
Suara kokok ayam jantan yang bersahut sahutan membuat Lilis terjaga dari lelapnya . dengan langkah gontai ia menuju kamar mandi , membersihkan diri dan mengambil air wudhu . Ia keluar kamar mandi dengan wajah segar dini hari itu .
Setelah Shalat subuh , ia memulai aktifitas pagi dengan melakukan lari pagi , meski suasana dingin masih menyelimuti alam di awal pagi itu , ia dengan semangat keluar rumah dengan mengenakan jaket dan celana olahraga . aktivitas itu dulu selalu ia lakukan dengan Dila dan Eyang seminggu tiga kali , namun sejak Eyang meninggal dan Dila pergi ia hanya berlari lari kecil di sekitar Rumah , entah kenapa hari ini ia sangat ingin berlari keluar .
kabut masih sangat tebal , suasana juga masih temaram karena sang surya masih malu malu untuk menampakkan wajahnya di ufuk timur . Lilis berlari lari kecil sambil sesekali menghirup udara pagi dalam dalam . ia terus berlari hingga tiba di sebuah persimpangan setapak , entah kenapa ia memilih jalur setapak yang menuju area persawahan .
Lilis tertegun menatap area persawahan yang terbiar kering dan di penuhi rumput hijau terbentang di dekat sungai kecil yang mengalir jernih ,
" kenapa aku kemari ? " gumam Lilis saat matanya menangkap dua buah bangunan dari kayu yang berjarak beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri . ia pun ingin segera memutar langkahnya , namun tubuh tak sejalan dengan hati . kakinya justru berjalan mendekati bangunan itu .
Kaki Lilis terpaku Di tempat saat melihat sosok Anto yang terbaring di atas Dipan bambu di sudut halaman pondok . dengan langkah pelan ia mendekati sosok yang meringkuk di atasnya .
sosok itu terlihat begitu tenang dan damai , meringkuk dengan nyaman seperti sedang tertidur di atas kasur empuk . Dinginnya pagi seakan tidak menjadi pengganggu tidurnya . lilis hanya mampu tertegun melihat wajah yang baru pertama kali dapat ia nikmati tanpa takut ketahuan .
Alisnya tebal dan rapi , hidungnya mancung , dan bibirnya merah meski ia seorang Pria , mata yang biasanya setajam mata Elang itu kini tengah terpejam dengan rapat , bulu matanya yang tebal juga terlihat lentik untuk ukuran bulu mata seorang Pria , ach.. benar benar sempurna .
" Hem....." suara ******* sang empunya wajah membuat Lilis terkejut .
" mas ...mas Anto...? " panggil lilis pelan , namun yang di panggil seakan tak terganggu .
" Mas...Ach..!!! " Lilis berteriak kaget saat tiba tiba Anto dengan sigap meraih tangannya , membuat gerakan tiba tiba hingga ia kini ia telah berada di bawah tindihan pria itu , terbanting dengan keras ke tanah .
" Ah... maaf " Anto berkata dengan terbata bata setelah keduanya saling pandang dalam keterkejutan . Pria itu segera bangkit dari atas tubuh Lilis yang masih terkejut .
" kau tidak apa apa ?" tanya Anto dengan khawatir sambil mengulurkan tangannya yang kokoh .
sambil meringis menahan sakit Lilis meraih uluran tangannya , tubuhnya terasa sakit terbanting dengan keras , untung ke tanah , jika ke aspal tentu tulangnya sudah patah .
" Maaf ..." ucap Anto sambil menatap Lilis yang terlihat menahan sakit .
" Mas seperti tentara saja bisa menyerang dengan tiba tiba saat sedang tidur " ucap Lilis sambil kesal .
Anto hanya tertawa ringan , ach..tawanya langsung membuat kesal di hati lilis melebur lenyap entah kemana .
" kenapa tidur di luar ? " Tanya Lilis setelah keduanya duduk berdampingan di atas rerumputan yang masih basah oleh embun pagi .
" sepertinya aku ketiduran " jawab Anto setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan .
" kok pagi pagi sudah kesini ? " tanya Anto heran .
" ah...anu kebetulan ingin lari pagi sambil mau lihat kandang kuda " jawab Lilis sambil celingukan .
" oh....silahkan lihat lihat....saya mau ke kamar mandi , kamu sungguh tidak apa apa ? " tanya Anto memastikan .
Lilis hanya menggeleng malu , sambil menahan ngilu di pinggangnya .
" saya tinggal dulu ya " jawab Anto seraya melangkah masuk ke pondok .
" auw...." Lilis bergumam pelan sambil memegang pinggangnya setelah sosok Anto menghilang di balik pintu pondok .
pondok itu berupa bangunan panggung setinggi pinggang tempat tinggal Anto yang di siapkan oleh Dila .
gadis itu berdiri perlahan , mencoba melemaskan otot yang tiba tiba terasa sakit semua .gadis itupun melangkah perlahan mendekati kandang yang telah selesai di bangun yang berjarak kurang lebih dua puluh meter dari tempatnya .
Lilis merasa kagum dengan desain Kandang yang sangat mirip dengan foto kandang kuda yang Dila minta . menurut Dila kandang kuda itu berada di lembang , saat kecil ia sering pergi kesana bersama dengan Eyangnya . kandang kuda milik seorang teman Eyang yang berprofesi sebagai peternak sapi perah dan memiliki beberapa ekor Kuda .
Lilis menatap ke halaman pondok , di lihatnya Anto keluar dari pondok sambil membawa dua cangkir yang mengepulkan asap menandakan berisi air panas . dilihatnya Anto mengacungkan cangkir tinggi tinggi ke arahnya .
' Maaf Tidak punya kopi " Ucap anto sambil menyerahkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap . keduanya Kini tengah duduk berdampingan di atas Dipan bambu di sudut halaman pondok .
" tidak apa apa mas... terima kasih " jawab Lilis sambil tersenyum .
mentari telah bersinar terang , mengusir kabut yang menyelimuti perkampungan tersebut sejak semalam . cahaya hangatnya membuat suasana begitu tentram .
" Gubuknya bagus , dan pondoknya terlihat indah " Lilis berucap pelan .
" selera pemiliknya sangat unik dan indah " jawab Anto dengan santai .
" terus terang saya langsung jatuh cinta begitu melihat gambarnya dari mang kardi " lanjut Anto setelah menghirup beberapa teguk teh dari gelasnya .
" maksudnya ? " tanya Lilis heran .
" jatuh cinta sama model bangunan yang di kirim oleh si Eneng " jawab Anto singkat .
" Ya ...., Kelihatanya selera Dila hampir sama dengan mas Anto " jawab Lilis sambil meniup minumannya .
" neng Dila itu seperti apa orangnya ? " tanya Anto tiba tiba .
" cantik , dan sangat suka berpetualang " jawab Lilis Antusias .
" Hemh...." Anto mengangguk angguk .
" mungkin minggu depan akan pulang , kalian bisa berkenalan " lilis melanjutkan ceritanya tentang Dila sambil sesekali menatap Anto yang tetap terlihat tampan meski baru bangun tidur .
Keduanya saling membisu untuk waktu yang lama , lalu Lilis segera pamiit Dan meninggalkan tempat itu karena hari semakin siang . Gadis itu berlari-lari kecil menelusuri jalan setapak .
Lilis mengumpat dalam hati , bagaimana bisa ia mendatangi seorang pria di pagi buta begini , Ach...ini sungguh bukan dirinya .
langkahnya yang lebar dan cepat membuat ia sampai lebih cepat dari waktu norm , Iapun sampai di rumah setengah jam kemudian
Mang Karman yang tengah duduk di teras belakang sambil menikmati secangkir kopi menatap ke arah Lilis yang tengah kehabisan nafas sambil berjalan gontai .
" Tumben lari keluar lis " ucapnya tak mampu menyembunyikan rasa herannya .
" Lagi pingin aja mang " jawab Lilis sambil melangkah ke dapur .
" Mak Ros kemana mang ? " Tanya Lilis sambil menuangkan segelas air dari water dispenser di dapur .
" Tadi katanya mau cari ikan asin ke warung , oh ya..hari ini aku mau ke Bandung , mungkin akan pulang besok , kamu ada titipan untuk neng Dila..? " Tanya mang Karman .
" Bukannya mau ada urusan ? " Jawab Dila setengah berteriak dari dalam dapur .
" Iyalah...itu urusannya di Bandung " mang Karman terkekeh .
" Ngapain ke sana ? " Tanya Lilis sambil berdiri di pintu .
" Ada pembeli beras baru , kali ini kuotanya lebih banyak " jawab mang Karman dengan wajah gembira .
Lilis berjalan dengan santai lantas duduk di sebelah mang Karman sambil memegang gelas yang berisi air minum .
__ADS_1
" Lis kangen sama emak..." Ucapnya pelan , tiba tiba raut mukanya sedih.
Sebenarnya bukan itu alasannya merasa sedih , tapi entah kenapa sejak pertemuannya dengan Anto tadi pagi dia merasa kesepian sepanjang perjalanan pulang .
" Mau ikut dengan mamang ke Bandung ? " Tanya mang Karman .
" Nggak Ach mang...., Bentar lagi mereka juga pulang " jawabnya .
" Lis....mamang dengar kamu dekat dengan anak baru itu..Saha ....? Si Anto Yang orang Jawa itu ? " Tanya mang Karman tiba tiba .
" Kabar dari mana lagi itu ?" Lilis menarik nafas .
" Yah...kabar burung....., Beneran ? " Kali ini wajah mang Karman serius .
" Nggak tau mang...., Kayaknya dia orang baik " jawab Lilis sambil tertunduk .
" Baru juga kenal....dia belum ada sebulan di kampung kita , harus di selidiki dulu keluarganya . Kapan kapan mamang ngobrol dulu sama dia ...., Kamu mau masuk kandang singa lagi ? " Ucap mang Karman sambil menatapnya .
" Lilis yakin dia orang baik..." Jawab Lilis sambil berlalu .
" Aduh.... sebenarnya seperti apa sih bocah itu...semua orang pada kepincut " desis mang Karman seraya memghirup kopinya .
Lilis hanya terdiam sambil berjalan menuju kamarnya . Entahlah..hatinya begitu terpatri pada sosok yang baru ia jumpai beberapa kali , meski ia sendiri merasa pria itu sepertinya tidak tertarik padanya .
Tapi karena hal itu ia justru makin kagum . Selama ini banyak yang terpikat padanya . Lilis adalah janda muda dengan kehidupan mapan , apalagi kini ia adalah orang kepercayaan Dila . Tentu saja menjadi suaminya akan menjadikan seseorang memiliki kehidupan yang lebih baik .
Tapi sikap biasa Anto padanya , membuat ia percaya Anto adalah sosok yang tidak tertarik untuk memanfaatkan posisi dan keadaannya kini .
Lilis selalu ingat pesan eyang Saka saat masih hidup " carilah lelaki yang bisa mengayomi kamu . Menghormati dan menyayangi kamu , dan yang paling penting orang yang tidak mengincar sesuatu yang kamu miliki . Jangan mau di pandang rendah.., status janda kadang membuat seseorang menganggap kamu orang yang mudah untuk di dapatkan " .lelaki yang sudah ia anggap sebagai Eyang kandungnya sendiri itu selalu menjadi sosok yang menilai orang orang yang mendekatinya .
Ach... seandainya eyang masih ada , ia tidak akan merasa kehilangan Sandaran hidup . Menjadi seorang janda muda , meski semua orang selalu tersenyum dan menundukkan wajahnya padanya ia sadar , jalan pikiran sebagian orang masih saja menganggap rendah seseorang yang berstatus janda .
Lilis menutup pintu kamar rapat , lalu segera membersihkan dirinya ke kamar mandi . Ngilu di pinggulnya membuat ia mengingat peristiwa tadi saat ia terjatuh dan tertindih Tubuh atletis Anto . wajahnya merona membayangkan bagaimana tubuh itu begitu lekat dengan tubuhnya .
Lilis menampar wajahnya sendiri yang memikirkan hal hal vulgar . Ia segera menyelesaikan aktifitasnya , lalu keluar kamar mandi dengan tubuh yang terasa lebih segar . Iapun segera bersiap siap untuk memulai hari ini dengan semangat baru .
*******
Anto tertegun sambil melihat air sungai yang mengalir jernih di hadapannya . Pikirannya kembali mengingat peristiwa barusan saat hampir saja membanting Lilis , refleksnya membuat ia seakan kembali pada sebuah kejadian , sebuah perkelahian .
Benarkah ia seorang yang selelu hidup dalam.kekerasan ? . Benarkah ia seorang Buron ? Pertanyaan itu kembali memenuhi kepalanya .
Pria itu meraih saku celananya , memperhatikan kembali liontin berbentuk hati yang sejak semalam selalu melekat di tubuhnya . dengan pelan Anto kembali membuka liontin itu , menatap foto dua wanita yang ada di dalamnya . Mungkin wanita dalam foto itu bisa membuat ia menyingkap kabut misteri dalam hidupnya .
Perlahan Anto beranjak dari duduknya , melangkah dengan gontai menuju pondok . Beberapa saat kemudian ia telah keluar kembali dengan mengenakan celana jeans lusuh dan kaos longgar . hari ini pabrik sedang libur dan perkebunan juga tidak ada kegiatan , ia memilih untuk pergi membantu om Wira yang akan memanen ikan Nila di kolamnya .
Saat tiba di kolam yang dekat rumahnya , om Wira bersama sang istri tengah menikmati sarapan pagi di tepi kolam bersama dengan Cecep . Bu Ratih , istri om Wira segera mengambilkan sebuah piring untuknya ,. Mereka menikmati sarapan sederhana bersama sebelum memanen ikan .
Selesai sarapan mereka mulai mengeringkan air yang kolam Hanya berukuran 3x2 meter . Setelah air mulai surut dan hanya setinggi betis nampak ikan ikan mulai berenang kesana kemari di antara lumpur di dasar kolam . Cecep segera masuk ke dalam kolam dan mulai menangkap ikan dengan serokan .
Mereka tertawa bersama melihat tingkah bocah remaja tersebut . Anto ikut masuk ke kolam d mulai memanen ikan yang berukuran besar , sedangkan om Wira dan Bu Ratih menjadi pengumpul hasil panen mereka dan meletakkannya di dalam ember besar yang berisi air . mereka menikmati kegiatan tersebut sambil bercanda dan tertawa bersama .
" To..sudahlah....kayaknya sudah habis " seru istri om Wira sambil tersenyum melihat penampilan dua pria beda usia di dalam kolam yang penuh dengan lumpur .
" Ayak keneh Wak...( Masih ada Tante ) " seru Cecep dengan semangat .
" Heeh ..Keun bae' , ulah di panen heula' ( iya biar saja tidak perlu di panen ) " jawab Bu Ratih .
" Sudah Cep..ayo naik " ajak Anto seraya naik ke tepian kolam , namun karena tidak hati hati ia justru terpeleset lumpur dan tergelincir ke dalam kolam .
" Hua..ha..ha..." Cecep tertawa sambil menunjuk ke arah Anto yang tubuhnya kini di penuhi lumpur .
" Djancuk....!!" Umpat Anto seraya bangkit dari jatuhnya dan berjalan menuju pancuran air yang terletak tak jauh dari sana .
Om Wira hanya tersenyum sambil bersantai di pinggiran kolam melihat kejadian tersebut .
Lelaki berumur sekitar empat puluh lima tahun itu , menghisap rokok sambil memandang ke arah Cecep yang masih asyik bermain di dalam kolam .
" Cep.., cepat naik..! " Kali ini Bu Ratih berteriak dengan suara keras .
wanita itu tengah membersihkan beberapa ekor ikan tak jauh dari pancuran air . Cecep yang masih betah bermain air di dalam kolam .
" Iya Wak..." Jawab Cecep dan segera naik dari kolam
Anto melepas pakaiannya yang basah , pemuda itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jeans-nya yang basah setelah membersihkan diri di pancuran . Anto duduk di atas potongan kayu yang di buat kursi di dekat om Wira .
Om Wira menatap tubuh Anto yang terdapat banyak bekas luka , di antara bekas luka itu ada di bagian pinggang .
" Itu bekas kecelakaan kemarin ? " Tanya om Wira sambil menunjuk bekas luka di Perut Anto .
" Iya om..." Jawab Anto sambil tersenyum , ia menuangkan segelas teh manis yang di siapkan Bu Wira .
" Ma..ambilkan bajuku buat ganti Anto.." teriak om Wira pada sang istri .
Sang istri hanya tersenyum dan melangkah menuju rumah yang berjarak beberapa meter dari kolam tersebut sambil membawa ikan yang telah ia bersihkan .
" Ada yang beda dari tubuhmu...? , Tapi apa ya..." Om Wira bergumam sambil memperhatikan tubuh Anto .
" Apa sih om..." Gumam Anto yang merasa risih .
" Rokok..." Om Wira menyodorkan sebungkus rokok ke arahnya , namun pria itu menggeleng singkat .
" Beneran sudah berhenti merokok ? " Om Wira meyakinkan .
Anto mengangguk pasti , ia menatap wajah om Wira yang terlihat tengah berpikir keras .
" Kenapa om...? " Tanyanya lagi .
" Ada yang aneh dengan tubuhmu....tapi apa ya...." Gumamnya sambil menghembuskan asap rokok pelan .
" Pa ini bajunya " ucap sang istri yang tiba tiba muncul .
Om Wira menerima baju tersebut dan menyerahkan pada Anto , sementara Bu Ratih kembali masuk rumah lewat pintu belakang dan sibuk di dapur .
" Nah..pakai ini , mau pamer badan bagusmu itu " ucapnya sambil melemparkan baju tersebut pada Anto .
" Gak di pakai juga gak apa apa To..., Biar bibik bisa cuci mata " ucap Bu Wira sambil tertawa dari dalam dapur .
" Tapi tubuh Anto penuh tanda semua..ya ,ada yang bawaan lahir nggak ? " Bu Wira bertanya , kali ini di barengi dengan suara ulekan yang beradu dengan menandakan Bu Ratih tengah membuat bumbu .
__ADS_1
"Oh....!!! , Iya tanda lahir...seingatku kamu punya tanda lahir di pundak kiri , kok Sekarang tidak ada ? " Memangnya bisa di hilangkan ? " Tanya om Wira sambil menatap wajah Anto yang bingung .
" Tanda lahir apa om..? " Tanya Anto sambil mengernyitkan dahi .
" Di sini dulu waktu kecil ada hitam hitam , lumayan besar hampir selebar ini..," om Wira membuat lingkaran di telapak tangannya .
Deg ! , Anto tertegun mendengar kata kata dari om Wira .
" kamu atau siapa ya....waktu itu kita mandi di sungai rame rame..." Gumam om Wira .
Anto hanya terdiam sambil memakai baju milik om Wira . Ia terdiam dan terus berpikir dalam hati .
" Mungkinkah....jati dirinya kini bukanlah miliknya , itu sebabnya hatinya seakan tidak bisa menerima semua kenyataan yang orang katakan tentang masa lalunya " gumamnya dalam hati .
" Om yakin...? " Anto bertanya dengan serius .
" Sepertinya...tapi aku gak yakin.... kenapa ? " Tanya om Wira .
" Kalau tanda lahir bapak pasti tahu kan om..? " Tanyanya .
" Ya kamu tanya bapakmu ...." Jawab om Wira.
" Sudah siang ayo makan dulu " teriak Bu Ratih dari teras dapur . wanita itu sibuk keluar masuk , menghidangkan hasil kreasinya .
" Aku masih kenyang Wak..." Jawab Cecep yang tengah berdiri di pinggir ember berisi ikan hasil panen .
" Ya terserah kamu saja , sana pulang terus mandi , badanmu bau amis " jawab Bu Ratih .
" Ambil ikan buat mamak di rumah " lanjutnya sembari menyerahkan kantong plastik pada remaja itu .
" Iya Wak.. makasih " jawab bocah itu seraya mengambil beberapa ekor ikan dari dalam ember .
" Aku ambil segini ya Wak..., Terimakasih " ucapnya sambil berlalu dengan membawa satu kantong plastik ikan .
" tunggu dulu..ini. buat makan siang " Bu Ratih kembali muncul dari dapur dengan membawa sebuah kotak yang terbuat dari anyaman bambu .
" apa ini Wak " tanya Cecep .
" ikan pepes " ucap Bu Ratih sambil menyerahkan bingkisan itu pada Cecep .
" makasih..., Cecep pulang ..." ucap Cecep sambil berlari menuju rumahnya yang terletak tak jauh dari rumah Om Wira .
Mereka bertiga menatap kepergian Cecep sambil tersenyum .
" Yuk..To...kita makan ,.." Ajak om Wira seraya bangkit dari duduk santainya .
Anto mengikuti ajakan om Wira , namun pikirannya terus saja memikirkan kata kata om Wira .
" Apa identitasku palsu ? , Apa aku bukan diriku ? " Pertanyaan itu terus berputar putar di kepalanya .
" To... melamun ? " Tanya om Wira setelah mereka duduk di dipan Bambu di teras dapur . Bu Ratih telah menyuguhkan makanan di tempat itu .
" ah.. tidak om.." jawab Anto tenang.
" To..apa benar gosip yg beredar ? , Kamu pacaran dengan Lilis ? " Tanya Bu Ratih sambil menyuguhkan 2 ekor ikan goreng di dipan .
" Berita apa lagi itu ? " Jawab Anto sambil mengernyit .
" Sudah To..kalau memang iya jadikan saja . Biar janda dia masih muda , cantik , terus sudah mapan . " Lanjut Bu Ratih .
" Mama ini ... kenapa ikut campur urusan orang lain " om Wira menatap sang istri .
" Dari pada bingung pa...., Habis Anto selalu jadi bahan gosip " jawab Bu Ratih .
" Wong dia kesini hanya merantau..., Di kampung kami dia pasti sudah punya kekasih ,. Iyakan To....? " Pak Wira menatap wajah Anto yang hanya terdiam dari tadi .
" Ach....ya.." jawab Anto dalam bingungnya .
" Oh...gadis mana yang beruntung itu ? " Tanya Bu Ratih penasaran .
" Aduh...mama sudah sudah..., Ayo makan keburu dingin makanannya " pak Wira segera mengakhiri obrolan mereka .
Bu Ratih hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami , perempuan separuh baya itu melangkah masuk ke dalam rumah .
" Hati hati To...., Kalau mendengar masalah yang kamu hadapi jangan dekat dekat dengan keluarga itu , mereka keluarga militer . Eyang Saka itu punya pengaruh besar , banyak orang sini yang lolos sekolah kepolisian ataupun jadi ABRI Karena bantuannya " ucap om Wira lirih .
" Maksudnya....ya lolos secara profesional ...tidak pernah pakai uang , dia itu sangat di segani " lanjut om Wira karena Anto menatapnya sambil mengernyit .
" Hiduplah dengan tenang..." Om Wira menyendok nadi dari bakul , lalu mulai menikmati masakan sang istri setelah menawarkan makanan pada Anto .
Mereka menikmati makan siang tanpa bersuara , Nila goreng , cah kangkung hangat dan sambal terasi yang di suguhkan Bu Ratih membuat mereka hanya bisa menyantap makanan tanpa berbicara sedikitpun .
Lima belas menit kemudian mereka telah selesai makan , Anto meraih segelas air dingin dari kendi .
" Masakan Bu Ratih memang selalu enak om..." Ucap Anto memuji setelah meminum habis segelas air ..
" Kamu nanti kalau cari istri juga harus yang pandai masak " jawab pak Wira .
" Nanti perutmu akan seperti punyaku " lanjutnya sembari tertawa .
" Emh..om..saya sepertinya harus pergi nih..sudah siap semua kan tinggal nunggu yang pengepul datang ? " Tanya Anto .
" Lha..kalau mau istirahat tidur saja di sini " jawab om Wira .
" Aku harus ganti celana ini om..." Jawab Anto sembari menunjuk celana jeansnya yang basah .
" Oh...ya sudah....makasih ya To...bawa ikan ya buat lauk di pondok , ma...Anto mau pulang .." teriak om Wira pada sang istri yang tengah sibuk di dapur .
Tak lama sang istri datang membawa sebuah bungkusan .
" Pulang sekarang ? , Ini bibik bawakan Nila pepes dan sambal buat makan malam .
" Wah... terimakasih banyak " jawab Anto senang .
" bawa yang mentah To...buat stock lauk " pak Wira bangkit dari duduknya .
" gak perlu om..ini sudah cukup , saya pamit dulu om..mari Bu Assalamualaikum..." ucap Anto seraya berjalan pergi .
" Walaikumsalam..." jawab pak Wira dan Bu Ratih bersamaan .
__ADS_1
Anto melangkah cepat meninggalkan rumah itu , ia ingin segera menanyakan hal yang baru ia ketahui tentang dirinya pada sang ayah .