Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
71 . harapan Tuan Gunawan .


__ADS_3

Dila masih terpaku , mencoba untuk memahami perkataan tuan Gunawan yang barusan terucap dengan gamblang . namun lelaki berumur hampir tujuh puluh tahun itu justru tersenyum melihat reaksinya .


" kakek melihat kedekatanmu dengan Jordi , dan kakek rasa ini saatnya kamu melupakan Jidan . kita tidak akan bisa melanjutkan sebuah cerita jika tidak ada karakter utama . bagaimana mungkin kau akan melanjutkan sebuah dongeng jika karakter utama telah tiada ? " tanya tuan Gunawan sambil menatap Dila .


" eyangmu pernah mengatakan ...ia akan merasa lega jika kau menikah dengan orang biasa , mendampingimu yang memiliki pemikiran sederhana dengan jalan hidup yang juga sederhana " ucapan Tuan Gunawan membuat Dila kembali membulatkan matanya .


" Eyang berkata begitu ? " tanya Dila tak percaya .


" secara tidak langsung begitulah maksudnya " jawab tuan Gunawan .


" tapi ia juga tidak akan pernah bisa melarang cucunya jatuh cinta dengan siapa saja , selama itu bisa membuat kau bahagia . Kakek tanya , Apa kau bahagia sekarang ? " Tanya tuan Gunawan .


" tidak bukan , kau terus menyepi meratapi kepergian seseorang yang tidak mungkin kembali . ganti karakter utamamu agar dongeng bahagia mu berlanjut . meski mungkin kau perlu waktu untuk menulis cerita lainnya " ucap tuan Gunawan dengan lembut .


" bagaimana bisa kita menyelesaikan sebuah kisah yang bahkan belum di mulai ? " Tanya Dila dengan mata berkaca-kaca .


" Terkadang... sesuatu harus kita anggap selesai meski sebenarnya tidak . Banyak orang yang bahkan tak sempat untuk memiliki sebuah dongeng " Jawab tuan Gunawan .


" mungkin Jordi memiliki banyak kekurangan , Tapi kekek percaya ada kebaikan di dalam dirinya , dan kakek yakin kau orang yang tepat untuk membuat kebaikan di dirinya menjadi lebih hidup . Sejak bergaul denganmu dia menjadi orang yang lebih baik " lanjut Tuan Gunawan .


" tapi tentu saja semua keputusan ada padamu . kau berhak mendapatkan yang terbaik siapapun Dia " ucap Tuan Gunawan


Dila hanya terdiam sambil menatap wajah tuan Gunawan , matanya penuh tanya .


" apa ada yang ingin kau tanyakan ? " tanya tuan Gunawan tiba tiba .


" tidak ada " jawab Dila dengan suara lirih .


" Kakek tahu kau menyelidiki saham yang diam diam kakek limpahkan atas namamu ! " Ucapan tuan Gunawan membuat Dila menelan ludahnya .


" aku hanya mengembalikan hutang yang aku pinjam pada Eyangmu " tuan Gunawan berkata dengan wajah datar .


"Eyangmu memberi bantuan saat kakek pernah terpuruk . Bantuan itu kakek jadikan modal awal untuk memulai bisnis . Dan aku ingin kau juga menikmati hasil dari bisnis itu " lanjut tuan Gunawan .


" kakek ...itu tidak perlu ..." ucap Dila sambil menatap tuan Gunawan yang terlihat begitu tenang hari ini .


" terima itu sebagai hadiah dari kakek . mungkin akan ada hadiah lainnya saat kakek tiada , kakek harap kau bisa menerimanya . Kakek tahu itu semua tidak cukup untuk membalas apa yang eyangmu berikan padaku , hanya itu cara yang kakek tahu untuk membalas semua kebaikannya " tuan Gunawan berbicara dengan suara hangat .


" dan pikirkan tawaran kakek yang tadi..." ucapnya sambil tersenyum .


" jadilah cucu menantuku " lanjutnya Yang melihat tatapan Dila yang bingung .


" Kakek...." Dila bergumam karena tidak tahu bagaimana harus bersikap .


" apa ada lelaki lain selain Jordi yang mungkin kau sukai ? " tanya Tuan Gunawan sambil berjalan menuju sofa .


" Bukan begitu..." Jawab Dila .


" jadi apa masalahnya ? " tanya tuan Gunawan sambil duduk dengan tenang di sofa .


" dari mana kakek tahu aku di sini ? ' Dila mengalihkan pembicaraan .


" Kau pandai mengalihkan pembicaraan " ucap tuan Gunawan sambil tersenyum .


" kau menelpon Arya dan memberitahu keadaanmu , tapi tidak memberitahu kakek sama sekali " jawaban Tuan Gunawan membuat Dila makin merasa bersalah .


" maaf kek..." ucapnya dengan sedih .


" terus terang kakek kecewa dan sedih , bagaimanapun seharusnya kakek yang lebih tau keadaan mu , karena kakek sudah janji pada almarhum Eyangmu , akan menjagamu hingga mendapatkan pendamping hidup . tapi sepertinya kau tidak memercayai kakek " gumam tuan Gunawan .


" bukan begitu kek... Dila tidak ingin kakek khawatir " Ucap Dila dengan sedih karena telah membuat tuan Gunawan kecewa .


" kau harus berobat hingga tuntas , jangan pikirkan apapun ,. fokuslah pada kesehatanmu .


mengenai perusahaan..., Biarkan saja ..biarkan Jordi mengurusnya , jangan buang waktumu untuk hal lain , fokus pada kesehatanmu , kakek ingin kau cepat sembuh " ucap tuan Gunawan yang di jawab anggukan Dila . Keduanya membisu beberapa saat .


" Biar mak Asih tinggal di rumah , aku akan meminta Nurdin mengirim pelayan untuk bergantian menjagamu " ucap tuan Gunawan kemudian .


" terimakasih kek.." jawab Dila dengan santun .


" Dila...kakek sudah tua..kita tidak tahu umur seseorang mungkin saja tiba tiba kakek pergi seperti Eyangmu . kakek akan tenang jika kau sudah punya pendamping saat kakek pergi . setidaknya ...salah satu janji kakek pada Eyangmu akan terpenuhi jika saat kakek pergi kau sudah memiliki pendamping hidup " Tuan Gunawan tiba tiba berbicara dengan nada tenang .


" apa yang kakek katakan , kakek akan hidup dengan bahagia dan berumur panjang " jawab Dila dengan cepat .


" umur seseorang kita tidak pernah tahu pasti " gumam tuan Gunawan dengan tatapan kosong .


" bawa seseorang yang kau cintai , kakek akan pastikan kau bersama seseorang yang menyayangimu segenap hatinya " ucap tuan Gunawan sambil tersenyum hangat pada Dila .


" tidak ada yang seperti itu kek.. Dila cukup bahagia dengan keadaan sekarang " ucap Dila sambil menahan senyum .


" kalau memang tidak ada orang lain , kenapa tidak dengan Jordi saja . kau juga lebih kurang tahu seperti apa karakternya " tuan Gunawan kembali menggoda Dila .


" apa kau bersedia ? , Kakek hanya ...yah apa salahnya membuka hati ? , terkadang cinta datang karena terbiasa " ucap tuan Gunawan memecah kebisuan mereka .


Dila hanya terdiam , tak mau membahas sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman , namun ia juga tidak ingin mengecewakan Tuan Gunawan .


" jujur...kakek sungguh berharap kau bisa menjadi cucu menantu kakek , jauh sebelum kakek tahu hubungan antara kamu dengan Jidan " tuan Gunawan kembali bergumam .


" maafkan Dila...tetapi...


" kakek tahu....., tapi kenapa kau tidak mencobanya..., cobalah mengenal Jordi lebih dalam.., kakek sangat yakin dia juga sangat mencintai kamu , kakek bisa melihat itu di wajahnya " tuan Gunawan memotong kalimat Dila .


keduanya membisu , hanyut dalam pikirannya masing masing .


" apa teman teman mu sudah tahu keadaan mu ? " tanya tuan Gunawan sesaat kemudian mencoba mencairkan suasana yang tiba tiba kaku .


" ya..., tadi siang mereka datang " jawab Dila sambil memaksakan senyum .


Mereka kemudian berbincang bincang dengan santai . Tak lama kemudian tuan Gunawan berpamitan dan mengajak Mak Asih pulang ke rumah besar , namun Mak Asih memilih tinggal di RS menemani Dila .


*********


Jordi masih sibuk memeriksa beberapa berkas yang telah menumpuk di meja kerjanya . hingga sore hari pekerjaannya belum juga selesai , ia dan Adam masih berjibaku dengan waktu untuk mengurus semua proyek agar berjalan dengan lancar .


" Bos aku mau pesan makanan , kau ingin makan apa ? " ucap Adam yang kali ini bergabung di ruangannya .


"Jam berapa sekarang ? " Jordi melihat Arlojinya . ia menggeleng saat tahu sudah hampir jam Delapan malam .


" aku tidak ingin makan , aku mau pulang " jawabnya Beberapa saat kemudian .


" tugasmu sudah selesai ? " Tanyanya pada Adam .


" kalau tugas Rutin sudah siap tinggal beberapa berkas , kalau yang anda suruh tadi pagi aku belum menemukan cara yang tepat untuk megungkapnya . tapi aku sudah menemukan pelakunya " jawab Adam .


" pulanglah kalau begitu , aku juga lelah , lanjutkan saja pekerjaan kita besok " Ucapnya sambil menyambar jas yang tergantung di sandaran kursi .

__ADS_1


" Pulang apa menemui Dila nich ..." ucap Adam sambil tertawa ringan .


" dua duanya " jawan Jordi seraya meninggalkan Adam .


" Hah....aku juga lelah .." gumam Adam seraya merapikan berkas yang berserakan , lalu mematikan Komputernya .


ia juga bergegas meninggalkan Jordi . di luar nampak sekretaris Jordi yang tengah mengerjakan sesuatu .


" Kau belum pulang ? " tanyanya .


" Bapak sudah mau pulang ? . Pak Jordi tidak kembali lagi ke kantor ya pak ? " tanya Dian dengan semangat .


" pulanglah...kami juga mau pulang nih..." ucap Adam yang mengerti kenapa Dian begitu bersemangat . ia tahu Dian sangat rajin dan patuh , ia selalu datang lebih awal dan akan pulang jika Jordi dan dirinya sudah pulang . sebagai anak muda tentu jam kerjanya sangat menyita waktunya .


" terimakasih pak.." jawab Dian dengan semangat .Adam tidak memperdulikan perkataan gadis itu , ia segera mengejar sosok Jordi yang tengah berbincang bincang dengan seraut wajah yang tadi siang bersamanya di depan lift .


" tunggu ..." teriak Adam saat keduanya memasuki lift , dan Isabella yang melihat sosoknya segera menekan tombol untuk menahan pintu agar tidak tertutup .


" Terimakasih " ucapnya begitu telah masuk ke dalan lift , bergabung dengan Jordi dan Isabella .


" Dam antar Bella pulang , dia tidak membawa mobil " Ucap Jordi sambil memainkan Handphonenya .


" tidak perlu aku naik taksi saja " sahut Isabella .


" kalian Searah ..," lanjut Jordi .


" memangnya tinggal Dimana ? " Tanya Adam heran .


" Dia tinggal di rumah om Adit yang baru " jawab Jordi , membuat Bella yang ingin menjawab hanya terdiam .


" o..oke.." jawab Adam sambil tersenyum .


" Thanks..." ucap Isabella .


" oh ya...proyek dengan Nabila..aku tadi mendapatkan Email darinya , ia memberiku contoh Desain dari timnya " Adam memecah kesunyian mereka bertiga .


" kita bahas itu besok " jawab Jordi yang memperhatikan layar floor designator . tak lama pintu lift terbuka , mereka telah tiba di lobby . Adam mengajak Bella untuk menuju ke mobilnya , sementara Jordi tengah sibuk menerima panggilan entah dari siapa .


Adam menghampiri Bella yang tengah berdiri di depan lobby dengan Mobil berwarna silver miliknya . Bella segera masuk begitu Adam membukakan pintu mobil . keduanya meluncur meninggalkan Gedung perkantoran tersebut .


" makan Dulu yuk aku sudah lapar nich " ucap Adam tiba tiba .


" Sorry aku ada janji dengan tante Irma untuk makan di rumah . Tuan Aditya sedang sibuk , Tania juga sedang keluar dengan teman temanya " Jawab Bella sambil tersenyum .


" Oh..., kau Tidak apa apa tinggal dengan mereka ? " Tanya Adam .


" mereka baik kok...aku serasa punya orang tua lagi " Jawab Bella .


" ya Nyonya Irma memang baik , Tapi Tania sedikit angkuh " ucap Adam .


" awalnya aku juga berpikir begitu , tapi ternyata tidak , ia hanya sedikit pemalu " Bella berkata sambil menyandarkan kepalanya ke kursi .


" kau sepertinya mengenal keluarga gunawan dengan baik ? " tanya Adam sambil memperhatikan lalu lintas padat di hadapannya .


" aku beruntung mereka menganggap aku seperti keluarga , semua karena aku adalah sepupu Dila " jawab Bella sambil tersenyum simpul .


" kau sendiri ? , kelihatannya sangat akrab dengan Jordi , kalian seperti teman " tanya Isabella .


" ayahku bekerja pada perusahaan , lalu meninggal karena sebuah kecelakaan . lalu Tuan besar membiayai kuliahku , dia juga memberi pekerjaan pada ibuku , boleh di bilang kami sudah saling kenal sejak remaja . Bu Narti adalah ibuku " Cerita Adam .


Adam menggeleng , matanya tidak lepas dari jalanan yang makin macet .


" kita tidak boleh selamanya bergantung pada orang lain . aku ingin mandiri , membuka usaha sederhana dan lepas dari bantuan keluarga Gunawan " Jawab Adan santai .


" tapi ternyata tidak mudah memulai sesuatu saat kita tidak punya apa apa " lanjutnya sambil tertawa Sumbang .


" inilah Kehidupan..ada orang yang di anugerahi begitu banyak harta hingga tak tahu bagaimana menghitungnya , aku kadang tertawa saat tuan besar bertanya " memang kita Punya aset di sana ? , atau kapan aku beli mobil itu ? , sementara untuk punya mobil ini saja aku harus menyisihkan uang tiap bulan untuk menyicilnya ke bank " Adam berkata sambil memainkan jari jarinya si atas setir mobil .


" ya...kau benar ...." sahut Bella sambil tertawa .


" kau ingin menetap di sini ? " tanya Adam tiba tiba .


" belum kepikiran sampai sana , dan lagi prosesnya cukup panjang " jawab Bella sambil mengalihkan pandangannya pada rumah rumah mewah yang mereka lalui . mereka memang telah memasuki komplek perumahan tempat tinggal tuan aditya .


Adam menghentikan kendaraanya di depan sebuah rumah berpagar tinggi , tak lama pintu gerbang di buka .


" Tidak apa apa kan cuma ku antar sampai gerbang ? " tanya Adam yang menepikan mobilnya .


" its oke...biasanya naik taksi juga kok...aku belum bisa bawa mobil , sebenarnya Nyonya Irma menyuruh aku pakai mobilnya " ucap Bela sambil membuka seat belt .


" thanks you so much.." ucap Bella seraya membuka pintu dan turun dari mobil .


" You are welcome " jawab Adam sambil melambaikan tangan . ia memutar mobilnya dan langsung tancap gas begitu melihat Bella memasuki Gerbang rumah tersebut , dan pintu tertutup kembali .


" aih...Bella di antar siapa ? " Tanya Nyonya Irma yang tengah duduk di ruang keluarga .


" Asisten Jordi Tante " Jawab Bella sambil duduk di hadapan Nyonya Irma .


" ah..kok gak masuk ? , tante masak banyak . manusia di rumah ini memang kebangetan tante sudah capek capek masak gak ada yang pulang cepat " keluhnya .


" Untung ada kamu , jadi Tante bisa curhat sama kamu " celoteh nyonya Irma .


" Sok... cuci tangan Dulu , kita makan bareng " Ucapnya kemudian .


" siap tante..." jawab Bella seraya tertawa , ia melangkah cepat meninggalkan Nyonya Irma yang segera sibuk meminta Art untuk memanaskan makanan yang ia masak .


Isabella terkejut mendapati meja makan yang terisi banyak lauk pauk saat ia kembali ke ruang makan . ada pepes ikan , capcai , sambal cumi dan tak ketinggalan tempe bacem . Nyonya Irma sudah duduk di sambil menanti kedatangannya .


" wah...pesta ni tante " Ucap Bella sambil menarik kursi .


" tadinya mau jenguk Dila sambil bawa makanan , tapi tidak jadi karena dapat kabar papa ke Rumah sakit menjenguk Dila " Jawab Nyonya Irma .


" Jadi Tuan Gunawan Sudah tahu ? " Tanya Isabella .


" Heem..tapi katanya tidak marah , Papa sekarang emang sudah berubah , lebih tenang kayaknya . kamu tahu Jordi juga lebih dewasa sekarang , Dila itu memang ...." nyonya Irma mengacungkan dua jempolnya .


" gadis itu benar benar mampu membuat seseorang berubah menjadi lebih baik " lanjutnya sembari tersenyum ceria .


" hayuk lah makan , makan yang banyak Bella , kamu mah sudah langsing gak usah diet " ucapnya sambil meletakkan nasi dan lauk pauk di piringnya .


" ya tante..." jawab Bella sambil mengikuti apa yang di lakukan nyonya Irma .


mereka menikmati makan malam hanya berdua sambil sesekali bercerita tentang aneka ragam masakan Nusantara . Bella nampak bersemangat mendengarkan cerita Nyonya Irma .


setelah selesai makan keduanya masih asik mengobrol , sementara Art membereskan meja dan sisa makanan .

__ADS_1


" kalian habiskan saja makanannya , bagi orang depan juga ya Nur " Ucap nyonya Irma pada Sang Art .


" terima kasih Bu...sering sering aja kayak gini , biar kita makan enak terus " Jawab Nurma sambil tertawa .


Bella dan Nyonya Irma ikut tertawa .


" kamu tahu sudah sejauh mana hubungan Jordi dengan Dila ? " nyonya Irma tiba tiba bertanya .


" Saya Kurang tahu tante " jawab Bella dengan jujur .


" terus terang kalau mengikuti ego berat rasanya melepaskan Dila untuk lelaki lain , tapi tante yakin ini yang terbaik untuk Dila . dan entah kenapa semalam tante bermimpi aneh..." Nyonya Irma berbicara dengan mimik yang sedih .


" tante melihat Jidan terjebak di sebuah jalan dan tidak bisa keluar , apakah dia pernah menjanjikan sesuatu pada seseorang dan belum membayarnya ? " itu yang selalu tante pikirkan " ucap Nyonya Irma dengan sendu .


" kata orang saat kita meninggalkan dunia ini jika masih ada janji yang belum terbayar , maka kita tidak akan menemukan jalan menuju Tuhan " lanjutnya kemudian .


" Jidan Orang baik tante pasti banyak yang mendo'akan untuk kebaikannya " ucap Bella yang melihat wajah sedih nyonya Irma .


" menurutmu apa karena ada yang belum selesai antara Dia dan Dila ? " Tanya Nyonya Irma sambil menatap Isabella .


" maksud Tante ? " Tanya Bella tak mengerti .


" keduanya memegang teguh prinsip masing masing , mungkin di alam sana Jidan menyesal lebih memilih jadi tentara ketimbang Dila . karena Tante tahu Dila juga menyesal tidak bisa menerima Jidan apa adanya , hubungan mereka seperti sesuatu yang belum selesai " ucap Nyonya Irma .


" tante bisa merasakan itulah yang menjadi penyesalan terdalam Dila . membiarkan semua tetap tak jelas hingga maut memisahkan mereka " Nyonya Irma menyeka air mata yang tiba tiba mengalir begitu saja dari kedua matanya .


" Dila yang malang ...perasaan menyesalnya pasti sangat menyiksa hatinya . ia juga tidak akan mampu melangkah maju , namun tidak akan bisa kembali pada masa lalu . penyesalan itu akan terus menghantui langkahnya . akan sulit membuka hatinya " nyonya Irma menyeka air matanya .


Bella beranjak dari duduknya dan menghampiri nyonya Irma , ia menepuk nepuk lembut punggung wanita itu .


" saya yakin keduanya bisa berdamai dengan kenyataan tante ..., Jidan sudah tenang di alamnya , dan Dila pasti cukup dewasa untuk memulai lembaran baru " ucap Isabella mencoba menenangkan Nyonya Irma .


" ya... ya... kamu benar , kamu benar " Ucap nyonya Irma seraya menarik nafas panjang . mereka tidak menyadari Tania yang telah pulang tengah terpaku diam di dekat ruang makan sambil menyimak pembicaraan mereka sejak awal . gadis itu melangkah pelan menaiki satu demi satu anak tangga sambil merenungi ucapan sang mama .


Tania menarik nafas panjang sambil meletakkan tas yang sedari tadi bergantung di pundaknya . gadis itu menutup pintu perlahan lalu duduk di depan sebuah meja belajar . Ia meletakkan wajahnya di atas meja sambil menatap sebuah potret dirinya dan Jidan .


" Aa' ...apa Aa' benar benar telah pergi ? , Kak Dila... Nia tahu dia sering menangis . apakah Aa' tidak kasian . Nia tidak ingin Aa' kehilangan dia....cepatlah kembali sebelum cintanya untuk Kak Jordi makin bersemi . atau Aa' ingin kak Dila membuka lembaran baru ? , apa yang harus Nia lakukan ? " gumamnya sambil membelai potret Jidan yang tersenyum hangat di potret itu .


" apa kita benar benar harus merelakan takdir ini..., " gadis itu kembali bergumam dengan air mata yang mulai menetes dari kedua matanya yang lelah .


*************


~~Di Rumah Sakit ~~


Dila tengah asik menikmati siaran TV yang menayangkan serial Drama Korea terbaru dengan Mak Asih . Suara ketukan di pintu membuat Mak Asih bergegas membuka pintu .


Dila menatap pintu dari ranjangnya , sosok tegap dengan wajah yang familiar tersenyum hangat ke arahnya begitu pintu kamar terbuka .


" Hai.. Dila " Pria itu melambaikan tangan sambil tersenyum .


" Kak Bima...." Ucap Dila dengan senyum Lebar .


Bima melangkah masuk lalu menuju ke ranjangnya , sambil memberikan sebuah bunga hidup kepada Mak asih yang tersenyum ramah .


" aku tidak tahu apa yang boleh kamu makan dan apa yang tidak boleh jadi aku membawa bunga " Ucapnya sambil meraih kursi di dekat ranjangnya .


" Terimakasih sudah datang , dan terimakasih bunganya " ucap Dila . Ia lalu mengenalkan Bima pada Mak Asih .


" bagaimana Sudah lebih baik ? " Tanya Bima setelah basa-basi basi sesaat dengan Mak Asih .


" ya..., mungkin lusa sudah boleh pulang " ucap Dila sambil tersenyum .


keduanya terdiam sambil sesekali menatap ke arah Drama televisi yang sedang tayang .


" masih suka nonton yang begituan ? " tanya Bima sambil tersenyum .


" biar rileks..." jawab Dila sambil tertawa .


" aku baru dapat kabar tadi siang dari Tania , gak sengaja ketemu di depan kampus " Ucap Bima sambil menatap wajah Dila dalam .


" anak anak katanya mau datang besok siang " lanjutnya


" Siapa ? " Tanya Dila .


" Soulmate mu " Jawa Bima sambil tertawa .


" oh....mereka tahu dari mana ? " Tanya Dila sambil membulatkan mata .


" sebenarnya aku tadi mengajak Ivan...dia lagi free lagi di badung juga " jawab Bima dengan tenang .


" padahal aku lagi kangen mereka , syukurlah besok bisa ketemu " Ucap Dila dengan wajah yang bahagia .


Bima merasa senang melihat Dila yang ceria , ia bisa melihat gadis itu bisa melanjutkan hidup setelah apa yang telah ia lalui .


" sekarang lagi sibuk apa kak Bima ? " tanya Dila .


" biasalah..., aku juga sudah lama nggak naik , kapan kapan pergi bareng yuk.." Bima mengerlingkan matanya .


" Tunggu aku Wisuda deh..." jawab Dila sambil tertawa .


" Wah...masih lama dong " Jawab Bima


" Nggak lah....atau akhir tahun ? , Gimana ? " Tanya Dila .


" Ide bagus..kayaknya bakalan seru " sahut Bima . Pemuda itu menatap Dila dengan serius .


" syukurlah kau masih bisa tersenyum seperti itu " ucap Bima setelah keduanya membisu . Dila terdiam mendengar kata kata Bima


" Aku dengar kau dekat dengan seseorang ? " Tanya Bima tiba tiba .


" Siapa ? " Mata Dila membulat mendengar pertanyaannya .


" Jangan berpura pura " ucap Bima sambil tertawa kecil .


" tidak ada siapapun , jangan menyebarkan informasi yang salah " jawab Dila sambil tersenyum .


" Jadi...apa kau....


" Aku masih berharap dia kembali " ucapan Dila membuat Bima terdiam . keduanya membisu untuk waktu yang lama .


" Apa kau bersedia menerima dirinya dengan segala kemungkinan yang ada , jika memang dia kembali ? " Tanya Bima kemudian .


" Dia mungkin cacat , tidak lagi gagah seperti dulu... " ucap Bima kemudian .


" Bagaimana jika itu terjadi ? Kau masih bersedia bersamanya ? " Tanya Bima lagi .

__ADS_1


pembahasan yang tiba tiba itu membuat Dila terdiam sambil menatap wajah lelaki yang menjadi sahabat Terbaik Jidan .


__ADS_2