Sayembara Cinta

Sayembara Cinta
34 . sunset dan sunrise hatimu


__ADS_3

Pesawat yang Membawa Dila dan rombongannya mendarat dengan selamat di bandar udara internasional Pattimura Ambon . Mereka tiba pukul 22: 30 WIT.


Perbedaan waktu membuat mereka tiba di sana hampir tengah malam .


Rombongan tersebut segera menuju penginapan di kota Ambon yang telah mereka pesan , mereka semua memilih langsung beristirahat di kamar masing masing , karna mereka harus bangun pagi untuk memulai perjalanan panjang mereka .


Pagi hari Dila dan team sudah bangun . Mereka sarapan sekedarnya . Setelah itu mereka segera memulai perjalanan dengan menggunakan angkot sewaan , menuju pelabuhan Tulehu , tidak lupa Ivan dan Rafi yang memimpin perjalanan itu mengecek semua kebutuhan mereka . Mereka di bantu seorang kenalan di Ambon yang sering menjadi pemandu untuk pendakian Binaiya .


Perjalanan dengan angkot itu menjadi perjalanan pertama Dila di luar pulau Jawa . Pemandangan indah sepanjang perjalanan membuat gadis itu melupakan sedikit kesedihannya .


Mereka tiba di pelabuhan telehu setelah perjalanan lebih dari satu jam . Setelah membeli tiket kapal cepat menuju pelabuhan Amahai di kota Misohi pulau seram . Mereka berangkat pukul sembilan lewat dari pelabuhan tersebut .


Sesampainya di kota Misohi mereka langsung tancap gas menuju Balai taman nasional Manusela , yang merupakan pengelola taman nasional untuk melakukan proses pendaftaran dan mendapatkan simaksi . Untunglah semalam Dila langsung meminta surat keterangan sehat di sebuah RS di Ambon hingga proses yang mereka lalui tidak terlalu lama karena rencana Dila yang mendadak .


Setelah istirahat makan siang rombongan itu melanjutkan perjalanan menuju desa Piliana menggunakan mobil sewaan .


Desa Piliana adalah titik awal pendakian gunung Binaiya melalui jalur selatan .


Sambutan hangat di terima oleh rombongan itu di rumah kepala desa yang juga kepala adat di sana pada sore hari . Setelah melakukan upacara adat dan makan malam mereka segera beristirahat .


Dila keluar ke halaman home stay tempatnya menginap . Dilihatnya Sarah , pendaki dari Jerman dan sang kekasih tengah asik menatap bintang .


" Hai Dila.." sapa Sarah .


" Hai.." jawab Dila ragu , karena ia memang tidak pandai bahasa asing .


" You can't sleep ? " Tanya Sarah .


" Yea..." Jawab Dila seraya berjalan ke kursi kayu di dekat mereka .


" What do you see ? , Are you look at the stars ? " Tanya Dila seraya duduk di dekat mereka .( Maaf ya readers sayang jika ada bahasa Inggris yang salah 😊, authornya gadungan soalnya 🤭🤭).


" Yes we are...look they are so beautiful " jawab Sarah sambil memeluk Jonathan sang kekasih .


Dila menengadah ke langit , cuaca cerah malam itu dan suasana gelap tanpa penerangan listrik di sekitarnya membuat kerlipan bintang bintang di atas sana nampak bersinar terang .


" Look baby.. that star shines like a diamonds " bisik Jonathan pada Sarah .


" Kamu bersinar seperti permata " tiba tiba saja kata kata Jidan di alun alun Surya kencana terngiang di telinga Dila .


gadis itu menarik nafas panjang lalu beranjak dari duduknya .


" Sorry friends i have to go sleep first " ucap Dila sembari berjalan masuk ke dalam .


Hari memang telah malam , Sarah dan. Jonathan juga ikut masuk , mereka harus bangun pagi untuk memulai pendakian esok hari .


Pagi hari di temani dua warga desa Piliana yang menjadi Guide pendakian rombongan itu memulai perjalanan menuju pos satu bernama Yamhitala .


Sepanjang perjalanan mereka di suguhi dengan pemandangan pohon sagu , coklat juga pohon pohon berduri , serta pohon perkebunan seperti pala dan coklat .


Aroma pohon dan segarnya udara di sekitarnya membuat mood Dila berubah . gadis itu mulai ceria , ia bahkan bercanda dengan Ivan dan pendaki lain .


Mereka semua tiba di pos yamhitala tengah hari . Setelah makan siang dan beristirahat sebentar mereka melanjutkan perjalanan ke pos kedua bernama Aimoto .

__ADS_1


Perjalanan menuju pos Aimoto lumayan berat apalagi bagi Dila yang sudah setahun tak naik gunung , Medan yang naik turun , juga tanaman berduri yang mereka lalui cukup menantang . Sore hari mereka baru tiba di shelter tujuan .


Tempat itu cukup nyaman karna ada pondok di sana , selain itu air bersihnya juga melimpah . Mereka bermalam di camp tersebut .


Dua hari dalam perjalanan melelahkan membuat Dila tertidur dengan pulas semalaman .


" Morning " sebuah wajah tampan adalah pemandangan pertama yang Dila lihat pagi itu .Wajah ala Asia Eropa di hadapannya tersenyum dengan ramah .


" Morning " jawan Dila seraya menutup wajahnya . Siapa tahu ada air liur atau tahi mata menempel di sana .


Gadis itu beranjak dari tidurnya dan segera meraih ranselnya yang terletak di atas kepalanya . Dengan menunduk ia berjalan keluar pondok . Dila segera menuju sungai yang tak jauh dari sana dan membersihkan diri .


Semua orang tengah asik menikmati sarapan ketika Dila kembali dari membersihkan diri , wajahnya yang cantik nampak segar dan cerah .


" Dila ini sarapanmu " ucap seorang bule dengan kaku , semua yang ada di sana tertawa mendengar logat bicaranya .


" Terimakasih " jawab Dila sembari menerima sepiring nasi goreng yang di masak Alex dan Ivan .


" Wah kak Ivan masakan kakak Hem.." Dila mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum .


" Ya mantap ..bukan ? " Sahut bule yang tadi memberinya sepiring nasi tersebut .


Dila tertawa mendengar ucapannya yang belepotan .


" Mike kamu suka nasi goreng ? " Tanya Alex pemuda dari desa Piliana yang menjadi Guide mereka .


" Ya ini favorit saya " jawab Mike .


Selama perjalanan Mike memang banyak berbincang dengan Alex dan belajar berbahasa Indonesia , katanya neneknya adalah orang Indonesia .


Perjalanan panjang mereka sangat terasa , mereka menaiki bukit dan menuruni lembah dengan bebatuan tajam .


Selama perjalanan menuju Isilali Mike banyak berbicara dengan Dila , karna Mike mengerti bahasa Indonesia Dila juga mulai banyak berbincang dengannya .


Mereka tiba di camp Isilali sore hari dan segera membuat tenda . Cuaca saat itu sangat cerah , hingga mereka sangat gembira . Malam itu mereka menghabiskan malam di Isilali dengan tenang .


" Morning " lagi lagi mike menjadi orang pertama yang menyambut pagi Dila . Pria itu tengah menikmati secangkir kopi tepat di depan tendanya .


" Aduh..aa' bule ini lagi " bisik hati Dila .


" Pagi..." Jawab Dila sambil berjalan dengan gontai keluar tenda .kakinya terasa sakit dan pegal .


" Are you oke ? " Tanya Mike .


" Ya..ya aku baik baik saja " jawab Dila seraya duduk di samping Mike .


" Kopi.." Mike menawarkan secangkir kopi padanya .


" Dia tidak minum kopi " Dedi yang muncul entah dari mana menjawab tawaran dari Mike .


" Kenapa ? " Tanya Mike heran .


" Hanya tidak suka " jawab Dila sambil tersenyum manis dengan muka bantalnya .

__ADS_1


" Gimana kondisimu ? " Tanya Dedi seraya memberi Dila selembar Roti dan telur dadar .


Dila tidak menjawab ia hanya mengacungkan ibu jarinya .


" Bersabarlah..sore ini kita summit dan dapat menikmati sunset jika cuaca bagus " ucap Dedi sambil tersenyum . Pria itu menepuk punggung Dila memberi semangat .


Mereka kembali melanjutkan tracking setelah sarapan . Menjalani kembali perjalanan berat demi mencapai summit .


Pukul empat sore mereka tiba di puncak , semua orang bergembira dan mengucapkan rasa syukur mereka . Namun tidak ada yang berani berteriak di sana . Penduduk setempat memiliki kepercayaan berteriak di puncak gunung bisa mengundang badai .


Hamparan awan bak lautan putih terbentang di hadapan Dila . gadis itu terpaku sambil menitikkan air mata .


" Tuhanku begitu besar kuasamu " bisiknya .


" Kau sedang lari dari sesuatu ? " Tiba tiba Ivan telah berada di sampingnya .


" Hem ?! " Jawab Dila sambil terkejut .


" Kau tidak seperti biasanya " ucap Ivan sambil tersenyum menatap wajah Dila .


" Apa kelihatan ? " Tanya Dila .


" Apa kali ini juga tentang Dia ? , Apa dia hilang timbul lagi seperti ikan lele ? " Tanya Ivan membuat Dila tertawa .


" Tidak.. kali ini dia membuat aku ingin meninggalkan dia " jawab Dila setelah berhenti dari tawanya .


" Apa kau yakin ? " Tanya Ivan .


" Apa maksudmu ? " Tanya Dila tak mengerti .


" Wajahmu mengatakan hal berbeda " jawab Ivan sambil menatap lautan awan .


" Dia...bukan orang yang ku inginkan " Dila bergumam .


" Tidak kau inginkan ? , Atau hatimu yang tidak menginginkan ? " Tanya Ivan.


" Cinta itu tentang kata hati ,. Tentang rasa , kau tidak akan bisa melupakan meski pikiranmu ingin , jika hatimu yang menginginkan " lanjut Ivan .


" Yang terpenting adalah kau merasa nyaman . Tidak perduli berapa lama waktu yang kalian habiskan bersama . Jarak bukan jadi penghalang untuk Cinta , asal kau yakin , hatinya untukmu " Ivan kembali berceramah .


" Masalahnya adalah aku tidak yakin bisa menerima semua tentang dia " ucap Dila pelan .


Saat itu suasana menjadi serba orange , Matahari perlahan mulai turun menuju peraduan . Semua orang mencari sport terbaik untuk menikmati sunset . Ivan berdiri di samping Dila yang memandang dengan wajah yang berseri menikmati sunset senja itu .


" Seperti inilah cinta Dila...meski kau harus menempuhnya dengan perjalanan yang penuh perjuangan dan rasa sakit , kau akan rela memberikan segenap tenaga dan hatimu hanya untuk bertemu dengannya beberapa detik , melihat matahari terbit dan terbenam adalah hal paling mendebarkan bagi kita , meski hanya beberapa saat kita bertemu dengan mereka . Tapi debar itu akan tetap kita rasa hingga akhir , meski telah berkali-kali kita melauinya " ucap Ivan .


Dila memandang wajah tampan Ivan yang tampak sangat bahagia . Lelaki itu memang sangat dewasa , dan keren di matanya . mungkin jika ia tidak jatuh cinta lebih dulu pada Adi , ia akan terpikat pada sosok di sampingnya saat ini .


" Apa yang kau rasakan saat menatap dia ? " Tanya Ivan beberapa saat kemudian.


" Jika hatimu berdebar maka dia adalah sunset dan sunrise dalam hidupmu " lanjutnya tanpa menanti Jawaban dari Dila .


" Apa cukup dengan itu , apa cukup dengan cinta saja , cukup dengan hati yang berdebar-debar saja ? " Tanya Dila .

__ADS_1


" Kalau itu , itu adalah pilihan hidupmu " jawab Ivan seraya melangkah menuju ke tempat anggota yang lain .


Dila terdiam sambil memandang langit yang mulai gelap . Ia menarik nafas panjang dalam dalam . Panggilan Dedi membuat gadis itu beranjak dari duduknya di atas bebatuan di puncak Binaiya .


__ADS_2