
Dila terdiam dengan tatapan kosong di teras rumahnya . gadis itu termangu cukup lama di ranjangnya . Hatinya benar-benar dalam kebingungan yang tidak berujung .
Dalam sekejap ia bisa menjawab semua pertanyaan tentang lelaki yang ia cintai , Namun dalam sekejap pula ia menjadi ragu untuk tetap bertahan atau melepaskan .
Bagaimanapun nasehat Eyang Saka di surat terakhirnya kembali terlintas di benaknya . Belum lagi ingatannya tentang kesendirian sang bunda hingga akhir hayatnya membuat ia semakin bingung .
Tak terasa air matanya mengalir di pipinya . Dila menangis dalam diam . dihatinya serasa ada seribu jarum menancap di sana . Sakit itu terasa sampai ke tulang sum sum nya .
Antara kata hati dan nalar , ia tidak tahu harus memenangkan yang mana . Karena tak kuat menahan sesak di dadanya Dila menangis tersedu-sedu di kamarnya .
Ocha yang sedang berada di rumah terkejut mendengar suara tangis dari kamar Dila . Dengan hati hati Ocha mendekati pintu kamar Dila , lalu ia membuka pintu tersebut yang ternyata tidak di kunci .
Dilihatnya Dila tengah menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya di atas ranjang .
" Dila ada apa ..? " Tanya Ocha dengan panik .
" Hu..hu..hu.." Dila masih menangis dengan keras .
Ocha berjalan dengan cepat ke ranjang Dila , di peluknya sahabatnya tersebut , tangannya menepuk-nepuk punggung Dila .
" Kenapa....hu..hu...kenapa " Dila menangis dalam pelukan Ocha .
Ocha hanya bisa membisu sambil membelai punggung Dila , di biarkan Dila menangis sepuasnya , meski ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu menangis .
Setelah hampir satu jam tangis Dila akhirnya berhenti . Sesekali nafasnya tersengal . Ocha keluar sesaat lalu kembali lagi ke kamar itu dengan segelas air mineral .
" Minumlah..." Ucap Ocha lembut sambil mengulurkan segelas air kepada Dila .
Dila meminumnya beberapa teguk , lalu menyerahkan gelas tersebut pada Ocha .
" Ada apa ? " Tanya Ocha setelah meletakkan gelas di atas meja .
Dila hanya menggelengkan kepalanya . Gadis itu merasa pusing setelah menangis cukup lama . Ia meraih bantal lalu membaringkan tubuhnya di ranjang .
Ocha menyelimuti sahabatnya tersebut , lalu melangkah keluar dari kamar dengan hati hati .
Dila terpaku , hatinya terasa kosong dan hampa . Sakit yang ia rasakan ketika menanti kata cinta dari Adi alias Jidan , tidak sepedih perasaannya kini . berkali kali gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat kuat .
" tidak bisa terus begini " bisiknya .
Gadis itu bangkit dari tidurnya , ia hendak mengambil handphonenya , namun ia ingat handphonenya tertinggal di rumah tuan Gunawan .
Dila membuka laci mejanya , ia lalu mencari handphone lamanya di sana . Dila lega barang antik itu masih ada , gadis itu mencoba menghidupkan handphone merk Nokia tersebut . Untungnya hp itu masih menyala .
Dila mencari sebuah kontrak dan berhasil menemukannya . gadis itu berlari ke kamar Ocha .
" Cha...pinjam hpmu ! " Seru Dila membuat Ocha yang tengah membicarakan tentang dirinya pada Lala terkejut .
" Ha apa ? " Ucapnya seraya mematikan handphonenya .
" Aku pinjam dulu " ucap Dila seraya meraih handphone Ocha .
Gadis itu segera menekan no Ivan yang berhasil ia temukan di handphone lamanya . Dila berjalan keluar dari kamar Ocha sambil menunggu panggilan teleponnya di terima .
Ocha berjalan membuntuti Dila dengan mengendap ngendap di belakang gadis itu .
" Ya halo.." suara yang sangat ia kenal terdengar dengan jelas .
" Kak Ivan ini Dila , Kapan kakak berangkat ? " Tanya Dila sambil berjalan menuju kamarnya .
" Aku berangkat siang ini dari Sukabumi " jawab Ivan di telepon .
__ADS_1
" Kalian mau ke mana ? " Tanya Dila .
" Kami mau ke Maluku , penerbangan jam lima sore ke Ambon dari Bandung " jawab Ivan .
" Kemana kalian mendaki ? " Tanya Dila .
" Gunung Binaiya " jawab Ivan .
" Baiklah...aku ikut " jawab Dila membuat Ivan terkejut .
" Dila ini bukan perjalanan yang kutawarkan tempo hari , aku mendampingi beberapa orang dari luar negri ' ucap Ivan .
" berapa orang dari tim mu ? , Apa ada wanita ? " Tanya Dila .
" Dari kita tidak ada , tapi ada satu orang dari Jerman " jawab Ivan .
" Boleh aku ikut " tanya Dila .
" Perjalanannya agak lama , tapi kalau kau siap bergabunglah di bandara , untuk perlengkapan makan kita akan siapkan setelah di Ambon , bawalah perlengkapan dasar saja " ucap Ivan .
" Baiklah...sampai jumpa di bandara , " Dila menutup teleponnya .
" Kau mau kemana ? " Dila terkejut menyadari Ocha ada di belakangnya .
" Aku mau naik gunung ' jawab Dila sambil masuk kamar , gadis itu segera membongkar lemarinya .
" Dila....!! " Seru Ocha .
" Apa ..." Jawab Dila sambil mengecek semua perlengkapannya .
" Ada apa denganmu ? , tiba tiba naik gunung ? , Katakan padaku " tanya Ocha sambil membantu gadis itu , ia tau tidak akan ada yang bisa mencegah gadis itu pergi jika sudah memegang ranselnya .
" Apa terjadi sesuatu semalam ? " Tanya Ocha .
Dila menggelengkan kepalanya . Ia berhenti sejenak seraya mencharge baterai handphonenya .lalu kembali mengecek barang barangnya .
" Kemana kau pergi ? " Tanya Ocha .
" Maluku " jawab Dila datar .
" Kau gila sebentar lagi kau masuk kuliah ! " Ocha membentaknya .
" Justru aku akan gila jika tidak pergi ! " Dila berteriak dengan suara bergetar . Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan kuat .
" Maaf.." ucap Dila yang melihat wajah terkejut Ocha .
" Aku boleh minta tolong ?, Tolong belikan aku kartu perdana " ucap Dila sambil mengemasi barang-barangnya .
" Aku harus ada di bandara sebelum jam tiga " lanjutnya
" Ba baiklah..." Ocha melangkah pergi meninggalkan Dila .
Dila terdiam sesaat setelah Ocha pergi . Gadis itu mengusap keningnya , ia lalu berjalan ke dapur mengambil segelas air putih dan meminumnya . Di lihatnya makanan sudah tersedia di meja makan di balik tudung saji , gadis itu mengambil piring dan mulai makan .
Meski tak ada selera dia harus makan untuk menjaga staminanya agar siap untuk sebuah pendakian .
Dila kembali mengemasi barang-barangnya setelah selesai makan . Ocha yang baru datang langsung menghampiri Dila dengan sebungkus belanjaan .
" Barangkali ada yang kau butuhkan " ucapnya seraya meletakkan bungkusan itu di hadapan Dila .
" Thanks" ucap Dila sembari mengecek barang yang di beli oleh ocha .
__ADS_1
Ocha melepaskan charger baterai hp jadul Dila , lalu memasang SIM card yang ia beli .
Setelah itu ia menelpon nomernya sendiri menggunakan handphone tersebut . Ia juga tidak lupa mengisi pulsa untuk no baru Dila .
" Kemana handphonemu ? " Tanya Dila .
" Ku rasa tertinggal di rumah kakek " jawab Dila .
" Ada yang bisa ku bantu lagi ? " Tanya Ocha
Dila menggeleng , ia menyingkirkan beberapa barang yang tidak ia perlukan .
" Biarkan saja nanti aku rapikan " ucap Ocha .
Dila tertawa mendengar ucapan Ocha , ia tahu bentakannya tadi mungkin membuat Ocha khawatir .
" Aku tidak apa apa jangan khawatir " Dila berkata seolah-olah semua baik baik saja .
Dila memeriksa catatan bawaannya , lalu menandai yang belum ia siapkan . Gadis itu mengambil handphonenya lalu menanyakan kembali kepada Ivan perlengkapan apa yang tidak perlu ia bawa dan yang dapat di beli di Ambon .
Setelah semua siap iapun segera mandi dan berkemas untuk berangkat Ke bandara .
" Dila mengeluarkan barang barangnya ke ruang tamu . Sudah hampir jam dua gadis itu bergegas memesan taksi online untuk pergi ke bandara , ia telah meminta Ivan untuk memesan tiket penerbangan yang sama dengan mereka dan akan membayarnya di bandara .
Sepuluh menit kemudian taksi telah datang , gadis itu segera berangkat menuju bandara Husein Sastranegara .
Di taksi gadis itu tidak lupa menelpon Mak Asih untuk meminta do'a restu , ia juga meminta Lilis mengirimkan sejumlah uang ke rekening miliknya .
*****
" Dila....di sini " seru Ivan memanggil Dila sambil melambaikan tangan . Pria itu berdiri di depan sebuah loket milik sebuah maskapai penerbangan .
Dila mematikan Handphonenya dan segera menghampiri Ivan . gadis itu berlari kecil sambil tersenyum manis .
" Hai...' sapanya seraya memeluk lelaki yang telah ia anggap kakak , Dedi yang selalu menjadi ekornya juga ada di sana .
Dila segera melakukan pembayaran menggunakan kartu debitnya , ia tidak bisa melakukan transaksi online karna handphonenya entah di mana .
" Aku harus mengambil uang tunai , atau aku titip ke kak Ivan aja untuk transaksi online di Ambon ? " Dila meminta pendapat Ivan dalam perjalanan mereka menuju pintu check in.
" Gak apa apa aku bayar dulu nanti setelah pulang baru kita hitung " jawab Ivan .
" Oke..baiklah terimakasih " jawab Dila dengan senang .
" Oh mana orang asingnya ? ' tanya Dila .
" Mereka masuk lebih dulu , kan proses mereka lebih lama ,, ntar kumpul di ruang tunggu " jawab Ivan .
" Oh..." Dila menggumam.
Setelah selesai chek in ketiganya menuju ruang tunggu , di sana ia bertemu dengan empat orang pendaki asing dari Jerman dan dua pendaki profesional dari Bandung . Mereka saling berkenalan .
Tidak menunggu waktu lama bagi mereka untuk naik pesawat Karena penerbangan saat itu tepat waktu .
" Ya Rabb..lindungi penerbangan ini hingga kami sampai di tempat tujuan dengan selamat . Tunjukkan aku jalan terbaik yang harus ku pilih . Ya Rahman Ya Rahiim...jika dia memang yang terbaik untukku maka dekatkanlah hatiku dan hatinya sedekat urat nadi di tanganku , namun jika bukan dia yang kau ciptakan untukku maka jauhkan aku dan dia sejauh timur dan barat . Ya Al Haadi hanya engkau sebaik baik pemberi petunjuk ku mohon bimbinglah hatiku " Dila berdo'a dengan khusu' hingga satu titik bening merembes keluar dari sudut matanya .
gadis itu terdiam sambil merenung di kursinya , ia berharap akan ada titik terang dihatinya yang bimbang untuk ia menentukan keputusan saat ia pulang dari perjalanannya nanti .
" apa yang do'a yang kau panjatkan ? " tanya Ivan sambil menatap Dila yang sampai menitikkan air mata saat berdo'a
" hanya sebuah permohonan " Jawab Dila sembari menatap luar jendela .
__ADS_1