyirami tanaman hias saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah . Seorang lelaki keluar dari pintu mobil , Dila terkejut melihat siapa yang datang ke rumah Kontrakannya .


Gadis itu segera menghentikan aktivitasnya seraya membuka pagar rumah yang hanya setinggi pinggang .


" Kakek apa kabar " sapa Dila pada Tuan Gunawan yang berdiri di samping mobil sambil memperhatikan rumah tinggalnya yang mungil .


" Kakek baik.., kau sendiri bagaimana ? " Tanya tuan Gunawan sambil menatap Dila dengan wajah prihatin .


" Aku baik... masuklah kek , ayo pak Nurdin " Dila mengajak Tuan Gunawan dan Pak Nurdin masuk ke rumah .


Tuan Gunawan mengikuti Dila sembari mengamati suasana rumah mungil itu .


Mereka duduk di ruang tamu yang yang tidak begitu luas . Setelah mempersilahkan keduanya duduk Dila pergi ke dapur untuk membuat minuman .


Beberapa saat kemudian Gadis itu muncul dengan membawa satu nampan berisi dua cangkir teh dan satu toples biskuit .


Dengan sopan bila meletakkan bawaannya di atas meja .


" Silakan diminum kek " ucap Dila Seraya duduk di sofa di hadapan pria tua itu .


" Pak Nurdin ayo diminum tehnya " ucap Dila pada Pak Nurdin yang juga ikut duduk di sofa panjang .


Kedua pria itu segera meminum teh yang disuguhkan oleh Dila .


" Kenapa kau pergi lebih awal dari yang kau rencanakan " tanya Tuan Gunawan .


" Tidak apa-apa kek , berada di rumah justru membuat gila makin sedih . Itu sebabnya bila memilih cepat datang ke Bandung" jawab gila sambil tersenyum.


Tuan Gunawan menarik nafas dalam . Dipandangnya cucu sahabatnya itu beberapa saat .


"Kemasihlah barangmu , ayo ikut ke rumah kakek . Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian . Hanya itu yang bisa kakek lakukan untuk membuat eyangmu tenang di alam sana . " Ucap Tuan Gunawan sesaat kemudian .


" kek... di rumah ini Dila juga punya keluarga , teman-teman Dila juga menyayangi Dila di sini . Kakek tidak perlu menghawatirkan Dila " ucap Dila yang mencoba menenangkan hati tuan Gunawan .


" Jangan menolak kakek kakek yang sudah mau mati ini " Tuan Gunawan berucap dengan nada sedih .


Dila terdiam . Hatinya masih bimbang untuk menuruti keinginan pria tua yang tidak begitu ia kenal . Namun disisi hatinya yang lain ia merasa tidak tega untuk menolak keinginan Tuan Gunawan .


" Biarkan Dila tinggal beberapa hari lagi disini kek . Dila belum sempat berpamitan pada teman-teman Dila di rumah ini ." Jawab Dila mencoba mengulur waktu untuk pergi ke rumah Tuan Gunawan .


" Apa kau tidak percaya pada kakek ? " Tuan Gunawan menatap Dila .


" Bukan begitu.... Ada hal yang harus Dila selesaikan lebih dulu " Dila mencoba menjaga perasaan sahabat eyangnya itu .


" Baiklah jika itu yang kamu mau , tapi kakek hanya bisa memberimu waktu seminggu , minggu depan Pak Nurdin akan menjemput . " ucap Tuan Gunawan dengan berat .

__ADS_1


" oh ya Dila , kakek dengar kamu dekat dengan Jordi ,. Ada apa Di Antara kalian ? " Tuan Gunawan bertanya sambil menatap Dila dengan serius .


" Kami hanya berteman kek " jawab Dila singkat .


" Benarkah ? , Tapi apa yang kakek dengar tidak begitu " ucap Tuan Gunawan .


Dila terdiam . Sebagai CEO perusahaan tentunya Tuan Gunawan juga mendengar gosip yang menyebar di kalangan karyawan hotel . Gadis itu merasa tidak enak hati terhadap sahabat eyangnya tersebut .


" Tidak ada apa-apa antara Dila dan Jordi , kami hanya berteman " jawab Dila meyakinkan Tuan Gunawan .


" Kakek harap kau tidak mudah tertipu olehnya , jangan terlalu percaya pada kata-katanya . " Nasehat Tuan Gunawan .


Dila Hanya terdiam ia tidak mengerti maksud dari nasehat Tuan Gunawan .


" Kapan kau mulai masuk kuliah ? " tuan Gunawan mengalihkan pembicaraan mereka .


" Sebenarnya dua minggu lagi , tapi entahlah jika semua urusan selesai Dila ingin segera kuliah . " Jawab Dila


" Apakah kau mengalami kesulitan ? , Ada yang bisa kakek lakukan untukmu ? " Tanya Tuan Gunawan .


" Tidak .... Dila bisa mengurus semuanya sendiri " jawab Dila cepat .


" Apa kau ada rencana malam ini , jika tidak datanglah ke rumah kakek . Kalian menjamu ku dengan baik saat aku ke rumah kalian . Jadi biarkan kakek menjamu kamu " undang Tuan Gunawan .


Dila tersenyum senang mendengar keramahan tuan Gunawan . Gadis itu terharu dengan perhatian Tuan Gunawan , ia memuji Tuan Gunawan yang merupakan seorang milyader tidak merasa malu bersahabat dengan keluarga mereka .


" Baiklah Dila akan datang malam ini . Kakek harus mempersiapkan semua makanan kesukaan Dila " ucap Dila beberapa saat kemudian .


Tuan Gunawan tersenyum senang mendengar jawaban Dila . Ia merasa lega karena Dila baik-baik saja . gadis Itu memang terlihat tegar . Di usianya yang masih muda ia adalah gadis yang dewasa .


" Baiklah Pak Nurdin akan menjemputmu pukul 5 sore , bersiaplah . Sekarang kakek harus pamit .


Tuan Gunawan beranjak dari duduknya . Dia menatap Dila beberapa saat kemudian memeluk gadis itu Seraya menepuk-nepuk punggung Dila .


Dila mengantar kepergian Tuan Gunawan hingga ke mobilnya . Setelah mobil Tuan Gunawan tidak terlihat Dila baru masuk kembali ke rumahnya .


Dila teringat janjinya pada Lala , Gadis itu pun menghubungi sahabatnya tersebut untuk memajukan waktu pertemuan mereka .


Setelah Lala setuju untuk bertemu saat jam makan siang gadis itu pun segera mempersiapkan diri . Mereka berjanji bertemu jam 11 siang .


Suasana masih agak sepi saat bila turun dari taksi online di depan sebuah mall . Maklum saat itu masih agak pagi .


" Dila...." Sebuah suara memanggil namanya dari teras sebuah cafe .


" Hai ...." Dila melambai ke arah Lala yang tengah berdiri menunggunya .


Kedua sahabat itu saling berpelukan . Lalu keduanya pun segera masuk ke kafe .


Setelah memesan minuman di kasir Dila memilih untuk menunggu sambil duduk di sudut ruangan , sedangkan Lala menunggu minuman pesanan mereka di dekat kasir .


Tanpa Dila sadari sepasang mata tengah menatapnya . Wanita itu memperhatikan Dila dengan seksama . Lalu iapun mendekati Dila .


" Hai masih ingat saya ? " Tanya wanita itu .


Dila memperhatikan wajah wanita yang menyapanya , lama ia membisu karena wajah itu tidak begitu familiar di ingatannya .


" Oh..." Dila teringat kejadian semalam . Gadis di hadapannya tak lain adalah Risa mantan kekasih Jordi .


" Hai..." Sapa Dila sambil melihat sekeliling . Tak ada lelaki yang kemarin bersama gadis itu , hanya ada seorang wanita di meja yang agak jauh dari tempatnya .


" Apa kau ...datang sendiri ? " Tanya Risa sambil memperhatikan gadis di depannya .


Penampilan Dila berbeda dengan saat mereka bertemu . Gadis itu hanya mengenakan celana jeans dan kaos longgar , rambutnya di ikat begitu saja , dan wajahnya juga tidak memakai riasan . Gadis itu nampak begitu biasa baginya .


" Tidak aku dengan seorang teman " Jawab Dila datar , meski ia merasa risih di perhatikan oleh gadis itu , tapi ia tidak merasa terganggu .


" Emh....kau tau siapa aku bukan " Tanya Risa sesaat kemudian .


Dila menatap gadis cantik dengan tubuh indah di depannya , ia mencoba menebak apa tujuan gadis itu sebenarnya .


" Bagaimana aku tahu siapa kamu , kita hanya bertemu kurang dari dua menit " jawab Dila berusaha tenang .


" Aku kekasih Jordi " ucap gadis itu sambil tersenyum .


" Bukannya hanya mantan ? " Tanya Dila sambil menatap gadis yang tidak ia pahami jalan pikirannya .


Risa tersenyum dingin . Ia duduk dihadapan Dila dengan elegant .


" Aku tahu kalian hanya bersandiwara , gadis sepertimu bukan apa apa untuknya " ucapnya dengan nada mengejek .


" Gadis seperti aku ? , Seperti apa ? " Tanya Dila menahan dongkol .


" Berapa dia membayarmu untuk berakting , dengan sejumlah uang yang cukup untuk biaya satu semester kuliahmu ? " Tanyanya merendahkan .


Dila menarik nafas panjang , ia menatap gadis di hadapannya dengan sejuta umpatan dalam hati .


" Dengar nona muda , aku tidak perduli seperti apa hubungan kalian dulu , tapi kini kau sudah menjadi calon istri seseorang . Jadi tidak usah mencampuri kehidupannya lagi . Ia hanya masa lalumu " Dila sudah tak bisa menjaga amarahnya .


Risa terdiam . Ia tidak menyangka wajah polos gadis itu memiliki sikap cukup berani .


" Aku tidak mencampuri urusannya , aku hanya kasian padamu ! , Sebaiknya kau mundur , keluarganya tidak akan bisa menerima gadis dari kelas sosial seperti dirimu " ucap Risa sambil beranjak .


" Nona......jika kau masih mencintainya maka jangan lari pada lelaki lain . Sepahit apapun , cinta adalah sesuatu yang pantas di perjuangkan " ucap Dila dengan nada serius .


Risa hanya terdiam , gadis itu melangkah pergi tanpa berbincara sepatah katapun .


Tak lama Lala datang membawa segelas es kopi dan segelas es teh . Ia juga membawa sepiring kue .


" Siapa la..? " Tanya Lala


" Orang gila " jawab Dila seraya meraih gelas berisi es teh . Darah gadis itu hampir mendidih mendengar Risa menyebut nyebut tentang kelas sosial .


" Di jaman seperti ini masih ada orang yang berpikiran sempit seperti gadis itu , sungguh disayangkan wajah cantiknya tidak di ikuti oleh kecantikan hati " gerutu Dila dalam hati .

__ADS_1


__ADS_2