Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
52.Pertemuan menyakitkan


__ADS_3

Dila berjalan menyusuri jalanan kecil di area resort setelah makan siang , gadis itu mengenakan sepatu sport dan celana legging serta kaos olahraga .Ia tidak menghiraukan ajakan Lilis dan Isabella untuk pergi ke perkebunan strawberry . Gadis itu masih penasaran dengan pemuda yang tadi ia temui . Dengan menyelinap dari keluarganya ia berhasil keluar villa dengan sembunyi-sembunyi .


Dila menyusuri jalanan yang tadi di lalui pemuda itu , hingga ia menemukan area perkebunan warga , nampak tanaman sayur mayur di area yang di kelola warga . Dila menghampiri seorang petani wanita yang tengah beristirahat makan siang dengan suaminya di sebuah pondok .


" Selamat siang pak..." Sapa Dila sambil tersenyum ramah .


" Siang nona " petani itu tersenyum ramah .


" Maaf Bapak yang punya kebun ini ? " Tanya Dila .


" Bukan..tanah ini sebenarnya masih milik resort , tapi pemiliknya membolehkan kami mengelola tanahnya untuk di tanami sayuran " jawab pak tani itu dengan ramah .


" Oh..." Jawab Dila sambil tersenyum manis .


" Non kesasar ya ? ( nona tersesat ? ) " Tanya petani itu .


" Ah tidak....saya hanya berjalan jalan . Bapak siapa namanya ? " Tanya Dila mencoba akrab dengan mereka .


" Saya Sukirno dan ini istri saya sukinem " jawab petani itu ramah .


" Saya Dila..., Saya menginap di villa di atas " ucap Dila .


" Oh...orang kota ya non ? " Tanya istri petani itu dengan polos .


Dila hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu .


" Mari ikut makan non...! " Sang petani menawarkan makanannya .


" Terimakasih lanjutkan Bu.., saya sebenarnya mencari seseorang " ucap Dila sambil menatap keduanya .


" Tadi kuda yang saya tunggangi lepas , lalu ada lelaki yang mengembalikannya , saya belum mengucapkan terimakasih kepada dia " ucap Dila sambil tersenyum .


" Oh..itu mas Anto..."


Ibu Sukinem tidak melanjutkan ucapannya saat sang suami menyentuh lengannya .


" Anu non..itu orangnya sebenarnya kurang satu ons " pak karman memotong perkataan istrinya .


Dila mengernyitkan dahi karena tidak mengerti ucapan pak Karman .


" Maksudnya kurang waras gitu.." sang istri menjelaskan .


" Oh..bapak kenal ? " Tanya Dila .


Keduanya terdiam sambil saling pandang .


" Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih , kalau bukan karena dia saya harus ganti rugi ratusan juta ke resort " ucap Dila berbohong , ia melihat keraguan di mata keduanya .


" Emh...oh.. ladangnya ada di tepi sungai itu , susuri saja sungainya , nanti ada pohon tebu , di situ ladangnya " Bu Sukinem akhirnya bicara setelah ragu Beberapa saat .


" Oh terimakasih banyak " ucap Dila dengan senang . Setelah pamit pada keduanya ia bergegas menyusuri tepian sungai kecil berair jernih tersebut .


Setelah berjalan sekitar lima belas menit ia menemukan deretan pohon tebu di pinggir sungai , Dila melihat sekeliling tempat itu lalu ia melihat seorang lelaki tua dan seorang remaja lelaki Tengah berada di kebun sayur . Sebuah pondok kecil berdiri di sana .


Dengan hati hati Dila menuju pondok itu dan menyapa remaja yang tengah asik memanen cabe di dekat pondok .


" Selamat siang dik..." Sapa Dila .


" Siang..." Jawab remaja itu sambil menatap kagum ke arah Dila .


" Apa adik sedang sibuk ? " Tanya Dila dengan wajah ramah .


Remaja itu menggeleng sambil terus menatap wajah cantik di depannya . Sang ayah yang tengah asik menyiangi rumput memandang mereka dari jauh dan segera berjalan ke arahnya .


" Halo..." Sapa lelaki tua itu dengan ramah .


" Halo pak..., Emh Bapak yang punya kebun ? " Tanya Dila sambil melihat sekeliling .


" Iya non..maksud saya saya yang mengelola tanah ini " lelaki itu menjelaskan .

__ADS_1


" Hem..., Tanamannya subur subur ya pak " Dila berbasa basi sambil mencari sosok yang tadi ia temui .


" Ya .. Alhamdulillah , nona sedang jalan jalan atau tersesat ini ? " Tanya Bapak itu ramah .


" Oh saya sedang jalan jalan , penasaran tempat ini terlihat indah dari atas " jawan Dila .


" Saya boleh numpang istirahat di sini ya pak? " Tanya Dila .


" Oh ya Monggo monggo silahkan " ucap lelaki itu ramah .


Dila duduk di pondok dengan lantai yang beralaskan potongan bambu sebagai lantai nya , ia memandang ke sekelilingnya .


" Saya tinggal kerja dulu ya non " ucap lelaki itu .


" Ya pak... silahkan " Dila menjawab ramah .


Laki laki itu kembali menyiangi rumput yang tumbuh di antara pohon cabe yang masih kecil .


Dila menatap lelaki itu dari kejauhan , sesekali matanya memandang sekeliling , mencoba mencari sosok yang tadi membuat hatinya berdesir hebat .


Angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat Dila mengantuk . Dengan malas ia menyandarkan kepalanya di tiang pondok sambil menatap remaja lelaki yang terus menerus melihatnya . Dila menguap beberapa kali .


Dila melihat remaja itu mirip dengan Jidan , sebenarnya bukan hanya remaja lelaki itu , Jordi juga memiliki wajah yang mirip dengan Jidan jika di lihat sekilas . Itu sebabnya ia terkadang merasa bersama Jidan jika bersama dengan Jordi .


Rasa nyaman membuat mata Dila menjadi berat , hingga tanpa sadar ia tertidur dengan bersandar pada tiang pondok .


Setengah jam kemudian sebuah motor butut tiba , suaranya yang keras membuat Dila terbangun dari tidurnya .


Gadis itu beranjak dari duduknya begitu melihat sebuah wajah yang tengah turun dari motor butut itu .


Pemuda itu terdiam sesaat sambil menatap Dila yang juga tengah berdiri sambil menatap dirinya .


Dengan langkah pelan pemuda itu berjalan ke pondok . Dila melihat lelaki itu dari ujung rambut hingga kaki . Sementara pemuda itu merasa heran wanita cantik yang telah bersuami itu mencari dirinya hingga ke tempat itu .


" Nona..ada perlu apa kemari ? " Tanya pemuda itu dengan datar setelah mereka sangat dekat .


Dila terdiam sesaat sambil menatap mata di wajah itu , mata yang sama tapi dengan tatapan berbeda . Benarkah ia yang terlalu berharap atau takdir yang tengah mempermainkan dirinya .


Ada rasa perih yang menyayat hati Dila menerima tatapan datar dari pria di depannya .


" Jika anda kemari ingin mengucapkan terima kasih itu tidak perlu , saya hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan " ucap pemuda itu dengan suara dingin .


Dila tertunduk , mencoba menahan tangisnya yang ingin pecah .


" Emh...aku ingin minta maaf " ucap Dila setelah menarik nafas panjang , mencoba mengontrol emosi di dalam dirinya .


" Karena anda mengira saya suami anda ? " Pertanyaan pria itu membuat mata Dila membulat .


" Ayah anda bercerita sedikit tadi " ucap pemuda itu .


Dila terdiam , tuan Aditya pasti telah berbohong untuk alasan tertentu .


" Syukurlah kalau kamu mengetahui hal itu . Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian tadi " ucap Dila mencoba menutupi maksud kedatangannya .


Pemuda itu hanya mengangguk tanpa berkata apapun .


" Apa kau orang daerah ini ? " Tanya Dila sambil menatap wajah di depannya .


" Kenalkan saya Anto ..Purwanto saya asli warga sini " lelaki itu mengulurkan tangannya .


" Wulandari Ratnadila " ucap Dila sambil menerima uluran tangan lelaki itu . Matanya menatap wajah laki laki itu untuk melihat reaksinya , ia sengaja menyebutkan nama lengkapnya .


Purwanto tertegun sejenak mendengar perkataan Dila , ia menatap wajah Dila dengan seksama . Tangan mereka saling menggenggam untuk beberapa saat , kemudian lelaki itu melepaskan tangannya .


" Maaf apa anda ada keperluan lain ? " Tanya lelaki itu sesaat kemudian .


" Kami sedang bekerja " lanjutnya .


" Oh ..maaf aku telah mengganggu , sekali lagi terimakasih atas pertolonganmu " ucap Dila seraya pamit .

__ADS_1


Dengan langkah berat Dila meninggalkan tempat itu , air matanya tak lagi tertahan saat melangkah pergi . Setelah berjalan beberapa meter ia kembali menoleh ke belakang , dilihatnya pemuda itu tengah asik Bekerja sambil berbincang bincang dengan sang adik .


Dila mencoba tegar , ia mengusap air matanya dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Villa . Pertemuan itu sungguh membuat hati dan perasaannya serasa di aduk aduk hingga menimbulkan rasa ngilu . Ia ingin menangis sekuat-kuatnya untuk menumpahkan sesak yang menghimpit dadanya .


☀️☀️☀️☀️☀️


Sementara itu Purwanto tengah asik berbincang bincang dengan adikya .


" Mas perempuan tadi cantik ya mas , kulitnya putih seperti artis Korea , dan wajahnya cantik seperti Laudya Chintya Bella " ucap sang adik .


" Kamu masih kecil sudah tahu wanita cantik " ejek Anto menjawab pernyataan Paryono .


" Lho aku ni sudah sunat lho mas , ya tahulah kalau cuma wanita cantik , wong aku ya sudah punya pacar " jawab sang adik .


" Jangan jangan dia naksir mas Anto " lanjut sang adik sambil tertawa .


" Ada ada saja kamu , Dia sudah punya suami " ucap Anto .


" Lha wong wes nduwe lanangan kok masih cari lagi " ( perempuan yang sudah punya suami kok masih mencari yang lain ) " sahut sang ayah yang mendengar percakapan mereka .


" Perempuan apa seperti itu , cantik cantik nggak ada akhlak " lanjutnya .


" Bukan begitu pak.. mungkin suaminya meninggal , saya rasa wajahnya mirip saya " sahut Purwanto .


" Ho oh lho pak , kenapa sih mas Anto sangat tampan kalau mas Anto putih pasti nggak kalah sama artis artis yang di tv itu pak " sahut sang adik .


" Ya iyalah bapaknya aja seperti Roy Marten " sahut sang ayah sambil tertawa .


" Lha aku mirip siapa pak ? " Tanya Paryono .


" Kamu...kamu mirip sama Dodit Mulyadi " jawab sang ayah sambil tertawa terbahak bahak .


" Kalau gitu bapak Indro Warkop " sahut Puryono jengkel .


" Lho Dodit itu ganteng lho le...( Dodit kan tampan nak ) " sahut sang ayah sambil terkekeh .


" Iya tapi ndeso " sahut Puryono .


" Lha kita juga ndeso kok ngaku Kuto ( kita memang orang desa jangan mengaku sebagai orang kota ) " sahut sang ayah .


" Lha mas Anto mirip Joy Taslim , bapak Roy Marten , aku kok di samakan dengan Dodit itu kan Tidak adil " protes Puryono . Purwanto hanya tersenyum mendengar perdebatan keduanya .


" Ya sudah kamu mirip sama Raffi Ahmad " ucap sang ayah sambil terkekeh geli .


Purwanto hanya diam . Sesungguhnya hatinya merasa terusik dengan hal lain . Percakapan dengan wanita kota tadi mengusik kepalanya . Entah kenapa saat ia menyebutkan namanya , ia merasa begitu akrab dengan nama itu . Dan tatapan gadis itu ia seakan pernah melihat tatapan itu sebelumnya .


" Argh..." Perwanto mengerang kesakitan .


" Kamu kenapa mas " tanya sang adik khawatir .


" kepalaku tiba tiba sakit " jawab Anto sambil memegang kepalanya .


Sang ayah menghampiri mereka dan melihat keadaannya .


" Sudah lama tidak sakit kok kambuh lagi , kita harus cepat cepat tempat Simbah " ucap sang ayah .


" Kamu istirahat dulu di pondok" ucapnya sambil meraih ember tempat hasil panen cabe .


Pemuda itu segera meninggalkan hasil panennya dan berjalan dengan lesu menuju pondok ,. Ia berbaring di dipan bambu setinggi lutut yang menjadi alas di pondok ladangnya .


☀️☀️☀️☀️☀️


Di sebuah pohon rindang di area resort Dila tengah duduk sambil menangis tersedu . Ia menumpahkan semua perih yang menghimpit dadanya .


" Apa arti dari semua ini Tuhan.." gumamnya sambil terisak-isak .


Ia sungguh bingung dengan apa yang baru saja terjadi . Seharusnya ia merasa gembira namun sikap lelaki itu justru membuat ia bertambah sakit . Benarkah ia hanya orang Asing yang memiliki wajah yang sama . Kenapa hatinya bersikukuh bahwa lelaki itu adalah Jidan . Pertentangan di kepalanya sungguh membuat ia merasa sangat frustasi .


Setelah puas menangis Dila kembali ke Villa dengan diam diam . Ia menghindari bertemu dengan seseorang yang mengenal dirinya .

__ADS_1


Dila malas untuk menjelaskan keadaan yang pasti terlihat tidak baik baik saja . Gadis itu langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam .


__ADS_2