
Hari sudah agak gelap, mereka bertiga berjalan menyusuri pantai untuk mencari tempat yang aman.
Rinto dan Choki berjalan di depan, Sheli berjalan sendiri dibelakang sambil melihat kiri dan kanan sesekali menendang pasir yang ada didepannya.
Tak lama kemudian mereka menemukan gua tempat berteduh.
"Kita akan bermalam disini," ucap Rinto.
"Disini." Sheli menunjuk guanya.
"Apakah aman?" lanjutnya lagi.
"Aman untuk kami berdua, tidak untuk orang cerewet sepertimu," jawab Rinto sambil melangkah ke dalam gua.
"Hei, otak sempit, cerewet, tidakkah ada yang bagus tentangku, dasar batu,"
"Batu?"
"Iya, batu. Tidak punya perasaan kaku seperti batu."
"Aku bukan batu murai, jika batu sudah kutinggalkan dirimu, yang cerewet seperti murai."
"Terserah, batu, batu, batu."
__ADS_1
Rinto tidak mempedulikan Sheli yang terus cemberut dibelakangnya.
Choki hanya tersenyum sambil menggeleng melihat pertengkaran mereka.
"Apakah kamu percaya pada batu itu, Choki?"
"Aman, sepertinya Rinto mengenal daerah ini, kita percayakan saja padanya. Ok!" Choki membulatkan tangan kanannya ke arah Sheli. Terlihat guratan senyum di wajah tampannya.
"Seharusnya kau belajar pada Choki, Batu. Choki lebih menyenangkan dari dirimu." ujar Sheli pada Rinto. Rinto hanya membuka mulut dan menautkan kedua alisnya, sehingga wajahnya terlihat lucu.
"Syukurlah, masih ada kayu yang kering, istirahat saja dulu. Aku akan menghidupkan apinya," seru Rinto.
Choki dan Sheli memperhatikan Rinto menghidupkan api dengan peralatan yang ada.
"Hebat, apinya hidup," cetus Sheli.
"Ya iyalah, Rinto gitu lo," ucap Rinto sambil menepuk dadanya.
"Segitu aja sombong, baru saja dipuji sedikit sudah melayang sampai langit ke tujuh."
"Eh, ternyata murai bisa memuji. Makasih, makasih." Rinto menelungkupkan kedua tangan di dadanya.
"Iiiiiiiii," ujar Sheli sambil mengatupkan kedua giginya.
__ADS_1
"Kalian berdua seperti Tom and Jerry ya, mana tau jodoh. BTS gitu," celutuk Choki.
"BTS?" tanya Rinto dan Sheli serentak.
"Itukan, kalian kompak, BTS, Benci tapi sayang," jawab Choki sambil tertawa.
"Mimpi iya, aku mau dengan orang hitam punya otak mesum, aku mau tidur dulu mana tau besok terbangun dari mimpi buruk ini." Sheli menelungkupkan kepalanya di lutut.
"Berbaring saja, jika ingin tidur. Bebatuan itu cukup aman untuk tidur." Rinto memberikan saran pada Sheli.
"Gak mau, kalau aku tidur beneran pasti kamu bakalan ngapa ngapain aku, iya kan."
"Terserah aja, dasar otak sempit. Airnya masih pasang, kita menunggu regu penyelamat sampai besok pagi. Silahkan ronda sampai besok pagi. Aku juga mau tidur." Rinto membaringkan tubuhnya.
"Aku juga," ucap Choki sambil membaringkan badannya.
"Terserah, aku gak bakalan tidur," jawab Sheli.
Udara terasa mulai dingin, Rinto tersentak saat apinya mulai padam, ia langsung berdiri dan mengumpulkan kembali bara-bara api dan menambahkan kayu pada perapiannya. Terlihat Choki begitu nyenyak dengan mimpinya dan Sheli bersandar di dinding gua. Dengan perlahan direbahkannya Sheli, agar mendapatkan posisi tidur yang aman. Sheli menggeliatkan badannya sebentar, membuat Rinto terkejut dan berlari ke tempat duduknya kembali.
"Untung saja, simurai tidak terjaga." Gumam Rinto sendiri sambil mengeluskan dadanya.
Rinto kembali memandang Sheli.
__ADS_1
"Cantik, andaikan pertemuannya tidak berkesan buruk seperti kemarin. Mungkin saja ia bisa dekat dengan Sheli. Ah! Dalam mimpi juga tidak akan, Sheli yang cantik tidak akan mau dengannya yang hitam pekat. Hanya ada dalam dongeng sicantik dan siburuk rupa."