
Dila terbangun saat hari sudah fajar , dengan lesu ia berjalan ke kamar mandi lalu membersihkan diri . ia kembali menkonsumsi obat pemberian Dokter Prarsetyo setelah siap berkemas .dengan lesu Dila menuruni tangga dan menuju ke lantai bawah , ia bermaksud hendak menemui Tuan Gunawan saat sebuah telepon dari Tuan Aditya menghentikan langkahnya di tangga .
" Assalamualaikum... pagi om " Sapa Dila .
" Walaikumsalam... , Apa kau sibuk ? " Tanya tuan Aditya .
" Tidak... ada apa om...? " Tanya Dila dengan berdebar .
" Mengenai Pria itu..., kami kehilangan jejaknya , tapi sepertinya apa yang kau katakan bisa saja terjadi " Ucap tuan Aditya membuat Dila terduduk di tangga .
" Hanya saja kita perlu bukti test DNA , Dan untuk itu kami harus menemukannya " lanjut Tuan Aditya .
" Dila kau maih di sana ? ! " Tuan Aditya bertanya karena tidak mendengar suara Dila .
" Hemh... " jawab Dila dengan terisak .
" Tapi om ingatkan jangan banyak berharap " Tuan Aditya mengingatkan gadis itu .
" Ya om..." Jawab Dila dengan bahagia .
" om minta kau bersabar dan tetap menyembunyikan hal ini " lanjut Tuan Aditya .
" Dila tahu om ,,," ucap Dila pelan .
" Baiklah... om tutup dulu Dila..assalamualaikum .." Tuan Aditya mengakhiri Teleponnya setelah Dila menjawab salamnya .
Dila duduk di tangga sembari memegang keningnya yang terasa pusing , ulu hatinya juga terasa sakit . dengan terhuyung gadis itu melangkah menuruni tangga , Ia hampir terjatuh namun seseorang meraih tubuhnya dan segera memeluknya . Dila menatap Pria itu sesaat , lalu ia mulai tak sadarkan diri .
Seorang tekhnisi AC yang kebetulan hendak melakukan maintenan rutin mencoba menolong Dila , Ia lalu membaringkan Tubuh gadis itu di Sofa ruang keluarga setelah berteriak minta tolong ,
Pak Nurdin dan beberapa pelayan datang dan mulai panik , mereka segera melarikan Dila ke RS terdekat .
Dila tersadar dari pingsannya , ia menyadari Ia tengah berada di Rs karena gadis itu hafal aromanya . dengan lesu ia menoleh ke arah dua orang yang tengah bercakap cakap di samping ranjang .
Keduanya menghentikan percakapan mereka dan mendekati Dila .
" Apa kau sudah merasa baikan ? " Sapa nyonya Kirana dengan wajah khawatir .
Dila hanya tersenyum mendengar pertanyaan putri dari tuan Gunawan yang selama ini tidak perduli padanya itu .
" Kamu pingsan , kebetulan aku belum pergi ke kantor . Dengarkan kata dokter dan istirahatlah beberapa hari di sini " suara lembut nyonya Kirana membuat Dila membeku .
" Terimakasih Tante..." Gumam Dila menahan haru .
" Halo nona Dila ..saya Dr Panji sahabat nyonya Kirana " sapa seseorang dengan pakaian dokter .
" Halo Dok.. terimakasih.., saya hanya kelelahan biasa " jawab Dila dengan lesu .
Dokter Panji tertawa mendengar ucapan Dila .
" Kita harus memastikan semua baik baik saja , kita akan melakukan MRI ya..." Ucap Dokter Panji .
" Saya sudah melakukan USG dan pemeriksaan darah Beberapa hari yang lalu " ucap Dila . bercerita .
" Oh ya...di mana ? " Tanya nyonya Kirana .
" Rumah sakit Husada " jawab Dila pelan .
" Oh...apa anda sakit beberapa hari ini ? " Tanya dokter Panji .
" Ya....saya sering mual , lalu sering merasa pedih dan sakit di Perut , selain itu saya sering tidak ***** makan " jawab Dila .
" Baiklah kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut ya ..." Ucap sang dokter .
" Tapi Dok..."
" Ikuti saran dokter Dila .." nyonya Kirana memotong bantahan Dila . Dila hanya terdiam sambil memandang keduanya .
Beberapa saat kemudian beberapa perawat datang , ada yang mengambil sampel darah , ada yang langsung memberinya pakaian khusus untuk melakukan MRI .
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan Dila kembali di rawat di sebuah ruangan VIP dan di minta memakai baju pasien .
Dila hanya menuruti semua perintah perawat dengan tidak berdaya . Ia hanya bersandar di bantal dan memainkan ponselnya karena bosan . Pintu kamar di buka Dari luar , Dokter Panji dan nyonya Kirana masuk ke ruangan tersebut , nyonya kirana menghampiri Dila dengan wajah serius .
Dila menatap keduanya bergantian , ekspresi keduanya membuat ia terdiam .
" Dila kami telah melakukan pemeriksaan darah , juga melakukan evaluasi terhadap pemeriksaan sebelumnya...
" Apa yang saya derita ? " Dengan cepat Dila memotong kalimat yang akan di ucapkan oleh sang dokter , ia tahu dokter akan menjelaskan semua hal yang menyangkut kalimat " kedokteran yang malas untuk ia dengar .
" Batu empedu " jawab dokter Panji dengan tenang .
Dila terdiam sambil menatap sang dokter . Ia baru berumur 22 tahun dan dokter menvonis dirinya menderita batu empedu . Selain itu ia juga memiliki gaya hidup sehat , olahraga teratur dan tidak pernah sekalipun merokok atau menkonsumsi alkohol . tapi gadis itu sadar segala hal bisa terjadi atas kehendak yang kuasa .
" Dila..." panggil nyonya Kirana yang berdiri di sampingnya .
" seberapa parah ? " Tanya Dila dengan tenang , tidak ada wajah sedih ataupun takut di matanya .
" belum terlalu parah , tapi yang membuat saya heran adalah bagaimana gejala itu dapat dengan cepat di rasakan oleh tubuhmu , apa selama ini anda terlalu lelah atau terlalu stress ? " tanya dokter Panji .
Dila terdiam sesaat , lalu menatap wajah dokter Panji .
" Apa itu juga memberikan dampak buruk ? " jawab Dila .
" tentu saja .. gaya hidup sehat harus di barengi dengan jalan pikiran yang sehat . selalu berfikir positif , tidur teratur dan yang paling penting adalah hati yang bahagia " sang Dokter berkata dengan senyum manisnya .
Dila terdiam mendengarkan kata kata Dokter Panji . gadis itu kemudian tersenyum getir , " hati yang bahagia " sudah hampir setahun ia tidak memiliki hati seperti itu .
" jadi apa yang harus kita lakukan Dok ? " tanya Nyonya Kirana
__ADS_1
" Untuk saat ini , sebaiknya Nona Dila di rawat di RS hingga kondisinya membaik . lalu sebisa mungkin menghindari stres dan begadang .
" baiklah.... , kamu dengar Dila ? " nyonya Kirana tersenyum ke arah Dila .
" Tolong rahasiakan kejadian ini dari semua orang Tante ....., Katakan pada kakek aku pamit menginap di rumah teman . " Dila menatap Nyonya Kirana .
" Ya... baiklah... istirahatlah , Tante akan mengurus semuanya " nyonya Kirana menyelimuti Dila lalu menepuk lembut punggung gadis itu . Keduanya kemudian meninggalkan kamar tersebut .
Dila terdiam sambil memandang kepergian kedua orang itu . ia takut apa yang menimpanya akan membuat Tuan Gunawan khawatir . Dila dapat merasakan Orang tua itu sangat menyayangi dirinya , begitu juga anggota keluarga yang lain . sebenarnya terlalu ego baginya selalu meminta lebih pada Tuhan . namun itulah manusia selalu merasa kurang dan lupa akan nikmat Tuhan .
*****
Di Sukabumi
" Anto....." Suara seseorang menggema di sebuah sawah yang di keringkan dan hanya berisi rerumputan liar yang sengaja di biarkan .
"Ya pak..." Jawab seorang pemuda yang tengah berada di atap sebuah bangunan yang terbuat dari kayu yang hampir selesai di bangun . ada beberapa pekerja lainnya yang berada bersama dengan dirinya .
" Turunlah...., Biarkan yang lain bekerja menggantikan kamu , " perintah seseorang dari bawah .
" Baiklah " pemuda itu yang tak lain adalah Purwanto segera turun dari atap yang terbuat dari ilalang .
Ia segera menghampiri mang Kardi mandor perkebunan yang merupakan orang kepercayaan mang Karman yang katanya adalah tangan kanan Eneng , cucu orang terkaya di kampung tersebut .
" Bapak bilang kudanya akan datang besok , apakah bisa siap tempatnya ? " Tanya mang Kardi .
" Sudah pak...kan hanya dua ekor , ini tinggal pasang atap " jawab Purwanto .
" Ya baiklah...oh ya nanti sore datang ke rumah eyang , neng Lilis ingin bicara katanya " ucap mang Kardi kemudian .
" baik pak..." Jawab Anto .
" Ya sudah..kalian kerja baik baik ya , oh ya gubukmu juga sudah selesai ? , apakah Tidak apa apa tinggal sendirian di sini ? " Tanya mang Kardi .
" Rumah yang di buatkan nyaman pak..tidak apa apa..toh saya masih bisa menikmati listrik dari panel Surya , dan lagi tidak terlalu jauh dari kampung " jawab Anto dengan senyum .
" Ya sudah kalau begitu . padahal kamu juga bisa tinggal di rumah pabrik dengan yang lain , kenapa malah memilih tinggal di sini ? , Aku pergi dulu kami harus memanen jeruk di ujung sana " ucap mang Kardi seraya melangkah meninggalkan mereka .
" Kang...di panggil neng Lilis ? " Tanya seorang pekerja lainnya . Yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Anto .
" Coba aja kang di senyumin , siapa tahu ke sem Sem sama akang , biar janda kalau di lihat neng Lilis manis juga , selain itu dia juga orang kepercayaan si Eneng " ucap Cecep menyahut .
" Kalian ini sayang wajah ganteng gitu buat Lilis , ku rasa si Eneng lebih pantas " sahut Arif yang sudah punya dua anak meski baru berumur 23 tahun , konon dulu dia adalah teman sekelas si Eneng saat masih SMP .
Anto hanya menggeleng gelengkan kepalanya mendengar obrolan mereka .
sudah satu Minggu ia bekerja sebagai buruh di perkebunan jeruk itu , banyak cerita tentang putri cantik yang jadi idola banyak pemuda di kampung itu . Namun tentu saja para pemuja itu hanya bisa menatap dari jauh si Eneng yang di katakan sangat cantik itu . bak punguk yang merindukan rembulan ,
Kebaikan hatinya yang tak jauh berbeda dengan sang kakek menjadi buah bibir para penduduk yang sangat mengagumi dirinya . Dan kecantikan yang ia punya menjadi idola bagi para pemuda , bahkan yang sudah kuliah atau pernah ke kota berkata bahwa kecantikan si eneng tidak kalah dengan gadis kota . seorang dokter magang di puskesmas katanya juga suka pada gadis itu namun akhirnya ia harus patah hati . Seperti apa sebenarnya wanita itu ? , Kadang ia juga penasaran .
Selain itu orang orang juga mulai menyukai dirinya , banyak gadis yang bahkan mulai mendekati dirinya . Ada beberapa pemuda yang juga iri akan ketampanan yang ia miliki yang katanya milik orang kota .
Itulah sebabnya ia memilih sedikit menjauh dan tidak ingin terlalu akrab dengan para pekerja di sana dan berencana meninggalkan kampung itu setelah memiliki cukup uang . Ia ingin menggali masa lalu yang ia lupakan selama ini dan mencari jawaban dari mimpi mimpi buruknya .
Anto kembali melanjutkan pekerjaannya , dalam seminggu sebuah kandang kuda berhasil di bangun dengan apik , dan sebuah pondok di buatkan untuknya oleh mang Karman . letaknya tak jauh dari area persawahan dan perkebunan milik keluarga yang memiliki banyak tanah dan sawah di kampung itu .
Si Eneng ingin memiliki kuda , dan ia di beri pekerjaan untuk merawat kuda kuda tersebut . sang empunya sedang berada di Bandung dan hanya kembali dua Minggu sekali atau saat liburan .
Tak terasa pekerjaan mereka sudah selesai , para pekerja memilih untuk pulang ke rumah pekerja yang di sediakan oleh perkebunan atau kembali ke rumah pribadi masing masing . Sementara Anto memilih untuk kembali ke pondok yang telah ia isi dengan barang seadanya pemberian sahabat sang ayah .
Anto membersihkan diri di sungai yang jernih , lalu kembali ke pondok untuk berganti pakaian , ia ingin menemui neng Lilis karena mang kardi telah menyuruhnya .
katika dalam perjalanan menuju rumah juragan , Anto melihat sebuah mobil sedang mogok di jalanan sepi karena berada di tengah tengah persawahan . Anto menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis tengah berusaha memperbaiki mobil tersebut .
" Maaf teh...apa mobilnya mogok ? " Tanya Anto sopan .
" Iya.." jawab wanita itu tanpa menoleh .
" Boleh saya bantu " Anto menawarkan diri .
Gadis itu memalingkan wajahnya , ia menatap wajah Anto lalu termangu sesaat . Anto sering melihat hal itu beberapa kali jika bertemu dengan wanita jadi Ia tidak merasa heran lagi .
" Oh..ya mangga..." Ucap wanita itu .
Anto membuka kap mobil dan mulai memeriksa mesin mobil yang sudah berumur tapi terlihat terawat itu . setelah memastikan beberapa hal ia meminta sang pemilik untuk menghidupkan mesin mobilnya . Dan mobil pun bisa hidup kembali .
Wanita itu keluar dariu mobil dan mengucapkan terima kasih . Anto hanya mengangguk sambil kembali menutup kap mobil .
" Akang bukan orang sini ? " Tanya wanita itu sambil menatapnya .
" Ya ...saya dari Jawa " jawab Anto .
" Pantas saya tidak pernah lihat ..saya Lilis.." wanita itu mengulurkan tangannya .
" Oh..ibu Lilis bendahara pabrik ? " Tanya Anto dan di jawab anggukan oleh gadis itu .
" Saya Anto...calon pengurus kuda Bu " Anto menerima uluran tangan Lilis dengan hangat .
" Oh... kebetulan sekali , apa hendak kerumah ? hayuk naik mobil saya aja " Lilis menawarkan tumpangan .
" Kalau begitu biar saya yang menyetir " ucap Anto seraya Membukakan pintu untuk Lilis . Keduanya memutuskan untuk berkendara bersama menuju rumah .
Dengan tenang Anto mengemudikan mobil menuju rumah eyang Saka . Sepanjang perjalanan beberapa kali pemilik mobil yang tak lain adalah Lilis mencuri pandang ke arahnya .
Mereka memasuki halaman rumah termewah di kampung itu . Halaman yang luas dan asri . Lilis meminta Anto menunggunya di teras rumah , sementara wanita itu masuk ke dalam .
Anto duduk di kursi rotan teras rumah itu sambil memandang halaman , entah kenapa ia merasa tidak asing dengan tempat itu .
Tak berapa lama Lilis sudah keluar dengan membawa dua cangkir kopi dan sepiring cemilan . Anto berdiri dari duduknya , ia kembali duduk setelah Lilis mempersilahkan dirinya duduk .
__ADS_1
" Jadi saya mau membicarakan masalah gaji..Eneng tanya akang mau minta berapa satu bulan , katanya mengurus kuda tidak gampang " Lilis memulai percakapan .
" Oh..untuk itu ibu bisa bertanya pada yang biasa , selain itu apa boleh saya juga tetap bekerja sebagai pemetik jeruk ? Atau apa saja , terus terang saya butuh dana " ucap Anto .
" Apa tidak menganggu pekerjaan merawat kuda ? " Tanya Lilis .
" Tentu saja itu akan saya lakukan setelah melihat perkembangan kudanya dulu. Bu.." jawab Anto .
" Sebenarnya ada pekerjaan lepas sebagai buruh angkat saat ada pengiriman di pabrik padi , nanti saya akan bicarakan pada mang Kardi . Dan panggil saja saya Lilis , silahkan di minum kopinya " Lilis menawarkan minuman yang ia hidangkan .
" Terimakasih..." Anto meminum kopi tersebut .
" Boleh minta no Wanya , nanti saya kasih kabar mengenai gaji lewat wa.." ucap Lilis .
" Saya tidak punya handphone " Jawab Anto sambil tersenyum segan .
" Oh.. seharusnya punya , jadi kalau masalah kuda saya juga kurang mengerti hal itu nanti langsung sama Eneng " ucap Lilis .
" Sebentar ya..." Lilis berucap sambil masuk ke dalam rumah . Beberapa saat kemudian ia telah kembali dengan membawa sebuah kotak handphone .
" Ini sebenarnya masih bisa di pakai ..tapi Eneng Kemarin kasih saya hadiah yang lebih bagus jadi saya tidak memakainya lagi . kamu pakai ini , dan ini no saya , setelah beli no perdana tolong hubungi saya " ucap Lilis sambil menyerahkan hanfdphone bekas miliknya itu pada Anto .
" Terimakasih Lis tapi saya tidak bisa...
" Anggap saja fasilitas dari kami " Lilis memotong perkataan Anto .
" Baiklah..sudah gelap saya harus pulang , terimakasih untuk semuanya " ucap Anto seraya pamit .
Lilis menatap kepergian pria itu , meski tidak begitu terlihat ada yang berbeda dari cara berjalan pria itu , sepertinya ia pernah mengalami cedera kaki .
Lilis tersenyum melihat kepergian pemuda tampan itu , belum pernah ia melihat wajah setampan itu di kampung ini . Sejak melihatnya pertama kali ia begitu kagum dengan wajah itu , dadanya tadi sempat bergetar hebat melihat wajah itu tersenyum padanya .
" Itu orang cakepnya kebangetan " gumam Lilis sambil tersenyum senyum sendiri . Wanita itu lalu merapikan cangkir dan piring yang tadi ia bawa . Dengan langkah ringan ia membawanya kembali ke dapur .
" Naha maneh senyum senyum sorangan ? " Pertanyaan Mak asih mengagetkan Lilis .
" Ish...emak mah bikin kaget aja ? " Lilis yang hampir menjatuhkan nampan yang ia bawa berjalan dengan cepat menuju dish wash lalu mulai mencuci cangkir kotor dan beberapa piring yang tergeletak di sana .
" Dila bilang akan Pulang beberapa hari lagi , tapi suaranya aneh... sepertinya dia sedang ada masalah " ucap Mak asih membuat Lilis menghentikan kegiatannya .
" terus terang Lilis juga khawatir pada Dila , dia terlihat kurus dan suka murung . Bukankah lebih baik dia istirahat dulu di rumah jadi kita bisa mengawasinya " ucap Lilis .
" Entahlah..Mak juga kadang kasihan pada anak itu . Tapi kita ini cuma orang kecil kalau terlalu banyak bicara nanti di kira ada niat lain . Selain itu Mak lihat tuan Jordi dan keluarga itu sangat sayang pada Dila.." Mak asih berkata sambil menatap halaman belakang .
" Kenapa keluarga itu tidak menikahkan mereka ? , Apa karena kita kurang kaya . Lilis yakin sebenarnya eyang sangat kaya . Tabungan yang Lilis kelola saja sangat banyak , belum lagi keuntungan bersih yang Lilis setorkan ke deposito Dila setiap bulan .." Ucap Lilis .
" Kamu itu bodoh atau lupa..kekayaan keluarga itu berlipat lipat , dan lagi kurasa bukan itu alasannya " ucap mak asih
" lalu ...? " tanya Lilis heran .
" sebenarnya dulu mereka sudah sepakat bahwa cucu dari anak pertama Tuan Gunawan yang akan menikahi Dila , kurasa mereka sekarang bingung . apalagi setelah tahu bahwa Dila dan tuan Jidan sudah pernah pacaran . tapi....emak heran dulu ada seorang pemuda kemari dua kali dan mencari Dila apa pemuda itu Tuan Jidan ? memang sih orangnya sangat tampan . " mak Asih bercerita sambil berjalan pergi .
lilis hanya menarik nafas panjang , sebenarnya setampan apa si Jidan itu hingga membuat Dila patah hati ? . ia tahu Dila adalah gadis yang sangat sulit untuk jatuh Cinta . entahlah....sejak Dila berkuliah dia memang sudah tidak begitu dekat dengan Dila .
suara telp dari Dila membuat Lilis berhenti berfikir , ia segera menerima panggilan itu ,
" Halo... Assalamualaikum ..." ucap Lilis menjawab panggilan itu .
" walaikumsalam .., kau sedang apa ? " Suara Dila terdengar serak .
" sedang menghitung uang seseorang " jawab Lilis sambil tertawa .
Dila ikut tertawa . ia lalu menghela nafas panjang , nafasnya terdengar berat .
" aku akan cuti beberapa hari dan istirahat di rumah " ucap Dila .
" Baiklah aku akan siapkan kamarmu " jawab Lilis .
" bukan sekarang , nanti aku kabari . aku hanya ingin menyapamu .., kau sudah cari pembantu ? Biarkan mak Istirahat " Ucap Dila .
" Tuan Rumah tidak ada di sini untuk apa kami cari pembantu " Jawab Lilis .
" cepatlah menikah lalu pulang , urus rumah ini aku tidak ingin selamanya menjadi pengurus rumah ini " Lilis berceloteh .
" tunggu saatnya..." jawab Dila singkat .
" oh ya mengenai pengurus Kuda itu ..Dia meminta kita memberinya gaji yang pantas dan tidak memasang harga " Ucap lilis .
" bukankah mang karman pergi ke peternakan kuda itu ? , kau suruh dia bertanya berapa upah pekerja mereka . kita bisa menjadikannya patokan " Jawab Dila .
" Kau sudah bertemu denganya ? " Tanya Dila
" Ya ..." Jawab Lilis .
" Dia sangat tampan " Ucap lilis dengan genit .
" Jadikan saja suamimu " Dila meledeknya .
" Yakin....kau tidak mau ? " Lilis menggodanya .
" benarkah..? , kalau begitu aku akan menggodanya saat pulang " jawab Dila seraya tertawa .
" Kau sungguh baik baik saja ? " tanya Lilis yang mendengar Suara Dila yang tampak sedang berusaha untuk terlihat baik baik saja .
" sebenarnya tidak ...aku tidak baik baik saja " Suara Dila terdengar bergetar
" Akan aku ceritakan saat aku pulang . Sudah dulu ya , aku mau istirahat . assalamualaikum " Ucap Dila mengakhiri pembicaraan mereka .
" Walaikum salam " Lilis segera mematikan panggilan itu , ia sangat mengenal Dila ia tahu sahabatnya itu sedang ada masalah . gadis itupun segera menghubungi Jordi untuk menanyakan keadaan Dila .
__ADS_1